Lepas makan siang Blogger Jogja bertolak dari Desa Wisata Pentingsari menuju Agrowisata Bhumi Merapi, Jalan Kaliurang km 20 Yogyakarta. Melalui jalan desa yang disemen 1 meter hanya di sisi kiri dan kanan, kami memotong jalan... lebih dekat daripada melewati jalan beraspal. Ujung-ujungnya sampai di jalan Merapi Golf. Kami melewati jembatan Kalikuning yang di bawahnya biasa digunakan offroad jeep.
Tapi kayaknya ada jalan yang lebih dekat yaitu melewati jembatan Kalikuning desa wisata Pentingsari. Ah sudahlah... aku hanya mengikuti ketua rombongan Pak Wasita 😁.
Kalau dari arah Yogyakarta malah lebih mudah. Telusuri Jalan Kaliurang hingga km 19, ketika hampir memasuki km 20 lihatlah di kiri jalan (barat, karena Gunung Merapi ada di utara Jogja) terlihat papan reklame menunjuk ke timur "Agrowisata Bhumi Merapi", kanan jalan ada reklame (menunjuk ke arah barat) Girikaton Camping Ground.

Di situlah letak tempat wisata ini, bukan di tepi Jalan Kaliurang tapi masuk ke timur sekitar 50 meter. Ciri lain ketika mendekati sekitar Agrowisata Bhumi Merapi adalah jalanan menjadi lebar di sisi timur menjadi 3 lajur, karena Kantor Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman dan SMPN 2 Pakem berada di situ.


Alamat lengkapnya di Jalan Kaliurang km 20 Dusun Sawungan, Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Disambut gerimis
Sesampainya kami di Agrowisata Bhumi Merapi, gerimis turun hingga nyaris membatalkan keliling agrowisata. Sambil menunggu gerimis reda, tim Agrowisata Bhumi Merapi mempersiapkan tempat-tempat yang akan kami kunjungi.
Tiket masuk
Cukup murah, hanya Rp. 10.000 saja. Jika ingin naik kuda poni keliling lapangan parkir Rp. 10.000, tapi jika kuda yang besar atau kuda tunggangan Rp. 20.000. Ada beberapa wahana lagi yang mengharuskan pengunjung mengeluarkan uang, sabar ya... silahkan baca artikel ini sampai selesai 😁.
Silahkan pilih tiketnya.
Kambing PE
Kambing PE adalah persilangan antara kambing Jawa (Benggolo) dengan kambing India (Etawa). Banyak kambing di sini sampai aku bingung 😂. Kandang kambing dipisahkan antara yang jantan dengan betina, yang jantan sih cuma 2 ekor.
Tentukan pilihanmu.
Kambing pejantan masuk ke kandang Kyai Nogotirto, sedangkan induk betina di kandang Nyai Nanggulan. Kandang melahirkan dinamai Nyai Naroto, dan kandang-kandang lainnya. Semua kandang memiliki nama unik sendiri loh..
Kandang Nyai Nanggulan.
Dalam membudidayakan kambing, sudah diatur X dan Y nya sehingga tidak terjadi inses. Di Bhumi Merapi ini tidak mungkin kakek kambing kawin dengan cucunya sendiri, silsilah keluarga kambing terdata rapi, mungkin ada akte kelahirannya juga seperti kucing.

Memberi susu kepada kambing
Pengunjung boleh kok, menyusui kambing.... maksudnya kambing diberikan dot berisi susu formula. Iya benar, anak kambing di sini juga diberi susu formula selain susu induknya.
Satu dot harganya Rp. 2.500.
Pengunjung boleh loh memberi makan kambing, seikat rumput atau daun-daunan lain dihargai Rp. 2.000.

Memerah susu kambing
Selain memberi susu, memberi makan, dan selfie; pengunjung juga bisa praktek memerah susu kambing,, bahkan kalau mau langsung minum tanpa diolah 😂. Nah kami beruntung diajarkan cara memerah susu kambing. Pertama-tama bersihkan tangan dengan sabun, lalu lumuri jari-jari dengan minyak goreng agar tidak lecet. Sedangkan puting kambing bersihkan dengan alkohol terlebih dahulu.
Memerah susu kambing.
Perah susu kambing perlahan dan tidak menyakitinya 😀, setelah selesai bersihkan tanganmu dengan sabun. Tidak perlu takut bakal ditendang kambing, ada pemandu yang selalu mendampingi 😂. Kambing di sini maksimal 2x sehari diambil susunya agar kualitas susu tetap terjaga.

Di Agrowisata Bhumi Merapi juga tersedia susu murni, yogurt, dan ice cream. Olahan berbau kambing lainnya dalah pupuk organik dan biogas.

Taman kelinci lucu
Puas bermain dengan kambing, rombongan diajak menuju kandang kelinci. Sama seperti kambing, kelinci di sini memiliki silsilah keturunan yang jelas, bahkan lebih rumit dari kambing PE karena ras lebih beraneka ragam. Kandang pertama yang kami masuki berisi kelinci "biasa", kebanyakan kelinci hias terlihat dari bulunya yang menarik orang untuk memegangnya.
Kelinci pedaging? Hmm aku kurang begitu tahu. Andaikan ada, pasti agrowisata ini menyediakan sate kelinci. Ada kelinci "biasa" ada juga yang "luar biasa", kelinci ini ditempatkan di kelompok kandang tersendiri dan tidak semua orang boleh measukinya. Kelompok kelinci ini harganya Rp. 3 jutaan, perawatannya pun lebih ribet.

Kami diajarkan bagaimana memegang kelinci, biasanya orang cenderung menarik telinga kelinci yang panjang. Padahal itu menyakiti fisik kelinci, karena di bagian tubuh tersebut banyak terdapat simpul saraf (katanya) sehingga kelinci akan sakit dan phobia orang? 😂 #ngasal ini mah..

Cara memagang yang benar adalah seperti memegang kucing, yaitu ambil dan pegang kulit di tengkuk, lalu gendong tubuhnya. Setelah tahu caranya, kami langsung praktek di taman umbaran kelinci untuk menangkap kelinci yang berkeliaran.
A photo posted by Seseorang (@metuomah) on

Musang
Selanjutnya kami menuju kandang musang, sudah jinak tapi kami agak takut menyentuhnya 😁, yang pasti takut digigit. Menurut pelajaran IPA Sekolah Dasar, musang termasuk binatang omnivora, dikasih daging mau dikasih tumbuhan juga mau.
Musang Sumatra.
Arena outbond dan pintu keluar Gua
Selanjutnya kami meninjau lokasi outbond anak-anak dan pintu keluar Gua Ponggolo. Hari sudah semakin gelap karena mendung datang kembali, kami tidak mungkin bermain-main di tempat outbond. Lagi asyik-asyik foto, aku dan beberapa teman malah ditinggal ke wahana selanjutnya.

Menurut informasi Mr. Gimin pemandu kami, Gua Panggolo sudah berusia 200 tahun yang dibuat oleh Kiai dan Nyai Panggolo di zaman perang Diponegoro tahun 1800an. Paket masuk gua Rp. 25.000 minimal 15 orang, sekitar 30 menit sebelumnya tim akan melakukan sterilisasi gua untuk mengecek keamanan.

Syarat lain bagi yang ingin menelusuri gua adalah tinggi badan di atas 150 cm, karena ada kemungkinan air masuk ke dalam gua cukup tinggi. Selain itu tidak punya penyakit kronis 😀. Jalan masuk gua di tebing Kalikuning yang berakhir di Bhumi Merapi, panjang gua Panggolo sendiri 350 meter.

Taman Hidroponik
Bermacam sayuran hidroponik dalam pot paralon bisa dibeli. Harganya sih lumayan mahal jika beli bersama potnya 😀.
Taman Hidroponik.
Saya tidak tahu persis sayuran apa saja yang ada di situ hehehe.. Gambar lain bisa dilihat di Instagram. Tanaman-tanaman ini menggunakan air seni kelinci sebagai pupuk.

Taman Reptilia
Di sisi barat Taman Hidroponik terdapat taman reptilia. Yang sempat kulihat adalah ular, bisa juga loh foto bersama ular jika pengunjung mau. Aku tidak terlalu tertarik dengan ini, gambarnya tidak usah ditampilin heheheh...😁.

Kafetaria
Yang terakhir adalah kafetaria, letaknya di ujung utara tempat parkir. Jadi kalau ingin ke kantin, harus keluar dari taman Bhumi Merapi. Daftar harganya? Ini dia.... Silahkan pesan 😁.
Daftar menu dan harga.
Karena kami, para blogger adalah tamu jadi.... (isi sendiri). Kami baru saja mengisi perut di Pentingsari, tidak muat jika harus nambah lagi. Aku hanya mengambil tempe mendoan dan pisang goreng,, biasa saja kok. Tapi karena bujuk rayu Wawan, akhirnya aku mengambil sedikit nasi.
Nasi sayur talas lompong.
Oke, yang kuambil hanya nasi, tahu goreng, dan sayur talas atau lompong. Inilah pertama kalinya aku makan talas, rasanya? Asiiiin.....

Usai makan, terlihat kabut mulai turun dan kami pun dilepas pulang. Ketika mau foto bersama, eee malah si Kokoh Ahmad naik kuda 😒. Sebagian blogger di Pentingsari memutuskan pulang dan tidak ikut ke Agrowisata.
Gerimis mengantarkan kami pulang ke rumah masing-masing, di sepanjang perjalanan pulang tepatnya mulai km 15 kami disambut hujan deras.

Masih ada taman bunga yang belum kami jamah, kondisi cuaca tidak memungkinkan kami menjelajahi semua wahana. Tertarik berlibur bersama keluarga ke sini?