Mengantisipasi Berita Hoax Saat Bencana

Dalam 2 tahun terakhir, Indonesia semakin akrab dengan bencana. Menghadapi hal tersebut masyarakat harus semakin pandai memilah berita, mana yang benar shahih, mana yang hoax (bohong). Kemajuan teknologi menjadikan informasi cepat menyebar ke seluruh belahan dunia.

Maraknya berita hoax yang menyebar saat terjadi bencana, menjadi keprihatinan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Sebagai pembukaan Merapi Volcano Expo 2016 (14-23 Desember 2016), BPPTKG mengadakan dialog kebencanaan dengan tema "Informasi Hoax dalam Kebencanaan" di hall BPPTKG Jalan Cendana 15 Yogyakarta.
3 narasumber dihadirkan yaitu Danang Samsurizal dari Pusdalops BPBD DIY (Pusat Pengendali Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta), Muhammad Amrun dari Forum PRB DIY (Pengurangan Risiko Bencana), dan Roni lantip; Praktisi Teknologi Informasi dan pengamat sosial.
Pusdalops Penanggulangan Bencana merupakan unsur pelaksana di BNPB/BPBD yang bertugas menyelenggarakan sistem informasi dan komunikasi penanggulangan bencana. Menurut Danang, dahulu ketika ada informasi hoax muncul, Pusdalops memutuskan untuk diam hanya memantau perkembangan. Setelah dievaluasi, ternyata kebijakan tidak menjadi tameng dari serangan. Ketika kembali terjadi bencana kemudian muncul hoax, Pusdalops memutuskan memberi jawaban kepada penyebar hoax. Tapi kebijakan tersebut membuat capek dan hoax tetap tidak terkendali. Sekarang, Pusdalops BPBD DIY membuat kebijakan, bila terjadi bencanan membuat press release dan tidak menyebutkan akun media sosial penyebar hoax.

Roni Lantip sebagai pembicara kedua menambahkan beberapa hal berkaitan dengan berita hoax. Ada 5 tipe hoax/fakenews yaitu tanda atau virus warning peringatan tsunami di komputer atau ponsel, surat berantai atau broadcast, urban legend, sympathy letter, dan laporan penelitian, dengan menyertakan gelar atau institusi yang layak disebut ilmiah.

Penyebaran hoax bisa secara manual dari mulut ke mulut atau pesan elektronik. Yang tadinya hanya dalam lingkup kecil menjadi besar karena semua orang yang menerima hoax menyebarkannya. Hoax bisa juga disebarkan melalui iklan konvensional maupun iklan di internet, sehingga penyebarannya lebih cepat dan terlihat lebih terpercaya.

Cara mengidentifikasi hoax


Ada 4 cara mudah mengidentifikasi hoax atau benar. 4 cara ini disingkat dengan SURE.
1. Source
Berasal dari sumber terpercaya, bisa institusi pemerintah atau orang memiliki kewenangan, orang yang ahli di bidangnya.
2. Understand
Pahami dan teliti berita yang diterima termasuk tempat, waktu kejadian.
3. Research
Cross check dengan media lain yang terpercaya. Bila berita tersebut benar, media resmi akan memberitakan juga.
4. Evaluate
Mencari tahu motif penyebar berita.

Etika menyebarkan berita
Kita tidak boleh langsung menyebarkan berita yang diterima, jika terbukti di kemudian hari ternyata hoax, akan menanggung malu dan bisa dituntut dengan UU ITE pasal 28 ayat 1 dan pasal 14-15 UU no 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Etika yang harus diperhatikan adalah:
1. Mencantumkan sumber dengan jelas.
2. Memastikan berita tersebut benar.
3. Pastikan konten tidak melanggar UU ITE.
4. Jangan bagikan dalam keadaan emosional.

Kemudian Muhammad Amrun berbagi pengalaman selama bergabung dalam Forum PRB. Biasanya petugas di lapangan lemah dalam hal data. Sebagai contoh ketika di atas (lereng gunung) diinformasikan hujan deras sehingga warga yang berada di bawah panik mengungsi menghindari terjangan banjir. Petugas di atas hanya menginformasikan hujan deras dan tidak menggunakan patokan satuan curah hujan, sehingga menyulitkan petugas di bawah memprediksi debit air yang akan menerjang wilayah di bawah gunung.

Kepala BMKG Yogyakarta; I Nyoman Sukanta dalam sesi tanya jawab memberi testimoni, karena terjadinya bencana secara tidak langsung berkaitan dengan BMKG.

Cuaca
Berita hoax cuaca di Indonesia juga banyak tersebar di masyarakat. Perlu diketahui bahwa:
  1. Cuaca tidak bisa diprediksi panjang, paling lama 1 tahun dan akurasinya tidak begitu bagus.
  2. BMKG selalu rutin menginformasikan cuaca setiap hari.
  3. BMKG merilis prakiraan musim setahun sekali pada bulan Maret.
Secara ilmiah, hujan terjadi karena ada awan hujan (awan sibi). Jika ada awan sibi pasti akan ada petir dan angin, tinggal anginnya kencang atau tidak; petir sampai di daratan atau tidak. Jika awan gelap dan tebal, secara kasat mata bisa diprediksi hujan deras di tempat yang dinaungi awan tersebut.

Pada hari-hari biasa, BMKG akan memperbarui informasi cuaca dalam rentang beberapa jam. Jika dirasa ada perubahan cuaca secara ekstrim, BMKG akan memperbarui informasi cuaca tiap 1 jam di daerah yang dilanda cuaca ekstrim.

Hoax gempa dan tsunami
Masyarakat diminta tenang dan tidak terpancing isu terjadinya gempa yang akan melanda suatu daerah. Terjadinya gunung meletus bisa diprediksi dengan melihat tanda-tanda alam dan alat yang dipasang di gunung berapi. Tapi  gempa tidak demikian, gempa tidak bisa diprediksi secara akurat. Yang bisa diprediksi adalah gempa susulan setelah terjadinya gempa utama. Masyarakat diminta waspada dan selalu siap jika sewaktu-waktu terjadi gempa.

Bagaimana dengan tsunami? Masyarakat bisa lebih mudah memperkirakan, karena tsunami hanya akan terjadi jika semua syarat di bawah terpenuhi.
1. Gempa besar di atas 7 scala richter
2. Sumber gempa di laut.
3. Kedalaman gempa dangkal.
4. Bentuk vokalnya naik (ke atas).

Jika hanya 3 syarat terpenuhi, tsunami tidak akan terjadi. Semoga dengan penjelasan ini, masyarakat lebih bijak menyerap berita berkaitan dengan kebencanaan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »