November 2016 - metuomah.com

Jumat, 25 November 2016

0

7 Hari Warga Jogja Ditraktir Makan Google Indonesia

Google Indonesia mengadakan roadshow 5 kota hingga Desember 2016 mendatang. Dalam rangka memperkenalkan Google App, tidak tanggung-tanggung Google Indonesia menraktir makan 7 hari berturut-turut! Jogja mendapat kesempatan ini tanggal 14-20 November 2016 lalu.

Hari pertama di LOKAL Hotel & Restaurant, hari kedua di Il Tempo Del Gelato, hari ketiga di Honje Mangkubumi, hari keempat di Warung Kopi Klothok, hari kelima di Sakapatat Social House & Resto, hari keenam di Agenda Resto & Vibes, dan hari ketujuh di Abhayagiri Restaurant. Aku hanya ikut 3 dari 7 tersebut. Agak menyesal tidak bisa datang di beberapa tempat yang kuincar. Hari pertama tidak datang karena ada acara Kemenfoinfo dan masih kenyang :). Hari keempat karena tidak suka kopi, hari kelima karena hujan, hari keenam karena ikut blogger gathering bersama JNE. Jadi di sini aku mau cerita ketiga tempat yang kukunjungi selama Google nraktir makan.

1. Ice Cream Il Tempo Del Gelato
Kedai ice cream ini buka di beberapa tempat di Jogja. Yang menjadi tempat nongkrong Google hari kedua berada di Jalan Prawirotaman 43 Yogyakarta. Jalan ini satu arah dari barat ke timur, dan aku lupa dengan hal ini. Sudah terlanjur masuk dari jalan .... aku harus memutar dan masuk melalui Jalan Parangtritis.

Jam 12.10 WIB di depan kedai, ternyata harus antri di luar karena di dalam masih penuh orang yang memilih ice cream. Setelah masuk, banyak orang berkerumun di depan etalase ice cream. Mereka kebingungan memilih dua ice cream yang akan dimakan, satu orang maksimal boleh memilih dua rasa ice cream.

Aku sendiri memilih rasa Nutella Gold dan .......... karena aku belum pernah makan dengan Nutella :) Setelah satu cup ice cream di tangan aku memilih tempat duduk. Ada kejadian lucu saat aku bertanya password wifi pada seseorang yang kelihatan sibuk mondar-mandir, tapi tidak memakai kaos Google. “Mas password wifinya apa ya?”

Dia menjawab, “Wah, nggak tahu mas... Saya dari Google.”

Bzzzz,... yang kumaksud memang password wifi dari Google, karena Google Indonesia membuat beberapa titik akses hotspot selama acara. Setelah kupikir-pikir, ingatlah dengan percakapan EO Google Indonesia dengan orang di sebelahku saat di depan kedai... “googleapp”.
A photo posted by Seseorang (@metuomah) on
Yang namanya ice cream pasti teksturnya lembut, beda dengan ice serut atau ice puter. Rasanya? Tidak diragukan lagi... enak. :)
Il Tempo Del Gelato.
Ketika aku pulang, tidak ada yang antri. Hari itu memang lumayan sepi.

2. Honje Mangkubumi
Hari ketiga clue yang diberikan Google Indonesia mengarah ke Honje Restaurant yang terletak di Jalan Margo Mulyo. Letak Honje dekat dengan Tugu Jogja, sekitar 30 meter selatan Tugu. Karena sehari sebelumnya cukup sepi, kuperkirakan di Honje akan begitu juga. Karena itulah aku berangkat jam 14.00 WIB, sekalian sorenya aku ada keperluan di tempat lain.
Antrian masih terlihat.

Sesampainya di sana, aku terkejut.... antriannya mengerikan. EO Google Indonesia terpaksa memutus antrian. Setelah antrian 10 orang di belakangku, tidak bisa masuk ke Honje,... mereka diberi bekal makanan dan minuman dalam cup untuk dibawa pulang, yang artinya mereka tidak makan di Honje karena Honje penuh.

Setelah antri 1,5 jam aku bisa masuk ke Honje! Di dalam ternyata masih menunggu lagi :( . 15 menit duduk kami (yang berada di dalam) baru mendapat minum es lychee, rasanya manis dan langsung habis 😀. Baru jam 16.30 WIB kami mendapatkan makanan, dan makanannya adalah..... tahu. Karena sudah tidak selera makan, aku minta dibungkus saja.

Kedua teman yang datang duluan mendapat menu Churros seperti di bawah ini.
Gambar di https://www.instagram.com/p/BM3iTKsjvZ8/ telah dihapus Honjeresto

Ada beberapa menu yang disajikan untuk acara Google ini, salah satunya tahu. Di daftar menu namanya Tahu Cabe Garam.
Tahu Cabe Garam.

3. Abhayagiri Restaurant
Restoran ini terletak di Sumberwatu, Prambanan, Yogyakarta. Butuh 30 menit perjalanan dari pertigaan Janti, Jogja menuju Abhayagiri. Rute yang kuambil dengan menggunakan kendaraan bermotor adalah:
  • Dari Jogja ambil jalan menuju ke Solo alias Jalan Jogja-Solo.
  • Sampai di lampu merah (pertigaan) Prambanan, belok ke kanan menuju jalan Prambanan-Piyungan.
  • Setelah melewati rel kereta api, jalan perlahan perhatikan di sisi kiri jalan ada papan petunjuk menuju ke Abhayagiri Resto.
  • Setelah toko bangunan ada papan petunjuk kecil menuju restoran Abhayagiri belok kiri. Ikuti saja petunjuk di sepanjang jalan.
Abhayagiri terletak di kanan jalan, setelah jalanan menanjak, kira-kira 2 km dari jalan Prambanan-Piyungan.

Sampai di tempat jam 12.00 WIB antrian sudah mencapai 200 orang, padahal acara Google dibuka jam 12.00 WIB. Waktu yang diperlukan untuk antri lebih parah dari Honje, kali ini baru jam 14.30 WIB aku bisa menikmati hidangan.

Saat mengantri, rasa capek sedikit hilang ketika melihat suasana di dalam, meskipun matahari panas menyengat 😁.
Makan sambil pegang payung.
Sepertinya EO Google sudah mengantipasi bila terjadi penumpukan di dalam seperti di Honje. Pengunjung dibatasi hanya boleh duduk di kursi selama 30 menit, setelah itu ganti pengunjung lain.

Pertama kali yang dihidangkan adalah es lychee yang sudah tidak dingin lagi, dan.... tidak manis. 5 menit kemudian hidangan pun datang. Kali ini makanannya adalah ayam kampung goreng dengan lalapan seiris terong, ketimun, selada, dan krupuk. Sambal tomatnya enak, pedasnya sedang, tapi penyajiannya kurang banyak. Kurang puas makan ayam goreng sambalnya hanya sedikit.

A photo posted by Seseorang (@metuomah) on
Kembali sejenak ke antrian, hanya sekitar 20 orang yang antri sesudahku karena diputus Google. Jatah 300 porsi sudah habis.. Sebelum aku masuk, mulai 5 orang di depanku ditawari apakah mau makan atau goodie bag. Ketika mereka bertanya kepadaku, jelas aku pilih makan dong.

Setelah aku bisa masuk ke area makan tapi masih nunggu kursi kosong, mas-mas Google ngomong pada personil lapangan, kuota makan hari itu sebanyak 400 porsi, akhirnya 50 antrian yang masih di luar dapat jatah makan 😁, tapi berbeda menu.

Usai makan, aku sejenak mengelilingi Abhayagiri. Banyak spot menarik untuk foto, karena di sini pengunjung bisa melihat Candi Prambanan dari kejauhan. Gunung Merapi terlihat demikian megah dengan selabut awan. Indahnya pemandangan di Abhayagiri bertambah ketika malam hari, gemerlap lampu di kejauhan bagaikan kunang-kunang yang berlarian kesana-kemari.
Berfoto di Abhayagiri.
Itulah perjalanan mencari makan gratisan dari Google. Melihat antusiasme pengunjung, Jogja yang didominasi mahasiswa kos-kosan masih yang terdepan mencari gratisan; jauh meninggalkan Bandung dan Surabaya yang lebih dulu disambangi Google Indonesia untuk mempromosikan Google App.

Jangan tanyakan harga makanan di restoran tersebut, karena akupun tidak mengetahuinya 😂.

Selasa, 22 November 2016

0

Berkunjung ke Museum Gunungapi Merapi di Sleman

Sabtu 19 November 2016, sekitar 30 orang blogger wisata diundang Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman untuk mengeksplore Museum Gunungapi Merapi, salah satu geo-wisata di Kabupaten Sleman dan wahana edukasi kegunung-apian khususnya Gunung Merapi.
Museum Gunungapi Merapi.

Letak Museum Gunungapi Merapi
Secara administratif berada di Jalan Kaliurang km 22, Dusun Banteng, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bangunan museum 4,470 meter persegi menghadap selatan, di atas tanah seluas 3,5 hektar. Dari kejauhan saat kita masuk terlihat Gunung Merapi menjadi latar belakang museum.

Kawasan museum dahulu merupakan daerah peternakan ayam yang jauh dari pemukiman warga. Wilayah ini tidak termasuk daerah rawan bencana, sehingga dibangunlah Museum Gunungapi Merapi.


Rute menuju museum
Dari ringroad utara bisa melalui Jalan Palagan Tentara Pelajar atau Jalan Kaliurang. Jika dari Jalan Palagan Tentara Pelajar dari arah selatan, maka di pertigaan Jalan Pakem-Turi belok ke kanan (timur) lalu ke kiri ke Jalan Kali Boyong.

Jika dari Jalan Kaliurang, ke arah utara hingga Pakembinangun di kilometer 18 Kaliurang. Di sini bisa memilih ke kiri melalui Jalan Kali Boyong, atau ke kanan tetap melalui Jalan Kaliurang.

Kesasar
Berangkat dari selatan kota Jogja jam 08.15 WIB, aku memilih rute Jalan Kaliurang. Hingga Pakembinangun aku tidak melihat dengan jelas penunjuk jalan menuju Museum Gunungapi Merapi. Sepintas kulihat petunjuk yang penempatan dan informasi kurang tepat di lampu merah Pakembinangun. Aku tetap lanjut menuju ke Kaliurang.

Mesin kendaraan makin panas karena terus menanjak, hingga sampailah di gerbang masuk wisata Kaliurang. Aku sadar telah terlalu jauh naik ke atas, hingga akhirnya bertanya kepada seseorang di kawasan jeep tour Merapi.
Peta wisata Kaliurang.

Ternyata aku terlalu jauh 2 km! Bisa dilihat di gambar atas, aku sampai di Patung Udang. Akupun turun lagi melalui Jalan Kali Boyong, sesuai petunjuk warga yang kutanya.

Museum Gunungapi Merapi
Pembangunan museum atas kerjasama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pemprov DIY, dan Pemkab Sleman.

Dibangun sejak 2005 dan diresmikan pada tanggal 1 Oktober 2009, sedangkan soft opening dilakukan pada tanggal 1 Januari 2010.

Unit Pelayanan Teknis di bawah Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, dengan bantuan tenaga dari Blai Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPPTK).

Tiket Masuk
Warga Negara Indonesia Rp. 5.000
Warga Negara Asing Rp. 10.000

Di Museum Gunungapi Merapi juga memutarkan film Mahaguru Merapi dengan durasi sekitar 25 menit. Untukmenonton film ini, harga tiket:
Warga Negara Indonesia Rp. 5.000
Warga Negara Asing Rp. 10.000

Bila kita datang rombongan 50 orang, akan mendapatkan diskon 10%, bila bersama rombongan 100 orang mendapatkan diskon 15%

Empat pemandu dengan kemampuan bahasa Inggris siap mendampingi pengunjung berkeliling museum. Memang sebaiknya bersama pemandu karena tanpa mereka, kita hanya jalan-jalan melihat museum tanpa mendapatkan edukasi mengenai Gunung Merapi.

Lantai 1
Masuk pertama kali ke dalam museum, pengunjung akan disuguhkan replika Gunung Merapi lengkap dengan sebaran lahar dan wedhus gembel dari letusan tahun 1969, 1994, dan 2006. Tinggal tekan tombol pilihan, gunung mengeluarkan asap dan aliran lava pijar keluar dari gunung hingga turun ke lereng. Sewaktu kami ke museum, hal itu tidak bisa dilakukan karena listrik PLN padam.
Selanjutnya kami berkeliling di lantai 1. Peran pemandu sangat vital memberi penjelasan kepada pengunjung; di saat listrik PLN mati. Meskipun ada generator listrik, tidak semua display dan ruangan museum tercover.
Separuh ruangan lantai 1 kami jelajahi bersama pemandu, kamipun ke lantai 2 untuk menonton film Mahaguru Merapi.
Salah satu sudut di lantai 1.

Lantai 2
Karena masih ada penonton di dalam Ruang Teater, kamipun berkeliling lantai 2 tanpa pemandu.... benar-benar rasanya hambar 😀.
Sebenarnya tempatnya bagus sebagai tempat edukasi, tapi tanpa pasokan listrik ruangan ini tampak eksotis (baca: menyeramkan).
Setelah pemutaran film kloter sebelumnya selesai, kamipun menuju Ruang Teater untuk menonton Mahaguru Merapi. Ruang teater ini berkapasitas 100 orang, dengan toleransi 10% tapi jarang dilakukan karena membuat ruangan dan penonton tidak nyaman.
Persiapan nonton.

Sebelumnya aku pernah nonton Mahaguru Merapi di kantor BPPTKG Jalan Kenari, Kota Yogyakarta. Menurutku film ini bagus dari sisi penggarapan dan cerita. DI film ini terlihat pesona Gunung Merapi memberikan berkah bagi warga di lereng gunung. Di sini lain Gunung Merapi bisa berbahaya, jika telah "batuk" dan mengeluarkan "wedhus gembel".

Usai nonton Mahaguru Merapi, di dinding luar lantai 2 ternyata banyak tertempel lukisan bertema Merapi yang (kelihatannya) digambar oleh anak-anak.

Kamipun kembali ke lantai 1 untuk melanjutkan "tour" museum, yang belum kami singgahi, tentunya dengan penjelasan pemandu.
Letusan gunungapi Indonesia dan dunia.
Hal yang menarik ketika melihat contoh-contoh "muntahan" merapi dari berbagai bentuk, corak, dan tahun letusan.
Contoh batuan merapi.
Di sampin itu terdapat beberapa benda peninggalan keganasan letusan Merapi seperti ceret, gelas, bahkan sepeda motor.
Dampak letusan Merapi.
Kerangka motor.
Akhirnya kami dapat menyelesaikan tour Museum Gunungapi Merapi, diakhiri dengan foto bersama.
Aku yang motret.
Kebanyakan pengunjung Museum Gunungapi Merapi adalah anak sekolah dan rombongan wisatawan. Tidak ada angkutan umum menuju ke sini, pengunjung sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi.

Tarif parkirnya normal dan tidak ada palak. Retribusi kendaraan roda dua hanya Rp. 2.000.

Kendala utama museum adalah pasokan listrik PLN, semoga masalah listrik ini cepat terselesaikan.
Tempat shalat dan toilet.

Untuk toilet dan tempat shalat ada di sisi timur museum, semuanya gratis.

Jika ke Kaliurang, sempatkan mampir di Museum Gunungapi Merapi yang buka pada hari Selasa - Ahad jam 08.00 WIB - 15.30. Khusus hari Jum'at buka jam 08.00 - 14.30 WIB. Sedangkan hari Senin museum tutup.

Senin, 07 November 2016

0

Sup Matahari Lawuh Ndeso Salatiga

Setelah menikmati Sate Sapi di Suruh [baca: Menikmati Sate Sapi Suruh di Tempat Asalnya], saya melanjutkan perjalanan ke Salatiga. Dengan ganti angkutan umum sebanyak dua kali, sampailah saya di tempat saudara saya. Di situlah saya disajikan makanan yang belum pernah saya lihat dan rasakan. Katanya bernama "Sup Matahari".

Bentuknya seperti hamburger restoran cepat saji manca negara; bulat. Tapi bukan roti lho ya, itu semacam kulit yang terbuat dari telur ayam untuk membungkus berbagai macam sayuran dan daging di dalamnya.
Saya kemudian bertanya pada saudara, belinya dimana harganya berapa? Kepo banget ya... Dia menjawab di Lawuh Ndeso di Jalan Pattimura Salatiga. Harganya kala itu Rp. 8.500/porsi.

Setelah saya cari di mesin pencari, beberapa orang sering checkin dan mengunggah foto ketika makan di Lawuh Ndeso Jalan Pattimura di Facebook [silahkan menuju ke Facebook]. Mudahnya, Jalan Pattimura adalah jalan ke utara menuju desa Bringin, dari bunderan kota Salatiga.
Sup matahari.
Kembali ke sup, Katanya, sup matahari adalah makanan khas daerah Solo. Untuk kebenarannya saya kurang tahu persis. Dan inilah bentuk sup yang saya terima kala itu. Sebuah sup matahari dalam kuah yang ditemani 1 seledri. Setelah dibuka, ditusuk dengan garpu, beginilah isi sup matahari.
Lihat isi sup matahari, bikin ngiler.
Isi yang mendominasi adalah cacahan dadu wortel, dilanjutkan kacang kapri, butiran jagung, sosis, dan sedikit potongan ayam. Karena saya suka sup, maka saya beri acungan jempol untuk sup matahari ini.... enak!