Dua Malam di Hotel Sahid Mandarin Pekalongan

Sampai di Stasiun Pekalongan, aku dijemput Mas Edi kemudian ke Food Market untuk menjemput peserta APNE 2017 yang sudah datang di Pekalongan. Dengan 2 mobil kami menuju ke penginapan di Hotel Sahid Mandarin di timur kota Pekalongan.

Hotel Sahid Mandarin berada di Jalan Dr. Sutomo (Dupan Square Complex), Baros, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan, Jawa Tengah 51114, sekitar 200 meter depan Terminal Pekalongan. Di komplek ini ada arena permainan, hall, pertokoan, serta mushalla. Kami masuk dari pintu belakang, membuat tiap orang yang pertama kali datang merasa aneh, “Hotel kok seperti mall yang sepi.” Aku malah menduga hotel ini bekas pertokoan yang belum laku disewa, sampai sekarang aku belum mendapat penjelasan tentang hal ini.
Hotel Sahid Mandarin Pekalongan.

Jadi jika dilihat dari belakang, pintu masuk berada di tengah-tengah bangunan (seperti ruko, mall, atau entahlah). Setelah masuk di dalamnya, sepintas seperti mall sepi berlantai 3, di tengah bangunan terdapat eskalator, pengunjung di lantai dasar bisa melihat kubah penutup bangunan. Di sisi kanan ada ballroom Hotel Sahid Mandarin, di kanan depan ada restoran masakan cina, dan di beberapa sekat seperti ada perkantoran.... tapi entahlah.

Aku berkeliling sejenak mengamati bangunan, ketika ke belakang, ulalala... ternyata lobby hotel menghadap selatan, yang disekat oleh jendela kaca dan pintu alumunium. Di sinilah aku merasakan penyejuk ruangan, karena di ruangan tengah tadi tidak berpendingin. Pekalongan demikian panas khas Pantai Utara Jawa, padahal sebelum berangkat ke sini, cuaca di Jogja dingin kemarau (biasa datang antara Juli – Agustus – September), kontras sekali. Aku pindah ke lobby sambil menunggu check-in jam 14.00 WIB.

Lantai Dasar
Selain resepsionis dan ruang tunggu, di lantai dasar terdapat ruang transit, dan mini cafe. Dua lift juga tersedia di hotel yang kata Mbak Inayah bintang tiga. Mushalla yang tidak berpendingin dan kipas angin berada di pojok barat daya, mampu menampung sekitar 10 orang. Sedangkan toilet tamu ada di sebelah mushalla.
Lobby hotel.

Menuju Kamar Hotel
Aku dapat ruang di lantai 1 (1 tingkat di atas lobby di lantai dasar). Aku mencoba naik lift, tapi waktu tunggu lift turun serasa sama jika naik lewat tangga. Tangga berada di sisi barat laut, landai dan tidak begitu tinggi.

Penunjuk nomor kamar tergantung di plafon, aku sempat bingung kok tidak ada nomor 180an? Setelah bertanya pada seorang karyawan (entah bagian apa), ternyata kamar tersebut berada di lorong paling timur di ujung utara (timur laut). Dan kini saatnya masuk kamaaaarr..

Membuka Kamar Hotel
Sudah kucoba berulang kali menggunakan kunci magnetik tapi pintu kamar tidak terbuka juga. Putus asa, kuhampiri mas keeper yang sedang membersihkan kamar di dekat coffee shop untuk meminta bantuannya. Jadi begini, cara buka pintu Sahid Mandarin adalah masukkan kartu lalu cepat-cepat ditarik. Perhatikan kedipan lampu LED (jika ada), sambil menekan tuas pintu. Setelah terdengar bunyi "cekrek", artinya kunci terbuka.

Rupanya tidak hanya aku saja yang kesulitan, beberapa teman lain malah ada yang ganti kunci, ada juga yang tidak bisa buka pintu dari dalam,, hahahah..... buka pintunya harus dengan perasaan ya. Bahkan teman sekamarku saja tidak bisa membuka pintu wkwkkw. Aku juga sempat membantu tamu hotel yang awalnya kesulitan membukanya. Alhamdulillah, sekali diajari aku selalu bisa membuka pintu dari luar. Sistem kunci tiap hotel berbeda, mungkin karena sering di hotel yang sistem bukanya hanya dengan tap kartu magnetik, jadi kesulitan dengan sistem model seperti ATM.
Tarif hotel.

Kamar Hotel
Aku mendapat twin bed, pemandangan luar jendela menghadap kamar lain, sinar matahari cukup menerangi kamar yang kutempati. Perabotan di dalamnya standar, pendingin ruangan seperti di rumah tinggal (bukan sentral). Kakus menghadap timur yang di depannya terdapat wastafel dan cermin :). Sedangkan tempat mandi berada di sebelah kakus dengan batas kain toilet. Dua pilihan air hangat dan dingin, semua berjalan baik.

Yang agak kuherankan adalah jumlah sikat gigi dan sandal hotel cuma 1 :). Hari berikutnya dapat sabun dan shampo baru :).

Koneksi internet di kamar cepat dan lancar tanpa halangan. Saluran televisi? Seperti halnya hotel lain, aku tidak tertarik menontonnya karena terlalu banyak kanal. Aku lupa memotret kondisi kamar wkwkwk, tapi secara keseluruhan nyaman kok.

Ballroom
Acara pembukaan oleh Bupati Pekalongan diadakan di ballroom, para peserta makan nasi kotak dari panitia. Kenapa tidak menggunakan katering hotel? Aku tidak tahu. Ballroom kira-kira bisa memuat 200 orang, ketika itu bagian belakang kosong dan digunakan untuk bagi-bagi nasi kotak.

Coffee Shop/Restoran
Setahuku, biasanya restoran berada di lantai utama, tapi di Sahid Mandarin ada di lantai 1. Yang kuingat ada bubur ayam dan nasi goreng untuk menu nusantara, tidak banyak pilihan. Dua kali makan pagi di sini aku tertarik makan megono dan garang asem khas Pekalongan. Rasanya? Tidak tahu hehehe, mungkin bumbu masakan Pekalongan begitu. Untuk minuman aku tidak menemukan susu dan minuman khas Pekalongan (adakah? Aku tidak tahu).
Restoran.

Sepanjang bermalam di Sahid Mandarin, tidak ada kendala dan keluhan, semua berjalan dengan baik. Transportasi berbasis online sudah tersedia di sini, memudahkan tamu yang ingin bepergian tapi malas naik armada plat kuning. Semoga aku bisa kembali ke Pekalongan.

Pilihan Transportasi dari Jogja ke Pekalongan

Sebelum melakukan perjalanan ke Pekalongan mengikuti APNE 2017, aku mencari informasi transportasi umum Jogja - Pekalongan, dari internet maupun bertanya kepada teman. Dua moda transportasi yang tidak melayani rute ini adalah pesawat terbang dan kapal laut, tentu saja... karena Pekalongan berada di bagian tengah - utara Pulau Jawa, sedangkan Jogja di bagian tengah - selatan Pulau Jawa.

1. Travel
Transportasi termudah untuk sampai ke tujuan tapi perjalanan terasa membosankan. Waktu keberangkatan rata-rata jam 07.00-19.00 WIB mengambil rute Jogja – Magelang – Secang – Temanggung – Parakan – Sukorejo – Weleri – Batang – Pekalongan. Armada dari Daihatsu Luxio hingga Isuzu Elf dengan tarif mulai Rp. 110.000.

2. Kereta Api
Ada 3 alternatif yang kuketahui:
  • Jogja - Cirebon, lanjut naik KA Cirebon - Pekalongan.
  • Jogja - Purwokerto, lanjut KA Purwokerto – Pekalongan.
  • Jogja - Solo, lanjut naik KA Solo – Semarang, lanjut naik KA Semarang – Pekalongan.
  • Jogja - Solo, lanjut KA Solo Jebres - Pekalongan.

Biaya yang dikeluarkan pun variatif, tergantung kereta api yang digunakan. Jadwal keberangkatan bisa dilihat di website resmi PT. KAI, kecuali kereta jarak dekat Jogja – Solo (KA Prambanan Ekspres) dan Solo Balapan – Semarang Poncol (KA Kalijaga).

3. Bus
Tidak ada satupun trayek bus Jogja – Pekalongan, rute terbaik (jalan dan kemudahan akses) adalah:
  • Jogja – Semarang, lanjut dengan bus atau KA jurusan Semarang – Pekalongan.
  • Jogja – Solo, lanjut dengan bus atau KA ke Semarang, lalu dengan bus atau KA jurusan Semarang – Pekalongan.

Kenapa ke Solo dahulu, bukannya Solo berada di sebelah timur Jogja? Jawabannya adalah karena ongkos Solo – Semarang lebih murah dari Jogja – Semarang.
  1. Jogja – Semarang dengan bus patas pada 2017 dipatok Rp. 45.000
  2. Solo – Semarang dengan bus AC Ekonomi (tidak ada patas) pada 2017 adalah Rp. 25.000 atau dengan KA Kalijaga hanya Rp. 10.000.
  3. Sedangkan Jogja – Solo dengan KA hanya Rp. 8.000.

Transportasi Pilihan Pribadi
Jadi pilih mana untuk menuju Pekalongan? Aku akan memilih yang termurah, ada beberapa pilihan yaitu:
Moda Transportasi Trayek Tarif
Bus AKAP Patas Jogja-Semarang
45.000
Bus Trans Semarang Ke Stasiun Poncol
3.500
KA Kamandaka Semarang-Pekalongan
45.000
KA Kaligung Semarang-Pekalongan
40.000
Aku mengesampingkan naik bus jurusan Semarang – Pekalongan karena perjalanan berpotensi macet.
Total biaya: Rp 88.500 atau Rp. 93.000.
Moda Transportasi Trayek Tarif
KA Pramek Jogja-Solo
8.000
Bus AC Ekonomi Solo-Bawen
20.000
Bus Trans Jateng Bawen-Stasiun Poncol
3.500
KA Kamandaka Semarang-Pekalongan
45.000
KA Kaligung Semarang-Pekalongan
40.000
Total biaya Rp. 71.500 atau Rp. 76.500.

KA Semarang – Pekalongan untuk tarif murah dilayani 2 KA, yaitu KA ekonomi Kaligung (Semarang – Brebes) dan KA Kamandaka ekonomi (Semarang – Purwokerto).

Pengen banget yang lebih murah lagi? Bisa naik KA Kalijaga Solo – Semarang, tapi jadwal kereta tidak bersahabat bagi warga Jogja. KA Kalijaga berangkat dari Solo Balapan jam 05.20 WIB, sedangkan jadwal terpagi KA Pramek dari Jogja berangkat jam 05.30 WIB. Mau menginap di stasiun? Nggak lah,,, lebih baik cari armada pada jam lain.

Artikel ini tidak menghitung biaya transportasi dari rumah menuju Stasiun Lempuyangan/Tugu/Maguwo atau Terminal Jombor. Jika ada alternatif lebih baik silahkan tulis di kolom komentar ya, terima kasih 😊

Menduniakan Petungkriyono dengan Batik

Usai sehari penuh melakukan eksplor di hutan alam Petungkriyono Cultural-Techno Forestry Park, hari berikutnya (6/8/2017) para peserta APNE 2017 (Amazing Petung National Explore) berangkat menuju Padepokan Batik Pesisir Failasuf di Jl KH. Hasyim Ashari 231 Kemplong Wiradesa Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, untuk menghadiri peluncuran Batik Petungkriyono.

Setelah peserta check out dari Hotel Sahid Mandarin, kami diberangkatkan dengan bus besar jam 11.20 WIB. Sebagian peserta membawa kendaraan pribadi menuju padepokan, rombongan sampai di tempat milik H.A. Failasuf jam 12.10 WIB. Padepokan Batik Pesisir berada di belakang showroom, yang terpisah dengan jalan kampung.

Sebelum acara inti dimulai, kami dipersilahkan berkeliling menyaksikan pembuatan Batik Pesisir dari membuat pola hingga menjadi sebuah kain batik utuh. Butuh waktu 1-3 bulan membuat satu potong batik tulis, tak mengherankan harga batik tulis begitu tinggi, apalagi jika kain yang digunakan untuk bahan bahan batik adalah kain tenun yang dibuat dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Selain batik tulis, proses pembuatan batik cap juga dilakukan di padepokan ini.
Salah satu desain Batik Petungkriyono.
Setelah makan siang, hadirin diperlihatkan 3 kain Batik Petungkriyono yang didesain oleh H.A Failasuf. Semua batik tersebut baru menyelesaikan proses ketiga yaitu membatik. Warna dasar masih putih, belum melalui proses nembok, medel, ngerok, nglorod, dan seterusnya. Batik akan jadi 100% paling lambat 3 bulan lagi.

Batik Petungkriyono menggambarkan keindahan Curug Bajing dan pendoponya, pegunungan, kekayaan flora di hutan rakyat yang menjadi paru-paru Pulau Jawa, serta aktivitas warga sehari-hari.
Desain lain Batik Petungkriyono.
“Apa yang pernah kita lihat kemudian lukiskan dalam sebuah batik." Demikian yang dikatakan H.A. Failasuf saat memberi penjelasan latar belakang dan proses pembuatan Batik Petungkriyono. "Kata batik jika dibalik menjadi kitab, sehingga bisa dikatakan dalam kitab batik menceritakan, menggambarkan suatu peristiwa yang memiliki makna. Batik Petungkriyono menceritakan legenda Petungkriyono untuk Indonesia."

Batik Pekalongan diciptakan berdasarkan hasil pengamatan, pemikiran, perenungan, serta perasaan pada sesuatu; yang diungkapkan pada sebuah kain dan menjadi karya adiluhung untuk dinikmati. Dengan diluncurkannya Batik Petungkriyono ini, harapan ke depan Petungkriyono semakin terkenal di mata dunia.

Sementara itu Bupati Pekalongan, H. Asip Kholbihi, SH, M.Si menyampaikan bahwa Batik Petungkriyono adalah salah satu masterpiece Batik Pekalongan yang dibuat oleh batik Pesisir H.A. Failasuf.
H.A Failasuf dan Asip Kholbihi.
Beliau menandaskan seperti yang telah disampaikan saat pembukaan APNE 2017 di Hotel Sahid Mandarin, "Batik Pekalongan memiliki 2 ciri khas yaitu kaya warna dan bermotif flora atau fauna."

Di Kabupaten Pekalongan masih banyak pembatik yang secara turun temurun turut melestarikan budaya bangsa. Batik telah menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat Kota Santri Pekalongan. Dari latar belakang itulah beliau memberi slogan (tagline) Kabupaten Pekalongan sebagai Bumi Legenda Batik Nusantara.

Batik Petungkriyono tidak didesain untuk menjadi kemeja, kebaya, atau dipakai dalam keseharian. Melainkan sebagai koleksi dan dipamerkan kepada masyarakat karena dalam batik ini memuat cerita dan filosofi Petungkriyono sebagai Kawasan Hutan Tujuan Khusus (KHTK).

Para Blogger, Fotografer, Droner, dan reporter yang mengikuti perhelatan program Pesona Indonesia di Kabupaten Pekalongan ini, menjadi tumpuan Bupati untuk menggairahkan upaya pembangunan di Kabupaten Pekalongan, termasuk memopulerkan Bumi Legenda Batik Nusantara.

Usai peluncuran Batik Petungkriyono, acara APNE 2017 secara resmi ditutup oleh Bupati Pekalongan. Kami berpisah hanya sesaat, kami tetap bersahabat, dan akan kembali mengeksplor Petungkriyono Cultural-Techno Forestry Park yang belum belum sempat kami singgahi.

Sampai jumpa lagi Petungkriyono..

6 Destinasi Wisata Alam Petungkriyono

Ternyata masih ada hutan alam yang menjadi paru-paru di Pulau Jawa, bahkan tinggal satu-satunya. Hutan alam tersebut berada di Petungkriyono Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, sekitar 40 kilometer dari Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan. Petungkriyono merupakan kecamatan di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, dengan luas 73,59 km² atau 8,80% luas Kabupaten Pekalongan.¹

Petungkriyono telah ditetapkan menjadi Petungkriyono Cultural-Techno Forestry Park, ditandai dengan penandatanganan MoU dengan Perum Perhutani dan Yayasan Kehutanan Indonesia pada 5 Agustus 2016.² Untuk mengangkat potensi Petungkriyono ini, Pemda Kabupaten Pekalongan menyelenggarakan Amazing Petung National Explore (APNE) 2017 mulai 4-6 Agustus 2017.

80 peserta dari pilot drone, blogger, fotografer, dan media; diajak untuk mengeksplor keindahan alam Petungkriyono. Bupati Pekalongan, H. Asip Kholbihi, SH, M.Si berkenan membuka acara di Hotel Sahid Mandarin, beliau pula yang menutup rangkaian APNE 2017 di Padepokan Batik Pesisir H. Failasuf.
Pelepasan peserta APNE 2017 di rumah dinas Bupati Pekalongan.
Pagi hari 5 Agustus 2017, dengan dua bus besar para peserta bertolak dari tempat menginap; Hotel Sahid Mandarin menuju Pendopo Rumah Dinas Bupati Kabupaten Pekalongan. Kami dijamu makan pagi dengan menu khas Pekalongan; sego megono. Usai makan pagi, secara simbolik Pak Bupati memberikan selendang batik Pekalongan kepada 2 peserta termuda APNE 2017.

Dari rumah dinas bupati, bus menuju kantor Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan (dibaca Ndoro); sebagai titik keberangkatan menuju Petungkriyono. Kami harus berganti armada karena jalan ke sana hanya bisa dilalui kendaraan roda 4.
Anggun Paris.
Sepuluh Anggun Paris siap mengantar peserta APNE 2017 menuju 6 destinasi pilihan. Anggun Paris (Angkutan Gunung dan Pariwisata) merupakan angkutan bak terbuka Mitsubishi L300, yang dimodifikasi agar dapat mengangkut penumpang 10-15 penumpang. Bak belakang mobil diberi jok sehingga penumpang bisa duduk berhadapan. Terpal dipasang di atasnya sebagai pelindung panas dan hujan. Sisi kiri dan kanan bak juga diberi besi pengaman setinggi satu meter sebagai pengaman.
Menunggu keberangkatan.

1. Gerbang Petung
Destinasi pertama APNE 2017 adalah gerbang Petung, 5,5 kilometer dari Kantor Kecamatan Doro; sebelum jalan bercabang dua menuju Petungkriyono dan Desa Jolotigo. Terdapat gapura di sisi kiri dan kanan jalan berbentuk bambu. Perlu diketahui gapura berbentuk bambu diambil dari kata Petung, yang merupakan salah satu jenis bambu Pring Petung (bambu besar).

Di panggung gerbang Petungkriyono, dua penari sudah siap menyambut kami dengan menarikan tari Pesona Petungkriyono.
Tari Pesona Petungkriyono.
Sambil menikmati tarian, peserta disuguhi Kopi Petung, kopi hutan khas Petungkriyono. Disebut kopi hutan karena pohon kopi tumbuh di hutan, campuran dari jenis Robusta dan Arabica. Kopi Robusta hidup di habitat hutan, dan jenis Arabica yang dibudidayakan masyaraka sekitar.

Kelak di sepanjang jalan menuju Petungkriyono kami diperlihatkan Mas Anto; Pokdarwis yang menyertai kami, pohon kopi yang tumbuh hingga 5 meter, yang memetik buahnya pun harus naik ke atas.
Kopi Petung.

Setelah disuguhi tarian dan kopi, tak lupa foto bersama; kami kembali ke Anggun Paris bertolak ke destinasi kedua. Jalan yang tadinya lebar dan mulus, setelah melewati Gerbang Petung jadi menyempit. Jika kendaraan roda 4 berpapasan, salah satunya harus menepi memberi jalan. Mayoritas jalan aspal rusak, cukup wajar karena jalan berada di tengah hutan, hal ini sering juga dijumpai di kawasan hutan lainnya. Semoga perbaikan jalan segera terlaksana untuk menunjang pariwisata dan perekonomian warga.
Lokasi via Google: https://goo.gl/maps/gsCzRhuNuz92

2. Curug Sibedug
Destinasi kedua adalah Curug Cibedug di tepi jalan Doro – Petungkriyono, sekitar 11 kilometer dari Kantor Kecamatan Doro. Curug ini berada di Dusun Sokokembang Desa Kayupuring Kecamatan Petungkriyono. Tidak ada tiket retribusi untuk menikmati pemandangan indah ini. Di tepi jalan berjejer warung tenda yang menjajakan Kopi Petung.
Curug Sibedug.
Saya sempat membaca berita di beberapa media dan blog yang dipublikasikan Mei 2017 lalu. Ada 3 air terjun yang mengalir dari atas, namun ketika kami mengunjunginya (Agustus 2017) air terjun yang jatuh hanya di 2 tempat. Seharusnya tempat ketiga ada di sisi paling kiri (dari pandangan mata wisatawan). Mungkin karena memasuki musim kemarau, air yang mengalir tidak sebanyak Mei 2017 lalu.
Salah satu air terjun.
Air terjun yang jatuh dari ketinggian sekitar 10 meter, kemudian mengalir menuju sungai yang membelah jalan. Peserta APNE 2017 sejenak berswafoto dan mengabadikan tempat ini. Sebagian ada yang turun hingga bawah jembatan untuk mendapatkan sudut pemotretan terbaik.
Toilet.
Curug berasal dari bahasa Sunda, di Jawa (Tengah dan Timur) dikenal dengan sebutan Jurug yang berarti air terjun.

Lokasi via Google: https://goo.gl/maps/hp3vRr7bCEC2

3. Jembatan Sipingit
Berjalan sekitar 1,5 kilometer ke selatan Sibedug, sampailah kami di Jembatan Sipingit. Sebenarnya jembatan biasa yang menghubungkan jalan utama antar kecamatan, tapi jika kita mau turun ke bawah jembatan, terlihat pemandangan yang memanjakan mata.

Selain itu di utara sungai terdapat Pembangkit Listrik Mikrohidro (PLMH), yang hingga sekarang masih aktif digunakan warga setempat. Listrik PLN belum menjangkau seluruh masyarakat karena kondisi geografis. Teknologi tepat guna untuk daerah yang melimpah airnya seperti di Kecamatan Petungkriyono adalah PLMH.
Jembatan Sipingit.
Jembatan Sipingit masih dalam wilayah Desa Kayupuring. Air sungai berasal dari Sungai Welo yang bermuara di Laut Jawa. Di selatan jembatan beberapa warung tenda berdiri menyediakan makanan dan Kopi Petung. 

Batu-batu besar itu tak luput menjadi tempat swafoto yang cantik, demikian juga jika mengambil subyek pemotretan dari atas jembatan. Sayangnya masih ada oknum yang merusak suasana dengan aksi vandalis di atas batu, semoga aksi negatif tersebut tidak terulang lagi.

Lokasi via Google: https://goo.gl/MKrkRJ

4. Welo River
Selanjutnya rombongan melanjutkan perjalanan ke Welo Asri, Welo River (Sungai Welo) Dusun Kembangan Desa Kayupuring, 10 menit perjalanan dari Jembatan Sipingit atau 13,8 kilometer dari titik keberangkatan.
Dari salah satu pohon selfie.
Welo Asri menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat sejenak sambil minum kopi. Masuk ke tempat wisata ini dikenakan retribusi Rp. 3.000 dan parkir motor Rpp. 2.000. Area parkir cukup untuk menampung 12 mobil. Fasilitas lain yang disediakan adalah toilet yang masih berdinding terpal dan mushalla.
Pohon selfie tertinggi di Welo Asri.
Belasan tempat swafoto menarik dibangun, yang paling ekstrim adalah pohon selfie di ketinggian 10 meter. Bentuknya seperti rumah pohon, berada di antara 2 dahan pohon besar yang mencuat ke samping. Terkesan menyeramkan karena berada di hutan.
Air mancur.
Sebuah air mancur memancar natural setinggi 5 meter dialirkan dari mata air yang ada di Sungai Welo, tanpa bantuan mesin pompa air. Di seberang kolam air dibangun bangku bambu untuk beristirahat dan foto.

Beberapa paket wisata menjelajah Sungai Welo ditawarkan kepada wisatawan. River tubing Rp. 75.000, river tracking Rp. 60.000, dan body rafting Rp. 35.000. sedangkan sewa pelampung dan ban (tube) Rp. 10.000.
Loket Welo Asri.
Pohon-pohon tinggi di sekitar Sungai Welo ternyata menjadi sarang hewan primata. Lutung ekor panjang bergelantungan bak spiderman dari pohon satu ke pohon lain. Mereka tidak mengganggu manusia karena dibiarkan hidup sesuai kodratnya, tidak dimanja dengan memberinya makan. Jika terbiasa diberi makan, kemudian satu ketika tidak ada yang memberi, mereka akan merebut makanan yang kita miliki.

Owa jawa (Hylobates moloch), spesies paling langka bangsa primata yang ada di hutan Petungkriyono tidak kami lihat. Spesies ini dikenal pemalu dan bersembunyi jika melihat makhluk tak dikenal. Perbedaan dengan lutung adalah Owa Jawa tidak memiliki ekor, tangan yang lebih panjang dari badan.

Lokasi via Google: https://goo.gl/maps/eezpmw5Myw32

5. Curug Bajing
Destinasi paling selatan yang dikunjungi peserta APNE 2017 adalah Curug Bajing di Dusun Kembangan Desa Tlogopakis Petungkriyono; sekitar 27 kilometer dari Kantor Kecamatan Doro. 40 menit kami habiskan dari Welo Asri menuju ke sini. Curug bajing rupanya juga menjadi terminal terakhir angkutan (Anggun Paris) dari Doro. Menurut salah satu Pokdarwis, tiap orang dikenakan Rp. 20.000 untuk rute Terminal Doro - Curug Bajing; yang dilayani hingga jam 16.00 WIB.

Sebelum sampai Curug Bajing, dari jauh sudah terlihat bukit dan air terjun yang tinggi. Di beberapa puncak bukit yang mengitarinya terpancang bendera merah putih, penampakannya begitu mencolok, memberi semangat pada peserta APNE 2017 yang mulai kehabisan gairah dan tenaga untuk mencapai Curug Bajing.
Penunjuk arah Curug Bajing.
Area parkir beraspal cukup untuk menampung 20 mobil. Warung-warung berdiri rapi dan bersih, mushalla panggung berdiri mencolok di sisi barat parkir.. Taman Curug Bajing lumayan luas, aman untuk bermain anak. Pendopo dan pohon selfie menjadi daya tarik wisatawan yang datang secara rombongan.
Pohon selfie.
Luasnya area Curug Bajing dimanfaatkan pengelola untuk membuka tempat berkemah serta wisata menyusuri hutan. Harga tiket tidak tercantum di loket, 5 orang wisatawan lokal yang datang dengan angkutan membayar Rp. 30.000 untuk menikmati Curug Bajing.
Curug Bajing.
Dari area parkir wisatawan harus berjalan sekitar 300 meter jika ingin menuju pusat air terjun Curug Bajing. Tidak perlu khawatir jika malas menuju air mancur, air terjun Curug Bajing terlihat dari jauh, dan sudah disediakan banyak tempat berfoto. Di dekat air terjun setinggi 15 meter ini berdiri mushalla dan warung, meskipun posisinya dirasa kurang pas oleh para fotografer.

Lokasi via Google: https://goo.gl/maps/cyVZA2kWVN72

6. Curug Lawe
Curug Lawe menjadi destinasi terakhir APNE 2017 sekaligus tempat makan sore peserta. Wakil Bupati Pekalongan, Ir. Hj. Arini Harimurti bersama Muspida juga hadir untuk bertatap muka dengan peserta dan warga yang sudah memadati area ekowisata Curug Lawe. Pintu masuk ekowisata ini berjarak 22 kilometer dari Kantor Kecamatan Doro, kami sempat melewatinya ketika menuju Curug Bajing.

Ekowisata Curug Lawe berdekatan dengan pemukiman warga dan cukup ramai dikunjungi. Air terjun Curug Lawe-nya sendiri berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pintu masuk, bisa ditempuh dengan jalan kaki atau motor trail. Jika ingin membonceng motor trail, wisatawan harus merogoh kocek Rp. 45.000 pulang-pergi.
Rumah jerami.
Area ekowisata didominasi hutan Pinus, 100 meter pertama dari loket menuju Curug Lawe merupakan area wisata keluarga. Tempat berkemah disediakan pengelola, selain pohon selfie. Yang menjadi keunikan Curug Lawe adalah payung yang digantung sebagai latar belakang foto, rumah jerami, dan area Hammock (tempat tidur gantung yang dipasang antara 2 pohon). Semua bisa dinikmati wisatawan secara gratis, setelah membayar tiket masuk Rp. 5.000.
Area Hammock.
Saya, Rizki, dan Faisol menumpang mobil panitia sehingga sampai di Ekowisata Curug Lawe lebih cepat dari peserta lain. Tanpa menyia-nyiakan waktu, kami mencoba menuju lokasi air terjun Curug Lawe. Jalan bebatuan selebar 1 meter cukup menyulitkan kami melangkahkan kaki lebih cepat. Sepertinya jalanan ini didesain untuk motor trail, bukan untuk pejalan kaki.
Payung di hutan Pinus.
Hari semakin gelap, suara sound system di lokasi penyembutan Wakil Bupati semakin hilang. Sunyi sekali, sambil menekan rasa takut, akhirnya sampai juga di Jurug Trowongan (tulisan di papan). Air terjun mengalir landai, mungkin saat musim kemarau seperti sekarang menjadi penyebab air terjun tidak mengalir deras.

Jam menunjukkan angka 16.43 WIB, kabut mulai turun, dan hari mulai gelap. Kami putuskan untuk balik lagi ke lokasi acara, tidak berani mengambil resiko. Sebelum pulang saya baru membaca pengumuman di loket, himbauan untuk tidak berangkat menuju lokasi Curug Sewu di atas jam 16.00 WIB.
Jurug Trowongan.
Lokasi via Google: https://goo.gl/maps/Xy6k7exubD52

Peserta APNE 2017 pulang dari Curug Lawe jam 17.35 WIB menuju Kantor Kecamatan Doro, kemudian ganti dengan bus besar menuju penginapan. Kami sampai di hotel jam 20.50 WIB, hari yang melelahkan namun membawa pengalaman dan pengetahuan baru wisata alam Indonesia khususnya Kabupaten Pekalongan.

Transportasi menuju Petungkriyono
Ada tiga cara yang saya ketahui, untuk mengeksplor Petungkriyono Cultural-Techno Forestry Park.
  1. Menggunakan kendaraan pribadi atau sewa.
  2. Menuju titik keberangkatan Anggun Paris di Terminal Doro, ada angkutan kota dari Kota Pekalongan dan Kajen. Ongkos yang dikeluarkan kurang lebih Rp. 20.000 sekali jalan.
  3. Ikut paket wisata Pokdarwis Petungkriyono, dengan titik keberangkatan dari Terminal Doro. Paket Rp. 100.000 sudah termasuk transportasi, pemandu, makan, tiket masuk obyek wisata, dan asuransi. Paket wisata minimal 15 orang, jika berangkat sendiri sebaiknya menghubungi Pokdarwis agar mendapat jadwal keberangkatan.
Tips Mengeksplor Wisata Alam Petungkriyono
  • Membuat itinerary sedetail mungkin.
  • Berangkat sepagi mungkin, atau berangkat tengah malam untuk melihat matahari terbit.
  • Bawa bekal yang cukup di perjalanan.
  • Sehat jasmani dan stamina yang prima.
  • Alas kaki yang tepat, sepatu atau sandal gunung adalah yang terbaik.
  • Berdo'a agar diberi kesehatan dan keselamatan selama perjalanan.

Referensi:
¹ Peta dan Profil Kecamatan Petungkriyono
² MoU "Petungkriyono Cultural-Techno Forestry Park" Ditandatangani.

Merawat Kearifan Lokal dengan Parade Dolanan Bocah di Sepanjang Pedestrian Malioboro

Tempat duduk di sepanjang pedestrian Malioboro masih kosong ketika aku sampai di sana, pengunjung sepertinya enggan menempati. Wajar saja, siang itu matahari memancarkan sinar bagai tanpa penghalang menembus atmosfer bumi, sangat terik. Dari ujung selatan Malioboro, kulangkahkan kaki ke utara menuju kantor Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); Jalan Malioboro 56 Yogyakarta. Di situlah tempat titik kumpul Parade Bocah Dolanan, yang merupakan bagian dari Mataram Culture Festival 2.
Persiapan menuju titik-titik permainan.
Mataram Culture Festival 2 pada hari Sabtu, 15 Juli 2017 terbagi dalam 2 acara; Parade Bocah Dolanan pada jam 14.00-16.30 WIB dan Mataram Art Performance pada jam 18.00-21.00 WIB. Parade Bocah dolanan berupaya mengangkat kembali dolanan (permainan) anak di ruang terbuka Malioboro.

Dalam sambutan yang direkam para pewarta warga, Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata DIY, Aria Nugrahadi berharap; di waktu mendatang Malioboro dapat menjadi tempat interaksi memainkan dolanan anak.
3 laki bertopi; Mas Topi, Pak Aria, dan Dek Bre.
"Gabungan perspektif budaya dan pariwisata akan menggugah kembali Yogyakarta sebagai rahim dari NKRI. Menunjukkan di Yogyakarta, aspek kebhinnekaan demikian kuat, budaya menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan." Imbuh beliau sebelum parade dimulai.

7 dolanan akan dimainkan di beberapa titik sepanjang pedestrian malioboro. Dolanan tidak dilakukan serempak, tapi dengan cara parade yang dimulai dari depan Kantor Dispar DIY. Sehingga para wisatawan di Malioboro dapat menikmati dan berinteraksi secara berurutan, tanpa takut kehilangan momen dolanan di titik lain.

1. Egrang bambu
4 bocah laki-laki dan 2 perempuan bermain Egrang diiringi kendang. Mereka melangkahkan kaki serempak, hentakan bambu berirama memunculkan satu lagu. Nyaringnya bunyi kendang menambah unik ornamen musik tradisional ini.

Egrang bambu.
Sekitar 15 menit mereka bermain di depan Kantor Dispar DIY, kemudian menyusul rekan-rekannya di depan Gedung DPRD DIY untuk bermain bersama.
2. Egrang Bathok
Selain dari bambu, ada juga Egrang Bathok (tempurung) kelapa. Bathok yang telah terbelah menjadi dua dilubangi pada bagian tengah, dan diberi tali sepanjang 0,5 meter untuk pegangan tangan. Kita bisa membuat sendiri dan bermain di rumah, tali yang digunakan sebaiknya tali pramuka yang memiliki serat halus untuk meminimalisir lecet pada kaki pemain.
Menanti kode dari panitia.
Idealnya, tempat bermain Egrang Bathok adalah lantai tanah atau pasir yang memiliki daya cengkram kuat. Berbeda dengan tegel, keramik, atau lantai semen yang licin, karena pemain lebih mudah terpeleset. Berhati-hatilah jika bermain Egrang Bathok di tempat licin tersebut.
Egrang Bathok di depan DPRD DIY.
Adik-adik ini datang dari Dusun Garon Desa Tambakromo Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul. Mbak Yuni yang menjadi pendamping mereka mengatakan bahwa mereka hanya berlatih kekompakan selama sepekan. Di sekolah masing-masing, Egrang sudah menjadi permainan rutin sebelum bel masuk berbunyi.

3. Lompat Bambu
Bergeser ke selatan tepatnya di depan Mal Malioboro, sudah menunggu adik-adik yang akan "dolanan" Lompat Bambu. 4 berkostum merah dan 4 berkostum hijau, semuanya perempuan. Yang jadi pertanyaan, kenapa alas kaki mereka berbeda warna kanan dengan kiri? 😀 Itu memang bagian dari kostum panggung kok, ketika di sekolah mereka memakai sepasang sepatu berwarna sama.
Menunggu di depan Mal Malioboro.
Dua orang duduk saling berhadapan memegang sepasang bambu, dua lainnya melakukan hal yang sama sehingga terbentuk kotak bambu di tengah-tengah mereka. Bambu dipukulkan 2-3 kali ke lantai berirama bersamaan, dalam keadaan terbuka dan tertutup.
Lompat Bambu.
Pemain yang tidak kebagian memegang bambu, melangkahkan kakinya di sela-sela bambu; usahakan tidak terjepit. Lebih jelasnya saksikan video di bawah ini.
Sempat berbincang dengan Mbak Fitra guru tari Sanggar Saraswati Nglipar Gunungkidul; yang mendampingi adik-adik ini. Dalam Parade Bocah Dolanan mereka didapuk dolanan Lompat Bambu dan Jamuran. Agak kaget ternyata pemain dolanan ada yang sudah SMA 😁. Maaf ya dek, kukira semua masih SD..

4. Jamuran
Hari mulai sore, sinar matahari mulai terhalang puncak pertokoan yang menjulang di barat Jalan Malioboro. Di depan Hotel Mutiara sudah bersiap adik-adik yang akan bermain Jamuran, tinggal menunggu kode dari Person In Charge.
Salam janur kuning.
Dolanan ini memiliki berbagai lirik dan lagu, tergantung daerahnya. Mungkin saja di kota Jogja dengan di Gunungkidul beda lirik. Sebagian lirik yang dilantunkan 8 adik ini baru pertama kali kudengar. Lirik Jamuran yang masih kuingat:
Jamuran, yo gege thok
Sira badhe jamur opo wong dheso?
Lirik bisa saja berbeda, tapi inti permainannya sama. Satu orang harus "dadi"; kata yang susah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, mungkin bisa diartikan the loser. Dia harus menentukan akan bermain jamur apa? Pada dolanan kemarin, Waginuk (sebutan bagi yang "dadi") ingin bermain jamur kursi.
Jamur kursi.
Semua pemain lalu berpose seperti kursi, siapa yang tidak kuat dan kelihatan giginya ketika diduduki Waginuk, dialah yang "dadi" Waginuk selanjutnya.
Mbak Jihan dan Ayuningrum yang menemani adik-adik dolanan Jamuran menyampaikan dolanan ini sudah biasa dilakukan di desa mereka, Kwarasan Wetan dan Kedung Keris Kecamatan Nglipar Gunungkidul. Nglipar merupakan salah satu dari 15 desa/kecamatan yang menjadi Desa Budaya di Kabupaten Gunungkidul.

5. Lompat Tali
Membuat tali untuk dolanan ini harus sabar, merangkai satu-persatu karet gelang hingga terbentuk tali. Saat aku bocah, supaya tidak cepat putus, karet gelang didobel. Kenapa karet gelang, bukan tali tampar? Karet gelang lunak dan melar. Tidak akan melukai pemain jika gagal melewati tali.
Lompat Tali mode diam berdiri.
2 kostum berbeda dikenakan adik-adik dari Monggang Sewon Bantul, sebagai penanda 2 grup dolanan Lompat Tali. Grup pertama Lompat Tali mode diam dan kedua mode bergerak. Pada mode diam, dua orang pemain berdiri dalam posisi diam sambil memegang tali karet gelang. Pemain lain wajib melewati tali tersebut dengan gerakan sesuai kesepakatan. Ada yang boleh menyentuh tali, boleh dengan bantuan tangan, ada juga yang koprol.

Dulu, aku dolanan lompat tali dengan 7 tingkatan; sak dengkul, tim, udel, dodo, kuping, sirah, dan sak merdekaaa.... 😂. Sak merdeka sama dengan mengangkat tangan. Pemain yang ingin melewatinya boleh menggunakan bantuan tangan.
Lompat tali mode skipping.
Ada juga mode diam ndodhok, tingkatannya hampir sama; sak lemah, tim, udel, dodo, kuping, sirah, dan sak merdekaa...😁.

Mode dolanan Lompat Tali yang mendunia adalah mode bergerak atau skipping yang bisa dilakukan mandiri maupun kelompok. Dua orang pemain memegang ujung tali yang diayunkan sesuai jarum jam, pemain lain lalu masuk ke dalam tengah lingkaran tali yang diayun (sejajar dengan kedua pemain yang mengayunkan tali) dan berusaha melompati tali yang diayun.

6. Sledur - Ancak-ancak Alis - Ular Naga
Flyer yang beredar menyebutkan dolanan Dakon di Supermarket Ramayana. Aku sempat clingak-clinguk sambil berjalan tapi tidak ketemu, nyatanya Dakon diganti dengan dolanan Sledur di depan Batik Keris; yang terletak di utara Supermarket Ramayana.
Narsis dulu ya...
Beberapa daerah memiliki nama dan lagu berbeda. Aku mengenal dolanan ini dengan Slebur, sebagian anak di kota Jogja menyebutnya Ular Naga Panjang, ada juga yang menyebutnya sepur-sepuran, atau ular-ularan. Dolanan yang dimainkan adik-adik dari Kampung Wisata Langenastran, Panembahan, Kecamatan Kraton Yogyakarta ini dinamakan Ancak-ancak Alis.
Hihihi,, adik-adik ini lucu nggerombol gitu 😀, kostum yang dikenakan pun unik. Ikat kepala dan kalung dari daun singkong.
Sledur atau Ancak-ancak Alis.

7. Icipilli Mitirimin
Dolanan terakhir pada Parade Dolanan Bocah adalah Icipilli Mitirimin di seberang Gedung Agung. Icipilli Mitirimin adalah versi anak dari Acapella Mataraman dari Studio Omah Cangkem Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Lewat kesenian ini diharapkan anak dapat bermain sekaligus belajar.
Membuat kerajinan janur kuning.
Ketika aku sampai di sana, para pemain Icipilli Mitirimin sudah duduk di atas tikar. Mereka sibuk membuat kerajinan dari janur kuning, ada peluit, burung, hingga keris. Beberapa saat kemudian mereka memulai aksinya dengan diawali dengan lagu Aku Anak Jogja, dengan mode acapella.
Tak berhenti sampai di situ, sambil bernyanyi dan menari mereka memberikan hasil kerajinan mereka kepada para penonton dan wisatawan yang kebetulan berjalan di depan tempat dolanan.
Menari bersama pengunjung.
Yang menarik, pada lagu terakhir mereka mengajak pengunjung ikut menari dengan alunan Icipilli Mitirimin. Bagi wisatawan asing, peristiwa ini termasuk langka sehingga mereka dengan senang hati ikut bergabung.
Parade Dolanan Bocah di ruang terbuka Malioboro menjadi daya tarik pengunjung, terutama wisatawan luar kota dan manca negara. Pengunjung juga bisa berinteraksi dan mencoba dolanan yang sudah mulai dilupakan, karena keterbatasan lahan terbuka di lingkungan tempat tinggal.

Kearifan lokal ini patut dijaga dan dilestarikan, agar terhindar dari kepunahan. Semoga Parade Dolanan Bocah ini ditingkatkan menjadi agenda bulanan, bukan lagi tahunan.

Video Mataram Culture Festival 2 (2017):
- Video testimoni (dilihat dan diunduh tanggal 17 Juli 2017)
- Video Egrang Bambu dan Egrang Bathok
- Video Lompat Bambu
- Video Jamuran
- Video Lompat Tali
- Video Slebur atau Ular Naga:
- Video Icipilli Mitirimin
- Video Icipilli Menari