Mengenal Museum di Kota Jogja dengan Jelajah 4 Museum

Mengenal Museum di Kota Jogja dengan Jelajah 4 Museum

"Museum di hatiku", demikian teriakan peserta Jelajah 4 Museum sambil meletakkan telapak tangan kanan di dada kiri; menjawab “salam sahabat museum”. Kegiatan yang digagas Komunitas Malam Museum menggandeng Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dilaksanakan pada hari Ahad, 24 September 2017 mulai pukul 15.30-20.35 WIB.

Menurut koordinator kegiatan dari Komunitas Malam Museum Erwin Djunaedi, peserta yang mendaftar mencapai 500 orang dari kuota 120 orang yang tersedia. Antusiasme masyarakat mendaftar menjadi bukti kegiatan menjelajah museum sangat diminati, memungkinkan menjadi satu program paket wisata di masa datang.

Dengan komposisi 40 orang dari Genpi Jogja, 50 peserta umum, 20 orang komunitas dari Magelang, dan 40 panitia gabungan mulai berdatangan ke titik kumpul di Museum Benteng Vredeburg pada pukul 12.30 WIB. Untuk peserta mendapatkan museum pack berupa tas selempang berisi kaos seragam, topi, bolpoin mini, air mineral 600 ml, tanda pengenal, dan 3 kupon untuk mengambil jatah kudapan dan makan malam.

Uniknya, kupon tersebut dicetak menyerupai mata uang yang pernah beredar dengan gambar 3 tokoh yang berkaitan dengan museum. Tokoh tersebut adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman (uang Rp. 5.000 yang terbit tahun 1968), Ki Hajar Dewantara (uang Rp. 20.000 yang terbit tahun 1998), dan Dr. Sutomo (uang Rp. 1.000 yang terbit tahun 1980).

Semua peserta diwajibkan memakai atribut yang telah dibagikan, sedangkan panitia menggunakan kostum pejuang atau pakaian tradisional Jawa. Setelah semua atribut lengkap dikenakan, peserta berkumpul sesuai pembagian grup dan kelompok. Dalam 4 grup terdapat 2-3 kelompok yaitu:

Grup 1 Operasi Banteng Ketaton terdiri 3 kelompok:
Kelompok Mayor Udara Nayoan
Kelompok Letda Heru Santoso
Kelompok Letda Agus Hernoto

Grup 2 Operasi Srigala terdiri 2 kelompok:
Kelompok Letnan Udara II Manuhua
Kelompok Letnan Muda Udara Suhadi (di peta jelajah salah tulis pangkat dan nama)
Grup 3

Operasi Naga terdiri 3 kelompok:
Kelompok Letda Soedarto
Kelompok Kapten Bambang Soepeno
Kelompok Kapten Benny Moerdani

Grup 4 Operasi Jatayu terdiri 3 kelompok:
Kelompok Kapten Psk. Radix Sudarsono
Kelompok Mayor Untung
Kelompok Letnan Udara II B. Matitaputty

Kepala Museum Benteng Vredeburg, Dra Zaimul Azzah, M. Hum berkenan melepas peserta menjelajah 4 museum di kota Yogyakarta. Keempat museum tersebut adalah Museum Benteng Vredeburg, Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman, Museum Dewantara Kirti Griya, dan Museum Perjuangan. Masing-masing grup mendapat rute jelajah dan menuju museum dengan alat transportasi berbeda. Tapi semua peserta akan merasakan jalan kaki, naik sepeda kuno, dan jeep.

Tiap kelompok diminta meneriakkan yel-yel sebelum melakukan aktivitas. Di Museum Vredeburg, tiap kelompok diminta menjawab beberapa soal berkaitan dengan museum, serta membatik. Di Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman, waktu yang disediakan menjawab soal hanya 5 menit. Sedangkan di Museum Dewantara Kirti Griya, tiap grup diwajibkan menjawab soal, yang jawabannya bisa dicari di dalam museum. 2 aktivitas di Museum Perjuangan adalah menyanyikan lagu nasional dan menjawab soal.

Soal dicetak dalam selembar kertas yang digulung bagai kertas sayembara, yang dipilih oleh perwakilan kelompok. Sebelum dan sesudah aktivitas, pemimpin kelompok harus melapor kepada panitia, kurang lebih seperti saat melakukan upacara bendera.

Grup 4 adalah yang terakhir kembali ke titik kumpul sekitar pukul 20.00 WIB, disaat wedang ronde tinggal wedangnya saja.

Kegiatan ini memperebutkan hadiah lho, menurut pembawa acara sih "uang pembinaan" 😂... yah itu cuma guyonan saja. 3 kelompok terbaik dan tercepat dalam melakukan aktivitas mendapatkan piagam juara.

Pada akhirnya semua peserta puas mengikuti Jelajah 4 Museum, bisa mengenal museum dari sudut pandang berbeda. Saat keluar dari Benteng Vredeburg, terdengar celetukan salah seorang peserta, "Nggak rugi Rp. 25.000, dapat kaos, tas, topi, dan makan." Harapannya, jelajah museum juga diadakan di museum lain dengan aktivitas yang lebih seru dan menarik.

Potret Stasiun Kedungjati di Tahun 2016

Setelah ada rencana perpanjangan jalur kereta wisata dari Ambarawa - Tuntang dan berlanjut ke Kedungjati, stasiun Kedungjati pun berbenah. Bagian bangunan yang rusak direnovasi dan dipercantik. Bangunan pun terlihat terawat kembali, hanya saja kereta yang berhenti di stasiun ini hanya KA Kalijaga jurusan Semarang Poncol - Solo Balapan. Beberapa tahun lalu KA Majapahit jurusan Jakarta Pasar Senen – Malang berhenti di stasiun yang berada di +36 mdpl, sekarang kurang tahu.

Tahun lalu saya menyempatkan memotret beberapa bagian stasiun, sembari menunggu kedatangan KA Kalijaga. Rupanya jalur rel yang menghubungkan Kedungjati Tuntang, sebagian merupakan jalur baru. Pengerjaannya sudah berhenti dan terkesan mangkrak, kita tunggu saja jalur ini terealisasi.
Jalan sudah diaspal.

Stasiun dari kejauhan.
Pengaturan tone foto tidak sesuai harapan, setidaknya masih bisa menggambarkan keadaan stasiun sesungguhnya.
Ruang pertemuan stasiun.
Di peron selatan dimana jalur rel Tuntang - Kedungjati dibangun, kita bisa melihat rel tersebut memanjang hingga arah timur. Rel tersebut terhenti begitu saja, bila memungkinkan bisa tersambung ke jalur rel menuju Solo.
Dari peron selatan, rel (belum) menuju arah Solo.

Toilet.
Toilet berada di sisi timur stasiun, bangunan dan toiletnya masih model lama. Lumayan bersih untuk stasiun yang berada di desa yang jauh dari kota kabupaten dan ibukota provinsi.
Dua toilet.
Artikel Terkait:
Melihat Stasiun Kedungjati di Tahun 2014

Dua Malam di Hotel Sahid Mandarin Pekalongan

Sampai di Stasiun Pekalongan, aku dijemput Mas Edi kemudian ke Food Market untuk menjemput peserta APNE 2017 yang sudah datang di Pekalongan. Dengan 2 mobil kami menuju ke penginapan di Hotel Sahid Mandarin di timur kota Pekalongan.

Hotel Sahid Mandarin berada di Jalan Dr. Sutomo (Dupan Square Complex), Baros, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan, Jawa Tengah 51114, sekitar 200 meter depan Terminal Pekalongan. Di komplek ini ada arena permainan, hall, pertokoan, serta mushalla. Kami masuk dari pintu belakang, membuat tiap orang yang pertama kali datang merasa aneh, “Hotel kok seperti mall yang sepi.” Aku malah menduga hotel ini bekas pertokoan yang belum laku disewa, sampai sekarang aku belum mendapat penjelasan tentang hal ini.
Hotel Sahid Mandarin Pekalongan.

Jadi jika dilihat dari belakang, pintu masuk berada di tengah-tengah bangunan (seperti ruko, mall, atau entahlah). Setelah masuk di dalamnya, sepintas seperti mall sepi berlantai 3, di tengah bangunan terdapat eskalator, pengunjung di lantai dasar bisa melihat kubah penutup bangunan. Di sisi kanan ada ballroom Hotel Sahid Mandarin, di kanan depan ada restoran masakan cina, dan di beberapa sekat seperti ada perkantoran.... tapi entahlah.

Aku berkeliling sejenak mengamati bangunan, ketika ke belakang, ulalala... ternyata lobby hotel menghadap selatan, yang disekat oleh jendela kaca dan pintu alumunium. Di sinilah aku merasakan penyejuk ruangan, karena di ruangan tengah tadi tidak berpendingin. Pekalongan demikian panas khas Pantai Utara Jawa, padahal sebelum berangkat ke sini, cuaca di Jogja dingin kemarau (biasa datang antara Juli – Agustus – September), kontras sekali. Aku pindah ke lobby sambil menunggu check-in jam 14.00 WIB.

Lantai Dasar
Selain resepsionis dan ruang tunggu, di lantai dasar terdapat ruang transit, dan mini cafe. Dua lift juga tersedia di hotel yang kata Mbak Inayah bintang tiga. Mushalla yang tidak berpendingin dan kipas angin berada di pojok barat daya, mampu menampung sekitar 10 orang. Sedangkan toilet tamu ada di sebelah mushalla.
Lobby hotel.

Menuju Kamar Hotel
Aku dapat ruang di lantai 1 (1 tingkat di atas lobby di lantai dasar). Aku mencoba naik lift, tapi waktu tunggu lift turun serasa sama jika naik lewat tangga. Tangga berada di sisi barat laut, landai dan tidak begitu tinggi.

Penunjuk nomor kamar tergantung di plafon, aku sempat bingung kok tidak ada nomor 180an? Setelah bertanya pada seorang karyawan (entah bagian apa), ternyata kamar tersebut berada di lorong paling timur di ujung utara (timur laut). Dan kini saatnya masuk kamaaaarr..

Membuka Kamar Hotel
Sudah kucoba berulang kali menggunakan kunci magnetik tapi pintu kamar tidak terbuka juga. Putus asa, kuhampiri mas keeper yang sedang membersihkan kamar di dekat coffee shop untuk meminta bantuannya. Jadi begini, cara buka pintu Sahid Mandarin adalah masukkan kartu lalu cepat-cepat ditarik. Perhatikan kedipan lampu LED (jika ada), sambil menekan tuas pintu. Setelah terdengar bunyi "cekrek", artinya kunci terbuka.

Rupanya tidak hanya aku saja yang kesulitan, beberapa teman lain malah ada yang ganti kunci, ada juga yang tidak bisa buka pintu dari dalam,, hahahah..... buka pintunya harus dengan perasaan ya. Bahkan teman sekamarku saja tidak bisa membuka pintu wkwkkw. Aku juga sempat membantu tamu hotel yang awalnya kesulitan membukanya. Alhamdulillah, sekali diajari aku selalu bisa membuka pintu dari luar. Sistem kunci tiap hotel berbeda, mungkin karena sering di hotel yang sistem bukanya hanya dengan tap kartu magnetik, jadi kesulitan dengan sistem model seperti ATM.
Tarif hotel.

Kamar Hotel
Aku mendapat twin bed, pemandangan luar jendela menghadap kamar lain, sinar matahari cukup menerangi kamar yang kutempati. Perabotan di dalamnya standar, pendingin ruangan seperti di rumah tinggal (bukan sentral). Kakus menghadap timur yang di depannya terdapat wastafel dan cermin :). Sedangkan tempat mandi berada di sebelah kakus dengan batas kain toilet. Dua pilihan air hangat dan dingin, semua berjalan baik.

Yang agak kuherankan adalah jumlah sikat gigi dan sandal hotel cuma 1 :). Hari berikutnya dapat sabun dan shampo baru :).

Koneksi internet di kamar cepat dan lancar tanpa halangan. Saluran televisi? Seperti halnya hotel lain, aku tidak tertarik menontonnya karena terlalu banyak kanal. Aku lupa memotret kondisi kamar wkwkwk, tapi secara keseluruhan nyaman kok.

Ballroom
Acara pembukaan oleh Bupati Pekalongan diadakan di ballroom, para peserta makan nasi kotak dari panitia. Kenapa tidak menggunakan katering hotel? Aku tidak tahu. Ballroom kira-kira bisa memuat 200 orang, ketika itu bagian belakang kosong dan digunakan untuk bagi-bagi nasi kotak.

Coffee Shop/Restoran
Setahuku, biasanya restoran berada di lantai utama, tapi di Sahid Mandarin ada di lantai 1. Yang kuingat ada bubur ayam dan nasi goreng untuk menu nusantara, tidak banyak pilihan. Dua kali makan pagi di sini aku tertarik makan megono dan garang asem khas Pekalongan. Rasanya? Tidak tahu hehehe, mungkin bumbu masakan Pekalongan begitu. Untuk minuman aku tidak menemukan susu dan minuman khas Pekalongan (adakah? Aku tidak tahu).
Restoran.

Sepanjang bermalam di Sahid Mandarin, tidak ada kendala dan keluhan, semua berjalan dengan baik. Transportasi berbasis online sudah tersedia di sini, memudahkan tamu yang ingin bepergian tapi malas naik armada plat kuning. Semoga aku bisa kembali ke Pekalongan.

Pilihan Transportasi dari Jogja ke Pekalongan

Sebelum melakukan perjalanan ke Pekalongan mengikuti APNE 2017, aku mencari informasi transportasi umum Jogja - Pekalongan, dari internet maupun bertanya kepada teman. Dua moda transportasi yang tidak melayani rute ini adalah pesawat terbang dan kapal laut, tentu saja... karena Pekalongan berada di bagian tengah - utara Pulau Jawa, sedangkan Jogja di bagian tengah - selatan Pulau Jawa.

1. Travel
Transportasi termudah untuk sampai ke tujuan tapi perjalanan terasa membosankan. Waktu keberangkatan rata-rata jam 07.00-19.00 WIB mengambil rute Jogja – Magelang – Secang – Temanggung – Parakan – Sukorejo – Weleri – Batang – Pekalongan. Armada dari Daihatsu Luxio hingga Isuzu Elf dengan tarif mulai Rp. 110.000.

2. Kereta Api
Ada 3 alternatif yang kuketahui:
  • Jogja - Cirebon, lanjut naik KA Cirebon - Pekalongan.
  • Jogja - Purwokerto, lanjut KA Purwokerto – Pekalongan.
  • Jogja - Solo, lanjut naik KA Solo – Semarang, lanjut naik KA Semarang – Pekalongan.
  • Jogja - Solo, lanjut KA Solo Jebres - Pekalongan.

Biaya yang dikeluarkan pun variatif, tergantung kereta api yang digunakan. Jadwal keberangkatan bisa dilihat di website resmi PT. KAI, kecuali kereta jarak dekat Jogja – Solo (KA Prambanan Ekspres) dan Solo Balapan – Semarang Poncol (KA Kalijaga).

3. Bus
Tidak ada satupun trayek bus Jogja – Pekalongan, rute terbaik (jalan dan kemudahan akses) adalah:
  • Jogja – Semarang, lanjut dengan bus atau KA jurusan Semarang – Pekalongan.
  • Jogja – Solo, lanjut dengan bus atau KA ke Semarang, lalu dengan bus atau KA jurusan Semarang – Pekalongan.

Kenapa ke Solo dahulu, bukannya Solo berada di sebelah timur Jogja? Jawabannya adalah karena ongkos Solo – Semarang lebih murah dari Jogja – Semarang.
  1. Jogja – Semarang dengan bus patas pada 2017 dipatok Rp. 45.000
  2. Solo – Semarang dengan bus AC Ekonomi (tidak ada patas) pada 2017 adalah Rp. 25.000 atau dengan KA Kalijaga hanya Rp. 10.000.
  3. Sedangkan Jogja – Solo dengan KA hanya Rp. 8.000.

Transportasi Pilihan Pribadi
Jadi pilih mana untuk menuju Pekalongan? Aku akan memilih yang termurah, ada beberapa pilihan yaitu:
Moda Transportasi Trayek Tarif
Bus AKAP Patas Jogja-Semarang
45.000
Bus Trans Semarang Ke Stasiun Poncol
3.500
KA Kamandaka Semarang-Pekalongan
45.000
KA Kaligung Semarang-Pekalongan
40.000
Aku mengesampingkan naik bus jurusan Semarang – Pekalongan karena perjalanan berpotensi macet.
Total biaya: Rp 88.500 atau Rp. 93.000.
Moda Transportasi Trayek Tarif
KA Pramek Jogja-Solo
8.000
Bus AC Ekonomi Solo-Bawen
20.000
Bus Trans Jateng Bawen-Stasiun Poncol
3.500
KA Kamandaka Semarang-Pekalongan
45.000
KA Kaligung Semarang-Pekalongan
40.000
Total biaya Rp. 71.500 atau Rp. 76.500.

KA Semarang – Pekalongan untuk tarif murah dilayani 2 KA, yaitu KA ekonomi Kaligung (Semarang – Brebes) dan KA Kamandaka ekonomi (Semarang – Purwokerto).

Pengen banget yang lebih murah lagi? Bisa naik KA Kalijaga Solo – Semarang, tapi jadwal kereta tidak bersahabat bagi warga Jogja. KA Kalijaga berangkat dari Solo Balapan jam 05.20 WIB, sedangkan jadwal terpagi KA Pramek dari Jogja berangkat jam 05.30 WIB. Mau menginap di stasiun? Nggak lah,,, lebih baik cari armada pada jam lain.

Artikel ini tidak menghitung biaya transportasi dari rumah menuju Stasiun Lempuyangan/Tugu/Maguwo atau Terminal Jombor. Jika ada alternatif lebih baik silahkan tulis di kolom komentar ya, terima kasih 😊

Menduniakan Petungkriyono dengan Batik

Usai sehari penuh melakukan eksplor di hutan alam Petungkriyono Cultural-Techno Forestry Park, hari berikutnya (6/8/2017) para peserta APNE 2017 (Amazing Petung National Explore) berangkat menuju Padepokan Batik Pesisir Failasuf di Jl KH. Hasyim Ashari 231 Kemplong Wiradesa Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, untuk menghadiri peluncuran Batik Petungkriyono.

Setelah peserta check out dari Hotel Sahid Mandarin, kami diberangkatkan dengan bus besar jam 11.20 WIB. Sebagian peserta membawa kendaraan pribadi menuju padepokan, rombongan sampai di tempat milik H.A. Failasuf jam 12.10 WIB. Padepokan Batik Pesisir berada di belakang showroom, yang terpisah dengan jalan kampung.

Sebelum acara inti dimulai, kami dipersilahkan berkeliling menyaksikan pembuatan Batik Pesisir dari membuat pola hingga menjadi sebuah kain batik utuh. Butuh waktu 1-3 bulan membuat satu potong batik tulis, tak mengherankan harga batik tulis begitu tinggi, apalagi jika kain yang digunakan untuk bahan bahan batik adalah kain tenun yang dibuat dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Selain batik tulis, proses pembuatan batik cap juga dilakukan di padepokan ini.
Salah satu desain Batik Petungkriyono.
Setelah makan siang, hadirin diperlihatkan 3 kain Batik Petungkriyono yang didesain oleh H.A Failasuf. Semua batik tersebut baru menyelesaikan proses ketiga yaitu membatik. Warna dasar masih putih, belum melalui proses nembok, medel, ngerok, nglorod, dan seterusnya. Batik akan jadi 100% paling lambat 3 bulan lagi.

Batik Petungkriyono menggambarkan keindahan Curug Bajing dan pendoponya, pegunungan, kekayaan flora di hutan rakyat yang menjadi paru-paru Pulau Jawa, serta aktivitas warga sehari-hari.
Desain lain Batik Petungkriyono.
“Apa yang pernah kita lihat kemudian lukiskan dalam sebuah batik." Demikian yang dikatakan H.A. Failasuf saat memberi penjelasan latar belakang dan proses pembuatan Batik Petungkriyono. "Kata batik jika dibalik menjadi kitab, sehingga bisa dikatakan dalam kitab batik menceritakan, menggambarkan suatu peristiwa yang memiliki makna. Batik Petungkriyono menceritakan legenda Petungkriyono untuk Indonesia."

Batik Pekalongan diciptakan berdasarkan hasil pengamatan, pemikiran, perenungan, serta perasaan pada sesuatu; yang diungkapkan pada sebuah kain dan menjadi karya adiluhung untuk dinikmati. Dengan diluncurkannya Batik Petungkriyono ini, harapan ke depan Petungkriyono semakin terkenal di mata dunia.

Sementara itu Bupati Pekalongan, H. Asip Kholbihi, SH, M.Si menyampaikan bahwa Batik Petungkriyono adalah salah satu masterpiece Batik Pekalongan yang dibuat oleh batik Pesisir H.A. Failasuf.
H.A Failasuf dan Asip Kholbihi.
Beliau menandaskan seperti yang telah disampaikan saat pembukaan APNE 2017 di Hotel Sahid Mandarin, "Batik Pekalongan memiliki 2 ciri khas yaitu kaya warna dan bermotif flora atau fauna."

Di Kabupaten Pekalongan masih banyak pembatik yang secara turun temurun turut melestarikan budaya bangsa. Batik telah menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat Kota Santri Pekalongan. Dari latar belakang itulah beliau memberi slogan (tagline) Kabupaten Pekalongan sebagai Bumi Legenda Batik Nusantara.

Batik Petungkriyono tidak didesain untuk menjadi kemeja, kebaya, atau dipakai dalam keseharian. Melainkan sebagai koleksi dan dipamerkan kepada masyarakat karena dalam batik ini memuat cerita dan filosofi Petungkriyono sebagai Kawasan Hutan Tujuan Khusus (KHTK).

Para Blogger, Fotografer, Droner, dan reporter yang mengikuti perhelatan program Pesona Indonesia di Kabupaten Pekalongan ini, menjadi tumpuan Bupati untuk menggairahkan upaya pembangunan di Kabupaten Pekalongan, termasuk memopulerkan Bumi Legenda Batik Nusantara.

Usai peluncuran Batik Petungkriyono, acara APNE 2017 secara resmi ditutup oleh Bupati Pekalongan. Kami berpisah hanya sesaat, kami tetap bersahabat, dan akan kembali mengeksplor Petungkriyono Cultural-Techno Forestry Park yang belum belum sempat kami singgahi.

Sampai jumpa lagi Petungkriyono..