Dari Pekalongan ke Jogja Enaknya Naik Apa?

Akhir-akhir ini banyak yang bertanya kalau dari Pekalongan ke Jogja enaknya naik apa? Aku bukan orang yang lalu lalang trayek itu, setahun sekali pun belum tentu. Ada yang lebih berpengalaman dalam hal ini, tapi tidak menuliskannya. Artikel ini hanya berbagi informasi yang kuketahui, jika ada kesilapan harap maklum.
Tiket Kamandaka.

Belum ada transportasi udara pesawat terbang dan kapal laut yang melayani trayek Pekalongan – Yogyakarta, jadi mohon jangan ditanyakan ya.

Tranportasi darat Pekalongan - Jogja

1. Travel
Hanya moda inilah yang memiliki izin trayek langsung, tapi aku tidak tertarik menggunakan dan tidak merekomendasikannya pada saudara dan teman dekat.

2. Suttle bus
Katanya sih ada, aku belum pernah naik moda ini (biasanya minibus 14 penumpang). Paling tidak layanannya lebih bagus dari travel, dari sisi ketepatan keberangkatan dan pengemudi.

3. Bis
Tidak ada bis yang langsung menuju Jogja. Alternatifnya naik bis:
- Pekalongan – Pemalang, pindah bis ke Purwokerto, pindah ke Jogja.
- Pekalongan – Banjarnegara, pindah bis patas ke Jogja.
- Pekalongan – Semarang, pindah bis ke Solo atau langsung Jogja.
- Pekalongan – Solo (trayek Jakarta - Solo via Semarang), lanjut ke Jogja.

Sebagai catatan, rute pendek dari Pekalongan dilayani bis kecil (bis tuyul) dan bis sedang.

4. Kereta api
Banyak kereta api yang melintasi Pekalongan, tinggal pilih menurut selera. Karena ini merupakan moda transportasi favorit, maka akan diulas lebih panjang. Aku hanya menyebut kota tujuan pertama dari Pekalongan, transportasi selanjutnya dijelaskan pada keterangan.

A. Pekalongan – Semarang
Banyak kereta yang melayani jalur ini, yang menjadi favorit adalah KA Kaligung dan KA Kamandaka karena harga tiket relatif murah. Dari Semarang bisa mencari alternatif travel, suttle bus, bis atau kereta api. Sayangnya tidak ada kereta api menuju Jogja, hanya ada KA Kalijaga Semarang Poncol – Solo Balapan yang berangkat tiap jam 09.00 WIB. Setelah sampai Solo Balapan, sambung dengan KA Prameks jurusan Solo Balapan – Yogyakarta Tugu.

B. Pekalongan – Solo Jebres
Hanya kereta api jurusan Jakarta – Malang yang melayani rute ini yang rata-rata sampai di Stasiun Solo Jebres dini hari. Untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja bisa naik travel, bis, atau kereta api. Jika ingin naik KA Prameks ke Jogja, harus pindah ke Stasiun Balapan atau Purwosari.

C. Pekalongan – Cirebon
Mungkin tiket kereta api ke Cirebon relatif mahal, moda bis patas bisa menjadi alternatif perjalanan. Dua stasiun melayani tujuan Jogja yaitu Stasiun Cirebon dan Prujakan, dari kereta api keberangkatan Jakarta.

D. Pekalongan - Purwokerto
Dilayani oleh KA Kamandaka, kemudian lanjut ke Jogja dengan travel, suttle bus, bis maupun kereta api. KA Joglokerto reguler Purwokerto - Solo Balapan bisa jadi pilihan, selain kereta api yang melaju dari Jakarta.

Pilihan terbaik adalah A dengan tarifnya yang ramah backpacker :). Total biaya yang dikeluarkan hanya Rp58.000 (per Februari 2018), meskipun melelahkan dan menghabiskan banyak waktu.

Semua jadwal kereta api bisa dilihat di situs KAI dan agen tiket resmi, kecuali KA Kalijaga dan KA Prameks yang melayani rute pendek. Perlu diingat, pesanlah tiket saat bepergian akhir pekan. Jika tiket habis, hanya bisa berdo'a mengharap pembatalan tiket penumpang di depan loket stasiun keberangkatan.

Artikel Terkait:
- Pilihan Transportasi dari Jogja ke Pekalongan

Perjalanan ke Barat Mencari Sate Gule Kambing

Ajakan teman ke Barat tak kutampik, belum pernah sekalipun pergi ke Barat; tempat yang baru kudengar selain disebut di film. Barat bukan tujuan utama, kami hanya mampir menikmati kuliner unggulan yang murah meriah; sate dan gule kambing. Di Jogja, makan sate dan gule kambing termasuk mewah, tapi di Barat kulihat semua kalangan menikmatinya.

Barat merupakan kecamatan dengan 13 desa di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Daerah yang berdiri sejak tahun 2000 merupakan pemekaran wilayah dari Kecamatan Karangmojo. Pasar Barat dan Stasiun Barat, biasa diucapkan Mbarat adalah dua tempat terpopuler. Di dekat pasar itulah kami ngiras di warung Sate Gule Kambing Pak Cholik, Singgahan Barat.

Temanku sempat kebingungan karena sudah lama tidak ke Barat. Setelah bertanya pada petugas parkir di timur pasar, kami pun berjalan kaki mencarinya. Katanya, warung ini pindah ke tempat baru.
Warung sate gule kambing Pak Cholik, Barat Magetan.
Ketemu juga warung sederhana ini di sebuah gang. Waktu itu belum booming penggunaan Googlemap, cuma sebatas mencari tempat ternama dan jalan. Sekarang semua orang bisa berkontribusi. Terlihat beberapa motor parkir di depan tempat berukuran 3 x 2 meter berdinding triplek beratapkan seng. Bangku panjang kayu di depannya kosong, sedangkan di samping orang-orang merokok sambil berbincang. Sepertinya mereka telah selesai makan.

Di depan pintu kiri, kulihat semua bangku penuh, kami menunggu sampai beberapa orang beranjak meninggalkan piring dan gelas mereka. Duduklah kami berhadapan dengan penjual. Di atas meja tersaji air mineral, tissue, cuka, kecap, tusuk gigi, dan rokok. Aku segera memesan nasi gule tanpa minum.
Aneka hidangan di meja.
Ibu penjual setengah baya cekatan melayani pembeli yang antri dari depan, kanan, kiri, dan belakang. Penyajiannya unik, setelah nasi masuk piring diambillah gule dari panci. Kuah ditambahkan lagi dari panci lain, begitu disiram ke piring sebagian lagi disuntak ke panci kembali. Barulah ditaburi bawang merah dan kecap.
Gule kambing Pak Cholik.
Dagingnya empuk, kuah gule juga mantap. Hanya terlalu banyak kecap. Pembeli boleh meminta menu kustom, misalnya hanya daging tanpa jeroan, sate dengan kuah gule, atau tanpa kecap.
Sate kambing enak dan murah.
Merasa kurang, kami memesan sate kambing Rp15.000. Yang bikin kaget adalah kami mendapat 15 tusuk sate, benar-benar murah. Kulahap habis sate yang menggugah selera, empuknya sama dengan daging gule. Saat itu membayar hanya Rp28.000. Kami keheranan, apakah salah hitung atau memang harganya murah? Aku belum membuktikannya lagi karena teman tidak mau lagi kembali ke sana, penyakit darah tinggi sudah menyerangnya.

Mencicip Nasi Goreng Aceh di Sagan Jogja

Setelah ngobrol ngalor-ngidul dengan dua teman di JDV (sewaktu masih jadi coworking space), kami mencari makan malam. Aku sih ngikut aja kemana, ternyata yang dituju adalah masakan khas Aceh. Kukira menuju ke rumah makan yang terkenal di Jogja itu, tapi realitanya ke warung makan tenda depan asrama Aceh di Jalan Kartini, Sagan Jogja 😅. Baru saja lihat foto, warung makan itu bernama Chie Rasa.
Nasi goreng Chie Rasa.
Karena lapar aku pesan nasi goreng ayam, teman-teman memesan menu mie cumi dan mie udang. Aku tidak berani mengambil resiko kelaparan tengah malam, makanya pesan nasi 😀. Sambil menunggu dibuat, obrolan pun dilanjutkan kembali. Untuk minumnya, kami memesan minuman standar (adanya juga itu), teh dan jeruk.
Mie Aceh.
Setelah pesanan datang, hmmm aku langsung ilfil melihat warnanya. Aku tidak suka nasi goreng gelap; hitam kebanyakan kecap dan oranye oleh saos KW 5. setelah mencobanya, alamak pedas niaaaan. Iya, aku orangnya ribet, nasi goreng warnanya harus menarik dan tidak pedas. Aku lebih suka level pedas ditentukan oleh pembeli, dan sialnya lupa tidak menyampaikan permintaanku.
Daftar menu 2015.
Teman-teman juga tidak menghabiskannya, warna mie gorengnya ... begitulah, dan pedasnya kurang pas dengan lidah kami. Di luar itu, menu yang disajikan kaya rempah, bumbunya terasa banget di lidah. Kejadian ini berlangsung tahun 2015, sampai tulisan ini dipublikasikan kami belum pernah kembali lagi ke warung ini 😃. Karena kami sekarang makan bersama keluarga.

Tempat warung ini di https://goo.gl/maps/vVubUzk4LXz

Hujan Tak Halangi Wisata ke Pantai Depok Bantul Jogja

Januari Februari 2018 Daerah Istimewa Yogyakarta masuk musim penghujan, tiada hari tanpa hujan. Keadaan itu berpengaruh pada wisata khususnya di alam terbuka. Salah satu obyek yang saya kunjungi adalah Pantai Depok, Bantul. Datang saat Ashar, gerimis sepanjang perjalanan tak menghalangi rombongan kami pada akhir Januari lalu.

Daya tarik Pantai Depok ada pada warung makan di bibir pantai, yang jarang ditemui di beberapa pantai Kabupaten Bantul, DIY. Di sana terdapat pasar atau Tempat Pelelangan Ikan, meskipun masih kalah dengan Pantai Baron Kabupaten Gunungkidul. Wisatawan dapat bermain pasir hitam, layang-layang, atau sewa ATV.
Pantai Depok, Bantul Yogyakarta.

Alasan ke sini hanyalah ingin makan ikan dengan suasana pantai, Pantai Baron terlalu jauh dari Jogja dan macet. Hujan tidak jadi masalah, karena kami tidak berniat guling-gulingan di pasir hitam.

Bagi yang belum tahu pantai ini, jalan utama sama ketika menuju Pantai Parangtritis. Setelah melewati jembatan Sungai Opak, akan terlihat Tempat Pungutan Retribusi (TPR) Parangtritis. Beloklah ke kanan menghindari TPR Parangtritis, menuju jalan lebih kecil ke Pantai Depok. Lebih jelasnya bisa melihat peta Google.

Rombongan naik mobil sejuta umat memuat 5 orang termasuk pengemudi. Ada TPR sebelum gerbang wisata. Tiket masuk Pantai Depok Bantul jika tidak salah Rp6.250 + jasa Raharja Rp750 sehingga total Rp7.000 per orang. Tidak sempat memotret tarif retribusi yang tertera di papan karena hujan. Total yang kami bayar Rp28.000 untuk 4 orang (pengemudi tidak dihitung).

4 mobil rombongan tidak parkir di lahan tersedia, tapi langsung menuju warung tepi pantai. Saya heran, mengapa bisa langsung menuju ke warung. Usut-punya usut ternyata kepala rombongan sudah beberapa kali ke tempat yang sama. Bukan harga alasannya, melainkan sudah menganggap langganan sehingga mau minta dimasak A, B, C tidak perlu segan.

Kami memesan udang goreng, gurami, dan cumi bersama cah kangkung. Asal muasal ikan tidak masalah dari nelayan Pantai Depok atau pasokan dari luar. Masakannya lumayan, hanya sambalnya kurang menarik dan berasa.

Hujan deras melanda pantai, awan hitam menggelayut di ujung laut selatan. Tapi hujan tidak kami rasakan, bahkan suaranya tak terdengar, kalah dengan ombak laut. Kondisi kesehatan saya kurang bagus, kaki saya bengkak sehingga kurang menikmati suasana. Lupa memotret beberapa tempat di Pantai, termasuk nama warung.

Toilet warung gratis, fasilitas umumnya ada toilet umum Rp2.000 dan masjid. Punya pengalaman wisata kuliner di Pantai Depok Bantul? Yuk berbagi di kolom komentar, tapi jangan panjang-panjang ya...😊

Lokasi Pantai Depok di Google Map: https://goo.gl/maps/9Ggm4A6XY9m

Traktiran di Warung Makan Ayam Taliwang Jalan Kaliurang

Belum sempat duduk saat bertamu ke salah satu rekan, saya diajak makan untuk merayakan penolakan dirinya pada seorang gadis. Kaget, heran, dan tertawa sendiri mendengar alasannya mengajak makan. Baru tahu, ada juga orang seperti ini, hihihi. Saya tidak sendiri, dia juga mengajak yang lain menuju Warung Makan Ayam Taliwang di selatan SPBU Pertamina Prujakan, Jalan Kaliurang km. 8,2 Sleman, Yogyakarta.

Di tahun 2016, inilah saat pertama makan ayam Taliwang setelah beberapa kali membaca di tabloid Peluang Bisnis (apakah masih terbit?). Saya hanya memesan Ayam Bakar Taliwang Dada sebab tidak paham dengan nama menu. Sedangkan rekan lain memesan berbagai menu.
Menu yang dipesan.
Jeruk manis hangat yang saya pesan sudah hampir habis, pesanan pun datang. Tampilannya tidak begitu bagus, bisa saya katakan gosong. Perut yang sedari tadi berteriak tetap perlu disumpal, meskipun gosong tetap habis dimakan bersama nasi. Saya icip Beberuk Terong dan Pelecing Kangkung, karena baru pertama kali lidah merasakan sentuhan geli, rasanya lucu.
Warung makan Ayam Taliwang.
Kala itu nama warung itu hanya Warung Makan Ayam Taliwang, di daftar menu ada tambahan Pak Maris cabang Jl Wahidin. Konon menurut Google sekarang bukan Pak Maris lagi, ganti menjadi Ayam Taliwang Pak Wono (ganti pemilik?). Dan saya belum makan menu Taliwang lagi.
Suasana dalam warung.
Kini rekan saya baru memiliki satu anak, tentu saja bukan dari gadis yang menolaknya. Perjuangannya patut diteladani karena dia menikahi orang dari trah tidak begitu baik, terbang hampir seribu kilometer dan naik perahu ke pulau perbatasan, ditambah mertua warga negara asing hihihi.