Kemarin saya khilaf jajan makan nasi goreng di warung Jl Profesor Herman Yohannes, Sagan Yogyakarta. Khilaf karena tidak tahu makanan tersebut haram atau halal, karena warung tersebut menyediakan chinese food dan dimiliki orang yang sama dengannya. Terkadang di dapur masak ada ciu, tapi entahlah dengan yang saya makan.

Warungnya.

Nasi goreng ayam ini harganya Rp. 10.000 dengan telur ayam tercampur di dalamnya dan disajikan bersama sesendok acar ketimun. Nasi goreng ini memang dimasak tidak pedas (sesuai yang tertulis di menu makanan), sambal, saos, dan kecap sudah disediakan di meja makan. Misalkan dirasa kurang kecap atau pengen pedas tinggal tambahkan sendiri.
Nasi goreng ayam.

Rasa dan harga nasi goreng ini tidak sepadan dengan nasi goreng Pak Kumis dan Cak Nuri yang menerima pesanan via SMS. Meskipun tetap berasa nasi goreng, menurut saya tidak selevel dengan 2 penjual nasi goreng di atas. Hmmm, bagaimana ya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, intinya kurang puas saja.

Warung ini hanya buka sore sampai malam hari, bahkan tempat duduknya sampai memenuhi trotoar. Ini juga yang membuat saya merasa bersalah, karena saya biasa tidak membeli barang yang dagangannya memenuhi jalan umum dan trotoar.