Jumat, 16 Agustus 2019

Notebook Terbaru di Riung 30 Tahun Asus di Yogyakarta

Kamis 15 Agustus 2019 metuomah.com hadir di acara Asus 30th Anniversary Gathering di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Tumben sih blog ini diundang ke acara teknologi, melenceng jauh dari niche blog hehehehe. Acara ini tidak hanya mengundang blogger saja, media dan relasi Asus juga diundang. Mungkin jika dihitung, undangan sampai ratusan orang dengan konsep acara berbeda, ruangan berbeda, sedangkan waktunya ada yang paralel dan ada yang seri.
Kupat tahu.
Riung blogger kebagian pukul 15.00 WIB di Ruang Pemandangan 1, diawali dengan santap jajanan makan ringan, buah, dan es kelapa muda yang manis banget. Ini pertama kalinya aku masuk hotel ini 😁, sebelum-sebelumnya bila ada acara di ruang pertemuan luar hotel. Menu masakannya sih hampir sama, tergantung mau pesan paket apa.
30 tahun perjalanan Asus.
Diawali dengan perkenalan Asus dan perjalanannya selama 30 tahun ini, lalu posisi Asus di antara kompetitor, dan strategi Asus dalam penetrasi pasar notebook. Asus saat ini memang lebih fokus menggarap pasar notebook dibandingkan gawai yang kompetisinya super ketat.
Produk notebook Asus di tahun 2019.
Dilanjutkan dengan pemaparan produk notebook Asus di tahun 2019, dari produk yang telah beredar di awal tahun hingga Juli 2019, sampai sedikit bocoran yang akan diperkenalkan akhir bulan Agustus 2019. Eits,, bocorannya hanya sebatas spesifikasi, harganya belum dirilis karena masih digodok dulu 😀.
Salah satu notebook Asus.
Selesai pemaparan, para blogger dipersilakan mengeksplor notebook Asus, baik yang sudah disiapkan di ruang pamer maupun yang dibawa PR Asus. Bila ingin bawa notebook untuk dipotret, wajib ninggalin tanda pengenal yang masih berlaku dan asli! Semua notebook Asus yang dipamerkan boleh dielus, diraba, dipegang, atau dipotret. Digunakan untuk main game juga boleh. Lini notebook Asus adalah Asus VivoBook untuk yang berjiwa muda, Asus ZenBook untuk profesional, dan Asus ROG untuk pemain game.

Acara ini ditutup dengan makan malam dan pembagian hadiah lomba. Kali ini, dan beberapa kali lain aku belum berkesempatan memenangkannya. Semoga lain kali bisa menang ya...😍

Selasa, 16 Juli 2019

Menelusuri Pedestrian Code Gumreget

Setelah istirahat 5 menit, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Parkir Abu Bakar Ali; destinasi terakhir sebelum berpisah. Acara terakhir adalah bedah foto di Gudang Kopi, sebagian peserta nyetrit bareng pamit tidak mengikutinya.


Dari bawah jembatan Jambu inilah kami melewati Pedestrian Code Gumreget (PCG) yang diresmikan pada 8 Januari 2017 lalu. Panjangnya baru 200 meter yang rencananya diperpanjang sampai jembatan Kewek, sekitar 300 meter. Secara administratif, PCG berada di Kampung Gemblakan Bawah Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta.

Gapura dari arah selatan.
Jalan inspeksi pedestrian dibangun dari batu alam, lampu-lampu hias dipasang di pinggir pembatas sungai. Bola-bola plastik digantungkan sebagai pemanis, ditemani beberapa spot untuk foto seperti kebanyakan tempat wisata Indonesia di tahun 2017-2018.
Beberapa spot foto PCG.
Sejenak kami berhenti untuk memotret, yang.... kayaknya lebih bagus motret di sore hari sih 😗. Cuaca sedikit mendung dan matahari sudah meninggi, kurang ideal untuk memotret di tempat terbuka. Akupun berpikir keras, angle yang lumayan bagus mengambil gambar dari mana? Tantangan kan, karena lebar pedestrian hanya 3 meter.
PCG yang cukup bersih.
Dari berita yang kubaca, pedestrian ini tidak boleh dilewati kendaraan bermotor karena juga digunakan untuk ruang publik. Memang sekitar tempat ini jadi terlihat cukup asri dan enak dipandang. Berjalan di pedestrian ini juga terasa nyaman.
Pj Walikota Yogyakarta yang meresmikan PCG.
Semoga proyek ini segera diteruskan ke utara, kami memang merasakan perbedaan setelah 200 meter PCG berakhir (Nyetrit Bareng di bulan Maret 2019, tapi tulisan baru tayang Juli 2019 😂). Bila PCG antar jembatan (Jambu - Kewek) terealisasi, niscaya para wisatawan akan antusias menikmati susur pedestrian ini.
Klik untuk memperbesar.
Beginilah perkiraan rute kedua yang kami lewati, cukup menyenangkan disela cuaca yang kadang terik kadang mendung. Perjalanan di jalan setapak dimulai turun ke Ledok, menyusuri pedestrian kemudian naik ke jalan raya, sehingga total jarak yang peserta Nyetrit Bareng kurang lebih 600 meter. Lumayan membuat badan berkeringat.

Senin, 08 Juli 2019

Spesial Sambal Bawang Pak Bro Jalan Kaliurang

Para pencari warung penyetan malam hari di sekitaran Jalan kaliurang km 7-8, pasti tidak asing dengan Spesial Sambal Bawang Pak Bro. Warung tenda ini buka dari sore hingga habis, tepatnya di utara Panties Pizza. Pernah datang ke sini pukul 20.30 WIB, terong dan tempe sudah habis 😔.

Spesial sambal Pak Bro.
Meskipun nama warungnya Pak Bro, tapi yang jual bukan bapak-bapak atau simbah-simbah ya. Setahuku sekarang hanya digawangi suami istri, semoga saja benar, karena jarang memperhatikan hehe.

Pertama kali ke sini sekitar tiga tahun lalu sangat ramai, bahkan kami harus bayar parkir (njelehi). Karena merasa dirugikan, (maklum so bath kiss mean) kami tidak menginjakkan kaki ke sini 😀 . Baru di tahun 2017 setelah pulang dari melihat Gemerlap Lampu Festival of Lights, aku dan teman mampir makan di sini. Alhamdulillah tidak bayar parkir lagi 😂.

Apa sih keunikan Spesial Sambal Bawang Pak Bro, sehingga aku sering makan di sini?
  • Sambal bawang dengan cabai hijau. Rasanya khas, setelah pagi hari tingkat kepedasan sambalnya berkurang.
  • Daun singkong seperti di rumah makan Padang.
  • Tempat kobokan dari seng.
  • Nasi ambil sendiri.
Tempe goreng.
Sekarang warung ini menawarkan menu paket, sehingga harga ikut terkatrol naik 😂. Menu andalanku hanyalah paket tempe terong goreng, kalau bosen ganti menu paket tahu terong goreng 😂. Seporsi paket tersebut berisi tempe goreng 5 iris, sambal bawang, daun singkong, serta lalapan kubis dan ketimun. Aku merogoh kocek Rp8.500 untuk mendapatkan paket tersebut.
Paket terong tempe goreng.
Pesan menu non paket? Bisa dong, malah mungkin bisa lebih murah jika ada pengurangan item. Setahuku Pak Bro tidak menyediakan menu penyetan. Selain tahu tempe dan terong, masih ada lele, ayam, rempela ati, dan telur ayam. Untuk ikan nila, bandeng, dan lainnya aku kurang tahu karena belum pernah memesannya 😀

Lokasi: https://goo.gl/maps/ivX4yoZF6BvVC8bV6

Rabu, 03 Juli 2019

Pecel Tumpang di Barat, Ada yang Suka?

Tahukah pembaca dengan makanan bernama tumpang? Agar tidak ambigu, ada tambahan kata di depannya, yang populer adalah sambel tumpang. Bahan utama menu tumpang adalah tempe bosok (busuk), diolah bersama aneka bumbu dapur jadilah menu menu berkuah ini. Setahuku menu ini ada di daerah Jawa Tengah bagian selatan seperti Solo raya hingga Jawa Timur.
Lupa, motretnya sudah di dalam mobil.
Ketika aku menemani teman ke Maospati, dengan mengambil rute Solo - Sragen - Ngawi - Maospati, kami mampir makan di Depot Makan Dewi Sri di Barat, Kabupaten Magetan Jawa Timur. Pukul 10.00 WIB sampai di rumah makan yang terletak di dekat Pasar Barat ini, kami adalah pengunjung pertama yang datang 😁. Entah dengan pertimbangan apa memilih tempat ini, kalau aku sih lebih suka sate (tapi kayaknya harganya lebih mahal 😂).
Baru buka sudah ada yang berkunjung.
Karena baru saja buka, belum banyak menu yang tersedia. Bingung kan mau makan apa? 😀 Mau makan ayam, kok bosan (dari Ramadhan hingga selesai lebaran makan ayam melulu). Mau pesan menu lain, kok belum ada hehehe, maklum baru saja buka... Akhirnya aku pesan menu pecel tumpang berpadu dengan minum es lidah buaya.
Pecel tumpang, krupuk harga terpisah.
Kami juga memesan tempe dan tahu tapi sengaja tidak ditampilkan di artikel ini 😃. Oke, lalu bagaimana rasa pecel tumpang? Sebelas dua belas dengan sambel tumpang, tidak ada bedanya. Pecel tumpang hanyalah kumpulan sayuran yang biasa dipakai untuk bahan utama pecel, sedangkan bumbu (sambel) pecelnya diganti dengan kuah tumpang. Dari penampilan sangat mirip dengan pecel original, setelah dicicipi barulah terasa perbedaannya. Ohiya, yang kumakan ini tidak pedas 😆.
Sebagian menu.
Harga di Depot Makan Dewi Sri cukup murah dan terjangkau, tempat makan cukup nyaman dan kondusif untuk makan bersama keluarga. Kenapa temanku mengajak makan ke sini? Karena 6 bulan sebelumnya mengadakan reuni di tempat ini 😑. Jika sebelumnya reuni dengan teman sekolah, kali ini reuni dengan makanannya.
Gazebo di depot makan.
Selain gazebo, lesehan, juga ada tempat makan menggunakan kursi. Tempat ini juga menyediakan "rumah" yang bisa disewa untuk reuni dan acara lain. Kusebut "rumah" karena tidak seluas aula sekolah maupun gedung serbaguna desa.


Letak depot makan ini masuk jalan kecil, tidak terlalu terlihat dari jalan utama. Satu lagi, jangan bandingkan depot ini dengan kota besar seperti Jogja atau Solo, atau di tempat makan di jalan nasional yang selalu ramai dikunjungi orang bepergian. Karena yang kutulis ini berada di kecamatan yang lumayan jauh dari kota besar.

Minggu, 30 Juni 2019

Naik KA Solo Ekspres, Alternatif Lingkapnya Tiket KA Prameks

Terpaksa, itulah kata yang keluar dari bibir (minimal dalam hati) para calon penumpang kereta api Solo - Jogja -Kutoarjo atau sebaliknya, ketika tahu tiket KA Prameks yang murah meriah lingkap tandas lenyap tak berbekas. Satu-satunya kereta api lokal yang tersisa hanyalah KA Solo Ekspres, dengan harga tiket 3 (koma sekian) kali lipat lebih mahal dari pada KA Prameks. Mau naik apa lagi? Masih ada tiket KA jarak jauh dengan tarif khusus, tapi harganya lebih mahal lagi. Mau naik bus, sangat tidak nyaman terutama macetnya jalan raya.

Aku mengalami sendiri kejadian seperti di atas, kira-kira sepekan usai hari raya Idulfitri. Karena suatu hal, kepulangan dari Solo ke Jogja mundur sehari. Padahal sebelumnya sudah beli tiket KA Prameks keberangkatan terakhir, otomatis tiketnya hangus. Aku tidak bisa beli tiket KA Prameks lewat aplikasi KAI karena faktor LinkAja.

Zobath kiss mean seperti diriku ini tidak bisa install aplikasi LinkAja karena OS Android gawaiku masih Kitkat, yang tidak didukung aplikasi itu. Aku cuma bisa pesan tiket KA Prameks (di KAI Access) tapi tidak bisa bayar. Apa boleh buat, beli tiket harus di stasiun.

Ketika itu jam di Stasiun Purwosari menunjukkan 10.30 WIB. Kulihat karton di sebelah loket tertulis Prameks Jogja 13.14 WIB, berarti aman nih masih kebagian, pikirku. Tapiiiiiii.... ketika sampai di depan loket, "Maaf tiket ke Jogja sudah habis, keberangkatan terdekat jam 18.10 WIB", kata wanita penjaga loket.
Ada yang berdiri.
Jadi,,,,,,, tiket tersisa KA Prameks 13.14 WIB dibeli oleh depanku!!!!! 😠 Lemeslah badan ini, masak harus nunggu 7 jam lebih di stasiun? Kulihat ketersediaan tiket di aplikasi, semakin lama semakin menipis.. bisa-bisa aku tidak pulang nih. Akhirnya dengan berat hati kubeli tiket KA Solo Ekspres keberangkatan 15.48 WIB dengan harga Rp30.000. Beruntung masih dapat nomor tempat duduk, karena kereta ini juga menjual tiket tanpa tempat duduk dengan harga yang sama 😖.
Korden siap ditarik.
KA Solo Ekspres sebenarnya adalah kereta api bandara Solo, melayani bandara Adi Sumarmo ke Stasiun Solo Balapan lalu entah kemana lagi. Kereta buatan PT Inka ini sudah jadi duluan dari pada jalur keretanya. Dari pada ndekem di depo, mending dipakai untuk melayani jurusan Solo Balapan - Kutoarjo.

Ciri khas kereta ini memiliki "moncong" hijau hitam, dengan warna kereta putih bergaris hijau. Kaca penumpang "gedhe" dengan korden yang bisa ditarik ke bawah. Kursinya empuk seperti kursi para gamer atau pembalap, dengan jarak antar kursi lebih lebar dari kereta eksekutif. Penumpang duduk saling berhadapan dengan komposisi 2-2. Ada bagasi koper besar di dekat pintu masuk, dan alarm akan berbunyi ketika pintu kereta akan tertutup.
Solo Ekspres di Stasiun Lempuyangan.
Warna kereta ini sama persis dengan KA Bandara Yogyakarta yang telah beroperasi dengan rute Stasiun Maguwo - Tugu Yogyakarta - Wates - Stasiun Wojo. Kenyamanan? Kayaknya masih enak Prameks Angry Bird, karena kadang njundil-njundil seperti KA Kedungsepur, atau mungkin hanya perasaanku saja.

Jumat, 28 Juni 2019

Soto Bathox Pitek Jowo, Makan di Antara Jalan dan Sawah

Saat akan ke tempat wisata rekreasi Lava Bantal, aku sengaja berangkat lebih cepat agar bisa sarapan di tengah perjalanan. Belum terpikirkan mau makan dimana, biasanya makanan yang punya rasa netral dan ramah kantong adalah masakan Padang, soto, bakso, mie ayam, dan bubur. Untuk sarapan mungkin soto atau bubur saja, lumayan bersahabat dengan perut. Maka sepanjang jalan mataku plirak-plirik untuk menemukan penjual kedua makanan itu.
Soto dan aneka kelengkapannya.
Di peta Google ternyata ada tempat jual soto yang cukup menonjol (terlihat tanpa memperbesar lokasi), namanya Soto Bathox Pitek Jowo. Agak alay memang nulisnya 😊, tapi orang yang terbiasa menggunakan bahasa Jawa pasti tahu artinya (biasanya ditulis bathok atau batok dalam KBBI). Tempat ini bukan yang lokasinya dekat candi dan hits di Instagram lho ya, jangan salah.
Soto bathox kebon pitek jowo dari seberang jalan.
Tempatnya agak unik, beberapa sepeda tua dipajang di dinding. Ada 2 tempat makan terpisah, tempat utama tinggal masuk sejajar dengan jalan raya. Sedangkan tempat kedua harus turun beberapa anak tangga karena kontur tanahnya turun. Aku lebih suka yang kedua karena lebih sejuk, lebih luas, dan pandangan ke jalan raya kepentok dengan rimbunnya tanaman. Di belakang warung ini masih terhampar sawah (yang waktu itu) menghijau, bener-bener mepet sawah sih..
Beberapa sudut warung soto.
Setelah memarkir kendaraan aku langsung pesan soto dan minum teh manis hangat, nggak perlu harus disamperin pekerja,,, kesuwen 😂. Kutunggu pesanan dengan duduk sambil memangdangi sawah dan jalan raya, aku belum tahu di sisi sebelah ada tempat yang lebih adem dan dingin (lembab + terkena angin dari arah sawah). Tak berapa lama, seperti biasa minumannya yang datang duluan. Setelah menyeruput teh sedikit-sedikit sambil melihat layar gawai, soto pun datang... hmm.
Pesan dan bayar di sini.
Soto ini rasanya khas Jogja, penampakannya seperti gambar di bawah. Disajikan dalam tempurung kelapa, bukan mangkuk dari kaca. Tapi sendok yang disediakan untuk pembeli bukan sendok tempurung, melainkan sendok soto atau biasa digunakan untuk makan bubur atau es dawet. Porsinya mendekati porsi soto Kudus, sedikit 😀, cukup untuk mengganjal perut hingga 3 jam ke depan.
Soto dalam bathox.
Cukup mengejutkan karena harganya cuma Rp6.000, benar-benar murah. Karena itulah banyak yang datang untuk sarapan, ada juga yang dibawa pulang. Harga soto dibawa pulang lebih mahal Rp1.000 daripada makan di tempat, kok gitu? 😶 Ohiya, parkirnya (waktu itu) juga gratis, lumayan ngirit kantong.

Usai membayar ke kasir, iseng nanya ke mbakayune kenapa nama warungnya ditulis agak aneh. Si mbakayune cuma mesam-mesem rajelas kepriye karepe 😃. Jam di gawai menunjukkan pukul 08.31 WIB, waktunya segera menuju Lava Bantal, tempat yang belum pernah kujamah sebelumnya.

Lokasinya ada di https://goo.gl/maps/idyN7sR2NbSk7isY6