Hore... Akhirnya Punya Kaos Dagadu Baru.Seru

Kesempatan memiliki kaos Dagadu Djokdja akhirnya datang juga, walau harus menunggu seribu tahun lamanya #nyanyi #lebay. Oleh-oleh Jogja yang terkenal dengan desain dan kata-kata unik khas Jogja ini menjadi suvenir pada acara temu media “Dagadu Baru.Seru” di Yogyatourium (10/12/2016), Jalan Gedong Kuning Yogyakarta.
Kartu truf Dagadu.

Dipandu duet MC kondang @alitalit_ dan @gundhissos , Direktur Utama PT. Aseli Dagadu Djokdja A. Noor Arief didampingi arsitek Greg Wuryanto menuturkan alasan relaunching Dagadu. Pertama adalah menyesuaikan kebutuhan pasar, kedua konteks telah berubah. Kedua hal ini muncul setelah Dagadu melakukan riset terhadap konsumen muda; segmen utama Dagadu.
Alit dan Gundhi.
Situasi 23 tahun lalu ketika Dagadu didirikan, sangat berbeda dengan saat ini. Generasi muda sekarang memiliki gaya berpakaian, bertutur, dan bahasa berbeda. Dagadu harus bisa menangkap keinginan pasar saat ini. Yogyakarta sebagai sumber inspirasi Dagadu pun mengalami dinamika. Pelajar dan mahasiswa luar daerah semakin cepat lulus (cepat juga pergi dari Jogja), destinasi wisata baru, hingga kuliner yang semakin beraneka ragam.
A Noor Arief dan Greg Wuryanto.

Persiapan relaunching, desain dan logo baru
Dagadu telah melakukan persiapan 2 tahun sebelum relaunching. Dalam 2 tahun tersebut membaca tren. Generasi milenial cenderung memilih model lebih simpel dan unik; tapi tidak ingin terlihat unik. Oleh karena itu Dagadu saat ini mengeluarkan 3 corak desain.
1. Desain reguler
Merupakan desain original Dagadu dari awal, sangat verbal dan leterlex (Letterlijk, bahasa Belanda) menggambarkan Jogja. Atau Mas Arief menyebutnya turistik.

2. Desain simpel
Menampilkan keindahan dan keunikan Jogja namun tidak terkesan turistik, sebagai contoh adalah kaos yang saya dapat; hanya ada tulisan typography Jogja.

3. Desain kaya ilustrasi
Desain tanpa banyak kata namun kaya ilustrasi. Jadi desain gambar pada kaos bisa bercerita jika kamu bertanya.

Relaunching Dagadu juga merombak logo Dagadu yang sudah tersohor. Tampilan logo terlihat lebih modern, sederhana, yang menangkap fenomena di Jogja . Semula logo Dagadu berupa mata lengkap dengan “idepnya” yang berwarna warni, sekarang logo Dagadu hanya menyisakan mata dengan garis sederhana dengan tulisan Djokdja di bawahnya.Tren penyederhanaan logo sudah dilakukan korporasi dunia mulai awal tahun ini, sebagai contoh adalah Google.

Dosen Arsitek Greg Wuryanto yang mendampingi Mas Arief bertutur, dua hal yang membuat Dagadu begitu luar biasa adalah kekuatan verbal dan visual. Kekuatan verbal memuat komponen yang sangat lokal Jogja, sebagai contoh adalah bahasa walikan. Dagadu dalam bahasa walikan adalah matamu, bahasa walikan ini konon mulai hits dari zaman kemerdekaan hingga dekade 90an. Orang Jogja yang tidak tahu bahasa walikan pada masa itu sungguh sangat keterlaluan.

Kekuatan visual Dagadu adalah desain yang bercerita, menertawakan ketidak-mampuan diri sendiri. Gambaran tersebut sering dijumpai pada masyarakat Jogja, seperti kalimat "keep kalem without helem".

Verbal dan visual menurut Greg masih belum cukup, Mas Arif lalu menambahkan ruang. Mas Arief melakukan eskafasi sehingga endapan memori tergali kemudian dibahasakan dg verbal dan visual.Jogja tidak hanya bahasa walikan, masih banyak yang bisa digali dari Jogja tercinta ini.

Usai temu media, kamipun menikmati makan siang 😁, sementara itu di Yogyatourium sudah dipersiapkan bermacam game untuk pengunjung. Sebelum bermain game, kusempatkan mengelilingi Yogyatourium Dagadu, di dinding menuju lantai 2 pengunjung bisa melihat mural bahasa Jawa dan beberapa cerita Jawa lainnya.

Ada 4 tantangan yang harus diselesaikan jika pengunjung ingin mendapatkan door prize yaitu Dart Game, Labirin Game, Bahasa Walikan, dan Swafoto. Setelah semua diselesaikan pengunjung mengambil undian, kebanyakan pengunjung mendapatkan gantungan kunci atau buku saku πŸ˜‚.
A photo posted by Seseorang (@metuomah) on

Sejak siang hingga malam, pengunjung disuguhi berbagai pertunjukan, dari motret model, street art, pop-up Gallery, dan banyak lagi (saking banyaknya), tapi aku cuma ikut temu mediaπŸ˜‚.

Sebelum pulang, blogger yang tersisa berfoto dulu sebagai bukti kedatangan. Ngomong, ngomong, ada yang datangnya terlambat dan tidak mendapatkan goody bag πŸ˜‚.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »