metuomah.com

Tuesday, July 10, 2018

Menang Lomba Blog? Alhamdulillah Pecah Telur juga Blog Ini

Perubahan zaman ikut menenggelamkanku dalam lautan. Dulu, saat era keemasan blog aku sempat "mencuri" kesempatan memenangkan lomba blog. Bukan, bukan dari blog ini, tapi dari penyedia blog gratisan berikut domainnya. Saat daratan mulai terkena abrasi, aku ikut tenggelam bersama blog-blog tersebut menuju kepunahan.

Sekarang konten visual lebih disukai terutama video, konten dengan banyak tulisan seperti blog mulai ditinggalkan. Dan aku belum sanggup menghadapi kenyataan, yeee bilang saja tidak bisa buat video 😀.
Juara 2.

Ada benarnya juga, aku memang belum bisa membuat video karena keterbatasan alat. Aku masih setia dengan gawai dan laptop jadul, yang tidak mampu diinstall program editing video 😁.

Aku tetap menulis karena mencintainya. Mau zaman berubah seperti apa, aku tetap menulis, meskipun hanya aku sendiri yang baca.

Kembali lagi ke judul yang aku buat, meskipun jarang ikut lomba blog (karena kekurangan bahan) sesekali aku mengikutinya. Yang terakhir adalah pujasera Jogja Paradise yang beberapa waktu aku kutulis di sini.

Dan,,,, pada 5 Juli 2018 lalu manajemen Jogja Paradise mengundang kami kembali; para blogger Jogja untuk beramah-tamah. Di sela-sela acara tersebut, terseliplah pengumuman lomba blog dan Instagram. Alhamdulillah, tulisanku menang juara kedua!!! Pecah telur juga blog ini 😃...

Begitu saja sih, semoga kemenangan ini bisa merembet ke tulisan-tulisanku selanjutnya, amin. Hadiah blog Jogja Paradise bisa untuk beli boks kontainer 100 liter 😁.

Sunday, July 8, 2018

Tambahan Pembayaran saat Tiba di Hotel

Beberapa bulan lalu aku mendapat voucher potongan harga menginap hotel dengan menggunakan aplikasi A. Lumayan, potongan harga Rp.200.000. Yang artinya bisa saja menginap gratis, jika memilih kamar yang harga semalamnya di bawah itu. Akupun memesan kamar untuk berlebaran di salah satu tempat di Sunan Muria Jogja. Awalnya kupikir akan menyenangkan beristirahat di situ, ada kolam renang dan dapat sarapan. Namun bayangan itu akhirnya buyar oleh eksekusi supervisor hotel tersebut.

Harga kamar semalam melebihi voucher, sehingga aku harus membayar lagi lewat minimarket waralaba. Kenapa tidak transfer bank saja? Karena aplikasi A tidak menawarkan metode pembayaran dari bank rujukanku, sedangkan bayar lewat minimarket (waktu itu) tidak dikenakan biaya (sekarang kena Rp.2.500). Apalagi uang yang harus kubayar di bawah Rp.10.000.
Ilustrasi.
Esok paginya, teleponku berdering oleh panggilan nomor lokal Jogja. Terdengar suara memperkenalkan diri dari hotel yang akan kuinap. Dia jelaskan kalau saat lapor masuk bakalan ada tambahan biaya Rp.130.000. Heee? Kok bisa bayar lagi? Dia beralasan karena aku pesan untuk libur lebaran, sedangkan pihak hotel hanya mendapatkan Rp.170.000 dari aplikasi A.

Setelah mendapatkan telepon itu, aku minta konfirmasi pada layanan pelanggan aplikasi A melalui email. Tanggapan mereka lambat dan berlarut-larut, intinya mereka melarang adanya biaya tambahan, kecuali deposit yang akan dikembalikan ketika lapor keluar. Katanya mereka akan menanyakan kepada pihak hotel mitra tersebut.

Alasan yang digunakan pihak hotel tidak masuk akal, dia sebenarnya bisa saja mengubah harga di aplikasi tapi kenapa main belakang? Sama saja ini menodong calon tamu yang telah terlanjur transfer uang. Kubiarkan saja percakapan nirfaedah itu, toh aku baru akan menginap 3 bulan kemudian.

Tetap disuruh bayar
Hari yang ditunggupun tiba, malam sekitar pukul 19.30 WIB aku menuju hotel tersebut. Kebetulan waktu itu mati listrik, sepanjang jalan gelap, demikian juga dengan hotelnya. Aku memarkir kendaraan di depan pohon mangga yang menutupi jalan masuk. Mereka menyalakan genset yang terdengar sampai ruang resepsionis. Suasana sepi, tak terlihat mobil berderet menginap di situ.

Di ruang resepsionis berukuran sekitar 2x3 meter, lampu tak begitu terang. Kulihat sepintas di dinding, tertempel papan tulis putih dengan banyak coretan. Ada 1 nama dan hanya ada 1 yang tertulis di situ sangat familiar. Tak berapa lama kemudian datanglah penjaga dari ruang belakang, sepertinya baru saja memeriksa genset.

Kuutarakan maksudku untuk lapor masuk, lalu penjaga tersebut mengambil sebuah kertas buram penuh tulisan tangan dan memperlihatkannya padaku. Dia mengatakan (seperti yang tertulis) kalau ada yang masuk (checkin) dari (aplikasi) A kena charge Rp.130.000. Kalau tidak mau bayar, besok disuruh ketemu dengan supervisor.

Aku turut membaca tulisan itu. Namun ketika aku izin ingin memotret kertas itu, dia tidak membolehkan. Dia berdalih itu hanya corat-coretan saja dan dia hanya menjalankan perintah.

Setelah kupikirkan masak-masak dalam 3 menit, akupun cabut dari hotel horor itu. Ngapain bayar lagi? Menurutku itu sama saja nodong tamu yang menginap.

Selanjutnya aku menginap di tempat lain yang memberiku ketenangan di daerah kota. Cukuplah ketemu hotel seperti ini sekali saja, semoga tidak barokah.

Tanggapan layanan pelanggan
Kuutarakan kekecewaanku pada layanan pelanggan aplikasi A malam itu juga, mereka tetap ngotot jika yang dikenakan adalah deposit. Aku memang tidak berpendikan tinggi, tapi masih bisa mendengar, membedakan huruf, dan baca tulisan 'charge' dengan 'deposit'. Keduanya jauh berbeda begitupun definisinya, tapi jika pihak aplikasi A menafsirkan kedua kata tersebut sama, apa boleh buat.

Herannya, jelas-jelas mitra aplikasi A itu tidak sesuai aturan tapi tetap dibela. Idealnya si pelayan pelanggan membela jenama mereka sendiri, tapi ini malah menjeblokkan diri sendiri 😀.

Setelah kejadian tersebut, hotel ini masuk daftar hitam teman-teman di Jogja. Bagi yang belum pernah menginap di sini, lebih baik hati-hati dengan jebakan batman.

Tuesday, July 3, 2018

Naik Bus Trans Jateng Bawen – Stasiun Tawang di Masa Lebaran

Saya telah berjanji akan mengunjungi kerabat di Semarang pada hari ketiga lebaran, meskipun jalan raya diprediksi sangat padat. Rute yang menjadi pilihan adalah Jogja - Solo - Bawen - Semarang untuk meringankan biaya perjalanan. Kenapa tidak menggunakan kendaraan pribadi saja, kan lebih irit dan hemat waktu? Jawabannya mudah, saya tidak memiliki kendaraan pribadi 😀.

Perjalanan pertama yaitu menggunakan kereta ke Solo dengan KA Prameks. Kondisi cukup lengang, padahal biasanya tempat duduk terisi penuh. Harga tiket kereta pun tidak mengalami kenaikan. Perjalanan menjadi kurang menyenangkan ketika berganti moda transportasi bus dari Solo menuju Bawen.

Di dinding kaca bus PO Safari Lux yang saya naiki tertempel tarif selama lebaran, tertulis Solo - Bawen Rp.30.000, Solo - Ungaran Rp.35.000, dan Solo - Semarang Rp.40.000. Saya sodorkan uang Rp.50.000 kepada kondektur, ternyata hanya diberi kembalian Rp.15.000 😢. Saya hanya diam tidak kuasa berbicara, sambil berdo'a semoga hasil yang didapatkan tidak barokah.

Setelah terisi penuh penumpang, laju bus malah melambat berasa malas sampai tujuan, mungkin karena target penumpang sudah terpenuhi. Sesampainya di Boyolali jalan terlihat sangat ramai padahal masih pukul 08.00 WIB, puncaknya kemacetan terjadi di jalan masuk tol Bawen selatan terminal. Sepertinya semua orang berangkat pagi ingin menghindari macet.

Di Terminal Bawen, saya turun untuk berganti bus yang tiketnya sangat terjangkau isi dompet, Bus Rapid Trans (BRT) Jateng. Bus berukuran 3/4 ini setiap hari menempuh rute Terminal Bawen - Stasiun Tawang Semarang PP. Bus pertama berangkat pukul 05.00 WIB dan terakhir 19.20 WIB.

Dari Terminal Bawen
Terminal megah nan luas yang berdiri di persimpangan jalan Semarang - Jogja - Solo ini relatif sepi. Terlihat jelas perbedaan perawatan infrastruktur yang dikelola oleh perusahaan dengan pemerintah. Pemandangannya kontras dengan terminal penumpang pesawat atau stasiun kereta api.

Calon penumpang yang masuk dan keluar terminal tidak dikenakan biaya, demikian juga penggunaan fasilitas toilet. Beberapa lapak agen tiket bus dan warung makan sudah buka, meskipun masih suasana lebaran.

Saya agak kebingungan mencari halte Trans Jateng, tidak terlihat penunjuk pengumuman dari tempat penurunan penumpang bus dari arah Solo. Halte itu ternyata ada di sisi paling barat terminal, ciri khas halte bus rapid trans yang tinggi terlihat jelas. Saat berjalan ke sana, sudah ada 5 calon penumpang menunggu bus Trans Jateng tiba.
Di dalam bus Trans Jateng.
Hanya berselang 3 menit, bus yang ditunggu tiba. Para calon pemumpang naik dengan tertib. Sedikit informasi, bus Trans Jateng dan Trans Semarang memisahkan tempat duduk pria dan wanita. Batasnya adalah pintu masuk bus, tempat duduk pria di depan sedangkan wanita di belakang. Misalkan tempat duduk pria sudah penuh dan sebagian berdiri, tapi di belakang (untuk wanita) masih kosong, penumpang pria tetap tidak bisa duduk di kursi belakang.

Tiket murah
Pembayaran tiket di atas bus sebesar Rp.3.500, terhitung murah dibandingkan naik bus antar kota yang mencapai puluhan ribu. Tiket dicetak langsung dengan mode hotprint, seperti struk pembelian minimarket.

Yang menarik, sebelum melaju supir bus mengatur alat di atas dashboard. Rupanya itu sensor otomatis suara dan running text. Beberapa meter sebelum memasuki satu halte, suara lembut mbak-mbak mengingatkan penumpang bahwa sesaat lagi akan memasuki halte X. Papan running text pun menuliskan halte yang akan disinggahi. Perkiraan saya, sensor tersebut berhubungan dengan spedometer. Ketika bus menempuh jarak tertentu, sensor memerintahkan runnning text dan mbak-mbak bekerja.
Ruang kemudi bus Trans Jateng.
Jalan Bawen - Semarang cukup lengang, bahkan bus yang tadi saya naiki bisa disalip dengan mudah. Penumpang bus Trans Jateng jurusan Semarang pagi itu tidak memenuhi kursi, sedangkan dari arah berlawanan terlihat bus Trans Jateng penuh sesak.

Halte berbeda
Halte yang digunakan bus Trans Jateng dengan Trans Semarang berbeda, hanya sebagian saja menggunakan fasilitas sama. Sebaiknya periksa dulu tulisan di halte, jika akan naik bus Trans Jateng.

Wednesday, June 20, 2018

Berjuang Mendapatkan Tiket Prameks

Tiket Kereta Api Prambanan Ekspres (Prameks) menurutku agak sulit didapatkan setelah ada kebijakan bisa dipesan H-7. Sepanjang pengalaman naik KA yang melayani rute Solo Balapan - Yogyakarta - Kutoarjo, beberapa kali harus terlewat 1 keberangkatan kereta karena kehabisan tiket. Tiket paling mudah diperoleh pada perjalanan pertama, jika dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta berangkat pukul 05.36 WIB. Tidak perlu memesan sebelumnya, bahkan 5 menit sebelum keberangkatan masih bisa mendapatkan tiket.
Tiket Prameks pesanan.
Hal ini membawa kekhawatiran, sehingga ketika bulan lalu ada keperluan di Solo, aku langsung memesan tiket ke Jogja sesampainya di Stasiun Purwosari. Bisa toh? Bisa.... khusus Prameks ya.

Pesan tiket Prameks
Sesampainya di Stasiun Purwosari, aku bergegas menuju loket pemesanan tiket lokal, yang melayani pemesanan KA Prameks dan Kalijaga (yang ini berangkat dari Stasiun Solo Balapan). Meskipun baru pukul 07.00 WIB, aku bisa memesan tiket kepulangan yang berangkat dari Stasiun Solo Balapan pukul 16.10 WIB.

Syarat memesan tiket ini hanya perlu membawa kartu identitas, dengan maksimal pembelian 4 tiket. Harga tetap sama tanpa biaya tambahan.

Agak bingung, tempat pemesanan Purwosari tapi kok keberangkatannya tertulis dari Balapan? Aku lalu balik lagi ke loket, kata petugas; pemegang tiket bisa naik dari Stasiun Purwosari maupun Solo Balapan. Oh begitu rupanya... Sore harinya, aku benar-benar naik dari Stasiun Solo Balapan.

Namun pemesanan tiket di pagi hari tersebut tidak berlaku untuk KA Kalijaga. Saat akan memesan, aku diminta mengambil nomor antrian pukul 09.00 WIB. Artinya pemesanan KA Kalijaga dilayani mulai pukul 09.00 WIB.

Aku sebenarnya berharap, kebijakan pemesanan tiket KA Prameks dari H-7 ditinjau kembali. Sungguh merepotkan bagi yang benar-benar akan bepergian pada saat itu juga.

Pemesanan tiket KA Prameks hanya dilayani di stasiun yang disinggahi kereta tersebut, tidak bisa melalui daring.

Wednesday, May 16, 2018

Menyapa Pagi Malioboro dengan Sarapan Pecel Madiun

Pelari cantik asal kota Solo itu membatalkan keikutsertaan secara mendadak, teman satu tim belum juga datang ke kilometer nol, padahal waktu telah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Kami seharusnya berkumpul pada hari Ahad di kilometer nol Jogja pukul 06.00 WIB untuk pemotretan lari, padahal aku sudah berada di depan Gedung Agung sejak pukul 06.10 WIB. Karena kehilangan satu anggota, tim kami memutuskan bergabung dengan tim lain dan menggeser tempat bertemu di depan Mal Malioboro.

Pedestrian memenuhi trotoar sepanjang Malioboro, dari wisatawan hingga olahragawan. Tepian trotoar ramai kaki lima menjajakan sarapan. Gudeg, makanan khas Jogja mendominasi, selain pecel, soto, bubur ayam, dan nasi kuning. Ada penjual yang menuliskan menu dan harga di spanduk, ada juga yang cuek saja. Pembeli sebaiknya bertanya kepada penjual, berapa harga satu porsi, sebelum menyesal kemudian.
Nasi pecel Madiun.

Perutku mulai menggelitik minta diisi, tapi belum juga kutemukan menu yang menambat hati. Setelah menyapa teman-teman yang sudah duduk di bangku depan Mal Malioboro, kulanjutkan perjalanan ke utara berharap menemukan pembeda. Harapan itu kandas, tak ada sesuatu yang baru. Kuputuskan mengakhiri perjalanan di samping pintu masuk parkir Mal Malioboro, dimana sebuah gerobak Pecel Madiun berdiri di atas dua roda.

Stiker warna ungu bertuliskan Pecel Madiun Berkat ditempel di kaca gerobak. Di atasnya terpasang acrylic putih yang memuat nomor NPWP. Di balik kaca gerobak terlihat sayuran bahan pecel, sate, tempe garit goreng, dan sambal kacang. Sebuah papan kecil menutup pegangan tangan gerobak, sebagai tempat termos berisi teh panas manis yang juga dijajakan.
Pecel Madiun Berkat.
Pesan menu standar
Kupilih menu ini karena sebagian orang mengerubungi gerobak. Bangku-bangku Malioboro di sekitarnya dipenuhi orang yang duduk sambil membawa pincuk. Meskipun tidak ada daftar harga yang tertera, aku yakin harganya sekitar Rp10.000. Di luar (Malioboro) sana, seporsi nasi pecel dihargai mulai Rp8.000.

“Nasi pecel satu.” Kataku kepada ibu penjual Dengan sigap dia meracik pesananku. Sayuran matang yang dimasukkan dalam pincuk seperti bayam, kenikir, kacang panjang, dan ketimun. Aku tidak ingat apa saja di dalamnya, terlalu larut dalam suasana dan kenikmatan rasa.

“Sampun niki mawon? Tanya wanita berseragam itu kepadaku.

“Inggih, pinten Bu?” Aku balik bertanya kepadanya.

“Sedasa ewu.” Jawabnya singkat. Dia berbagi tugas dengan dua orang lain, pria dan wanita. Menyiapkan minum dan sayuran di gerobak yang hampir habis.

Pincuk, dahulu adalah sebutan untuk lembaran daun pisang yang ujungnya dilipat jadi satu sehingga terbentuk seperti wadah untuk makan. Agar tidak lepas dikait dengan biting, dahan pohon kelapa (lidi) yang dipotong kecil-kecil. Ujungnya dipotong lancip. Sendok juga dibuat dari daun pisang dinamakan suru.
Hampir habis.
Seporsi nasi pecel, sudah termasuk tempe garit goreng dan rempeyek teri cacah. Bagiku ini sudah cukup, tidak perlu tambah lauk lagi. Porsinya juga sudah mengenyangkan. Sambal kacang cukup kental dengan tingkat kepedasan sedang dan sudah standar (tidak bisa minta sambal tidak pedas). Mengusung nama kota di belakang pecel, menandakan manisnya gula jawa dalam sambal kacang berada pada tingkatan sedang. Berbeda dengan asli Jogja yang sangat suka manis.

Setelah kenyang, kami bergeser ke Ketandan untuk memulai pemotretan.

Monday, May 14, 2018

Kereta Api hanya Sekali Perjalanan, Penumpang Memilih Bus Solo Semarang

Sudah pernah naik Kereta Api (KA, selanjutnya disebut kereta saja) Kalijaga relasi Solo Balapan Semarang Poncol? Aku belum pernah, jadwal keberangkatan yang tidak bersahabat membuatku tidak menggunakan kereta, meskipun harga tiketnya sangat murah (mendapat subsidi). Dari Solo Balapan (per Mei 2018) berangkat pukul 05.20 WIB, aku harus berangkat pukul berapa? Itupun hanya dilayani sekali perjalanan per hari.
Tarif karcis salah satu bus Solo - Semarang.

Kebalikannya, KA Kalijaga dari Semarang ke Solo yang berangkat pukul 09.00 WIB hampir selalu penuh. Bahkan aku pernah tidak kebagian tiket dua bulan lalu, padahal di tengah pekan belum musim liburan. Ceritanya, aku tidak memesan tiket karena biasanya selalu ada tiket pada hari keberangkatan. Sesampainya di loket stasiun, terpampang pengumuman tiket KA Kalijaga sudah habis, padahal waktu keberangkatan masih 30 menit lagi.

Tiket KA Kalijaga bisa dipesan 30 hari sebelum tanggal keberangkatan. Pemesanan hanya dilakukan di stasiun yang disinggahi dengan menyertakan kartu identitas.

Naik bus
Karena itulah penumpang memilih transportasi lain berupa bus. Aku kurang tahu keberadaan travel dan shuttle bus saat ini, tidak tertarik menaikinya kecuali sponsor mewajibkannya 😀. Ada beberapa perusahaan otobus yang melayani jurusan Solo - Semarang, tidak hanya berasal dari Jawa Tengah tapi juga Jawa Timur.

Semua bus Solo Semarang (PO Jawa Tengah) berpendingin ruangan dengan tempat duduk 2-2. Beroperasi 24 jam, pada jam-jam sibuk, waktu tunggu sekitar 10 menit. Setelah jam tersebut semakin lama dan lama, apalagi malam hari bisa menunggu berjam-jam.

Berikut tarif bus Solo Semarang tertanggal 14 Mei 2018. Tarif bisa berubah, menyesuaikan harga bahan bakar, libur lebaran.

Rp.30.000
Solo - Semarang.

Rp.25.000
Semarang - Boyolali, Ungaran - Solo.

Rp.20.000
Solo - Bawen, Ungaran - Boyolali, Semarang - Ampel.

Rp.15.000
Solo - Salatiga, Semarang - Salatiga, Boyolali - Bawen, Ampel - Ungaran.

Rp.10.000
Semarang - Bawen, Ungaran - Salatiga, Ampel - Bawen, Boyolali - Salatiga, Solo - Ampel.

Rp.7.000
Semarang - Ungaran, Ungaran - Bawen, Salatiga - Bawen, Ampel - Salatiga, Ampel - Boyolali, Boyolali - Solo.

Sewaktu aku dan teman-teman pergi ke puncak Telomoyo, kami berangkat dari Jogja naik KA Prameks dan berganti dengan bus jurusan Solo - Semarang, tentu saja turun di Salatiga.