Dua Malam di Hotel Sahid Mandarin Pekalongan

Sampai di Stasiun Pekalongan, aku dijemput Mas Edi kemudian ke Food Market untuk menjemput peserta APNE 2017 yang sudah datang di Pekalongan. Dengan 2 mobil kami menuju ke penginapan di Hotel Sahid Mandarin di timur kota Pekalongan.

Hotel Sahid Mandarin berada di Jalan Dr. Sutomo (Dupan Square Complex), Baros, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan, Jawa Tengah 51114, sekitar 200 meter depan Terminal Pekalongan. Di komplek ini ada arena permainan, hall, pertokoan, serta mushalla. Kami masuk dari pintu belakang, membuat tiap orang yang pertama kali datang merasa aneh, “Hotel kok seperti mall yang sepi.” Aku malah menduga hotel ini bekas pertokoan yang belum laku disewa, sampai sekarang aku belum mendapat penjelasan tentang hal ini.
Hotel Sahid Mandarin Pekalongan.

Jadi jika dilihat dari belakang, pintu masuk berada di tengah-tengah bangunan (seperti ruko, mall, atau entahlah). Setelah masuk di dalamnya, sepintas seperti mall sepi berlantai 3, di tengah bangunan terdapat eskalator, pengunjung di lantai dasar bisa melihat kubah penutup bangunan. Di sisi kanan ada ballroom Hotel Sahid Mandarin, di kanan depan ada restoran masakan cina, dan di beberapa sekat seperti ada perkantoran.... tapi entahlah.

Aku berkeliling sejenak mengamati bangunan, ketika ke belakang, ulalala... ternyata lobby hotel menghadap selatan, yang disekat oleh jendela kaca dan pintu alumunium. Di sinilah aku merasakan penyejuk ruangan, karena di ruangan tengah tadi tidak berpendingin. Pekalongan demikian panas khas Pantai Utara Jawa, padahal sebelum berangkat ke sini, cuaca di Jogja dingin kemarau (biasa datang antara Juli – Agustus – September), kontras sekali. Aku pindah ke lobby sambil menunggu check-in jam 14.00 WIB.

Lantai Dasar
Selain resepsionis dan ruang tunggu, di lantai dasar terdapat ruang transit, dan mini cafe. Dua lift juga tersedia di hotel yang kata Mbak Inayah bintang tiga. Mushalla yang tidak berpendingin dan kipas angin berada di pojok barat daya, mampu menampung sekitar 10 orang. Sedangkan toilet tamu ada di sebelah mushalla.
Lobby hotel.

Menuju Kamar Hotel
Aku dapat ruang di lantai 1 (1 tingkat di atas lobby di lantai dasar). Aku mencoba naik lift, tapi waktu tunggu lift turun serasa sama jika naik lewat tangga. Tangga berada di sisi barat laut, landai dan tidak begitu tinggi.

Penunjuk nomor kamar tergantung di plafon, aku sempat bingung kok tidak ada nomor 180an? Setelah bertanya pada seorang karyawan (entah bagian apa), ternyata kamar tersebut berada di lorong paling timur di ujung utara (timur laut). Dan kini saatnya masuk kamaaaarr..

Membuka Kamar Hotel
Sudah kucoba berulang kali menggunakan kunci magnetik tapi pintu kamar tidak terbuka juga. Putus asa, kuhampiri mas keeper yang sedang membersihkan kamar di dekat coffee shop untuk meminta bantuannya. Jadi begini, cara buka pintu Sahid Mandarin adalah masukkan kartu lalu cepat-cepat ditarik. Perhatikan kedipan lampu LED (jika ada), sambil menekan tuas pintu. Setelah terdengar bunyi "cekrek", artinya kunci terbuka.

Rupanya tidak hanya aku saja yang kesulitan, beberapa teman lain malah ada yang ganti kunci, ada juga yang tidak bisa buka pintu dari dalam,, hahahah..... buka pintunya harus dengan perasaan ya. Bahkan teman sekamarku saja tidak bisa membuka pintu wkwkkw. Aku juga sempat membantu tamu hotel yang awalnya kesulitan membukanya. Alhamdulillah, sekali diajari aku selalu bisa membuka pintu dari luar. Sistem kunci tiap hotel berbeda, mungkin karena sering di hotel yang sistem bukanya hanya dengan tap kartu magnetik, jadi kesulitan dengan sistem model seperti ATM.
Tarif hotel.

Kamar Hotel
Aku mendapat twin bed, pemandangan luar jendela menghadap kamar lain, sinar matahari cukup menerangi kamar yang kutempati. Perabotan di dalamnya standar, pendingin ruangan seperti di rumah tinggal (bukan sentral). Kakus menghadap timur yang di depannya terdapat wastafel dan cermin :). Sedangkan tempat mandi berada di sebelah kakus dengan batas kain toilet. Dua pilihan air hangat dan dingin, semua berjalan baik.

Yang agak kuherankan adalah jumlah sikat gigi dan sandal hotel cuma 1 :). Hari berikutnya dapat sabun dan shampo baru :).

Koneksi internet di kamar cepat dan lancar tanpa halangan. Saluran televisi? Seperti halnya hotel lain, aku tidak tertarik menontonnya karena terlalu banyak kanal. Aku lupa memotret kondisi kamar wkwkwk, tapi secara keseluruhan nyaman kok.

Ballroom
Acara pembukaan oleh Bupati Pekalongan diadakan di ballroom, para peserta makan nasi kotak dari panitia. Kenapa tidak menggunakan katering hotel? Aku tidak tahu. Ballroom kira-kira bisa memuat 200 orang, ketika itu bagian belakang kosong dan digunakan untuk bagi-bagi nasi kotak.

Coffee Shop/Restoran
Setahuku, biasanya restoran berada di lantai utama, tapi di Sahid Mandarin ada di lantai 1. Yang kuingat ada bubur ayam dan nasi goreng untuk menu nusantara, tidak banyak pilihan. Dua kali makan pagi di sini aku tertarik makan megono dan garang asem khas Pekalongan. Rasanya? Tidak tahu hehehe, mungkin bumbu masakan Pekalongan begitu. Untuk minuman aku tidak menemukan susu dan minuman khas Pekalongan (adakah? Aku tidak tahu).
Restoran.

Sepanjang bermalam di Sahid Mandarin, tidak ada kendala dan keluhan, semua berjalan dengan baik. Transportasi berbasis online sudah tersedia di sini, memudahkan tamu yang ingin bepergian tapi malas naik armada plat kuning. Semoga aku bisa kembali ke Pekalongan.

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »

2 komentar

komentar
9/4/17, 2:55 PM delete

megononya kebanyakan kecombrang, garangasemnya hambar. Jadi enakan versi food market kalau kata mas Rudi Belalang.

minuman Pekalongan harusnya ada yg khas, kopi tahlil. iya sih, variannya ga lengkap ya, aku g ngeh malah sama susu.

soal catering, alasannya ada...tapi japri aja kalau mau tahu wkwkkw.

Reply
avatar
9/5/17, 5:47 AM delete

Setalah makan megono di rumah dinas bupati, baru tahu perbedaannya :D. Aku agak bingung waktu ngambil garang asem, kukira soto karena cuer.

Dari label kotak nasi kayaknya menjawab sedikit penasaran :-d. Mungkin masih ada lainnya? Wkwkwk

Reply
avatar