Merawat Kearifan Lokal dengan Parade Dolanan Bocah di Sepanjang Pedestrian Malioboro

metuomah.com July 19, 2017
Tempat duduk di sepanjang pedestrian Malioboro masih kosong ketika aku sampai di sana, pengunjung sepertinya enggan menempati. Wajar saja, siang itu matahari memancarkan sinar bagai tanpa penghalang menembus atmosfer bumi, sangat terik. Dari ujung selatan Malioboro, kulangkahkan kaki ke utara menuju kantor Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); Jalan Malioboro 56 Yogyakarta. Di situlah tempat titik kumpul Parade Bocah Dolanan, yang merupakan bagian dari Mataram Culture Festival 2.
Persiapan menuju titik-titik permainan.
Mataram Culture Festival 2 pada hari Sabtu, 15 Juli 2017 terbagi dalam 2 acara; Parade Bocah Dolanan pada jam 14.00-16.30 WIB dan Mataram Art Performance pada jam 18.00-21.00 WIB. Parade Bocah dolanan berupaya mengangkat kembali dolanan (permainan) anak di ruang terbuka Malioboro.

Dalam sambutan yang direkam para pewarta warga, Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata DIY, Aria Nugrahadi berharap; di waktu mendatang Malioboro dapat menjadi tempat interaksi memainkan dolanan anak.
3 laki bertopi; Mas Topi, Pak Aria, dan Dek Bre.
"Gabungan perspektif budaya dan pariwisata akan menggugah kembali Yogyakarta sebagai rahim dari NKRI. Menunjukkan di Yogyakarta, aspek kebhinnekaan demikian kuat, budaya menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan." Imbuh beliau sebelum parade dimulai.

7 dolanan akan dimainkan di beberapa titik sepanjang pedestrian malioboro. Dolanan tidak dilakukan serempak, tapi dengan cara parade yang dimulai dari depan Kantor Dispar DIY. Sehingga para wisatawan di Malioboro dapat menikmati dan berinteraksi secara berurutan, tanpa takut kehilangan momen dolanan di titik lain.

1. Egrang bambu
4 bocah laki-laki dan 2 perempuan bermain Egrang diiringi kendang. Mereka melangkahkan kaki serempak, hentakan bambu berirama memunculkan satu lagu. Nyaringnya bunyi kendang menambah unik ornamen musik tradisional ini.

Egrang bambu.
Sekitar 15 menit mereka bermain di depan Kantor Dispar DIY, kemudian menyusul rekan-rekannya di depan Gedung DPRD DIY untuk bermain bersama.
2. Egrang Bathok
Selain dari bambu, ada juga Egrang Bathok (tempurung) kelapa. Bathok yang telah terbelah menjadi dua dilubangi pada bagian tengah, dan diberi tali sepanjang 0,5 meter untuk pegangan tangan. Kita bisa membuat sendiri dan bermain di rumah, tali yang digunakan sebaiknya tali pramuka yang memiliki serat halus untuk meminimalisir lecet pada kaki pemain.
Menanti kode dari panitia.
Idealnya, tempat bermain Egrang Bathok adalah lantai tanah atau pasir yang memiliki daya cengkram kuat. Berbeda dengan tegel, keramik, atau lantai semen yang licin, karena pemain lebih mudah terpeleset. Berhati-hatilah jika bermain Egrang Bathok di tempat licin tersebut.
Egrang Bathok di depan DPRD DIY.
Adik-adik ini datang dari Dusun Garon Desa Tambakromo Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul. Mbak Yuni yang menjadi pendamping mereka mengatakan bahwa mereka hanya berlatih kekompakan selama sepekan. Di sekolah masing-masing, Egrang sudah menjadi permainan rutin sebelum bel masuk berbunyi.

3. Lompat Bambu
Bergeser ke selatan tepatnya di depan Mal Malioboro, sudah menunggu adik-adik yang akan "dolanan" Lompat Bambu. 4 berkostum merah dan 4 berkostum hijau, semuanya perempuan. Yang jadi pertanyaan, kenapa alas kaki mereka berbeda warna kanan dengan kiri? 😀 Itu memang bagian dari kostum panggung kok, ketika di sekolah mereka memakai sepasang sepatu berwarna sama.
Menunggu di depan Mal Malioboro.
Dua orang duduk saling berhadapan memegang sepasang bambu, dua lainnya melakukan hal yang sama sehingga terbentuk kotak bambu di tengah-tengah mereka. Bambu dipukulkan 2-3 kali ke lantai berirama bersamaan, dalam keadaan terbuka dan tertutup.
Lompat Bambu.
Pemain yang tidak kebagian memegang bambu, melangkahkan kakinya di sela-sela bambu; usahakan tidak terjepit. Lebih jelasnya saksikan video di bawah ini.
Sempat berbincang dengan Mbak Fitra guru tari Sanggar Saraswati Nglipar Gunungkidul; yang mendampingi adik-adik ini. Dalam Parade Bocah Dolanan mereka didapuk dolanan Lompat Bambu dan Jamuran. Agak kaget ternyata pemain dolanan ada yang sudah SMA 😁. Maaf ya dek, kukira semua masih SD..

4. Jamuran
Hari mulai sore, sinar matahari mulai terhalang puncak pertokoan yang menjulang di barat Jalan Malioboro. Di depan Hotel Mutiara sudah bersiap adik-adik yang akan bermain Jamuran, tinggal menunggu kode dari Person In Charge.
Salam janur kuning.
Dolanan ini memiliki berbagai lirik dan lagu, tergantung daerahnya. Mungkin saja di kota Jogja dengan di Gunungkidul beda lirik. Sebagian lirik yang dilantunkan 8 adik ini baru pertama kali kudengar. Lirik Jamuran yang masih kuingat:
Jamuran, yo gege thok
Sira badhe jamur opo wong dheso?
Lirik bisa saja berbeda, tapi inti permainannya sama. Satu orang harus "dadi"; kata yang susah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, mungkin bisa diartikan the loser. Dia harus menentukan akan bermain jamur apa? Pada dolanan kemarin, Waginuk (sebutan bagi yang "dadi") ingin bermain jamur kursi.
Jamur kursi.
Semua pemain lalu berpose seperti kursi, siapa yang tidak kuat dan kelihatan giginya ketika diduduki Waginuk, dialah yang "dadi" Waginuk selanjutnya.
Mbak Jihan dan Ayuningrum yang menemani adik-adik dolanan Jamuran menyampaikan dolanan ini sudah biasa dilakukan di desa mereka, Kwarasan Wetan dan Kedung Keris Kecamatan Nglipar Gunungkidul. Nglipar merupakan salah satu dari 15 desa/kecamatan yang menjadi Desa Budaya di Kabupaten Gunungkidul.

5. Lompat Tali
Membuat tali untuk dolanan ini harus sabar, merangkai satu-persatu karet gelang hingga terbentuk tali. Saat aku bocah, supaya tidak cepat putus, karet gelang didobel. Kenapa karet gelang, bukan tali tampar? Karet gelang lunak dan melar. Tidak akan melukai pemain jika gagal melewati tali.
Lompat Tali mode diam berdiri.
2 kostum berbeda dikenakan adik-adik dari Monggang Sewon Bantul, sebagai penanda 2 grup dolanan Lompat Tali. Grup pertama Lompat Tali mode diam dan kedua mode bergerak. Pada mode diam, dua orang pemain berdiri dalam posisi diam sambil memegang tali karet gelang. Pemain lain wajib melewati tali tersebut dengan gerakan sesuai kesepakatan. Ada yang boleh menyentuh tali, boleh dengan bantuan tangan, ada juga yang koprol.

Dulu, aku dolanan lompat tali dengan 7 tingkatan; sak dengkul, tim, udel, dodo, kuping, sirah, dan sak merdekaaa.... 😂. Sak merdeka sama dengan mengangkat tangan. Pemain yang ingin melewatinya boleh menggunakan bantuan tangan.
Lompat tali mode skipping.
Ada juga mode diam ndodhok, tingkatannya hampir sama; sak lemah, tim, udel, dodo, kuping, sirah, dan sak merdekaa...😁.

Mode dolanan Lompat Tali yang mendunia adalah mode bergerak atau skipping yang bisa dilakukan mandiri maupun kelompok. Dua orang pemain memegang ujung tali yang diayunkan sesuai jarum jam, pemain lain lalu masuk ke dalam tengah lingkaran tali yang diayun (sejajar dengan kedua pemain yang mengayunkan tali) dan berusaha melompati tali yang diayun.

6. Sledur - Ancak-ancak Alis - Ular Naga
Flyer yang beredar menyebutkan dolanan Dakon di Supermarket Ramayana. Aku sempat clingak-clinguk sambil berjalan tapi tidak ketemu, nyatanya Dakon diganti dengan dolanan Sledur di depan Batik Keris; yang terletak di utara Supermarket Ramayana.
Narsis dulu ya...
Beberapa daerah memiliki nama dan lagu berbeda. Aku mengenal dolanan ini dengan Slebur, sebagian anak di kota Jogja menyebutnya Ular Naga Panjang, ada juga yang menyebutnya sepur-sepuran, atau ular-ularan. Dolanan yang dimainkan adik-adik dari Kampung Wisata Langenastran, Panembahan, Kecamatan Kraton Yogyakarta ini dinamakan Ancak-ancak Alis.
Hihihi,, adik-adik ini lucu nggerombol gitu 😀, kostum yang dikenakan pun unik. Ikat kepala dan kalung dari daun singkong.
Sledur atau Ancak-ancak Alis.

7. Icipilli Mitirimin
Dolanan terakhir pada Parade Dolanan Bocah adalah Icipilli Mitirimin di seberang Gedung Agung. Icipilli Mitirimin adalah versi anak dari Acapella Mataraman dari Studio Omah Cangkem Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Lewat kesenian ini diharapkan anak dapat bermain sekaligus belajar.
Membuat kerajinan janur kuning.
Ketika aku sampai di sana, para pemain Icipilli Mitirimin sudah duduk di atas tikar. Mereka sibuk membuat kerajinan dari janur kuning, ada peluit, burung, hingga keris. Beberapa saat kemudian mereka memulai aksinya dengan diawali dengan lagu Aku Anak Jogja, dengan mode acapella.
Tak berhenti sampai di situ, sambil bernyanyi dan menari mereka memberikan hasil kerajinan mereka kepada para penonton dan wisatawan yang kebetulan berjalan di depan tempat dolanan.
Menari bersama pengunjung.
Yang menarik, pada lagu terakhir mereka mengajak pengunjung ikut menari dengan alunan Icipilli Mitirimin. Bagi wisatawan asing, peristiwa ini termasuk langka sehingga mereka dengan senang hati ikut bergabung.
Parade Dolanan Bocah di ruang terbuka Malioboro menjadi daya tarik pengunjung, terutama wisatawan luar kota dan manca negara. Pengunjung juga bisa berinteraksi dan mencoba dolanan yang sudah mulai dilupakan, karena keterbatasan lahan terbuka di lingkungan tempat tinggal.

Kearifan lokal ini patut dijaga dan dilestarikan, agar terhindar dari kepunahan. Semoga Parade Dolanan Bocah ini ditingkatkan menjadi agenda bulanan, bukan lagi tahunan.

Video Mataram Culture Festival 2 (2017):
- Video testimoni (dilihat dan diunduh tanggal 17 Juli 2017)
- Video Egrang Bambu dan Egrang Bathok
- Video Lompat Bambu
- Video Jamuran
- Video Lompat Tali
- Video Slebur atau Ular Naga:
- Video Icipilli Mitirimin
- Video Icipilli Menari

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »