Menduniakan Petungkriyono dengan Batik

Usai sehari penuh melakukan eksplor di hutan alam Petungkriyono Cultural-Techno Forestry Park, hari berikutnya (6/8/2017) para peserta APNE 2017 (Amazing Petung National Explore) berangkat menuju Padepokan Batik Pesisir Failasuf di Jl KH. Hasyim Ashari 231 Kemplong Wiradesa Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, untuk menghadiri peluncuran Batik Petungkriyono.

Setelah peserta check out dari Hotel Sahid Mandarin, kami diberangkatkan dengan bus besar jam 11.20 WIB. Sebagian peserta membawa kendaraan pribadi menuju padepokan, rombongan sampai di tempat milik H.A. Failasuf jam 12.10 WIB. Padepokan Batik Pesisir berada di belakang showroom, yang terpisah dengan jalan kampung.

Sebelum acara inti dimulai, kami dipersilahkan berkeliling menyaksikan pembuatan Batik Pesisir dari membuat pola hingga menjadi sebuah kain batik utuh. Butuh waktu 1-3 bulan membuat satu potong batik tulis, tak mengherankan harga batik tulis begitu tinggi, apalagi jika kain yang digunakan untuk bahan bahan batik adalah kain tenun yang dibuat dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Selain batik tulis, proses pembuatan batik cap juga dilakukan di padepokan ini.
Salah satu desain Batik Petungkriyono.
Setelah makan siang, hadirin diperlihatkan 3 kain Batik Petungkriyono yang didesain oleh H.A Failasuf. Semua batik tersebut baru menyelesaikan proses ketiga yaitu membatik. Warna dasar masih putih, belum melalui proses nembok, medel, ngerok, nglorod, dan seterusnya. Batik akan jadi 100% paling lambat 3 bulan lagi.

Batik Petungkriyono menggambarkan keindahan Curug Bajing dan pendoponya, pegunungan, kekayaan flora di hutan rakyat yang menjadi paru-paru Pulau Jawa, serta aktivitas warga sehari-hari.
Desain lain Batik Petungkriyono.
“Apa yang pernah kita lihat kemudian lukiskan dalam sebuah batik." Demikian yang dikatakan H.A. Failasuf saat memberi penjelasan latar belakang dan proses pembuatan Batik Petungkriyono. "Kata batik jika dibalik menjadi kitab, sehingga bisa dikatakan dalam kitab batik menceritakan, menggambarkan suatu peristiwa yang memiliki makna. Batik Petungkriyono menceritakan legenda Petungkriyono untuk Indonesia."

Batik Pekalongan diciptakan berdasarkan hasil pengamatan, pemikiran, perenungan, serta perasaan pada sesuatu; yang diungkapkan pada sebuah kain dan menjadi karya adiluhung untuk dinikmati. Dengan diluncurkannya Batik Petungkriyono ini, harapan ke depan Petungkriyono semakin terkenal di mata dunia.

Sementara itu Bupati Pekalongan, H. Asip Kholbihi, SH, M.Si menyampaikan bahwa Batik Petungkriyono adalah salah satu masterpiece Batik Pekalongan yang dibuat oleh batik Pesisir H.A. Failasuf.
H.A Failasuf dan Asip Kholbihi.
Beliau menandaskan seperti yang telah disampaikan saat pembukaan APNE 2017 di Hotel Sahid Mandarin, "Batik Pekalongan memiliki 2 ciri khas yaitu kaya warna dan bermotif flora atau fauna."

Di Kabupaten Pekalongan masih banyak pembatik yang secara turun temurun turut melestarikan budaya bangsa. Batik telah menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat Kota Santri Pekalongan. Dari latar belakang itulah beliau memberi slogan (tagline) Kabupaten Pekalongan sebagai Bumi Legenda Batik Nusantara.

Batik Petungkriyono tidak didesain untuk menjadi kemeja, kebaya, atau dipakai dalam keseharian. Melainkan sebagai koleksi dan dipamerkan kepada masyarakat karena dalam batik ini memuat cerita dan filosofi Petungkriyono sebagai Kawasan Hutan Tujuan Khusus (KHTK).

Para Blogger, Fotografer, Droner, dan reporter yang mengikuti perhelatan program Pesona Indonesia di Kabupaten Pekalongan ini, menjadi tumpuan Bupati untuk menggairahkan upaya pembangunan di Kabupaten Pekalongan, termasuk memopulerkan Bumi Legenda Batik Nusantara.

Usai peluncuran Batik Petungkriyono, acara APNE 2017 secara resmi ditutup oleh Bupati Pekalongan. Kami berpisah hanya sesaat, kami tetap bersahabat, dan akan kembali mengeksplor Petungkriyono Cultural-Techno Forestry Park yang belum belum sempat kami singgahi.

Sampai jumpa lagi Petungkriyono..

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »