Tuesday, September 20, 2016

Menikmati Sate Sapi Suruh di Tempat Asalnya

Sate sapi Suruh sudah terkenal se-Indonesia. Dari blog, portal berita, website kuliner, hingga media televisi pernah memberitakan Sate sapi Suruh. Tapi saya merasa pemberitaan tersebut ada yang kurang. Kenapa? Karena mereka tidak mencicipi di tempat asal muasal Sate sapi Suruh tersebut.

Desa Suruh
Beberapa saudara saya tinggal di Salatiga, oleh sebab itu saya bisa bercerita agak banyak tentang Suruh. Suruh di sini adalah kata benda, atau lebih tepatnya nama tempat, bukan kata kerja. Sehingga dalam menuliskan “Suruh” diawali dengan huruf kapital.
Suruh terletak 10 km tenggara Kota Salatiga.
Suruh merupakan sebuah desa di Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Plat kendaraan di sini mengikuti Kabupaten Semarang, perlu diketahui bahwa Kabupaten Semarang ber-ibukota di Ungaran. Kabupaten Semarang memang “mengurung” Kotamadya Salatiga yang tidak begitu luas.

Para supir travel jurusan Semarang – Malang, Madiun atau Jawa Timur bagian selatan. sangat hafal dengan Suruh karena merupakan jalur alternatif dari Semarang ke Sragen.

Sebagai kota kecamatan, Suruh lumayan maju, sudah ada BRI, BNI, SPBU, serta Indomaret dan Alfamart, selain pasar tradisional dan pasar hewan.

Dari Jogja ke Salatiga
Paling tidak setahun sekali saya ke Salatiga dan Suruh menikmati sejuknya udara pegunungan, dibandingkan dengan kota seperti Semarang, Solo, atau Jogja.

Dari Jogja, saya biasa menggunakan armada kereta api Prameks Jogja – Solo. Disamping lebih murah juga lebih cepat daripada bus umum, tiketnya hanya Rp. 8.000. Turun di Stasiun Purwosari Solo kemudian jalan kaki kira-kira 300 meter menuju simpang 3 Panti Waluyo, Kerten Solo. Di sanalah bus-bus jurusan Solo – Semarang “. Selain jalan kaki juga bisa naik angkutan kota atau bus jurusan Kartasura.

Jika tidak mau ribet, Solo – Salatiga bisa naik shuttle bus atau travel. Menurut saya dua armada ini tidak efektif dan boros biaya.

Jika membawa uang saku lebih, sepanjang perjalanan menuju Kerten bisa mampir makan di RM Dapur Solo [baca: Makan Pagi di RM Dapur Solo Surakarta]. Meskipun berjalan kaki, sengatan sinar matahari tak terasa panas karena di pinggir jalan masih ditumbuhi pohon rindang.

Bus-bus jurusan Solo – Semarang semuanya ber-AC dengan tempat duduk 2-2. Tertulis Patas AC tapi menaikkan penumpang di pinggir jalan sudah biasa. Saya selalu memilih bus dari grup bercat hijau, trauma dengan perusahaan bus lain. Tarif Solo – Salatiga Rp. 15.000.

Kemudian turun di Terminal Tingkir, satu-satunya terminal bus di Salatiga. Dari Solo, letak Terminal Tingkir sebelum memasuki kota Salatiga. Sebelum dibangun terminal, dahulu dikenal dengan Pos Tingkir, karena di sudut pertigaan jalan (sebenarnya perempatan, tapi jalan di sebelah barat hanya cukup untuk 1 mobil) berdiri sebuah kantor pos polisi. Maka selain mengingatkan penumpang dengan teriakan “Persiapan yang turun terminal”, terkadang juga “Yang turun Pos Tingkir persiapan”, atau "Persiapan yang turun Ngepos."

Terminal Tingkir ke Suruh
Perjalanan selanjutnya menuju Suruh, sekitar 10 km arah timur Terminal Tingkir, Salatiga. Semua armada Salatiga – Suruh menggunakan minibus yang kebanyakan Isuzu Elf. Minibus-minibus ini tidak masuk Terminal Tingkir, jadi kita harus keluar terminal untuk naik angkutan ini. Bagi yang pertama kali ke Salatiga mungkin agak bingung karena angkutan antar desa di sini tidak menulis trayek di lambung minibus.
Angkutan ke Suruh.
Tips bagi yang ingin ke Suruh naik minibus dengan cepat, jalanlah ke timur 50 meter hingga traffic light atau jika mau hingga Indomaret Tingkir. Minibus-minibus yang ngetem dekat terminal lama hingga setengah jam. Mendingan capek sedikit jalan ke timur agar bisa naik armada yang sudah berjalan menuju Suruh.

Tarif Terminal Tingkir ke Suruh Rp 4.000 jika supir sedang baik hati. Bila tidak punya kembalian tarifnya Rp. 5.000 😔. Walau armadanya lumayan besar (Elf muat 17 penumpang) tapi angkutan umum Salatiga – Suruh tidak menggunakan kernet karena sepinya penumpang. Kebanyakan penumpang angkutan umum ini adalah anak sekolah dan pedagang pasar.

Menikmati Sate Sapi Suruh
Sate sapi buka mulai sekitar jam 16.00 WIB hingga habis. Letaknya berada di pintu utama Pasar Suruh. Pasar Suruh merupakan pemberhentian terakhir angkutan umum Salatiga – Suruh, dari sini kita juga bisa melanjutkan perjalanan dengan angkutan minibus lain atau ojek ke Karanggede Kabupaten Sragen atau ke desa-desa di sekitar Suruh.
Dibawa pulang karena terburu Maghrib.
Menurut saudara yang tinggal di Suruh, Sate Sapi Suruh aslinya berada di tempat ini. Penjualnya merupakan generasi kedua penjual Sate Sapi Suruh. Sedangkan yang buka di Salatiga juga generasi kedua, alias mereka kakak beradik. Saya tidak bertanya historisnya lebih lanjut dan tidak sempat bertanya kepada penjual karena beli sate untuk dibawa pulang :).
Warung Sate Sapi Suruh.
Banyak yang suka dengan Sate Sapi Suruh karena dagingnya empuk dan hampir selalu disisipi sepotong lemak di tiap tusukan sate. Ciri khas lainnya adalah bumbu kacangnya yang sengaja tidak ditumbuk halus dan rasanya yang manis. Penduduk sekitar memang suka makanan dan minuman yang serba manis, sehingga bumbu kacang Sate Sapi Suruh cocok di lidah penduduk sekitar.

Harganya pun murah karena daerah sekitar – hingga Boyolali – merupakan sentra peternak sapi. Pembeli bisa memilih sate saja atau dengan lontong. Sate Sapi Suruh tidak menyediakan lalapan :). Sejak kapan sate sapi ada lalapannya? Hehehe...
Selain sate sapi, Suruh juga terkenal dengan rengginangnya. Seingat saya yang paling terkenal adalah renggginang Hj. Amanah. Tokonya ada di utara Pasar Suruh, tepatnya di kiri jalan menuju Kauman.

Puas makan sate sapi lalu bagaimana pulang dari Suruh? Inilah susahnya, jika sudah sore agak susah mencari angkutan umum. Alternatif angkutan menuju Salatiga adalah naik ojek :). Bus jurusan Semarang – Solo 24 jam ada, meskipun harus menunggu agak lama. Jika anda benar-benar pemburu kuliner, Sate Sapi Suruh di tempat asalnya wajib dicoba, sebelum pasar (wacana) direnovasi :).

No comments:

Post a Comment