Juni 2016 - metuomah.com

Jumat, 24 Juni 2016

0

Selalu Berhati-hati Memilih Angkringan

Sebagai pelengkap puasa Ramadhan, aku berpuasa 6 hari di bulan Syawwal tahun lalu 2015. Sengaja kukerjakan puasa tersebut usai Idul Fitri, hari kedua Idul Fitri sudah puasa mumpung masih ada kupat opor dari tetangga :) .

Dua hari berikutnya aku sahur dan buka dengan mie instan, tapi perut rasanya melar tidak karu-karuan. Mie instan memang hanya untuk pengganjal perut lapar, untuk jadi makanan pokok atau sehari-hari sepertinya tidak baik untuk kesehatan. Kapok makan mie instan, aku beritikad mencari makan di luar meskipun aku tahu masih jarang warung makan yang buka.

Sekitar jam 03.00 WIB dini hari aku mengelilingi sebagian kota Jogja, sasaranku di daerah Kotagede. Tidak ada satupun warung yang buka di sepanjang perjalanan. Ada 1-2 yang buka tapi mereka baru buka untuk persiapan memasak. Di Pasar Kotagede beberapa gerobak dorong kaki lima terlihat didatangi pembeli, tapi bukan nasi yang mereka jual.

Hampir putus asa karena tidak menemukan warung, kuputuskan pulang ke rumah melewati Jalan Tegal Gendu. Sesampainya di pertigaan Tegal Gendu - Imogiri Timur - Pramuka, kulihat di depan mata ada warung angkringan buka. Mampirlah aku ke sana, nama warung itu Angkringan Nganggo Suwe Lek Adi.
Nasi telur, sayur habis.
Tak terlihat penjualnya ada di mana, daripada nanti keburu Shubuh aku ambil aja sebungkus nasi di dalam baskom. Beberapa gorengan dan telur ceplok terlihat kurang menarik perhatian. Masak cuma makan nasi? kuambil sebuah telur ceplok dari baskom dan memakannya.
Daftar menu.
Tak lama kemudian penjual keluar, lalu aku bersama seorang pembeli lain memesan minum, aku cuma pesan teh manis panas. Benar-benar panas dan manis sehingga aku meminumnya dengan menuangkan dahulu ke cawan :).

Ada 4 orang selain diriku yang ada di warung tersebut, 3 orang di antaranya seperti langganan di warung Lek Adi, seorang lagi yang datang belakangan adalah orang yang baru selesai belanja di Pasar Giwangan.

Kulihat penjual mengais tempat sampah yang dibawanya ke dalam. Diambilnya kembali koran pembungkus makanan yang masih bagus dan ditumpuk dengan rapi kembali. ?%^$*#!!!!

5 menit menjelang Shubuh aku pulang dari warung tersebut. Sebungkus nasi + telur ayam + segelas teh manis dihargai Rp. 8.000.

Tidak Akan Balik
Pengalaman tak terlupakan dan tidak balik ke warung itu lagi, apalagi ditambahi kisah Mas Nanang di Kompasiana yang menceritakan warung tersebut menjual darah goreng alias dideh alias ati arab.

Ini menjadi pelajaran berharga agar lebih selektif memilih tempat makan, apalagi jika dilakukan malam hari.

Rabu, 15 Juni 2016

0

Buka Puasa Ramadhan 1436 di Masjid Kampus UGM

1 Ramadhan 1436 Hijriah bertepatan dengan hari Kamis, 18 Juni 2015. Sudah menjadi tradisi di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Maskam UGM), pada pekan pertama Ramadhan menyediakan 1500 porsi buka puasa, dan porsinya terus menurun di pekan selanjutnya.

Tulisan ini adalah pengalaman buka tahun 2015 di Masjid Kampus UGM.

Penurunan jumlah porsi buka puasa menjelang Idul Fitri lebih dikarenakan sudah banyak mahasiswa yang mudik ke kampung halaman, sehingga yang datang ke Masjid Kampus UGM sudah pasti berkurang.

Dulu pernah satu ketika menu makanan di masjid ini lumayan mewah karena mendapat bantuan atau donasi dari berbagai kalangan baik dalam maupun luar negeri. Tapi setelah musuh takut dengan dana melimpah, donasi dari luar negeri sulit masuk dan menu makanan buka puasa balik lagi ke default (baca: nasi separuh lauk telur :))

Aku mencoba ikut buka puasa di sini 2 Ramadhan 1436, sekalian balik dari tempat kerja. Ternyata sistemnya telah berubah banyak. Selengkapnya seperti ini;

1. Ambil kupon buka puasa di panitia.


2. Antri mengambil nasi bungkus.


3. Ambil segelas air teh, bila habis ambil air putih.

4. Menunggu adzan Maghrib.

5. Makan di serambi atau halaman masjid.



Bagaimana dengan tahun 1437 H? Tahun ini aku belum sekalipun buka puasa di Masjid Kampus UGM, kuyakin tidak jauh dari tahun-tahun sebelumnya.

Senin, 13 Juni 2016

2

Ada yang Berbeda dengan Buka Puasa di Masjid Syuhada Yogyakarta Tahun Ini

Seperti tahun-tahun sebelumnya, selama bulan Ramadhan berbagai masjid di Yogyakarta menjadi tujuan masyarakat untuk ngabuburit, mendengarkan kajian sekaligus berbuka puasa di masjid secara gratis.

Jum'at lalu (10/6/2016) sebelum mengikuti safari Tarawih bersama Pemda DIY di Gedung BI, saya sempatkan berbuka puasa di Masjid Syuhada yang terletak di Jl. I Dewa Nyoman Oka No.13, Kotabaru Yogyakarta.

Tahun lalu, ketika saya berbuka puasa di Masjid Syuhada ini masih berupa nasi dalam kardus, seperti yang terlihat dalam video di bawah ini.

Sedangkan Ramadhan 1437 H kali ini, penyajian buka puasa di Masjid Syuhada adalah:
Secething plastik nasi untuk 4 orang dengan kertas pembungkus nasi (rice wrapper) di atas piring ayaman. Sayur, lauk-pauk, buah, kurma, dan sendok sudah tersaji di piring.

Yang tidak berubah dari tahun ke tahun adalah segelas teh hangat.
Kurma manis.
Kurma untuk buka puasa seperti dalam gambar, saya yakin kadar gulanya sangat tinggi karena bentuknya seperti manisan gula-gula. Lebih baik hindari makan kurma seperti ini dan ganti dengan minum air putih untuk berbuka.

Suasana buka puasa di masjid ini juga tidak berubah, masih tetap ramai dikunjungi masyarakat yang didominasi oleh mahasiswa perantauan.

Masyarakat yang datang terlambat tidak perlu khawatir, 800 porsi tersedia untuk buka puasa. Ketika shalat Maghrib selesai, persediaan makanan buka puasa masih tersedia.