Selalu Berhati-hati Memilih Angkringan

Sebagai pelengkap puasa Ramadhan, aku berpuasa 6 hari di bulan Syawwal tahun lalu 2015. Sengaja kukerjakan puasa tersebut usai Idul Fitri, hari kedua Idul Fitri sudah puasa mumpung masih ada kupat opor dari tetangga :) .

Dua hari berikutnya aku sahur dan buka dengan mie instan, tapi perut rasanya melar tidak karu-karuan. Mie instan memang hanya untuk pengganjal perut lapar, untuk jadi makanan pokok atau sehari-hari sepertinya tidak baik untuk kesehatan. Kapok makan mie instan, aku beritikad mencari makan di luar meskipun aku tahu masih jarang warung makan yang buka.

Sekitar jam 03.00 WIB dini hari aku mengelilingi sebagian kota Jogja, sasaranku di daerah Kotagede. Tidak ada satupun warung yang buka di sepanjang perjalanan. Ada 1-2 yang buka tapi mereka baru buka untuk persiapan memasak. Di Pasar Kotagede beberapa gerobak dorong kaki lima terlihat didatangi pembeli, tapi bukan nasi yang mereka jual.

Hampir putus asa karena tidak menemukan warung, kuputuskan pulang ke rumah melewati Jalan Tegal Gendu. Sesampainya di pertigaan Tegal Gendu - Imogiri Timur - Pramuka, kulihat di depan mata ada warung angkringan buka. Mampirlah aku ke sana, nama warung itu Angkringan Nganggo Suwe Lek Adi.
Nasi telur, sayur habis.
Tak terlihat penjualnya ada di mana, daripada nanti keburu Shubuh aku ambil aja sebungkus nasi di dalam baskom. Beberapa gorengan dan telur ceplok terlihat kurang menarik perhatian. Masak cuma makan nasi? kuambil sebuah telur ceplok dari baskom dan memakannya.
Daftar menu.
Tak lama kemudian penjual keluar, lalu aku bersama seorang pembeli lain memesan minum, aku cuma pesan teh manis panas. Benar-benar panas dan manis sehingga aku meminumnya dengan menuangkan dahulu ke cawan :).

Ada 4 orang selain diriku yang ada di warung tersebut, 3 orang di antaranya seperti langganan di warung Lek Adi, seorang lagi yang datang belakangan adalah orang yang baru selesai belanja di Pasar Giwangan.

Kulihat penjual mengais tempat sampah yang dibawanya ke dalam. Diambilnya kembali koran pembungkus makanan yang masih bagus dan ditumpuk dengan rapi kembali. ?%^$*#!!!!

5 menit menjelang Shubuh aku pulang dari warung tersebut. Sebungkus nasi + telur ayam + segelas teh manis dihargai Rp. 8.000.

Tidak Akan Balik
Pengalaman tak terlupakan dan tidak balik ke warung itu lagi, apalagi ditambahi kisah Mas Nanang di Kompasiana yang menceritakan warung tersebut menjual darah goreng alias dideh alias ati arab.

Ini menjadi pelajaran berharga agar lebih selektif memilih tempat makan, apalagi jika dilakukan malam hari.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar