Hampir semua orang tahu Ayam Goreng Bu Tini yang legendaris. Dulu warungnya kecil di pojokan barat traffic light Bioskop Permata (sudah tutup), atau Jalan Sultan Agung - Jl Gajah Mada. Sekarang menjadi rumah makan di Jalan Sultan Agung, timur bioskop Permata.

Beberapa waktu lalu aku menjadi guide tamu dari Jakarta, sebagai tuan rumah harus menjamu dengan baik. Yang agak merepotkan adalah tamu Jakarta tersebut tidak makan daging binatang ternak berkak empat! Aku harus berpikir keras mencari rumah makan yang menyajikan menu khas, yang tidak menyajikan daging ternak berkaki empat.

Setelah mengitari kota Jogja akhirnya ke RM Ayam Bu Tini juga, biasanya ramai pengunjung tapi saat aku dan rombongan leat, ternyata sepi. Kami pun memutuskan makan ayam goreng Bu Tini.
Ayam separuh.
Kami pesan ayam separuh untuk dua orang, lalapan sepuasnya. Kenapa pilih ayam separuh? Kalau dihitung harganya lebih murah daripada beli dada saja atau paha saja untuk beberapa orang.

Untuk dua orang Rp. 70.000 hitung sendiri jika nambah paket. Sudah termasuk minum es teh.

Rasa ayamnya? Hanya satu kata "lezat"... namanya saja legenda. Ayam goreng Bu Tini diungkep dulu baru digoreng, tapi warnanya lebih cenderung seperti dibacem.

Seperti kebanyakan masakan Jogja pada umumnya, ayam goreng Bu Tini rasanya manis.