Menu Tokyo Bowl Apa yang Jadi Favoritmu?

Apa tuh Tokyo Bowl? Wikipedia menerangkan pertandingan tahunan American Football di Tokyo yang mempertemukan antara peringkat kedua Kansai Collegiate American Football League dan peringkat kedua Kantoh Collegiate American Football Association. Definisi Tokyo Bowl yang populer adalah menu makanan nasi lengkap dalam satu mangkok, dengan topping rumput laut dan daun bawang. Tentu saja menu tersebut dari negara Jepang.

Satu restoran yang menyajikan menu tersebut di Indonesia adalah HokBen, dengan menawarkan 5 varian menu yaitu Tori Soboro, Gyu Soboro, Chicken Steak, Chicken Katsu Tare, dan Chicken Karaage.
HokBen Jalan Kaliurang.
Ketika ke Hokben Jalan Kaliurang Sleman, DIY 3 November 2017 lalu, aku dihadapkan dua pilihan menu Tokyo Bowl; Chicken Karaage atau Chicken Steak? Akhirnya kupilih Chicken Karaage karena aku suka masakan yang digoreng. Eh, kelima menu tersebut komposisinya apa saja? Ini dia komposisi kelima menu Tokyo Bowl dari web restoran yang didirikan pada tanggal 18 April 1985 ini.

Tori Soboro
Daging ayam cincang dengan saus teriyaki khas HokBen (Teriyaki Soboro). Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan rumput laut dan daun bawang.

Gyu Soboro
Daging sapi cincang dengan saus teriyaki khas HokBen (Gyu Soboro). Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan rumput laut dan daun bawang.

Chicken Steak
Daging ayam panggang tanpa tulang yang dibumbui saus teriyaki dengan rasa manis dan gurih. Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan rumput laut dan daun bawang.

Chicken Karaage
Daging ayam berkualitas dan terpilih yang dimasak dengan teknik Deep Frying Oil sehingga menghasilkan tekstur tepung yang garing dan renyah. Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping Mayonaise Khas HokBen, potongan rumput laut dan daun bawang.

Chicken Katsu Tare
Daging ayam tanpa tulang yang dibalut dengan bread crumbs dan bumbu khas HokBen yang dimasak dengan metode Deep Frying Oil. Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping Saus Tare Khas HokBen, potongan rumput laut dan daun bawang.
Menu Tokyo Bowl.

Sambil menunggu makanan dihidangkan, aku yang datang bersama Komunitas Blogger Jogja beramah tamah dengan jajaran HokBen Kaliurang. Perkenalan pertama dari Pak Arman selaku Local Marketing, Ibu Katrina selaku Marketing Communication, dan Pak Sutrisno selaku Store manager; ketiganya bagian dari HokBen Kaliurang.

Makan malam dengan Tokyo Bowl Chicken Karaage
Lepas Maghrib, menu yang dipesan pun tiba. Menu pertama yang hadir adalah Yakitori Grilled; daging ayam tanpa lemak yang dipotong dan ditusuk dengan bambu, kemudian dipanggang dengan Saus Teriyaki khas HokBen. Bahasa Indonesia masakan ini adalah sate ayam.

Selanjutnya datanglah minuman yang kupesan, Koori Konyaku Lychee, sejenis minuman dingin dengan jelly dan sirup lychee. Dan terakhir adalah Chicken Karaage.

Yakitorinya empuk dan lembut, bumbu meresap dan panggangan tidak gosong. Koori Konyaku Lychee memenuhi gelas, aku agak heran kok esnya nggak cair-cair? Hahaha... ini pertama kalinya 😀, kukira hanya es lychee biasa ternyata ada jelly (agar-agar) di dasar gelas. Memang agak susah nyeruput jelly dengan sedotan 😁.

Nasi HokBen rasanya sangat khas, dimakan tanpa lauk pun sudah terasa enak. Apalagi ditambah daging ayam yang empuk berbalur mayonaise, plus rumput laut (disebut juga seaweed atau nori) dan daun bawang... mantab deh. Awalnya saat melihat porsi Tokyo Bowl tidak akan habis, realita bicara habis tanpa sisa! 😃

Chicken Karaage jadi favoritku karena memang menyukai masakan ayam goreng HokBen. Kalo kamu suka menu Tokyo Bowl apa?

===o0o===

Ramah Tamah
Hoka-hoka Bento adalah nama restoran yang pertama kali diperkenalkan oleh PT Eka Boga Inti. Nama tersebut berasal dari bahasa Jepang yang berarti Makanan hangat dalam boks. Restoran yang kini memiliki lebih dari 150 cabang di Jawa dan Bali ini, mempelopori restoran dengan sumpit di Indonesia.

Hoka-hoka Bento berubah menjadi HokBen mulai 15 Oktober 2013. Keputusan diambil manajemen setelah sering mendengar para pelanggan sering menyingkat nama Hoka-hoka Bento menjadi HokBen. Dan sejak 2015 Hokben telah mengantongi sertifikat halal dari LPPOM MUI, sehingga masyarakat muslim tidak perlu khawatir dengan kehalalan sajian di HokBen. Perjalanan HokBen dari awal berdiri hingga mendapatkan berbagai penghargaan dijelaskan Ibu Katrina dengan gamblang.
Sumber: bloggerjogja.org

Selain memaparkan aneka menu HokBen, khususnya Tokyo Ball; Pak Sutrisno menjelaskan filosofi simbol-simbol HokBen, yang jika dicermati terdapat pada ornamen berwarna kuning HokBen.

1. Welcoming Hello
Pelayanan setulus hati dari kru HokBen.

2. Parent and Kid
Menggambarkan kasih sayang orang tua kepada anaknya. Simbol ini dipilih karena HokBen adalah restoran keluarga dengan sajian lezat dan bergizi.

3. Friendship
Menggambarkan persahabatan. HokBen merupakan tempat untuk berbagi waktu dengan para sahabat.

4. Respect
Menggambarkan orang membungkuk memberi salam dalam budaya Jepang. Simbol penghormatan HokBen kepada kustomer.

5. Pride
Menggambarkan rasa bangga menjadi keluarga HokBen yang kredibilitasnya terjaga baik. Dan menjadi jenama yang dipercaya oleh para kustomer.

Pembukaan, penutupan, dan kuis dipandu langsung oleh Pak Arman. Kuis merupakan segmen yang seru dengan pertanyaan seputar HokBen. Alhamdulillah aku termasuk yang kebagian rizki 😊.

Semua menu Hokben bisa dilihat di website atau aplikasi, sedangkan pemesanan lewat aplikasi Hokben, website, atau telepon.

Website: www.hokben.co.id
Aplikasi: Hokben di Playstore
Delivery: 1-500-505

Belajar Merenda Perak di Kotagede

Meskipun sudah tahu kata emas dan perak sedari kecil, tapi aku baru tahu bentuk perak menginjak kelas 2 SMA ketika salah seorang teman saya memakai “monel'. Usut punya usut monel adalah nama lain perak. Maklum aku tinggal di dusun dan waktu itu belum ada internet. Ketahuan umurnya kan hahaha..

Perak merupakan alat pembayaran dan perhiasan nomer dua setelah emas. Di beberapa hadits menyebutkan hal tersebut. Perak juga menjadi perhiasan yang diperbolehkan bagi laki-laki dan termasuk benda yang wajib dizakati; jika mencapai nishab.

17 Oktober 2017, aku mengikuti Silversmith Workshop yang diadakan oleh HS Silver 800-925 di Jalan Mondorakan 1 Kotagede, Yogyakarta. Awalnya aku mendaftar hari Senin pagi, tapi menurut Markom HS Silver kelas sudah penuh, yang akhirnya terlempar ke tanggal 17 Oktober 2017 jam 09.00 WIB.
HS Silver.
Hari merenda perak
Hujan yang mengguyur DIY sejak pagi tak menyurutkan niatku untuk mengikuti pelatihan ini. Datang paling awal membuatku leluasa berkeliling HS Silver. Mas Rosi dari HS Silver memandu mengenalkan ruang kerja perajin, peralatan yang digunakan, dan perhiasan yang dihasilkan HS Silver. Sambil menunggu peserta lain, aku juga diajak ke showroom yang berada di selatan ruang kerja.

Urutan acara pelatihan secara garis besar adalah:
  1. Perkenalan HS Silver,
  2. factory (workshop) tour,
  3. pelatihan,
  4. foto untuk sertifikat,
  5. pulang.
Daripada lama menunggu, aku mulai pelatihan jam 09.30 WIB mendahului yang lain. Pada pelatihan kali ini, peserta mendapatkan:
  • Benang perak (99,9%) 4 gram,
  • cetakan (kerangka pola) dari perak,
  • peralatan (gunting lipat dan pinset besar),
  • gambar pola,
  • makanan kecil.

Sebagai "telenan" digunakanlah keramik yang biasa dipasang untuk lantai. Kenapa keramik bukan alumunium, papan kayu, atau bahan lain? Keramik tidak akan rusak ketika terkena benda tajam, padahal pinset dan gunting selalu mengenai "telenan" saat membuat kerajinan perak. sedangkan pilihan keramik warna merah karena kontras dengan putihnya perak.

Membuat kerajinan perak filigree
Kerajinan yang akan dibuat dengan tangan (hand made) kali ini adalah jenis perak filigree (filigri). Teknik filigree adalah pembuatan perhiasan dengan menggunakan benang perak yang lembut (kecil). Teknik ini juga disebut teknik trap.

Selain teknik filigree, perak juga dibuat dengan teknik solid silver dan casting. HS Silver 800-925 sendiri membuat kerajinan perak dengan teknik filigree dan solid silver.

Selain Mas Rosi, ada Mbak Widiyanti yang menjadi pendamping peserta pagi itu. Awalnya Mbak Widiyanti memperagakan cara memasukkan perak ke dalam kerangka. Kelihatannya mudah, tapi setelah kucoba ternyata sulit 😀. Bagian bawah kerangka dilapisi kertas minyak semisal kertas minyak atau "grenjeng" supaya perak tidak lepas saat diisi di kerangka.

Bersambung..

Mengecap Lansekap Buana Dari Sleman Lantai 2

Wilayah Kabupaten Sleman membentang dari timur ke barat bagian utara Daerah Istimewa Yogyakarta, yang didominasi dataran rendah. Dua dataran tinggi yang acapkali disebut “lantai dua” berada di utara dan timur wilayah Sleman, yaitu sisi utara kawasan Gunung Merapi dan di sisi timur perbukitan Gunung Baturagung yang masuk zona Pegunungan Selatan Jawa.

Sleman Timur lantai 2 masuk daerah administratif Kecamatan Prambanan, destinasi wisata yang sudah dikenal antara lain Tebing Breksi, Candi Ijo, dan Candi Ratu Boko. Kabupaten Sleman, melalui Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Sleman bersama Disperindag dan Dispar Sleman memperkenalkan 3 destinasi baru di perbukitan ini yaitu Selo Langit (Watu Payung), Bukit Teletubbies, dan Bukit Klumprit.

SuV Jeep, Toyota, Suzuki, dan Daihatsu.
Kamis 19 Oktober 2017, sekitar 23 warganet mengunjungi 3 lokasi tersebut menggunakan 11 Sport Utility Vehicle (SUV) dari Taman Tebing Breksi. Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, M.S.I. dan Camat Prambanan Eko Suhargono, S.IP turut serta hingga akhir perjalanan. Panitia menyediakan bus bagi peserta famtrip yang tidak bisa langsung ke Tebing Breksi.

Titik kumpul di JCM.
Selo Langit Watu Payung
Usai mendengarkan paparan Bapak Bupati dan Camat, rombongan 11 SUV berangkat pukul 14.10 WIB. Aku naik Daihatsu Taft, satu-satunya SUV berbahan bakar solar kala itu. Dengan kapasitas 4 penumpang, SUV kami hanya diisi Ibu Evi, Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Sleman di jok depan, dan aku serta Mas Dimas Disperindag Sleman di jok belakang.

Jalan mulus memudahkan rombongan sampai tujuan dalam 10 menit, padahal jalan terus menanjak. Dari jalan raya menuju parkir Selo Langit hanya berjarak 50 meter dengan medan ekstrim; sengaja dibuat begitu untuk rute SUV. Ada 1 jalan lagi di sisi timur yang lebih ramah bagi mobil sasis pendek.
Di atas Watu Payung (sumber: IG @metuomah).
Aku kurang paham kenapa dinamakan Selo Langit, peta Google belum mencantumkan nama Selo Langit, namun sudah tersimpan Watu Payung dengan puluhan review pemilik akun Google. Mungkin nama Selo Langit dipilih untuk membedakan dengan "watu payung" di daerah lain.


Selo Langit berada di Dukuh Gedang Atas Desa Sambirejo, Prambanan Sleman, DIY. Alpa menyalakan GPS gawai menyebabkan koordinat akurat tidak kuketahui pasti, pun bertanya pada Mas Dimas yang membawa perangkat GPS.

Watu payung adalah sebuah batu pipih di tepi bukit (yang dulu) letaknya menumpang pada batu lain, sehingga terlihat seperti huruf L tengkurap. Semakin banyaknya wisatawan datang dan berdiri untuk pemotretan di atas batu, maka setelah Agustus 2017 cekungan bawah diberi batu penahan untuk keselamatan wisatawan. Sehingga sekarang tidak lagi berbentuk L tengkurap. Pahatan batu penahan di bawah adalah karya seni, tidak mengurangi estetika watu payung.
Watu payung.

Di atas ketinggian 399 mbpl, wisatawan dapat mengecap lansekap memanjang dari utara hingga selatan. Deretan pegunungan selatan Jawa yang tidak kuhafal membentengi pandangan kami. Dari deretan pegunungan itu hanya Gunungapi Purba Nglanggeran Kabupaten Gunungkidul yang kukenal, selain pernah kesana, Bukit Pathuk dengan belasan menara ada di depannya.

Bukit Teletubbies
20 menit di Selo Langit, kamipun menuju destinasi kedua Bukit Teletubbies di Desa Wukirharjo, Prambanan Sleman. Jalan aspal dan cor beton yang naik turun mengikuti struktur tanah tidak membuat kami sakit perut, karena kondisi jalan mulus dan jok SUV yang empuk.

Aku punya pengalaman kurang mengenakkan naik angkutan wisata di suatu daerah. Duduk saling berhadapan di mobil terbuka dengan jok dari sepet, sepanjang perjalanan bau asap menusuk hidung dari pembakaran mesin diesel. Dan jalanan sempit berbatu dengan hiasan aspal tipis. Sesampainya di penginapan tubuh remuk redam 😁.


Banyak jalan menuju Bukit Teletubbies, famtrip kali ini rombongan terdepan memilih lewat hutan jati, atau penduduk setempat menamakannya Jati Bon (Jati Kebon). Kami takjub dengan deretan pohon jati muda yang ditanam rapi. Ingin rasanya memotret di tepian jalan, tapi kami harus mengejar waktu sesuai itinerary.
Akhir dari Jati Bon.
Cuaca panas menyengat menemani 20 menit perjalanan kami, padahal gerimis sempat menyapaku ketika berangkat ke JCM. Bukit Teletubbies berada di Desa Wukirharjo, Prambanan Sleman. Tanah milik pribadi ini baru saja direnovasi oleh Satker PKP DIY. Selain taman dan beberapa gazebo, sebuah gardu pandang dibangun untuk melihat lansekap rumah dome di desa sebelah; yang dibangun saat gempa Jogja 2006 lalu.
Bukit Teletubbies Sumberharjo Prambanan.
Rumah dome di desa Sumberharjo, Prambanan Sleman menyerupai rumah karakter boneka di serial televisi Teletubbies. Karena itulah orang Indonesia juga menyebutnya "rumah dome Teletubbies". Taman di ketinggian 253 mdpl ini disebut Bukit Teletubbies karena dari jarak 1,5 km arah barat daya bisa melihat rumah dome yang berada di ketinggian 96 mdpl.
Bukit Teletubbies.
Sama seperti destinasi wisata sebelumnya, retribusi masuk ke Bukit Teletubbies bersifat sukarela. Wisatawan hanya perlu membayar parkir Rp. 2.000 untuk roda 2 dan Rp. 5.000 untuk kendaraan roda 4. Hebatnya, tempat wisata ini memberikan layanan internet gratis.

Daerah Wukirharjo sering dilanda kekeringan, pasokan air tergantung aliran PDAM dan air hujan. Di depan mushalla Bukit Teletubbies terdapat sumur tadah hujan, terlihat sebuah talang air rumah pemilik taman diarahkan ke sumur. Saat rombongan sampai, pipa PDAM sudah jebol selama 3 hari sehingga tidak ada air mengalir.


Pak Camat pun dibuat sibuk menghubungi para Kepala Desa di bawah (bukit), mencari masjid mana yang pasokan airnya lancar. Sejatinya, rombongan famtrip shalat Ashar dan istirahat di Bukit Teletubbies. Kami akhirnya meninggalkan bukit menuju masjid terdekat (dan ada pasokan air), setelah Pak Camat mendapat kepastian dari Kepala Desa. Usai shalat Ashar perjalanan dilanjutkan menuju destinasi terakhir, Bukit Klumprit.

Bukit Klumprit
Snack yang dibagikan untuk bekal baru kubuka, salah satu snack adalah bubur dalam cup kecil. Aku teringat pemaparan Camat Prambanan sebelum berangkat, ada makanan khas dari lereng Gunung Baturagung yaitu Burkong. Terlihat benda berwarna kuning muda menyembul dibalik bubur, inilah burkong yang dimaksud Pak Camat yaitu Bubur Singkong. Benda kuning muda tersebut adalah singkong.

Menurutku rasanya seperti bubur cethil atau candil. Kemungkinan, burkong dibuat dari tepung sagu; sama persis dengan bahan baku bubur candil. Tak perlu waktu lama menghabiskan burkong, ingin nambah lagi tapi tidak ada jatah kedua.
Burkong.
Semua kendaraan tidak bisa langsung menuju puncak Bukit Klumprit di ketinggian 343 mdpl, kami harus berjalan kaki naik ke bukit milik tanah kas desa Wukirharjo. Paduan batu dan tanah sepanjang jalan setapak membuat sebagian rombongan kewalahan. Di kiri kanan jalan setapak, padi ditanam di tanah tandus di antara bebatuan. Tidak ada sumber air mengairi, menunggu hujan membasahi bumi.
Menunggu sunset di Puncak Bukit Klumprit.
Dari atas bukit Klumprit terlihat lansekap buana selatan hingga barat daya. Di selatan terlihat daerah Pathuk Kabupaten Gunungkidul dengan ciri khasnya beberapa menara relay televisi. Di Barat daya terlihat kecilnya rumah dome. Sedangkan arah barat terlihat sang surya mulai tenggelam.

Aku tidak terlalu hafal daerah di "lantai 1" tersebut, kunikmati saja angin yang menerjang tubuh ini, semakin sore semakin kencang hingga tubuhku serasa akan terbang dibawa angin. Pukul 17.20 WIB kuputuskan turun lebih cepat dari rombongan, tubuhku tak kuasa lagi menahan terjangan angin yang semakin menusuk tulang.
Sunset dari Bukit Klumprit.
Bukit Klumprit benar-benar destinasi wisata yang masih alami, belum terjamah kenistaan. Kesunyian menemani kami saat menunggu terbenamnya sang surya, tidak ada sumber cahaya selain dari alam. Puas menikmati di atas bebatuan, kamipun meninggalkannya usai adzan Maghrib berkumandang.

Berburu Menu Bukan Bebek Biasa di Yogyakarta

Bebek menjadi primadona baru pecinta kuliner Indonesia. Hewan berleher panjang ini biasanya hanya diambil telurnya sebagai campuran martabak, pempek, atau dijadikan telur asin. Sekarang secara masif dagingnya mulai diolah untuk dikonsumsi masyarakat. Umumnya rumah makan olahan bebek menyajikan menu bebek goreng dengan berbagai varian sambal dan lalapan. Apakah bebek cuma bisa digoreng, tidak bisa disajikan dalam menu lain? Penasaran dengan hal itu aku berburu menu bebek (selain goreng) (masih) di Yogyakarta.


Nyatanya, ada rumah makan yang menyajikan berbagai menu olahan bebek. Ketemunya di daerah Giwangan – Wirosaban, atau dikenal dengan Jalan Tegalturi 56 Yogyakarta. Rumah makan ini dulu bernama Roemah Boemboe yang kemudian di-rebranding pertengahan Oktober 2017 menjadi Bale Bebek.
Bale Bebek di Jalan Tegalturi 56 Yogyakarta.

Sembilan paket menu masakan bebek + satu paket ingkung
Tercatat ada 9 paket masakan bebek seharga Rp. 24.500 yaitu;
- Bebek pedas spesial.
- Bebek bakar kecap.
- Bebek trasi.
- Bebek rica-rica.
- Bebek bakar pedas.
- Bebek bakar madu.
- Bebek barbeque.
- Bebek woku.
- Bebek goreng.

Paket tersebut terdiri dari nasi + bebek + sambal + lalapan. Masih ada 1 paket lagi yaitu (ingkung) bebek utuh, yang terdiri dari nasi + bebek utuh masak woku + ati ampela + tahu tempe + lalapan + sambal. Paket untuk 4 orang tersebut dihargai Rp. 115.000.

Pembeda dari rumah makan bebek lain
"Bukan bebek biasa" menjadi tagline Bale Bebek, mengisyaratkan masakan bebek di sini beda dengan masakan rumah makan lain. Selain banyak varian menu, bebek di rumah makan grup Bale Ayu ini sebelumnya dipresto agar daging bebek empuk. Masakan tidak amis, dan standarisasi bumbu; sehingga menu hari ini rasanya akan sama dengan rasa menu sepekan lagi. Pengolahan presto dan bumbu ada di dapur utama di Jalan Lowanu 55 Yogyakarta. Yang terpenting menurutku adalah Bale Bebek sudah memiliki sertifikat halal BPPOM MUI.
Salah satu sudut untuk foto.

Dari sisi tempat, bisa menampung 120 pengunjung dengan pilihan duduk di kursi atau lesehan di gazebo. Parkir bisa di depan atau belakang rumah makan. Toilet, wastafel, dan mushalla juga tersedia, jika ingin shalat ke masjid tinggal menyeberang jalan dan masuk gang kecil. Gratis akses internet, dan yang unik beberapa sudut dijadikan tempat swafoto.

Mencicipi menu Bale Bebek
Saatnya mencoba masakan Bale Bebek. Saat akan menulis pesanan menu, aku bertanya kepada Mbak Fina; Marketing Manager Bale Ayu Group “Menu bakaran dikuas atau dicelup?” Sepertinya Mbak Fina sudah terbiasa mendapat pertanyaan seperti ini, sehingga jawabannya,

“Dikuas, tapi tenang Mas, Bale Bebek sudah bersertifikat halal MUI, jadi aman.”

Aku suka masakan bakaran, tapi akan ilfil jika kuas dipakai untuk melabur bumbu. Beberapa tempat makan menggunakan kuas cat untuk melabur bumbu, tentunya bukan kuas foodgrade. Disamping itu ada lho kuas dari bulu hewan babi. Karena itulah aku selalu bertanya jika memesan menu bakaran.

Mendengar jawaban itu, aku putuskan pesan Bebek Bakar Madu. Tidak sampai 15 menit, masakan yang kupesan datang. Standar pelayanan Bale Bebek menjamin maksimal 15 menit penyajian, ada juga nih garansi layanan produk jika masakan tidak sesuai standar, tidak enak, hambar, keasinan, atau semisalnya.
Bebek bakar madu.

Nasi
Nasi putih pulen dihidangkan dengan bentuk tumpeng. Puncak tumpeng ditutup dengan daun pisang, sehingga mengeluarkan aroma harum dari nasi yang masih hangat ini.

Lalapan
Ketimun, daun kemangi dan daun pepaya menjadi lalapan menu paket. Daun pepaya menjadi pembeda dengan rumah makan lain, bahkan dengan warung penyetan kaki lima. Yang menarik lalapan daun pepaya ini sudah direbus, tapi masih berwarna hijau segar dan tidak pahit!

Sambal
Untuk menu paket, menurutku sambal bajak sudah pas dari sisi porsi, manis, maupun pedasnya.

Bebek bakar madu
Bumbu bakarannya sangat kusukai, bahkan sampai kujilati hehehe. Terus bagaimana dengan daging bebeknya? Kupisahkan dulu kulit yang lengket bumbu madu dengan daging. Kulit bebek dengan baluran bumbu bakar madu kupadukan dengan nasi dan lalapan, bumbu bakar madu terasa banget di lidah, bahkan aku tidak tahu bagaimana rasa kulit bebek hehehe, saking merasuknya bumbu.

Daging bebek yang dipresto memang empuk dan tidak amis. Menurut chef Willy; chef kepala Bale Ayu Group yang kutemui, bau amis bebek akan hilang dengan pengolahan yang benar. Salah satu caranya adalah membuang brutu sebelum dimasak.
Tempat untuk swafoto.
Menu selain bebek
Bale Bebek apakah semua menunya bebek? Sebagai rumah makan modern, tentu saja Bale bebek menyediakan menu lain selain bebek. Ada menu iga (sup iga dan iga bakar), ayam kampung, dan menu nila. Dua pilihan Menu nila dan ayam kampung adalah goreng dan bakar madu. Disamping itu tersedia paket Ingkung Ayam.

Pengunjung juga bisa memilih sambal yang disukai, seperti sambal bajak, sambal korek, sambal kecap, atau sambal terasi. Sedangkan aneka sayur tersedia kangkung balacan, tauge tahu kuning, kari kacang panjang, kari buncis, tumis kacang panjang, dan terong balado. Tak ketinggalan jamur crispy dan tempe tahu.

Saat menulis ini aku sudah 3 kali makan di Bale Bebek Tegalturi 😋. 2 rumah makan Bale Bebek, satu lagi di Jalan Wonosari km 13. Suasana romantis tercipta dari lampion yang dinyalakan pada malam hari, tapi aku lebih suka datang saat matahari masih bersinar, alasannya untuk mendapatkan pencahayaan alami saat memotret hehehe.

Logo dan menu favorit pengunjung
Menurut Direktur Operasional Bale Ayu Group; Yudhiono yang berada di Bale Bebek Tegalturi 11 Oktober 2017 lalu, logo yang sebelumnya merah tua menjadi merah oranye untuk menyasar segmen pasar umur 22 tahun ke atas, yang dirasa sudah mulai mapan. Sedangkan yang menjadi favorit pengunjung adalah menu Bebek Masak Woku dan Bebek Pedas Spesial.
Sumber: IG Bale Bebek.

Aku sendiri, menu favorit selain bebek adalah Ayam Bakar Madu. Setelah tersihir dengan Bebek Bakar Madu, aku mencoba menu Ayam Bakar Madu. Ternyata bumbu bakar madu terasa sama, dagingnya empuk dan bumbu merasuk ke dalam daging. Recommended deh.
Ayam kampung bakar madu.

Bale Bebek Tegalturi buka dari jam 10.00 – 22.00 WIB. Retribusi parkir standar dan tertempel di dinding Bale Bebek. Rumah makan ini hanya mengenakan pajak restoran, sehingga tidak memberatkan pengunjung.

Bawa Log Book Museummu saat Mengunjungi Museum di DIY

Saat mengikuti Jelajah 4 Museum dua pekan lalu, kulihat beberapa orang membawa buku dan meminta tanda tangan dan stempel kepada petugas museum. Di Museum Dewantara Kirti Griya, kelompok kami ditanya seorang panitia, "Bawa Log book nggak? Jika bawa bisa dimintakan stempel ke petugas."

Aku jadi penasaran apa sih Log Book Museum itu? Angga merupakan satu-satunya yang memiliki Log Book di kelompokku. Katanya buku tersebut diperoleh dari Dinas Kebudayaan DIY, jika stempel memenuhi buku akan mendapatkan reward yang belum ditentukan bentuknya.

Log Book Museum kutuliskan di Google, tidak ada satu artikel pun yang menjelaskannya. Aku menemukan sedikit gambaran saat mencari di Twitter, kultwit tentang Log Book Museum di akun @roemahtoea.
Log book museum DIY.
Admin @roemahtoea menghadiri sosialisasi Log Book Museum di Kantos Disbud DIY, Jalan Cendana Yogyakarta pada 11 Juli 2017. Intinya setiap kunjungan ke museum di Daerah Istimewa Yogyakarta, pengunjung berkesempatan mendapatkan stempel dan tanda tangan petugas museum dengan kriteria:
- stempel merah untuk museum bertema perjuangan.
- stempel hijau untuk museum bertema seni budaya.
- stempel biru untuk museum bertema ilmu pengetahuan.

Bagi pemegang Log Book Museum yang dapat mengumpulkan stempel dalam jumlah tertentu akan mendawatkan reward:
- 050 kunjungan akan mendapatkan medali perunggu
- 100 kunjungan akan mendapatkan medali perak.
- 200 kunjungan akan mendapatkan medali emas.

Apakah benar-benar medali? Aku belum konfirmasi kepada pihak Disbud DIY, tapi gambarannya bisa dilihat di ciutan https://twitter.com/RoemahToea/status/884611827035811840.

Perjuangan Mendapatkan Log Book Museum
Aku mencoba mendapatakan buku tersebut, tapi ada saja aral melintang 😂. Dari ban motor bocor saat hujan, ditolak 3 tukang tambal ban hingga terpaksa menaikinya 7 km sampai rumah. Pertama ke kantor dinas dan bertanya pada satpam yang berjaga di depan, dia tidak tahu Log Book, lalu diminta datang lagi hari Senin. Katanya semua bagian museum tidak berada di tempat (Mosok pak?)

Setelah dua kali ke sana, akhirnya bertemu bagian museum dan meminta 10 buku untuk komunitas. Menunggu beberapa menit, akupun diminta meninggalkan nomor kontak karena dikonsultasikan dulu dengan atasan, sedangkan pejabat berwenang baru rapat anggaran 😀.

4 hari tidak dihubungi, aku kembali lagi ke kantor Disbud DIY. Ohiya, aku menggunakan nama komunitas Kompasiana Jogja dan hanya mendapatkan 5 Log Book Museum. Katanya banyak yang berminat sehingga jatah dibatasi.

Buku ini hanya berlaku di DIY, setiap buku sudah terdapat nomor anggota. Misalnya 34.071.01.0001. 34 adalah kode DIY. 071 adalah kode Kota Jogja, 01 adalah kode komunitas, dan 0001 adalah kode anggota.

Semoga bisa khatam mengunjungi 48 museum di DIY, tapi sepertinya aku tidak akan masuk museum yang tiket masuknya mahal 😂.