Tuesday, July 26, 2016

Melihat Stasiun Kedungjati di Tahun 2014

Seperti namanya, Stasiun Kedungjati berada di Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Menurut Wikipedia, stasiun ini diresmikan pada 21 Mei 1873. Saat ini berada dalam Daop IV Semarang dan (sepengetahuanku) hanya ada satu kereta penumpang yang melewatinya, yaitu KA Kalijaga rute Solo Purwosari - Poncol Semarang.
Papan nama memasuki stasiun.
Sewaktu aku kecil pernah pergi bersama keluarga dari Kedungjati ke Salatiga menelusuri sungai (Kali) Tuntang. Di sepanjang bantaran sungai kulihat rel kereta api yang sudah berkarat. Jalur kereta membentang dari Kedungjati - Tuntang - Ambarawa. Saat ini, jalur kereta Kedungjati - Ambarawa dibuka kembali dengan membuka jalur baru.
Rencana jalur kereta yang direaktivasi.

Rel tidak lagi berada di tepi Kali Tuntang, dibuat jauh dari sungai karena berpotensi banjir. Masih ada beberapa stasiun dan jalur rel lama yang digunakan, tentunya yang tidak berpotensi longsor dan banjir. Struktur tanah di Kabupaten Grobogan kebanyakan labil, apalagi jalur kereta ini melewati hutan Jati, perkebunan karet, dan pegunungan. Pertimbangan keamanan menjadi prioritas utama.
Tahun 2014 jalan belum diaspal.
Pada tahun 2014 lalu, aku sempatkan naik KA Kalijaga dari Stasiun Kedungjati menuju Stasiun Purwosari Solo. Sengaja berangkat pagi agar bisa memotret beberapa sudut stasiun ini. Inilah beberapa foto yang diambil dari kamera handphone Nokia Asha 3MP.


Stasiun Kedungjati masuk dalam cagar budaya milik PT KAI, bisa dipastikan bangunannya tidak akan dihancurkan.
Termasuk cagar budaya.
Beberapa peninggalan selain bangunan masih terlihat di komplek stasiun ini.
Lonceng dan kotak surat berkarat.
Tidak tahu apakah ini.

Alat ini terlihat asing.
Masih menggunakan tuas manual.
Ruangan berdinding kayu jati pun masih berdiri kokoh.
Ruang transmisi.
Stasiun ini begitu unik karena kita bisa main bulutangkis di sini, dengan catatan jam kerja sudah selesai. Jika melihat jadwal kereta, KA penumpang yang lewat hanya KA Kalijaga dan KA Majapahit (dinihari), sehingga setelah KA Kalijaga lewat kita bisa memasang net dan main bulutangkis(?) :).
Lapangan bulutangkis.
Masih tersisa kursi besi di ruang tunggu, kemungkinan ada di tahun 1980an.
Kursi besi.
Stasiun ini memiliki aula yang sering digunakan pertemuan. Ketika aku ke tempat ini, aula baru saja dibersihkan untuk acara halal-bihalal.
Ruang pertemuan.

Ruang pertemuan untuk umum.
Stasiun Kedungjati memiliki dua emplasemen, beginilah ruangan stasiun bila dilihat dari emplasemen belakang (selatan).
Bagian selatan stasiun.
Terlihat atap yang rusak.
Atap bocor.
Terlihat atap emplasemen selatan rusak, bocor, dan tidak terawat. Di tahun ini, atap emplasemen sudah diperbaiki bahkan lebih bagus dari sebelumnya.
Masih rusak.
Emplasemen selatan inilah yang dijadikan jalur ke Tuntang - Ambarawa. Pada tahun 2014 rel kereta hanya sampai di ujung stasiun.

Lalu bagaimana penampakan stasiun ini dari luar? Stasiun Kedungjati merupakan replika dari Stasiun Ambarawa, arsitekturnya nyaris sama persis.
Bangunan toilet berdiri sendiri.
Bangunan toilet berdiri sendiri di timur stasiun, hingga tahun 2016 keberadaannya tetap dipertahankan.
Stasiun Kedungjati.

Rel menuju Semarang.
Keadaan Stasiun Kedungjati 2014 berbeda jauh dengan tahun 2016. Pembenahan dilakukan di semua tempat sehingga terlihat cantik daripada sebelumnya. Ingin tahu keadaan stasiun ini di tahun 2016? Silahkan baca di tautan ini.

No comments:

Post a Comment