Wisata ke Gedung Agung, Tak Hanya menikmati Heritage tapi juga Karya Seni

Di dunia ini, mungkin hanya Republik Indonesia yang memiliki enam Istana Kepresidenan yang salah satunya berada di Yogyakarta. Istana Kepresidenan Yogyakarta atau dikenal dengan Gedung Negara atau Gedung Agung berada di Jalan Margo Mulyo 3 (dahulu Jalan Ahmad Yani); tepat di barat laut titik Kilometer Nol Yogyakarta, di atas tanah seluas 4,2 hektar.

Komplek Gedung Agung ini masuk dalam bangunan cagar budaya dengan Nomor Registrasi Nasional RNCB.20111017.02.000199 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No: PM.89/PM.007/MKP/2011.

Masyarakat belum banyak yang tahu bahwa Istana Kepresidenan Yogyakarta (selanjutnya ditulis Gedung Agung) dibuka untuk umum, siapa saja boleh berkunjung ke sini asalkan mematuhi peraturan yang berlaku. Pertama kali saya masuk Gedung Agung tahun 2009 lalu, saat itu saya membuat surat ijin berkunjung; yang pada akhirnya tidak terpakai karena bertepatan dengan acara Festival Malioboro.

Saat ini pengunjung Gedung Agung tidak perlu menggunakan surat ijin berkunjung, hanya mengisi buku tamu saja.

Yang harus diperhatikan saat berkunjung ke Gedung Agung:
1. Pakaian
Pria
  • Memakai kemeja.
  • Memakai celana panjang.
  • Memakai sepatu.

Wanita
  • Memakai blus berlengan.
  • Memakai gaun paling pendek sebatas bawah lutut, atau celana panjang, atau busana muslimah.
  • Memakai sepatu.

Tidak diperkenankan:
- Memakai celana pendek, rok pendek.
- Baju tanpa lengan.
- Kaos atau T-shirt.
- Tanpa alas kaki dan memakai sandal.

Ketentuan lainnya adalah:
  • Datang pada waktu yang telah disediakan.
  • Mengisi buku tamu.
  • Melewati alat deteksi logam.
  • Jaket, sweater, tas ditempatkan pada loker yang telah disediakan.
  • Dilarang gaduh.
  • Dilarang memotret, kecuali telah diizinkan oleh pemandu.

Berkunjung ke Gedung Agung
Maret lalu saya bersama blogger Kompasiana berkunjung lagi ke Gedung Agung. Jam 09.20 WIB kami sampai di Gedung Agung, ternyata kami adalah rombongan kedua yang datang.

A photo posted by Metu Omah (@metuomah) on

Karena sudah ada rombongan yang masuk, kami harus menunggu hingga rombongan tersebut selesai berkeliling Komplek Gedung Agung. Kami dipandu oleh Pak Winarto dan dua sekuriti yang mengawal dari belakang.

Bagi yang datang sendiri atau kurang dari 10 orang akan digabungkan dengan pengunjung lain sehingga membentuk rombongan.
Pos penjagaan.

Semenjak dari titik keberangkatan (tempat loker), Pak Winarto sudah menjelaskan beberapa bangunan yang dilewati pengunjung ketika hendak ke bangunan utama Gedung Agung.

Secara garis besar, komplek Gedung Agung memiliki 6 bangunan utama.
  • Gedung Agung
  • Wisma Negara
  • Wisma Indraphrasta
  • Wisma Sawojajar
  • Wisma Bumiretawu
  • Wisma Saptapratala
  • Gedung Seni Sono

1. Wisma Negara
Bangunan ini berada di sayap barat Komplek Gedung Agung. Wisma Negara baru dibangun pada tahun 1980 atas inisiatif Mensekneg saat itu Sudharmono. Wisma ini terdiri dari 19 kamar dengan 17 kamar standar dan dua kamar untuk menteri.
Wisma Negara.
2. Wisma Indraphrasta
Bangunan ini dahulu adalah kantor Asisten Residen Belanda sang penggagas Gedung Agung. Wisma Indraphrasta berada di sayap timur dengan 6 kamar, yang sekarang digunakan untuk menginap para pejabat negara.
Wisma Indraprhasta.
3. Gedung Agung
Inilah gedung utama yang berada di tengah komplek Gedung Agung. Pak Winarto menjelaskan sejarah berdirinya Gedung Agung, sebagian dari kami ada yang mencatat dan merekam suara penjelasan tersebut.
Khusyu' mendengarkan pemandu.
Sebelumnya diingatkan bahwa pengunjung dilarang masuk dan memotret ruangan di dalam Gedung Agung, kami hanya diperbolehkan memotret area luar gedung.

Selanjutnya dijelaskanlah ruangan-ruangan yang ada di Gedung Agung.

A. Ruang Garuda
Ruangan utama yang terletak paling depan tengah. Pengunjung bisa melihat dalamnya dari depan pintu Gedung Agung. Ruangan setinggi tujuh meter ini tergantung 4 buah cermin tua dan 3 rangkaian kandelier bertingkat. Terlihat dengan gagahnya lambang Garuda Pancasila menghadap ke depan pintu utama, dengan foto presiden dan wakil presiden berada di bawahnya.

Saat Yogyakarta menjadi ibukota RI, presiden pertama Ir. Soekarno melakukan sidang kabinet dan acara kenegaraan di Ruang Garuda. Sekarang Ruang Garuda digunakan untuk menyelenggarakan agenda resmi kepresidenan.

B. Ruang Sudirman
Berada di sebelah kiri luar Ruang Garuda, ruangan ini berada di sisi selatan dan menghadap utara. Dinamakan Ruang Sudirman karena menurut pemandu; di ruangan ini Panglima Besar Soedirman menghadap Presiden Soekarno untuk meminta ijin melakukan perang gerilya melawan Belanda.

Di ruangan ini terdapat patung dada Panglima Besar Soedirman dari perunggu serta beberapa lukisan. Ruang Sudirman sekarang digunakan untuk ruang tamu dan pembicaraan empat mata.

C. Ruang Diponegoro
Letaknya berhadapan dengan Ruang Sudirman (di sisi utara Gedung Agung menghadap selatan). Penamaannya sebagai wujud penghargaan atas jasa Pangeran Diponegoro. Di ruangan ini terdapat lukisan bergambar Pangeran Diponegoro; replika lukisan karya Basuki Abdullah yang ada di Istana Merdeka Jakarta.

Ruang Diponegoro digunakan sebagai tempat duduk para tamu pada acara tertentu yang sifatnya umum.

Kemudian kami melewati lorong di sisi selatan menuju ruangan di belakang Ruang Garuda. Sambil berjalan kami mendapat penjelasan:

D. Ruang Wakil Presiden
Berada di kanan dalam (utara) Ruang Garuda.

E. Ruang Kerja Wapres
Terletak di samping (barat) Ruang Wakil Presiden.

Pemandu tidak menjelaskan dimana ruang presiden, Ruang Presiden beserta keluarga ada di sisi selatan.

F. Ruang makan VVIP
Ruangan ini berada di belakang Ruang Garuda sebagai tempat jamuan kenegaraan. Di ruangan ini saya mendapatkan leaflet Istana Kepresidenan Yogyakarta.

A photo posted by Metu Omah (@metuomah) on
G. Ruang Kesenian
Ruangan ini berada di belakang Ruang makan VVIP. Ruangan ini juga digunakan sebagai showroom produk-produk asli Indonesia (seperti misalnya grabah atau batik) saat tamu negara berada di Gedung Agung, sehingga tamu tak perlu repot pergi ke Kasongan atau Kaliurang untuk membeli barang maupun oleh-oleh.

4. Wisma Sawojajar
Terletak di utara Ruang Kesenian yang terdiri dari sembilan kamar sebagai tempat akomodasi team advance kepresidenan, seperti protokoler, ajudan, dan lainnya.

5. Wisma Bumiretawu
Berada di sebelah selatan Ruang Kesenian sebagai tempat Pasukan Pengamanan Presiden.

6. Wisma Sapta Prapala
Terletak di sebelah barat Museum Istana Negara, untuk tim dokumentasi kepresidenan.

7. Museum Istana Negara
Berada paling selatan komplek Gedung Agung, satu komplek dengan Seni Sono. Di museum, kami dipandu oleh voluntir dari Institut Seni Indonesia, yang akan menjelaskan berbagai benda seni di dalamnya. Diingatkan kembali untuk tidak boleh memotret semua yang ada di Museum Istana Negara.
Kiri: Gedung Seni Sono, kanan: Museum Istana Kepresidenan.
Museum ini mengalami renovasi pada tahun 2009, dan direnovasi kembali tahun 2014, sebelum masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir.

Museum berisi koleksi benda seni, lukisan bersejarah, cinderamata dari tamu negara, maupun karya seniman nasional. Ada lukisan Raden Saleh, Basuki Abdullah, Afandi, dan lainnya. Lukisan para presiden RI yang telah menjabat juga dipamerkan. Ada Presiden Soekarno yang dilukis Dede Eri Supria, Presiden Soeharto oleh Lim Hui Yung, Presiden B.J. Habibie dilukis oleh Ivan Hariyanto, Presiden Abdurrahman Wahid oleh Gunawan Hanjaya, Presiden Megawati oleh Robby Lulianto, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono oleh Melodia Idris.
Kecapekan berdiri, duduk di teras Seni Sono.

Di lantai 2 museum terdapat lukisan para pendamping (suami/istri) presiden, lukisan wakil presiden RI, bencana gempa Jogja 2006, dan beberapa benda seni lain. Banyaknya koleksi guci, gelas, keramik, dan lukisan tidak mudah dihafalkan pengunjung. Meskipun dicatat pun ada beberapa yang terlewat. Museum ini membuat kami takjub, karya seniman Indonesia saya rasa mengalahkan seniman manca negara.

8. Gedung Seni Sono
Yang terakhir adalah Gedung Seni Sono, persis bersebelahan Museum Istana Kepresidenan. Pada masa Belanda, Seni Sono menjadi tempat hiburan orang Belanda. Selanjutnya menjadi tempat kesenian rakyat, bioskop, galeri seni, hingga menjadi kantor. Pernah menjadi kantor LKBN Antara, Kanwil Departemen Penerangan, dan Pemda DIY, hingga akhirnya sekarang menjadi bagian dari Gedung Agung yang dikelola Kepresidenan RI.

Sekarang Seni Sono menjadi ruang serbaguna, untuk penyelenggaraan acara seremonial hingga rapat kabinet.

Usai penjelasan Gedung Seni Sono, kami diperbolehkan memotret di beberapa tempat selama masih dalam pengawasan sekuriti. 1,5 jam kami tour Komplek Gedung Agung tanpa duduk. Belum puas karena belum semua tempat dijelajahi, bila ada waktu luang ayo.. kita rombongan berwisata ke Gedung Agung.

Gedung Agung Istana Kepresidenan Yogyakarta
Jl. Margo Mulyo 3 (Ahmad Yani) Yogyakarta 55122
Telp: +62 (0274) 512.005
Jam Berkunjung:
Senin - Kamis : 08.30-12.00 dan 13.00-16.00 WIB
Khusus Jum'at: 09.00-11.00 dan 13.00-15.00 WIB

Referensi:
- Leaflet Istana Kepresidenan Yogyakarta
- Istana Yogyakarta
- Gedung Agung
- Enam Pelukis Berlomba Mengabadikan Enam Potret Presiden RI

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »