Rabu, 03 Juli 2019

Pecel Tumpang di Barat, Ada yang Suka?

Tahukah pembaca dengan makanan bernama tumpang? Agar tidak ambigu, ada tambahan kata di depannya, yang populer adalah sambel tumpang. Bahan utama menu tumpang adalah tempe bosok (busuk), diolah bersama aneka bumbu dapur jadilah menu menu berkuah ini. Setahuku menu ini ada di daerah Jawa Tengah bagian selatan seperti Solo raya hingga Jawa Timur.
Lupa, motretnya sudah di dalam mobil.
Ketika aku menemani teman ke Maospati, dengan mengambil rute Solo - Sragen - Ngawi - Maospati, kami mampir makan di Depot Makan Dewi Sri di Barat, Kabupaten Magetan Jawa Timur. Pukul 10.00 WIB sampai di rumah makan yang terletak di dekat Pasar Barat ini, kami adalah pengunjung pertama yang datang 😁. Entah dengan pertimbangan apa memilih tempat ini, kalau aku sih lebih suka sate (tapi kayaknya harganya lebih mahal 😂).
Baru buka sudah ada yang berkunjung.
Karena baru saja buka, belum banyak menu yang tersedia. Bingung kan mau makan apa? 😀 Mau makan ayam, kok bosan (dari Ramadhan hingga selesai lebaran makan ayam melulu). Mau pesan menu lain, kok belum ada hehehe, maklum baru saja buka... Akhirnya aku pesan menu pecel tumpang berpadu dengan minum es lidah buaya.
Pecel tumpang, krupuk harga terpisah.
Kami juga memesan tempe dan tahu tapi sengaja tidak ditampilkan di artikel ini 😃. Oke, lalu bagaimana rasa pecel tumpang? Sebelas dua belas dengan sambel tumpang, tidak ada bedanya. Pecel tumpang hanyalah kumpulan sayuran yang biasa dipakai untuk bahan utama pecel, sedangkan bumbu (sambel) pecelnya diganti dengan kuah tumpang. Dari penampilan sangat mirip dengan pecel original, setelah dicicipi barulah terasa perbedaannya. Ohiya, yang kumakan ini tidak pedas 😆.
Sebagian menu.
Harga di Depot Makan Dewi Sri cukup murah dan terjangkau, tempat makan cukup nyaman dan kondusif untuk makan bersama keluarga. Kenapa temanku mengajak makan ke sini? Karena 6 bulan sebelumnya mengadakan reuni di tempat ini 😑. Jika sebelumnya reuni dengan teman sekolah, kali ini reuni dengan makanannya.
Gazebo di depot makan.
Selain gazebo, lesehan, juga ada tempat makan menggunakan kursi. Tempat ini juga menyediakan "rumah" yang bisa disewa untuk reuni dan acara lain. Kusebut "rumah" karena tidak seluas aula sekolah maupun gedung serbaguna desa.


Letak depot makan ini masuk jalan kecil, tidak terlalu terlihat dari jalan utama. Satu lagi, jangan bandingkan depot ini dengan kota besar seperti Jogja atau Solo, atau di tempat makan di jalan nasional yang selalu ramai dikunjungi orang bepergian. Karena yang kutulis ini berada di kecamatan yang lumayan jauh dari kota besar.

Minggu, 30 Juni 2019

Naik KA Solo Ekspres, Alternatif Lingkapnya Tiket KA Prameks

Terpaksa, itulah kata yang keluar dari bibir (minimal dalam hati) para calon penumpang kereta api Solo - Jogja -Kutoarjo atau sebaliknya, ketika tahu tiket KA Prameks yang murah meriah lingkap tandas lenyap tak berbekas. Satu-satunya kereta api lokal yang tersisa hanyalah KA Solo Ekspres, dengan harga tiket 3 (koma sekian) kali lipat lebih mahal dari pada KA Prameks. Mau naik apa lagi? Masih ada tiket KA jarak jauh dengan tarif khusus, tapi harganya lebih mahal lagi. Mau naik bus, sangat tidak nyaman terutama macetnya jalan raya.

Aku mengalami sendiri kejadian seperti di atas, kira-kira sepekan usai hari raya Idulfitri. Karena suatu hal, kepulangan dari Solo ke Jogja mundur sehari. Padahal sebelumnya sudah beli tiket KA Prameks keberangkatan terakhir, otomatis tiketnya hangus. Aku tidak bisa beli tiket KA Prameks lewat aplikasi KAI karena faktor LinkAja.

Zobath kiss mean seperti diriku ini tidak bisa install aplikasi LinkAja karena OS Android gawaiku masih Kitkat, yang tidak didukung aplikasi itu. Aku cuma bisa pesan tiket KA Prameks (di KAI Access) tapi tidak bisa bayar. Apa boleh buat, beli tiket harus di stasiun.

Ketika itu jam di Stasiun Purwosari menunjukkan 10.30 WIB. Kulihat karton di sebelah loket tertulis Prameks Jogja 13.14 WIB, berarti aman nih masih kebagian, pikirku. Tapiiiiiii.... ketika sampai di depan loket, "Maaf tiket ke Jogja sudah habis, keberangkatan terdekat jam 18.10 WIB", kata wanita penjaga loket.
Ada yang berdiri.
Jadi,,,,,,, tiket tersisa KA Prameks 13.14 WIB dibeli oleh depanku!!!!! 😠 Lemeslah badan ini, masak harus nunggu 7 jam lebih di stasiun? Kulihat ketersediaan tiket di aplikasi, semakin lama semakin menipis.. bisa-bisa aku tidak pulang nih. Akhirnya dengan berat hati kubeli tiket KA Solo Ekspres keberangkatan 15.48 WIB dengan harga Rp30.000. Beruntung masih dapat nomor tempat duduk, karena kereta ini juga menjual tiket tanpa tempat duduk dengan harga yang sama 😖.
Korden siap ditarik.
KA Solo Ekspres sebenarnya adalah kereta api bandara Solo, melayani bandara Adi Sumarmo ke Stasiun Solo Balapan lalu entah kemana lagi. Kereta buatan PT Inka ini sudah jadi duluan dari pada jalur keretanya. Dari pada ndekem di depo, mending dipakai untuk melayani jurusan Solo Balapan - Kutoarjo.

Ciri khas kereta ini memiliki "moncong" hijau hitam, dengan warna kereta putih bergaris hijau. Kaca penumpang "gedhe" dengan korden yang bisa ditarik ke bawah. Kursinya empuk seperti kursi para gamer atau pembalap, dengan jarak antar kursi lebih lebar dari kereta eksekutif. Penumpang duduk saling berhadapan dengan komposisi 2-2. Ada bagasi koper besar di dekat pintu masuk, dan alarm akan berbunyi ketika pintu kereta akan tertutup.
Solo Ekspres di Stasiun Lempuyangan.
Warna kereta ini sama persis dengan KA Bandara Yogyakarta yang telah beroperasi dengan rute Stasiun Maguwo - Tugu Yogyakarta - Wates - Stasiun Wojo. Kenyamanan? Kayaknya masih enak Prameks Angry Bird, karena kadang njundil-njundil seperti KA Kedungsepur, atau mungkin hanya perasaanku saja.

Jumat, 28 Juni 2019

Soto Bathox Pitek Jowo, Makan di Antara Jalan dan Sawah

Saat akan ke tempat wisata rekreasi Lava Bantal, aku sengaja berangkat lebih cepat agar bisa sarapan di tengah perjalanan. Belum terpikirkan mau makan dimana, biasanya makanan yang punya rasa netral dan ramah kantong adalah masakan Padang, soto, bakso, mie ayam, dan bubur. Untuk sarapan mungkin soto atau bubur saja, lumayan bersahabat dengan perut. Maka sepanjang jalan mataku plirak-plirik untuk menemukan penjual kedua makanan itu.
Soto dan aneka kelengkapannya.
Di peta Google ternyata ada tempat jual soto yang cukup menonjol (terlihat tanpa memperbesar lokasi), namanya Soto Bathox Pitek Jowo. Agak alay memang nulisnya 😊, tapi orang yang terbiasa menggunakan bahasa Jawa pasti tahu artinya (biasanya ditulis bathok atau batok dalam KBBI). Tempat ini bukan yang lokasinya dekat candi dan hits di Instagram lho ya, jangan salah.
Soto bathox kebon pitek jowo dari seberang jalan.
Tempatnya agak unik, beberapa sepeda tua dipajang di dinding. Ada 2 tempat makan terpisah, tempat utama tinggal masuk sejajar dengan jalan raya. Sedangkan tempat kedua harus turun beberapa anak tangga karena kontur tanahnya turun. Aku lebih suka yang kedua karena lebih sejuk, lebih luas, dan pandangan ke jalan raya kepentok dengan rimbunnya tanaman. Di belakang warung ini masih terhampar sawah (yang waktu itu) menghijau, bener-bener mepet sawah sih..
Beberapa sudut warung soto.
Setelah memarkir kendaraan aku langsung pesan soto dan minum teh manis hangat, nggak perlu harus disamperin pekerja,,, kesuwen 😂. Kutunggu pesanan dengan duduk sambil memangdangi sawah dan jalan raya, aku belum tahu di sisi sebelah ada tempat yang lebih adem dan dingin (lembab + terkena angin dari arah sawah). Tak berapa lama, seperti biasa minumannya yang datang duluan. Setelah menyeruput teh sedikit-sedikit sambil melihat layar gawai, soto pun datang... hmm.
Pesan dan bayar di sini.
Soto ini rasanya khas Jogja, penampakannya seperti gambar di bawah. Disajikan dalam tempurung kelapa, bukan mangkuk dari kaca. Tapi sendok yang disediakan untuk pembeli bukan sendok tempurung, melainkan sendok soto atau biasa digunakan untuk makan bubur atau es dawet. Porsinya mendekati porsi soto Kudus, sedikit 😀, cukup untuk mengganjal perut hingga 3 jam ke depan.
Soto dalam bathox.
Cukup mengejutkan karena harganya cuma Rp6.000, benar-benar murah. Karena itulah banyak yang datang untuk sarapan, ada juga yang dibawa pulang. Harga soto dibawa pulang lebih mahal Rp1.000 daripada makan di tempat, kok gitu? 😶 Ohiya, parkirnya (waktu itu) juga gratis, lumayan ngirit kantong.

Usai membayar ke kasir, iseng nanya ke mbakayune kenapa nama warungnya ditulis agak aneh. Si mbakayune cuma mesam-mesem rajelas kepriye karepe 😃. Jam di gawai menunjukkan pukul 08.31 WIB, waktunya segera menuju Lava Bantal, tempat yang belum pernah kujamah sebelumnya.

Lokasinya ada di https://goo.gl/maps/idyN7sR2NbSk7isY6

Selasa, 18 Juni 2019

Memesan Semua Kamar di Kampung Tembi Guest House

Pertengahan Januari 2018 ada kerabat yang menikah dengan menggelar resepsi di Rumah Budaya Tembi, Kabupaten Bantul DI Yogyakarta. Karena semua keluarga besar tinggal di luar kota, otomatis harus menginap supaya waktu resepsi muka kelihatan segar 😁. Entah bagaimana ceritanya kerabat jauh ini memilih tempat menginap di Kampung Tembi Guest House. Tempat ini cukup populer di mesin pencarian dan hampir semua situs layanan inap. Namun, mereka tidak memesan lewat situs dan aplikasi, melainkan langsung menelepon penjaga. Tempat ini direkomendasikan oleh teman kantor salah satu kerabat.
Selamat datang di Desa Wisata Tembi.
Tulisan ini adalah pengalaman pribadi, tidak berdasarkan pesanan maupun berbayar.
Beberapa tahun lalu aku pernah ikut acara Blogger Nusantara yang pertama dan terakhir diadakan di Yogyakarta 😀. Selama 2 hari penyelenggaraan, tempat menginap peserta di losmen-losmen Jalan Prawirotaman dan desa wisata Tembi. Ketika itu aku memilih pulang ke rumah dan tidak menginap. Masih ada sedikit memori tertinggal di desa ini, jadi tidak begitu asing saat melewati jalan yang kami lalui menuju penginapan.

Karena diojok-ojoki kerabat, aku ikut menginap bersama mereka. Rela naik ojek online tengah malam menuju Terminal Giwangan, karena mobil kerabat tidak melewati tempat tinggalku 😔. Rombongan memang baru sampai Yogyakarta tengah malam, saat jalanan sudah mulai lengang. Aku sih ngikut aja, meskipun sebenarnya rugi karena penginapan tidak memberi diskon, padahal baru masuk tengah malam 😀.
Bagian belakang rumah (Manto).
Wow semua kamar di Kampung Tembi dipesan keluarga besar! Aku sampai geleng-geleng kepala, itu habis berapa jutaaa. Jadi begini, guest house ini sepertinya memiliki 2 rumah. 1 rumah besar yang dibagi bagian depan dan belakang, rumah lainnya berisi hanya 1 kamar. Gambar di atas adalah bagian belakang rumah besar yang dinamakan Manto. Seingatku, ada 4 nama ruangan di guest house ini.
  • Mardjan
  • Yusro
  • Ponijo
  • Manto.
Mardjan dan Yusro menghadap jalan masuk mobil, masing-masih berisi 1 tempat tidur dan toilet. Ponijo adalah rumah yang kutempati, letter L dengan rumah Mardjan dan Yusro. Ponijo memiliki 2 tempat tidur dengan 1 toilet. Pintunya terbuat dari kayu jati di tengah rumah, diapit oleh 2 daun jendela yang bisa dibuka keluar.
Salah satu kamar.
Bagian belakang Mardjan dan Yusro, dinamakan Manto, yang sebenarnya rumah ini hanya disekat oleh papan jati (seingatku). Manto lebih luas dengan adanya ruang tengah dengan 1 tempat tidur dan 2 (lupa) kamar. Pastinya, ada toilet di tiap kamar. Selain itu dilengkapi dapur, lengkap dengan kompor dan air minum dispenser.
Teras belakang Manto.
Enaknya lagi, ada ruang tambahan yang menyambung dengan Manto, seperti tempat untuk bersantai dan tiduran. Lihat gambar di atas saja supaya lebih jelas 😄. Aku bener-bener tidak tahu deh hitungannya gimana, tinggal nempati saja sih wkwkkw.

Fasilitas di sini ada internet gratis, AC tiap ruangan, televisi, air panas untuk mandi (gas water heater), dan handuk. Ketika sampai di sini pukul 00.30 WIB, kami minta welcome drink berupa teh panas, dan mereka mau menyediakan hehehe.
Kakus toilet duduk.
Minusnya tempat ini kurang begitu terawat dengan adanya debu di beberapa tempat. Kayaknya ini seperti sebuah "kebiasaan" guest house maupun homestay, karena aku juga menemui hal yang sama ketika menginap di satu guest  house di Kabupaten Sleman. Gas water heater juga habis ketika mau digunakan, padahal malam itu turun hujan dan suhu duingin banget, apalagi tempatnya dikelilingi sawah. Setelah menghubungi penjaga, tabung gas diganti dengan yang masih berisi.
Handuk.
Yang lumayan menyenangkan adalah kami bisa checkout sesuka hati jika setelah itu tidak ada yang memesan. Tapi kami tahu diri kok, keluar dari guest house sekitar pukul 14.00 WIB, menuju destinasi selanjutnya #halah.
Foto di sini lho..
Menginap di (sebagian) guest house dan homestay lebih mahal daripada hotel. Apalagi tidak ada standarisasi sehingga terkadang pelayanannya kurang sesuai ekspektasi. Tapi, jika ingin menikmati suasana hening jauh dari bisingnya perkotaan, guest house bisa menjadi pilihan.

Sabtu, 08 Juni 2019

Kembali Makan Ayam Goreng Bu Tini Sultan Agung Jogja

Aku agak kesulitan saat mengantar tamu makan di Jogja, apalagi si tamu punya selera tinggi terhadap masakan Jawa, ndridis, dan kolot 😀. Diarahkan ke rumah makan yang belum pernah mereka coba, mereka tidak mau spekulasi. Mereka malah terlihat tidak menerima sesuatu yang baru dan terlanjur menikmati zona nyaman.

Daripada ribet, aku menawarkan makan di Rumah Makan Ayam Goreng Bu Tini di Jalan Sultan Agung 17 Yogyakarta. Tanpa pikir panjang mereka mau kesana 😂, padahal saat liburan biasanya penuh sesak, terkadang stok ayam goreng telah habis. Selain di Jalan Sultan Agung, ayam goreng legendaris ini membuka cabang di selatan kota Jogja.
Buku panduan.
Kami tidak memesan ingkung, karena tidak semua rombongan menyukai semua tubuh ayam 😁. Menu yang dipesan adalah setengah ayam goreng plus kepala, malah porsi kepalanya lebih dari 2. Semua pesanan sudah termasuk lalapan berupa ketimun, selada, tomat, dan kubis. Sehingga tidak perlu memesan lagi kecuali dirasa kurang.
Menu makanan.
Penjual menjamin ayam yang digoreng adalah halal, meskipun waktu aku ke sana tidak terlihat label sertifikat halal LPPOM MUI DIY di daftar menu. Ayamnya jelas ayam kampung, bukan ayam jago dan broiler (pedaging). Untuk minumnya, aku pesan tape panas 😊 karena harganya sama dengan es teh dan lemon tea panas, wkwkwk.
Mau pesan minum apa?
Kebetulan waktu kesana 2018 lalu, baru saja ditinggal rombongan besar kementerian, sehingga banyak kursi lowong. Lumayan lah, dapat tempat duduk di tempat strategis (sirkulasi lancar dan terkena kipas angin 😋), tapi setelah kami memesan makanan tak lama berselang beberapa rombongan keluarga datang untuk makan siang. Sepertinya rumah makan ini tak pernah sepi pembeli.
Tempat duduk idaman.
Andaikan tidak dapat tempat duduk utama, masih ada tempat yang kurang strategis (pemandangan, sirkulasi, jauh dari toilet) dan lesehan. Sebagai rumah makan jujugan keluarga dan tamu instansi, fasilitasnya pun cukup lengkap dengan adanya wastafel dan tempat shalat. Yang belum ada mungkin hanya pendingin ruangan.
Lesehan juga bisa.
Setelah menghabiskan separuh gelas minuman, hidangan pun datang dan siap disantap. Serbuuuuuu. Seingatku, nasi tidak disajikan dalam cething tapi sudah ditakar di atas piring. Etapi sambalnya tidak ikut terfoto, maaf 😀. Sambal ayam goreng Bu Tini adalah sambal tomat khas berwarna merah tua dengan rasa manis pedas.
Ayam goreng yang ditunggu datang juga.
Selain menu di atas, juga tersedia menu paket nasi box. Pembeli tidak perlu bingung memilih menu seperti menu makan di tempat, meskipun harganya lebih mahal beberapa ribu rupiah, hehehe.
Paket nasi box.
Makan selesai, kami membayarnya dengan uang tunai. Di sebelah kasir juga tersedia aneka macam jajanan pasar. Bagiku sudah tidak perlu jajan lagi, karena sudah kenyang makan ayam 😂.
Meja pesan dan kasir.
Aku merasa ayamnya khas dan tetap enak, tapi tamuku berseberangan pendapat denganku 😄. Yo wislah, yang penting tamu tidak banyak komplain dan kenyang. Ayam goreng Bu Tini tidak dipresto, jangan sekali-lagi makan tulangnya karena tetap keras seperti tulang 😁.

Kamis, 06 Juni 2019

Pesanan Terlambat 30 Menit dari Kesepakatan di Aldan Jakal km7

Semakin mendekati hari raya Idulfitri, warung makan pun semakin sulit dicari. Banyak yang mulai tutup H-7, dimana puncaknya akan terjadi tutup warung massal pada H-2 Idulfitri. Hanya sedikit warung makan yang konsisten buka nonstop hingga H+5 Idulfitri, warung-warung ini baru meliburkan diri setelah warung lain sudah mulai buka kembali.
Menunggu buka puasa di Aldan.
Beberapa hari lalu (sebelum Idulfitri) ba'da Dzuhur aku akan memesan makan untuk buka puasa. Sasaran utama sih Sambel Layah, setelah menyusuri jalanan kok tidak ketemu warungnya. Cari beberapa alternatif lain akhirnya hanya menemukan Lesehan Aldan di Jalan Kaliurang km 7 Sleman, DI Yogyakarta. Aku memesan 20 porsi paket lele bakar, karena secara psikologis makan ayam tiap hari menyebabkan muntah 😀. Kesepakatannya, pukul 17.00 WIB akan kuambil.
Tulisan tanpa kontak.
Perlu diketahui, Maghrib di DI Yogyakarta (selain Gunungkidul dan Kulon Progo) saat itu pukul 17.30 WIB. Ohiya, pulang dari pesan makanan kulihat peta Google, ternyata Sambel Layah Jalan Kaliurang sudah tutup permanen. Kemana saja aku sampai tidak tahu warungnya sudah tutup.
Kena upeti 10%.
Kurang dari pukul 17.00 WIB, aku sampai di Aldan Jakal km 7 ini dan pesanan belum jadi. Aku masih tenang, mungkin sebentar lagi selesai. Perasaanku mulai tidak enak ketika waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB. Memang sih, untuk menu bakar membutuhkan waktu saji lebih lama daripada menu goren. Tapi kok ini... 😟

Pengemudi yang menyertaiku sudah tidak sabar dan mulai ngomel-ngomel, aku hanya bisa berucap padanya "Sabar, kita lagi puasa." Tahu nggak, pesanan diselesaikan jam berapa? Pukul 17.32 WIB pesanan baru diserahkan padaku 😠. Sudah lewat dari kesepakatan, tidak minta maaf, tidak ada kompensasi, dan sekedar air putih pembatal puasa. Pengunjung yang makan di tempat juga setengah emosi karena tidak ada apa-apa sebagai pembatal puasa.
Jam berapa itu?
Ngelus dada sendiri, demikian keterlaluannya Aldan. Bahkan untuk air putih pembatal puasa pun tidak ada, sungguh kikir medit pelit.

Alhasil, buka puasa untuk rekan-rekan pun telat sampai. Aku merasa bersalah karena sepertinya mereka menunggu menu nasi buka puasa, tapi baru sampai setelah adzan Maghrib selesai berkumandang 😕.

Warung Lesehan Aldan Jalan Kaliurang km 7 masuk daftar hitam, tidak layak untuk menerima pesanan hingga layanannya dibenahi.