Tadi malam aku beli bubur kacang ijo di salah satu warung. Aku lagi ingin makanan ringan berprotein dan segar, usai lari pagi 3,5 km (lari segitu saja diceritakan). Rasanya lapar dan haus terus, meskipun sudah minum bergelas-gelas dan minum minuman penambah ion #bukaniklan.


Lumayan banyak pembeli yang antri, kebanyakan mahasiswi kost-kostan yang nggak doyan makan malam dengan alibi diet. Aku merasa jatahku dilewati beberapa orang, tapi aku diam saja... biarin deh, rezeki anak sholeh tak akan kemana.

Sampai akhirnya ada pembeli baik hati berkata pada penjual, "Mas itu duluan, tidak apa-apa?"

#Akurapopo (dalam hati), tapi statement itu membuat penjual "dengan terpaksa" melayaniku :D . Yah, siapa lagi yang akan dilayani.. wkwkwk. Aku pesan seperti biasa, "bubur kacang ijo tanpa ketan tanpa es, bungkus". Aku berkata dalam hati, bila dia tidak meracik seperti pesanan maka aku tak beli di situ lagi.

Sampai di rumah, kubuka bungkusan plastik dan tatatata..... ada ketannya! Baiklah, setelah pengalaman kurang menyenangkan itu aku malas beli di tempatnya lagi. Seingatku, aku tak pernah komplain, tak pernah minta lebih, dan tak pernah minta didahulukan. Semoga Allah melapangkan rezeki buatku.

Ciri Penjual Tidak Menyukaimu
Ada beberapa "isyarat" yang menunjukkan seorang penjual tidak menyukai kamu sebagai pembelinya.
  • gesture dan wajah bermuka masam padamu.
  • kamu dicuekin.
  • sengaja antrianmu dilewati beberapa orang.
  • harga lebih mahal dari biasanya, hanya padamu.
  • tidak memberi uang kembalian.
  • ngomong sudah habis padahal sebenarnya masih.
Isyarat dilakukan berkali-kali dengan terstruktur, sistematis, masif. Penjual seperti ciri di atas tidak ingin kamu kembali beli, mendingan beli di tempat lain. Sebagai penutup, ini dia video Isyana Sarasvati (nggak ada hubungannya :).