Mengunjungi 3 Destinasi Wisata Gunungkidul dalam Sehari

Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak pesona alam eksotik yang menarik untuk dikunjungi. Sebelum melakukan perjalanan wisata, buatlah itenary obyek wisata mana yang akan dikunjungi. Bila tidak ingin repot, bisa ikut paket tour yang banyak ditawarkan biro perjalanan wisata. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul baru-baru ini memperkenalkan 3 destinasi wisata baru di Gunungkidul, yang bisa dikunjungi dalam sehari. Tertarik? Ikuti perjalanannya berikut ini.

Dengan menggunakan 2 bus ukuran medium, sekitar 40 peserta One Day Famtour  2016 berangkat dari Jogja Expo Center hari Rabu, 23 November 2016 jam 07.45 WIB, molor dari jadwal yang direncanakan. Sehingga kunjungan ke obyek wisata dipersingkat agar tidak terlalu malam kembali lagi ke Yogyakarta. Di tiap bus didampingi oleh 2 pemandu dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) yaitu Hery Fosil dan Sukrianto. Obyek wisata pertama yang dikunjungi adalah desa wisata Kampung Emas, Gunungkidul.

1. Kampung Emas
Kampung Emas merupakan destinasi desa wisata yang dikembangkan oleh Ikatan Keluarga Alumni UNY, ditandai dengan Festival Kampung Emas Dewi Sri pada bulan Maret 2016. Kampung Emas berada di Padukuhan Plumbungan, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Nama Kampung Emas sendiri merupakan singkatan dari Elok, Mandiri, Aspiratif, dan Sejahtera; karena dusun ini memiliki pesona alam yang indah dan hasil bumi melimpah. Cukup mudah mencapai Kampung Emas Plumbungan, karena kampung ini satu rute dengan Gunung Api Purba Nglanggeran.
Potret diambil dari arah Wonosari.
Dari Jogja, sesampainya di Bukit Patuk (Perempatan Jl Ngoro-ora - Jl Pleret-Patuk, depan Pos Satuan Patroli Lalu lintas Patuk) rombongan bus belok kiri ke Jalan Ngoro-oro Ombo. Meskipun ada kata Ombo (lebar) tapi jalan beraspal ini hanya cukup dilewati satu bus medium. Bila berpapasan dengan kendaraan lain, salah satu harus berhenti menepi. Jalanan pun naik turun cukup terjal sehingga kondisi kendaraan harus prima.
Pendopo Kampung Emas.

Setelah melewati Gunung Api Purba, sekitar 5,9 km kemudian sampailah di Kampung Emas. Di sisi kiri jalan menurun terpampang petunjuk jalan Kampung Emas.
A photo posted by Seseorang (@metuomah) on

Jam 08.50 WIB peserta Famtour sampai di Kampung Emas, disambut dengan Tari Bebek yang dibawakan anak-anak desa Kampung Emas. Di sini kami juga melihat warga yang membuat kerajinan batik kayu. Gantungan kunci dibuat dari kayu sule dan mainan bebek dari kayu sengon.

Tari bebek.

Peserta Famtour juga mendapat sajian jajanan khas desa, kacang godhok, pisang godhok, gethuk goreng, dan minuman hangat. Yang menarik dari minuman yang disajikan adalah Wedang Seruni. Menurut Mas Tarto; pegiat desa wisata Kampung Emas, wedang seruni dibuat dari bahan sereh (serai), jahe, dan jeruk nipis. Pembuatannya pun dengan cara tradisional, direbus dengan bahan bakar kayu.
Kacang godhoknya bungkus pincuk.

Konsep Kampung Emas adalah kunjungan wisata tradisional dengan tagline "Pulang ke Kampungmu". Paket wisata yang ditawarkan adalah wisata alam, wisata edukasi, dan wisata kuliner. Harganya pun cukup murah, mulai dari Rp. 50.000/orang.


Karena keterbatasan waktu, kami hanya menikmati jajanan saja dan melihat display hasil bumi serta produk rumahan Kampung Emas. Tak ketinggalan display paket unggulan “Brekat Dalem”. Kenapa “brekat” bukan “berkat”? Warga menjawab karena brekat bermakna makanan saat kenduri, sedangkan berkat berhubungan dengan agama.
Brekat Dalem bersama ugo rampenya.

Brekat Dalem ini terdiri dari 1 ingkung ayam kampung lengkap dengan ugo rampe seperti gudangan, lalapan, sambal, dan tempe goreng. Minuman yang disajikan adalah Wedang Seruni. 1 paket Brekat Dalem cukup untuk 5-7 orang, yang dihargai Rp. 165.000.

Website: wisatakampungemas.com
Instagram: @kampungemas
CP Brekat Dalem: Tarto 0817-043-5434
Profil di Youtube: Kampung Emas Pumbungan

2. Pantai Wediombo

Jam 10.00 WIB rombongan berangkat menuju destinasi kedua Pantai Wediombo yang berjarak kurang lebih 48 km dari Kampung Emas melewati Wonosari; ibukota Kabupaten Gunungkidul. Secara administratif Pantai Wediombo terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul.
Jalan yang sempit, naik turun curam dan tikungan tajam merupakan ciri khas jalanan Kabupaten Gunungkidul. Meskipun begitu jalanan relatif mulus, tidak rusak dan bergelombang seperti daerah pegunungan lain.

Agak ngeri ketika jalan menuju pantai relatif sepi, jarang berpapasan dengan kendaraan lain, bahkan melihat warga setempat beraktivitas. Kabel listrik yang menyeberang jalan pun hanya berjarak 1 jengkal dari atap bus. Alhamdulillah kami sampai di Pantai Wediombo jam 11.28 WIB.
Sebelum turun ke pantai, kami foto dulu sebagai dokumentasi 😄. Dari tempat parkir kendaraan kami harus menuruni tangga yang curam. Selain melewati tangga, pengunjung bisa turun dengan menggunakan........ ojek (kalau ada). Motor adalah alat transportasi para pedagang Pantai Wediombo. Saat di sana, beberapa motor dengan keranjang penuh berisi kelapa muda.
Di dekat pantai, terdapat joglo dan penginapan yang digunakan sebagai tempat penyambutan peserta famtour. Kami diterima oleh pemilik Joglo Wediombo Erman Susilo dan Kepala Desa Balong Suwardiyanto. Tak ketinggalan orkes Campursari dan jamuan makan siang.
Usai makan siang dan shalat, peserta dibebaskan melakukan aktivitas hingga jam 15.00 WIB. Kamipun turun ke bawah lagi untuk mencoba snorkeling dan surfing....., mumpung ditanggung oleh dinas 😂, harga normal snorkeling di laguna pantai hanya Rp. 30.000 sudah bersama pemandu dan sewa alat snorkeling (snorkeling mask).
Makan siang dengan ikan tongkol.
Joglo Wediombo Collage & resto baru dibuka sekitar bulan Juni 2016, dan pembangunan baru 70%. Di tempat ini baru tersedia penginapan 1 kamar ukuran besar; yang bisa menampung 6 orang, dengan harga kisaran Rp. 350.000/malam. Dan 6 kamar ukuran 2,5x2,5 m dengan harga Rp. 250.000/malam. Jam checkin bebas dan checkout jam 12.00 WIB.

Warung-warung di bibir pantai kulihat harganya masih dalam hal kewajaran, agak mahal karena di tempat wisata dan lokasi yang jauh dan sulit dijangkau. Calon pembeli tak perlu khawatir karena terpampang daftar harga di dinding warung. Lihat foto daftar harganya di album foto.

Sesampainya di pantai, terlihat hamparan pasir putih, tidak terlalu luas (padahal Wediombo artinya pasir yang luas), dan sepi (karena siang yang terik jam 13.00 WIB). Ombak tidak terlalu besar saat itu, yang bermain di tepi pantai pun hanya 2 orang... sinar matahari terasa terik, padahal hari biasanya Jogja diguyur hujan mulai siang hari.

Oke, setelah mendaftar kami berangkat menuju laguna, sekitar 300 meter selatan tempat masuk utama Wediombo. Oleh pemandu dari Woss (Wediombo Surf Society) kami diberi arahan bagaimana menggunakan snorkeling mask dan jangan mendekati zona bahaya karena bisa terseret arus laut.
A photo posted by Seseorang (@metuomah) on
Jangan lakukan adegan di atas tanpa alasan jelas! Cuma rombongan famtour yang melakukan snorkeling di siang hari bolong 😂, idealnya snorkeling dilakukan di pagi hari saat air surut dan tenang. Siang hari ombak mulai besar dan air pasang, melakukan snorkeling merupakan perbuatan sia-sia (kecuali ingin foto eksis seperti kami 😂), tidak ada yang bisa dilihat di air keruh dan pasang.

Aku tidak mencoba surfing karena tidak tertarik dan butuh waktu lama bisa berdiri di papan selancar. Ingin melihat bawah laut yang lebih menantang? Bisa snorkeling atau free diving di tengah laut seperti dalam video Net TV.
Ingin sewa alat surfing, snorkeling, dan free diving atau pemandu di Wediombo bisa hubungi Woss di Instagram @wediombosurflesson

Retribusi masuk Pantai Wediombo Rp 5.000
Parkir motor Rp. 2.000
Parkir mobil Rp. 4.000
Toilet Rp. 2.000
Mandi Rp. 5.000
Mandi dengan sabun dan shampo penyedia layanan Rp. 10.000


3. The Manglung
Jam 15.30 WIB rombongan mengakhiri petualangan di Wediombo menuju ke destinasi terakhir di The Manglung view & resto. Kami harus balik lagi ke Jalan Ngoro-oro Ombo untuk melihat sunset. Kamipun sampai di tujuan jam 17.10 WIB.
Seperti terlihat di gambar bawah, The Manglung terletak di Jalan Ngoro-oro Ombo, Patuk Gunungkidul. Jalan masuk dari Jalan Jogja-Wonosari sama seperti destinasi pertama, tapi kali ini dari arah Wonosari.

Ketika sampai di Bukit Patuk, dari arah Wonosari ke kanan menuju Jalan Ngoro-oro (atau jalan menuju Gunung Api Purba). The Manglung berada 400 meter dari perempatan Bukit Patuk.
The Manglung dibuka untuk umum Agustus 2016, tempatnya asyik untuk nongkrong dan melihat Jogja dari lantai 2 (istilah untuk daerah yang lebih tinggi). Lihat saja, peserta famtour langsung berhamburan mencari spot foto.
Foto-foto.
Tempatnya tidak begitu luas, pandangan pengunjung terhalang bukit ketika menatap ke selatan, tapi tak terhalang apapun ketika menatap dari utara ke barat. Spot foto favorit pengunjung berada di tempat seperti gambar atas.
Bersyukur karena sore itu tidak hujan sehingga bisa menikmati Jogja dari atas, meskipun tertutup asap polusi udara. Sunset pun tertutup mendung sehingga kami sulit mengabadikan moment terbaik.
Di sini kami tidak makan malam, panitia hanya menyediakan jajanan untuk peserta famtour. Makanan favorit yang super enak adalah "Telo Manglung", aku hanya kebagian sedikit karena sudah diborong peserta famtrip 😁. Rasanya gurih dan empuk karena dibuat seperti ketela melepuh.
A photo posted by Seseorang (@metuomah) on
Akhirnya kami meninggalkan The Manglung jam 18.45 WIB untuk kembali ke Jogja, perjalanan cukup singkat dan tidak macet.
Sunset di The Manglung.

Reservasi The Manglung lihat Instagram @themanglung

So, hari yang cukup melelahkan seharian mengunjungi 3 tempat wisata. Masih kurang puas sih alias kurang lama 😁, semoga lain waktu bisa wisata ke Gunungkidul lagi.

Foto-foto lain dapat dilihat di album ini.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar
9/22/17, 12:15 PM delete

Manglung dan Wediombo saya belum pernah mengunjungi NY, insya Allah akhir tahun baru bisa kesana, stelah mengunjungi wisata Pinus pengger yang ada di Jogja. TKS info

Reply
avatar