Jumat, 22 Desember 2017

Bakpia Jogja Apa Saja yang Pernah Dimakan?

Tiap libur panjang sudah bisa dipastikan beberapa ruas jalan di Jogja akan macet, tak terkecuali di jalan dekat tempat tinggal saya. Dua toko bakpia yang buka berdekatan menjadi biang kemacetan di pagi hingga sore, dimana salah satu toko yang paling dikenal wisatawan luar kota tutup. Sedangkan toko satunya buka sampai malam, padahal mereka di bawah satu manajemen. Saya suka bakpia namun jarang beli, pos keuangan tersalurkan pada hal yang lebih penting 😊.
Bakpiapia Jalan Dagen.

Beberapa jenama bakpia di bawah ini pernah saya makan. Tidak banyak, jika mendapatkan rizki bakpia insya Allah tulisan ini saya update.

1. Bakpia Kurnia Sari
Terkenal banget, pusat penjualan di Jalan Glagahsari, Umbulharjo Yogyakarta. Sekarang memiliki banyak cabang seperti di Jalan Kusumanegara (ratusan meter dari Gembira Loka) dan Jalan Pajajaran, Pogung Lor, Sleman (nama baru ringroad utara). Buka dari jam 08.00 WIB, tutup jam 17.00 dan ada yang 20.00 WIB.
Bakpia Kurnia Sari Rasa Cokelat.

Stok bakpia sudah ada sejak pagi,

2. Bakpia Jogja Istimewa
Saya mendapatkannnya saat mengikuti acara di Eastparc Hotel. Bakpia Jogja biasa digunakan sebagai suvenir para tamu. Bakpia ini juga membuka outlet di Eastparc Hotel, selain di situ saya kurang tahu hehe.
Bakpia Jogja Istimewa.
Kulit bakpia tipis dengan isi kacang ijo. Teksturnya juga lembut. Manisnya juga pas di lidah saya.

3. Bakpia Soemadigdo
Pusat penjualan di Jalan Ireda 11, Yogyakarta. Saya mendapatkannya saat mengikuti acara Toyota Avanza Club Indonesia (TACI) Jogja di Ulam Tirta Resto, beberapa saat lalu. Saya belum punya mobil, hanya menghadiri undangan 😊.

Letak outletnya di utara (dahulu) Purawisata, parkirnya luas dan bisa menampung bus besar.
Bakpia Soemadigdo Kacang Ijo.
Sama dengan kedua bakpia di atas, teksturnya juga lembut dengan kulitnya yang tipis.

4. Bakpiapia
Pertama kali merasakan Bakpiapia di beberapa kelas Akber Jogja. Dulu saat saya masih aktif mengikuti kelas-kelas Akber, Bakpiapia beberapa kali mensupport tanpa minta balasan (kicauan maupun penyebutan jenama di kelas). Banyak varian yang dikeluarkan Bakpiapia, yang paling saya suka adalah Bakpiapia Janggut Naga yang memiliki keunikan rasa.

Bakpiapia Janggut Naga.
Janggut Naga bakpia dengan isi abon sapi pedas, berbeda dengan bakpia yang lebih dahulu beredar di pasaran yang biasa berisi kacang ijo, cokelat, kumbu hitam, atau rasa susu.
Varian Bakpiapia.

Pusat produksi di ruko Bayeman Permai, Jalan Wates. Sedangkan outletnya tersebar di beberapa tempat. Yang terkenal adalah di Jalan Dagen, seberang Malioboro Mall. Di tempat tersebut, pengunjung juga bisa melihat sedikit proses pembuatan bakpiapia.

Harga masih bersahabat
Harga bakpia di Jogja memang mahal bila dibandingkan dengan gorengan πŸ˜‚, tapi bakpia Jogja memang ngangeni serta menjadi jajanan oleh-oleh khas DI Yogyakarta.
Lalu apa bedanya bakpia-bakpia di atas dengan Bakpia Pathuk? Perlu diketahui, Pathuk adalah nama kampung di Kelurahan Ngampilan Kecamatan Ngampilan Kota Jogja, di sekitar barat Jalan Malioboro. Tetenger paling mudah bagi wisatawan luar adalah Pasar Pathuk. Di kampung inilah awal mula bakpia Pathuk.

Ciri khas Bakpia Pathuk atau bakpia original adalah kulitnya yang tebal; ada yang keras, ada yang lunak. Itulah perbedaan mendasar dengan ketiga bakpia di atas.

Mengenai rasa, kembali lagi ke selera asal. Ada yang suka bakpia berkulit tebal, ada yang suka kulit tipis. Ada yang suka isi kacang ijo, ada yang suka kumbu hitam, atau ada yang suka isi abon. Saya pribadi suka bakpia berkulit tipis karena sugesti isinya lebih banyak. Tapi tidak menolak jika diberi bakpia berkulit tebal, hehehe..

Pembaca budiman yang membaca sampai akhir, suka bakpia isi apa? Tulis dong di kolom komentar... Terima kasih πŸ˜‰.

Selasa, 12 Desember 2017

Tujuh Tempat Berburu Sunset di Kota Padang

Kota Padang merupakan ibukota provinsi Sumatera Barat dan termasuk salah satu kota terbesar yang terletak di pantai barat pulau Sumatra. Kota ini berkembang begitu pesat termasuk dalam segi pariwisata sehingga kota ini menjadi salah satu destinasi utama para wisatawan. Banyak infrastruktur dibangun untuk meningatkan sektor pariwisata ini termasuk bandara internasional Minangkabau. Jadi kamu tidak perlu repot jika ingin berlibur ke Kota Padang. Ada banyak tiket pesawat Garuda ditawarkan dengan tujuan Kota Padang. Bahkan jika kamu beruntung, kamu bisa mendapatkan tiket pesawat Garuda dengan harga promosi. Kamu bisa mengecek harga tiket pesawat Garuda melalui situs resminya.

Selain itu, faktor yang mendukung Kota Padang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan adalah kondisi geografisnya. Letaknya yang berbatasan dengan laut serta dikelilingi perbukitan menjadikan Kota Padang memiliki banyak spot-spot menarik untuk dikunjungi. Apalagi untuk kamu yang menggemari suasana matahari terbenam, tujuh tempat di Kota Padang ini wajib masuk daftar liburan kamu.

Jembatan Siti Nurbaya
sumber:portalsatu.com

Cerita Siti Nurbaya begitu terkenal hingga cerita ini menjadi ciri khas kota Padang selain legenda Malinkundang, sehingga dijadikan nama sebuah jembatan di Padang. Dari jembatan ini kamu bisa menikmati pemandangan sekitar Kota Padang yang indah terutama pada sore dan malam hari. Kamu bisa melihat matahari terbenam dengan balutan pemandangan kota yang cantik. Saat malam hari, suasana di jembatan ini semakin berkilau dengan hiasan lampu-lampu kota.

Pelabuhan Teluk Bayur
sumber:panoramio.com

Pelabuhan ini dibangun sejak zaman kolonial Belanda dan merupakan pelabuhan penting pada jalur pelayaran Malaka. Di sini kamu akan disuguhi pemandangan lepas pantai yang indah, apalagi saat matahari terbenam. Bisa jadi Teluk Bayur merupakan spot sunset terbaik di Kota Padang. Semakin gelap, pemandangan kian menarik dengan nyalanya lampu-lampu kapal yang berlabuh di tepi Teluk Bayur.

Pantai Air Manis
sumber:panoramio.com

Tidak jauh dari pelabuhan Teluk Bayur terdapat sebuah pantai bernama Pantai Air Manis yang terkenal dengan legenda Malinkundangnya. Sebuah batu yang dipercaya merupakan Malinkundang yang dikutuk menjadi daya tarik utama pantai ini. Jangan ragukan keindahan sunset-nya. Kamu akan terpukau dengan keindahan matahari terbenam dengan latar Gunung Padang yang menjulang.

Pulau Sikuai
sumber:blj.co.id

Jika kamu hendak berlibur bersama pasangan, Pulau Sikuai pilihan yang tepat untuk kamu menghabiskan liburanmu. Di pulau ini kamu bisa mendapatkan suasana yang tenang dan pemandangan yang indah karena lokasinya jauh dari keramaian kota. Pulau ini bisa kamu capai dengan berkendara perahu selama 35 menit. Di sini kamu dapat menikmati suasana pantai yang bersih dan tenang serta sunset yang romantis bersama pasangan.

Pulau Cubadak
sumber:gotravelly.com

Pecinta bawah laut pasti tidak akan melewatkan Pulau Cubadak. Berlokasi di sebelah selatan Kota Padang, pulau ini menawarkan keragaman biota bawah laut. Kamu bisa menikmati keindahannya dengan melakukan snorkeling atau dengan menaiki perahu dan motor boat. Suasana sunset yang tenang bisa kamu nikmati di sekitar penginapan sambil bersantai dan relax.

Sitinjau Lauik
sumber:tempatwisataseru.com

Menikmati sunset Kota Padang tak akan lengkap jika tidak menikmatinya dari ketinggian Sitinjau Lauik. Lokasinya berada di jalan lintas Padang-Solok. Dari atas sini, kamu akan dimanjakan dengan pemandangan senja yang jingga dengan background Kota Padang yang menawan. Saat cuaca cerah, kamu bisa mendapati gradasi warna di langit saat matahari terbenam dengan jelas.

Pantai Nirwana
sumber:gotravelly.com

Pantai ini cocok sebagai destinasi wisata keluarga. Pantainya berpasir putih serta memiliki ombak yang tidak terlalu besar sehingga aman untuk anak-anak yang bermain air dan mandi-mandi. Pantainya cukup luas dan landai. Kamu sekeluarga akan puas bermain pasir dan air di pantai ini hingga saat matahari terbenam.

Jadi, tunggu apalagi? Segera persiapkan liburanmu dan dapatkan tiket pesawat Garuda dengan harga terbaik.

Rabu, 29 November 2017

Arti Simbol Hokben

Pernah makan di Hokben? Merhatiin gelas plastik (cup), kertas pembungkus sumpit, atau ornamen di dinding restoran? Jika diperhatikan rupanya ornamen di tempat yang kusebut tadi merupakan gabungan dari simbol Hokben. Aku saja baru tahu hal itu setelah ikut Temu Blogger dengan Hokben beberapa waktu lalu πŸ˜„. Apa saja simbol-simbol tersebut? Ini dia:
Sumber: bloggerjogja.org

1. Welcoming Hello
Pelayanan setulus hati dari kru HokBen.

2. Parent and Kid
Menggambarkan kasih sayang orang tua kepada anaknya. Simbol ini dipilih karena HokBen adalah restoran keluarga dengan sajian lezat dan bergizi.

3. Friendship
Menggambarkan persahabatan. HokBen merupakan tempat untuk berbagi waktu dengan para sahabat.

4. Respect
Menggambarkan orang membungkuk memberi salam dalam budaya Jepang. Simbol penghormatan HokBen kepada kustomer.

5. Pride
Menggambarkan rasa bangga menjadi keluarga HokBen yang kredibilitasnya terjaga baik. Dan menjadi jenama yang dipercaya oleh para kustomer.

Artikel ini pernah tayang di artikel sebelumnya, tapi setelah dipikir-pikir lebih baik kupisah supaya lebih mudah dicari saat membutuhkannya.

Artikel Terkait:

Kamis, 09 November 2017

Menu Tokyo Bowl Apa yang Jadi Favoritmu?

Apa tuh Tokyo Bowl? Wikipedia menerangkan pertandingan tahunan American Football di Tokyo yang mempertemukan antara peringkat kedua Kansai Collegiate American Football League dan peringkat kedua Kantoh Collegiate American Football Association. Definisi Tokyo Bowl yang populer adalah menu makanan nasi lengkap dalam satu mangkok, dengan topping rumput laut dan daun bawang. Tentu saja menu tersebut dari negara Jepang.

Satu restoran yang menyajikan menu tersebut di Indonesia adalah HokBen, dengan menawarkan 5 varian menu yaitu Tori Soboro, Gyu Soboro, Chicken Steak, Chicken Katsu Tare, dan Chicken Karaage.
HokBen Jalan Kaliurang.
Ketika ke Hokben Jalan Kaliurang Sleman, DIY 3 November 2017 lalu, aku dihadapkan dua pilihan menu Tokyo Bowl; Chicken Karaage atau Chicken Steak? Akhirnya kupilih Chicken Karaage karena aku suka masakan yang digoreng. Eh, kelima menu tersebut komposisinya apa saja? Ini dia komposisi kelima menu Tokyo Bowl dari web restoran yang didirikan pada tanggal 18 April 1985 ini.

Tori Soboro
Daging ayam cincang dengan saus teriyaki khas HokBen (Teriyaki Soboro). Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan rumput laut dan daun bawang.

Gyu Soboro
Daging sapi cincang dengan saus teriyaki khas HokBen (Gyu Soboro). Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan rumput laut dan daun bawang.

Chicken Steak
Daging ayam panggang tanpa tulang yang dibumbui saus teriyaki dengan rasa manis dan gurih. Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan rumput laut dan daun bawang.

Chicken Karaage
Daging ayam berkualitas dan terpilih yang dimasak dengan teknik Deep Frying Oil sehingga menghasilkan tekstur tepung yang garing dan renyah. Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping Mayonaise Khas HokBen, potongan rumput laut dan daun bawang.

Chicken Katsu Tare
Daging ayam tanpa tulang yang dibalut dengan bread crumbs dan bumbu khas HokBen yang dimasak dengan metode Deep Frying Oil. Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping Saus Tare Khas HokBen, potongan rumput laut dan daun bawang.
Menu Tokyo Bowl.

Sambil menunggu makanan dihidangkan, aku yang datang bersama Komunitas Blogger Jogja beramah tamah dengan jajaran HokBen Kaliurang. Perkenalan pertama dari Pak Arman selaku Local Marketing, Ibu Katrina selaku Marketing Communication, dan Pak Sutrisno selaku Store manager; ketiganya bagian dari HokBen Kaliurang.

Makan malam dengan Tokyo Bowl Chicken Karaage
Lepas Maghrib, menu yang dipesan pun tiba. Menu pertama yang hadir adalah Yakitori Grilled; daging ayam tanpa lemak yang dipotong dan ditusuk dengan bambu, kemudian dipanggang dengan Saus Teriyaki khas HokBen. Bahasa Indonesia masakan ini adalah sate ayam.

Selanjutnya datanglah minuman yang kupesan, Koori Konyaku Lychee, sejenis minuman dingin dengan jelly dan sirup lychee. Dan terakhir adalah Chicken Karaage.

Yakitorinya empuk dan lembut, bumbu meresap dan panggangan tidak gosong. Koori Konyaku Lychee memenuhi gelas, aku agak heran kok esnya nggak cair-cair? Hahaha... ini pertama kalinya πŸ˜€, kukira hanya es lychee biasa ternyata ada jelly (agar-agar) di dasar gelas. Memang agak susah nyeruput jelly dengan sedotan 😁.

Nasi HokBen rasanya sangat khas, dimakan tanpa lauk pun sudah terasa enak. Apalagi ditambah daging ayam yang empuk berbalur mayonaise, plus rumput laut (disebut juga seaweed atau nori) dan daun bawang... mantab deh. Awalnya saat melihat porsi Tokyo Bowl tidak akan habis, realita bicara habis tanpa sisa! πŸ˜ƒ

Chicken Karaage jadi favoritku karena memang menyukai masakan ayam goreng HokBen. Kalo kamu suka menu Tokyo Bowl apa?

Selasa, 07 November 2017

Belajar Merenda Perak di Kotagede

Meskipun sudah tahu kata emas dan perak sedari kecil, tapi aku baru tahu bentuk perak menginjak kelas 2 SMA ketika salah seorang teman saya memakai “monel'. Usut punya usut monel adalah nama lain perak. Maklum aku tinggal di dusun dan waktu itu belum ada internet. Ketahuan umurnya kan hahaha..

Perak merupakan alat pembayaran dan perhiasan nomer dua setelah emas. Di beberapa hadits menyebutkan hal tersebut. Perak juga menjadi perhiasan yang diperbolehkan bagi laki-laki dan termasuk benda yang wajib dizakati; jika mencapai nishab.

17 Oktober 2017, aku mengikuti Silversmith Workshop yang diadakan oleh HS Silver 800-925 di Jalan Mondorakan 1 Kotagede, Yogyakarta. Awalnya aku mendaftar hari Senin pagi, tapi menurut Markom HS Silver kelas sudah penuh, yang akhirnya terlempar ke tanggal 17 Oktober 2017 jam 09.00 WIB.
HS Silver.
Hari merenda perak
Hujan yang mengguyur DIY sejak pagi tak menyurutkan niatku untuk mengikuti pelatihan ini. Datang paling awal membuatku leluasa berkeliling HS Silver. Mas Rosi dari HS Silver memandu mengenalkan ruang kerja perajin, peralatan yang digunakan, dan perhiasan yang dihasilkan HS Silver. Sambil menunggu peserta lain, aku juga diajak ke showroom yang berada di selatan ruang kerja.

Urutan acara pelatihan secara garis besar adalah:
  1. Perkenalan HS Silver,
  2. factory (workshop) tour,
  3. pelatihan,
  4. foto untuk sertifikat,
  5. pulang.
Daripada lama menunggu, aku mulai pelatihan jam 09.30 WIB mendahului yang lain. Pada pelatihan kali ini, peserta mendapatkan:
  • Benang perak (99,9%) 4 gram,
  • cetakan (kerangka pola) dari perak,
  • peralatan (gunting lipat dan pinset besar),
  • gambar pola,
  • makanan kecil.

Sebagai "telenan" digunakanlah keramik yang biasa dipasang untuk lantai. Kenapa keramik bukan alumunium, papan kayu, atau bahan lain? Keramik tidak akan rusak ketika terkena benda tajam, padahal pinset dan gunting selalu mengenai "telenan" saat membuat kerajinan perak. sedangkan pilihan keramik warna merah karena kontras dengan putihnya perak.

Membuat kerajinan perak filigree
Kerajinan yang akan dibuat dengan tangan (hand made) kali ini adalah jenis perak filigree (filigri). Teknik filigree adalah pembuatan perhiasan dengan menggunakan benang perak yang lembut (kecil). Teknik ini juga disebut teknik trap.

Selain teknik filigree, perak juga dibuat dengan teknik solid silver dan casting. HS Silver 800-925 sendiri membuat kerajinan perak dengan teknik filigree dan solid silver.

Selain Mas Rosi, ada Mbak Widiyanti yang menjadi pendamping peserta pagi itu. Awalnya Mbak Widiyanti memperagakan cara memasukkan perak ke dalam kerangka. Kelihatannya mudah, tapi setelah kucoba ternyata sulit πŸ˜€. Bagian bawah kerangka dilapisi kertas minyak semisal kertas minyak atau "grenjeng" supaya perak tidak lepas saat diisi di kerangka.

Merenda perak.
Kupilih desain cincin unisex yang sederhana, mengantisipasi kegagalan pembuatan πŸ˜ƒ. Tangan kanan memegang pinset, jari telunjuk kiri menjaga benang perak agar tidak "mrusut", dan dibentuk spiral kecil di atas keramik. Cetakan harus terisi perak semua. Waktu yang kubutuhkan membuat cincin perak? 1,5 jam 😁.
Pematrian
Selesai mengisi cetakan, kemudian dilakukan proses pematrian dengan pompa patri sederhana berbahan bakar Pertalite. Mbak Widiyanti menyarankan aku mencoba sendiri mematri agar bisa merasakan sulitnya (untuk pemula). Wisatawan manca negara tidak mau dipatrikan, mereka selalu minta untuk bisa melakukannya sendiri. Meskipun untuk memperhalus hasil kerajinan, tetap saja dilanjutkan oleh ahlinya.
Mematri perak.
Memang sulit, kaki kananku belum bisa kontinyu memompa untuk menghasilkan api patrian yang selalu panas. Hasilnya pun jelek, hehehe Daripada cincin tidak berbentuk, pematrian diambil alih oleh pekerja. Sebelum dipatri, kawat kerangka yang kubuat tadi ditaburi serbuk perak. Gunanya untuk menutupi kerangka kawat agar sama semuanya terlapisi perak, agar bisa dikatakan cincin perak.

Setelah itu kami pulang, proses terakhir kami lewati karena waktu telah habis dan sebaiknya dilakukan oleh ahlinya. Hasilnya baru kami ambil hari berikutnya.
Tempat dan alat membersihkan perak.

Pembersihan kerajinan perak
Inilah tahap terakhir pembuatan kerajianan perak. Pembersihan pertama dengan membakar perak agar kotoran yang menempel lepas dari perak. Kedua, direbus ke dalam air tawas agar warna perak memutih. Terakhir adalah dicuci dengan air busa lerak, dan digosok (sangling) sampai kinclong mengkilap.

Akhirnya selesailah belajar merenda perak. Tidak capek sih, hanya perlu ketelitian dan telaten. Pelatihan kerajinan perak terbuka bagi siapa saja, perorangan maupun secara kelompok.
Silversmith workshop dan cincinku.

Harga Silversmith Workshop (pelatihan perak)
001 orang: Rp.190.000
2-3 orang: Rp.170.000
4-6 orang: Rp.150.000

Fasilitas standar yang didapatkan:
4 gram perak
peralatan
2-3 jam workshop dengan support penuh
jajanan tradisional dan minuman.

Harga Silversmith Workshop (pelatihan perak) + makan siang
001 orang: Rp.265.000
2-3 orang: Rp.245.000
4-6 orang: Rp.225.000

Fasilitas yang didapatkan:
fasilitas standar ditambah makan siang di restoran Omah Dhuwur.

Kamis, 26 Oktober 2017

Mengecap Lansekap Buana Dari Sleman Lantai 2

Wilayah Kabupaten Sleman membentang dari timur ke barat bagian utara Daerah Istimewa Yogyakarta, yang didominasi dataran rendah. Dua dataran tinggi yang acapkali disebut “lantai dua” berada di utara dan timur wilayah Sleman, yaitu sisi utara kawasan Gunung Merapi dan di sisi timur perbukitan Gunung Baturagung yang masuk zona Pegunungan Selatan Jawa.

Sleman Timur lantai 2 masuk daerah administratif Kecamatan Prambanan, destinasi wisata yang sudah dikenal antara lain Tebing Breksi, Candi Ijo, dan Candi Ratu Boko. Kabupaten Sleman, melalui Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Sleman bersama Disperindag dan Dispar Sleman memperkenalkan 3 destinasi baru di perbukitan ini yaitu Selo Langit (Watu Payung), Bukit Teletubbies, dan Bukit Klumprit.

SuV Jeep, Toyota, Suzuki, dan Daihatsu.
Kamis 19 Oktober 2017, sekitar 23 warganet mengunjungi 3 lokasi tersebut menggunakan 11 Sport Utility Vehicle (SUV) dari Taman Tebing Breksi. Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, M.S.I. dan Camat Prambanan Eko Suhargono, S.IP turut serta hingga akhir perjalanan. Panitia menyediakan bus bagi peserta famtrip yang tidak bisa langsung ke Tebing Breksi.

Titik kumpul di JCM.
Selo Langit Watu Payung
Usai mendengarkan paparan Bapak Bupati dan Camat, rombongan 11 SUV berangkat pukul 14.10 WIB. Aku naik Daihatsu Taft, satu-satunya SUV berbahan bakar solar kala itu. Dengan kapasitas 4 penumpang, SUV kami hanya diisi Ibu Evi, Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Sleman di jok depan, dan aku serta Mas Dimas Disperindag Sleman di jok belakang.

Jalan mulus memudahkan rombongan sampai tujuan dalam 10 menit, padahal jalan terus menanjak. Dari jalan raya menuju parkir Selo Langit hanya berjarak 50 meter dengan medan ekstrim; sengaja dibuat begitu untuk rute SUV. Ada 1 jalan lagi di sisi timur yang lebih ramah bagi mobil sasis pendek.
Di atas Watu Payung (sumber: IG @metuomah).
Aku kurang paham kenapa dinamakan Selo Langit, peta Google belum mencantumkan nama Selo Langit, namun sudah tersimpan Watu Payung dengan puluhan review pemilik akun Google. Mungkin nama Selo Langit dipilih untuk membedakan dengan "watu payung" di daerah lain.


Selo Langit berada di Dukuh Gedang Atas Desa Sambirejo, Prambanan Sleman, DIY. Alpa menyalakan GPS gawai menyebabkan koordinat akurat tidak kuketahui pasti, pun bertanya pada Mas Dimas yang membawa perangkat GPS.

Watu payung adalah sebuah batu pipih di tepi bukit (yang dulu) letaknya menumpang pada batu lain, sehingga terlihat seperti huruf L tengkurap. Semakin banyaknya wisatawan datang dan berdiri untuk pemotretan di atas batu, maka setelah Agustus 2017 cekungan bawah diberi batu penahan untuk keselamatan wisatawan. Sehingga sekarang tidak lagi berbentuk L tengkurap. Pahatan batu penahan di bawah adalah karya seni, tidak mengurangi estetika watu payung.
Watu payung.

Di atas ketinggian 399 mbpl, wisatawan dapat mengecap lansekap memanjang dari utara hingga selatan. Deretan pegunungan selatan Jawa yang tidak kuhafal membentengi pandangan kami. Dari deretan pegunungan itu hanya Gunungapi Purba Nglanggeran Kabupaten Gunungkidul yang kukenal, selain pernah kesana, Bukit Pathuk dengan belasan menara ada di depannya.

Bukit Teletubbies
20 menit di Selo Langit, kamipun menuju destinasi kedua Bukit Teletubbies di Desa Wukirharjo, Prambanan Sleman. Jalan aspal dan cor beton yang naik turun mengikuti struktur tanah tidak membuat kami sakit perut, karena kondisi jalan mulus dan jok SUV yang empuk.

Aku punya pengalaman kurang mengenakkan naik angkutan wisata di suatu daerah. Duduk saling berhadapan di mobil terbuka dengan jok dari sepet, sepanjang perjalanan bau asap menusuk hidung dari pembakaran mesin diesel. Dan jalanan sempit berbatu dengan hiasan aspal tipis. Sesampainya di penginapan tubuh remuk redam 😁.


Banyak jalan menuju Bukit Teletubbies, famtrip kali ini rombongan terdepan memilih lewat hutan jati, atau penduduk setempat menamakannya Jati Bon (Jati Kebon). Kami takjub dengan deretan pohon jati muda yang ditanam rapi. Ingin rasanya memotret di tepian jalan, tapi kami harus mengejar waktu sesuai itinerary.
Akhir dari Jati Bon.
Cuaca panas menyengat menemani 20 menit perjalanan kami, padahal gerimis sempat menyapaku ketika berangkat ke JCM. Bukit Teletubbies berada di Desa Wukirharjo, Prambanan Sleman. Tanah milik pribadi ini baru saja direnovasi oleh Satker PKP DIY. Selain taman dan beberapa gazebo, sebuah gardu pandang dibangun untuk melihat lansekap rumah dome di desa sebelah; yang dibangun saat gempa Jogja 2006 lalu.
Bukit Teletubbies Sumberharjo Prambanan.
Rumah dome di desa Sumberharjo, Prambanan Sleman menyerupai rumah karakter boneka di serial televisi Teletubbies. Karena itulah orang Indonesia juga menyebutnya "rumah dome Teletubbies". Taman di ketinggian 253 mdpl ini disebut Bukit Teletubbies karena dari jarak 1,5 km arah barat daya bisa melihat rumah dome yang berada di ketinggian 96 mdpl.
Bukit Teletubbies.
Sama seperti destinasi wisata sebelumnya, retribusi masuk ke Bukit Teletubbies bersifat sukarela. Wisatawan hanya perlu membayar parkir Rp. 2.000 untuk roda 2 dan Rp. 5.000 untuk kendaraan roda 4. Hebatnya, tempat wisata ini memberikan layanan internet gratis.

Daerah Wukirharjo sering dilanda kekeringan, pasokan air tergantung aliran PDAM dan air hujan. Di depan mushalla Bukit Teletubbies terdapat sumur tadah hujan, terlihat sebuah talang air rumah pemilik taman diarahkan ke sumur. Saat rombongan sampai, pipa PDAM sudah jebol selama 3 hari sehingga tidak ada air mengalir.


Pak Camat pun dibuat sibuk menghubungi para Kepala Desa di bawah (bukit), mencari masjid mana yang pasokan airnya lancar. Sejatinya, rombongan famtrip shalat Ashar dan istirahat di Bukit Teletubbies. Kami akhirnya meninggalkan bukit menuju masjid terdekat (dan ada pasokan air), setelah Pak Camat mendapat kepastian dari Kepala Desa. Usai shalat Ashar perjalanan dilanjutkan menuju destinasi terakhir, Bukit Klumprit.

Bukit Klumprit
Snack yang dibagikan untuk bekal baru kubuka, salah satu snack adalah bubur dalam cup kecil. Aku teringat pemaparan Camat Prambanan sebelum berangkat, ada makanan khas dari lereng Gunung Baturagung yaitu Burkong. Terlihat benda berwarna kuning muda menyembul dibalik bubur, inilah burkong yang dimaksud Pak Camat yaitu Bubur Singkong. Benda kuning muda tersebut adalah singkong.

Menurutku rasanya seperti bubur cethil atau candil. Kemungkinan, burkong dibuat dari tepung sagu; sama persis dengan bahan baku bubur candil. Tak perlu waktu lama menghabiskan burkong, ingin nambah lagi tapi tidak ada jatah kedua.
Burkong.
Semua kendaraan tidak bisa langsung menuju puncak Bukit Klumprit di ketinggian 343 mdpl, kami harus berjalan kaki naik ke bukit milik tanah kas desa Wukirharjo. Paduan batu dan tanah sepanjang jalan setapak membuat sebagian rombongan kewalahan. Di kiri kanan jalan setapak, padi ditanam di tanah tandus di antara bebatuan. Tidak ada sumber air mengairi, menunggu hujan membasahi bumi.
Menunggu sunset di Puncak Bukit Klumprit.
Dari atas bukit Klumprit terlihat lansekap buana selatan hingga barat daya. Di selatan terlihat daerah Pathuk Kabupaten Gunungkidul dengan ciri khasnya beberapa menara relay televisi. Di Barat daya terlihat kecilnya rumah dome. Sedangkan arah barat terlihat sang surya mulai tenggelam.

Aku tidak terlalu hafal daerah di "lantai 1" tersebut, kunikmati saja angin yang menerjang tubuh ini, semakin sore semakin kencang hingga tubuhku serasa akan terbang dibawa angin. Pukul 17.20 WIB kuputuskan turun lebih cepat dari rombongan, tubuhku tak kuasa lagi menahan terjangan angin yang semakin menusuk tulang.
Sunset dari Bukit Klumprit.
Bukit Klumprit benar-benar destinasi wisata yang masih alami, belum terjamah kenistaan. Kesunyian menemani kami saat menunggu terbenamnya sang surya, tidak ada sumber cahaya selain dari alam. Puas menikmati di atas bebatuan, kamipun meninggalkannya usai adzan Maghrib berkumandang.


Artikel Terkait:
- Mahalkah Sewa Jeep Wisata di Tebing Breksi?

Selasa, 24 Oktober 2017

Berburu Menu Bukan Bebek Biasa di Yogyakarta

Bebek menjadi primadona baru pecinta kuliner Indonesia. Hewan berleher panjang ini biasanya hanya diambil telurnya sebagai campuran martabak, pempek, atau dijadikan telur asin. Sekarang secara masif dagingnya mulai diolah untuk dikonsumsi masyarakat. Umumnya rumah makan olahan bebek menyajikan menu bebek goreng dengan berbagai varian sambal dan lalapan. Apakah bebek cuma bisa digoreng, tidak bisa disajikan dalam menu lain? Penasaran dengan hal itu aku berburu menu bebek (selain goreng) (masih) di Yogyakarta.


Nyatanya, ada rumah makan yang menyajikan berbagai menu olahan bebek. Ketemunya di daerah Giwangan – Wirosaban, atau dikenal dengan Jalan Tegalturi 56 Yogyakarta. Rumah makan ini dulu bernama Roemah Boemboe yang kemudian di-rebranding pertengahan Oktober 2017 menjadi Bale Bebek.
Bale Bebek di Jalan Tegalturi 56 Yogyakarta.

Sembilan paket menu masakan bebek + satu paket ingkung
Tercatat ada 9 paket masakan bebek seharga Rp. 24.500 yaitu;
- Bebek pedas spesial.
- Bebek bakar kecap.
- Bebek trasi.
- Bebek rica-rica.
- Bebek bakar pedas.
- Bebek bakar madu.
- Bebek barbeque.
- Bebek woku.
- Bebek goreng.

Paket tersebut terdiri dari nasi + bebek + sambal + lalapan. Masih ada 1 paket lagi yaitu (ingkung) bebek utuh, yang terdiri dari nasi + bebek utuh masak woku + ati ampela + tahu tempe + lalapan + sambal. Paket untuk 4 orang tersebut dihargai Rp. 115.000.

Pembeda dari rumah makan bebek lain
"Bukan bebek biasa" menjadi tagline Bale Bebek, mengisyaratkan masakan bebek di sini beda dengan masakan rumah makan lain. Selain banyak varian menu, bebek di rumah makan grup Bale Ayu ini sebelumnya dipresto agar daging bebek empuk. Masakan tidak amis, dan standarisasi bumbu; sehingga menu hari ini rasanya akan sama dengan rasa menu sepekan lagi. Pengolahan presto dan bumbu ada di dapur utama di Jalan Lowanu 55 Yogyakarta. Yang terpenting menurutku adalah Bale Bebek sudah memiliki sertifikat halal BPPOM MUI.
Salah satu sudut untuk foto.

Dari sisi tempat, bisa menampung 120 pengunjung dengan pilihan duduk di kursi atau lesehan di gazebo. Parkir bisa di depan atau belakang rumah makan. Toilet, wastafel, dan mushalla juga tersedia, jika ingin shalat ke masjid tinggal menyeberang jalan dan masuk gang kecil. Gratis akses internet, dan yang unik beberapa sudut dijadikan tempat swafoto.

Mencicipi menu Bale Bebek
Saatnya mencoba masakan Bale Bebek. Saat akan menulis pesanan menu, aku bertanya kepada Mbak Fina; Marketing Manager Bale Ayu Group “Menu bakaran dikuas atau dicelup?” Sepertinya Mbak Fina sudah terbiasa mendapat pertanyaan seperti ini, sehingga jawabannya,

“Dikuas, tapi tenang Mas, Bale Bebek sudah bersertifikat halal MUI, jadi aman.”

Aku suka masakan bakaran, tapi akan ilfil jika kuas dipakai untuk melabur bumbu. Beberapa tempat makan menggunakan kuas cat untuk melabur bumbu, tentunya bukan kuas foodgrade. Disamping itu ada lho kuas dari bulu hewan babi. Karena itulah aku selalu bertanya jika memesan menu bakaran.

Mendengar jawaban itu, aku putuskan pesan Bebek Bakar Madu. Tidak sampai 15 menit, masakan yang kupesan datang. Standar pelayanan Bale Bebek menjamin maksimal 15 menit penyajian, ada juga nih garansi layanan produk jika masakan tidak sesuai standar, tidak enak, hambar, keasinan, atau semisalnya.
Bebek bakar madu.

Nasi
Nasi putih pulen dihidangkan dengan bentuk tumpeng. Puncak tumpeng ditutup dengan daun pisang, sehingga mengeluarkan aroma harum dari nasi yang masih hangat ini.

Lalapan
Ketimun, daun kemangi dan daun pepaya menjadi lalapan menu paket. Daun pepaya menjadi pembeda dengan rumah makan lain, bahkan dengan warung penyetan kaki lima. Yang menarik lalapan daun pepaya ini sudah direbus, tapi masih berwarna hijau segar dan tidak pahit!

Sambal
Untuk menu paket, menurutku sambal bajak sudah pas dari sisi porsi, manis, maupun pedasnya.

Bebek bakar madu
Bumbu bakarannya sangat kusukai, bahkan sampai kujilati hehehe. Terus bagaimana dengan daging bebeknya? Kupisahkan dulu kulit yang lengket bumbu madu dengan daging. Kulit bebek dengan baluran bumbu bakar madu kupadukan dengan nasi dan lalapan, bumbu bakar madu terasa banget di lidah, bahkan aku tidak tahu bagaimana rasa kulit bebek hehehe, saking merasuknya bumbu.

Daging bebek yang dipresto memang empuk dan tidak amis. Menurut chef Willy; chef kepala Bale Ayu Group yang kutemui, bau amis bebek akan hilang dengan pengolahan yang benar. Salah satu caranya adalah membuang brutu sebelum dimasak.
Tempat untuk swafoto.
Menu selain bebek
Bale Bebek apakah semua menunya bebek? Sebagai rumah makan modern, tentu saja Bale bebek menyediakan menu lain selain bebek. Ada menu iga (sup iga dan iga bakar), ayam kampung, dan menu nila. Dua pilihan Menu nila dan ayam kampung adalah goreng dan bakar madu. Disamping itu tersedia paket Ingkung Ayam.

Pengunjung juga bisa memilih sambal yang disukai, seperti sambal bajak, sambal korek, sambal kecap, atau sambal terasi. Sedangkan aneka sayur tersedia kangkung balacan, tauge tahu kuning, kari kacang panjang, kari buncis, tumis kacang panjang, dan terong balado. Tak ketinggalan jamur crispy dan tempe tahu.

Saat menulis ini aku sudah 3 kali makan di Bale Bebek Tegalturi πŸ˜‹. 2 rumah makan Bale Bebek, satu lagi di Jalan Wonosari km 13. Suasana romantis tercipta dari lampion yang dinyalakan pada malam hari, tapi aku lebih suka datang saat matahari masih bersinar, alasannya untuk mendapatkan pencahayaan alami saat memotret hehehe.

Logo dan menu favorit pengunjung
Menurut Direktur Operasional Bale Ayu Group; Yudhiono yang berada di Bale Bebek Tegalturi 11 Oktober 2017 lalu, logo yang sebelumnya merah tua menjadi merah oranye untuk menyasar segmen pasar umur 22 tahun ke atas, yang dirasa sudah mulai mapan. Sedangkan yang menjadi favorit pengunjung adalah menu Bebek Masak Woku dan Bebek Pedas Spesial.
Sumber: IG Bale Bebek.

Aku sendiri, menu favorit selain bebek adalah Ayam Bakar Madu. Setelah tersihir dengan Bebek Bakar Madu, aku mencoba menu Ayam Bakar Madu. Ternyata bumbu bakar madu terasa sama, dagingnya empuk dan bumbu merasuk ke dalam daging. Recommended deh.
Ayam kampung bakar madu.

Bale Bebek Tegalturi buka dari jam 10.00 – 22.00 WIB. Retribusi parkir standar dan tertempel di dinding Bale Bebek. Rumah makan ini hanya mengenakan pajak restoran, sehingga tidak memberatkan pengunjung.

Selasa, 10 Oktober 2017

Bawa Log Book Museummu saat Mengunjungi Museum di DIY

Saat mengikuti Jelajah 4 Museum dua pekan lalu, kulihat beberapa orang membawa buku dan meminta tanda tangan dan stempel kepada petugas museum. Di Museum Dewantara Kirti Griya, kelompok kami ditanya seorang panitia, "Bawa Log book nggak? Jika bawa bisa dimintakan stempel ke petugas."

Aku jadi penasaran apa sih Log Book Museum itu? Angga merupakan satu-satunya yang memiliki Log Book di kelompokku. Katanya buku tersebut diperoleh dari Dinas Kebudayaan DIY, jika stempel memenuhi buku akan mendapatkan reward yang belum ditentukan bentuknya.

Log Book Museum kutuliskan di Google, tidak ada satu artikel pun yang menjelaskannya. Aku menemukan sedikit gambaran saat mencari di Twitter, kultwit tentang Log Book Museum di akun @roemahtoea.
Log book museum DIY.
Admin @roemahtoea menghadiri sosialisasi Log Book Museum di Kantos Disbud DIY, Jalan Cendana Yogyakarta pada 11 Juli 2017. Intinya setiap kunjungan ke museum di Daerah Istimewa Yogyakarta, pengunjung berkesempatan mendapatkan stempel dan tanda tangan petugas museum dengan kriteria:
- stempel merah untuk museum bertema perjuangan.
- stempel hijau untuk museum bertema seni budaya.
- stempel biru untuk museum bertema ilmu pengetahuan.

Bagi pemegang Log Book Museum yang dapat mengumpulkan stempel dalam jumlah tertentu akan mendawatkan reward:
- 050 kunjungan akan mendapatkan medali perunggu
- 100 kunjungan akan mendapatkan medali perak.
- 200 kunjungan akan mendapatkan medali emas.

Apakah benar-benar medali? Aku belum konfirmasi kepada pihak Disbud DIY, tapi gambarannya bisa dilihat di ciutan https://twitter.com/RoemahToea/status/884611827035811840.

Perjuangan Mendapatkan Log Book Museum
Aku mencoba mendapatakan buku tersebut, tapi ada saja aral melintang πŸ˜‚. Dari ban motor bocor saat hujan, ditolak 3 tukang tambal ban hingga terpaksa menaikinya 7 km sampai rumah. Pertama ke kantor dinas dan bertanya pada satpam yang berjaga di depan, dia tidak tahu Log Book, lalu diminta datang lagi hari Senin. Katanya semua bagian museum tidak berada di tempat (Mosok pak?)

Setelah dua kali ke sana, akhirnya bertemu bagian museum dan meminta 10 buku untuk komunitas. Menunggu beberapa menit, akupun diminta meninggalkan nomor kontak karena dikonsultasikan dulu dengan atasan, sedangkan pejabat berwenang baru rapat anggaran πŸ˜€.

4 hari tidak dihubungi, aku kembali lagi ke kantor Disbud DIY. Ohiya, aku menggunakan nama komunitas Kompasiana Jogja dan hanya mendapatkan 5 Log Book Museum. Katanya banyak yang berminat sehingga jatah dibatasi.

Buku ini hanya berlaku di DIY, setiap buku sudah terdapat nomor anggota. Misalnya 34.071.01.0001. 34 adalah kode DIY. 071 adalah kode Kota Jogja, 01 adalah kode komunitas, dan 0001 adalah kode anggota.

Semoga bisa khatam mengunjungi 48 museum di DIY, tapi sepertinya aku tidak akan masuk museum yang tiket masuknya mahal πŸ˜‚.

Senin, 09 Oktober 2017

Menelisik Berdirinya Pura Pakualaman bersama Komunitas Malam Museum

Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Pura Pakualaman, kerajaan termuda dari sejarah Mataram Islam di masa lalu. Padahal ratusan kali lewat alun-alun Pakualaman, tapi belum pernah masuk tempat bersejarah ini. Bersama Komunitas Malam Museum, aku dan sekitar empat puluhan orang diajak berkeliling dan menelisik berdirinya Pura Pakualaman (Sabtu 30/9/2017).

Mendung pagi membuatku malas gerak, terlebih bertepatan dengan puasa 10 Muharram. Rasanya pengen leyeh-leyeh seharian, menghemat tenaga sampai adzan Maghrib menggema. Tapi aku sudah mendaftar kelas heritage ini, sayang kalau dilewatkan begitu saja.

Singkat cerita, kami berkumpul di parkir depan Pakualaman mendengarkan uraian Erwin Malam Museum sedari menunggu persiapan tempat. Pakualaman adalah kadipaten dengan wilayah administratif (sekarang) Kecamatan Pakualaman dan "Adikarto" daerah Brosot Kabupaten Kulonprogo.
Artikel ini tidak mengurai banyak sejarah Pura Pakualaman, untuk keakuratan silakan merujuk pada buku-buku sejarah yang ada di perpustakaan.
Sebelum masuk bahasan utama yang dimulai dari Hamengku Buwono I (HB I), sedikit tambahan bahwa putra mahkota di tanah Jawa (Mataram khususnya) disebut adipati anom. Menurutku ada baiknya sedikit mengetahui dinasti Mataram Islam.
Parkir barat alun-alun Pakualaman.
Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 merupakan awal terbentuknya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian ini mengakui kedaulatan Pangeran Mangkubumi sebagai raja di Yogyakarta yang menguasai separuh wilayah Paku Buwono III; penguasa Kasunanan Surakarta. Mataram terbelah menjadi 2 (lagi), Yogyakarta dan Surakarta. Pangeran Mangkubumi adalah putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura dari istri selir.

Kasunanan Kartasura ada sejak Susuhunan Amangkurat II (nama kecil Raden Mas Rahmat) yang membangun istana baru kerajaan Mataram di Kartasura, setelah ibukota Mataram Pleret Yogyakarta diduduki oleh saudara tirinya Pangeran Puger (nama kecil Raden Mas Drajat). Pangeran Puger menjadi raja Mataram dengan menumpas sisa pengikut Trunajaya yang menyerang Mataram. Ketika itu ayahnya, Amangkurat I bersama adipati anom Raden Mas Rahmat menyingkir sampai Tegal, Jawa Tengah. Pangeran Puger sendiri kemudian menyerah dalam perang saudara dan Mataram berada di bawah Kasunanan Kartasura.

Amangkurat III menggantikan ayahnya Amangkurat II yang wafat. Perselisihan keluarga terjadi lagi yang menyebabkan Pangeran Puger mengungsi ke Semarang. Perjanjian Semarang memaksa Pangeran Puger menyerahkan Madura bagian timur kepada VOC dengan imbalan membantu perjuangan Pangeran Puger merebut Kasunanan Kartasura.

Pangeran Puger diangkat menjadi raja tanpa kerajaan bergelar Paku Buwono I, kemudian menyerang Kasunanan Kartasura yang membuat Amangkurat III mengungsi ke Pasuruan, dari peristiwa inilah PB I menjadi raja Kasunanan Kartasura. Setelah beberapa saat akhirnya Amangkurat III menyerah di Surabaya dan diasingkan ke Sri Lanka hingga wafat.

PB I wafat kemudian digantikan putranya dengan gelar Amangkurat IV. Amangkurat IV memiliki beberapa putra seperti Raden Mas Sandeyo (kelak menjadi Nur Iman Mlangi), Raden Mas Probosuyoso (kelak menjadi PB II), Raden Mas Sujana (dewasa bernama Pangeran Mangkubumi, kelak menjadi HB I), dan Arya Mangkunegara (kelak anaknya yang bernama Raden Mas Said menjadi Mangkunegara I).

Setelah Amangkurat IV wafat dan digantikan PB II, beberapa tahun kemudian Kasunanan Kartasura runtuh karena perang saudara. PB II membangun istana baru di desa Sala yang kemudian dikenal dengan Kasunanan Surakarta. Raden Mas Suryadi melanjutkan kepemimpinan Kasunanan Surakarta bergelar PB III, menggantikan ayahnya PB II yang wafat karena sakit.

Semua ontran-ontran di tanah Jawa melibatkan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie); perusahaan dagang multinasional Belanda yang ingin menguasai dan menjarah kekayaan alam nusantara.

Tertib Masuk Pura Pakualaman
Ada tata tertib tidak tertulis bagi pengunjung Pura Pakualaman yaitu;
  • Berpakaian rapi dan sopan.
  • Tidak mengenakan celana pendek.
  • Tidak mengenakan bahan jeans.
  • Tidak menggunakan alas kaki tanpa tali (seperti selop dan jepit).
Bila pengunjung tidak memenuhi tata tertib, bisa menutupi dengan kain (cari sendiri atau beli di toko dekat Pasar Sentul) dan tanpa alas kaki (nyeker).

Bersambung jika sempat...

Senin, 25 September 2017

Mengenal Museum di Kota Jogja dengan Jelajah 4 Museum

"Museum di hatiku", demikian teriakan peserta Jelajah 4 Museum sambil meletakkan telapak tangan kanan di dada kiri; menjawab “salam sahabat museum”. Kegiatan yang digagas Komunitas Malam Museum menggandeng Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dilaksanakan pada hari Ahad, 24 September 2017 mulai pukul 15.30-20.35 WIB.

Menurut koordinator kegiatan dari Komunitas Malam Museum Erwin Djunaedi, peserta yang mendaftar mencapai 500 orang dari kuota 120 orang yang tersedia. Antusiasme masyarakat mendaftar menjadi bukti kegiatan menjelajah museum sangat diminati, memungkinkan menjadi satu program paket wisata di masa datang.
Museum Vredeburg starter pack.

Dengan komposisi 40 orang dari Genpi Jogja, 50 peserta umum, 20 orang komunitas dari Magelang, dan 40 panitia gabungan mulai berdatangan ke titik kumpul di Museum Benteng Vredeburg pada pukul 12.30 WIB. Untuk peserta mendapatkan museum pack berupa tas selempang berisi kaos seragam, topi, bolpoin mini, air mineral 600 ml, tanda pengenal, dan 3 kupon untuk mengambil jatah kudapan dan makan malam.

Uniknya, kupon tersebut dicetak menyerupai mata uang yang pernah beredar dengan gambar 3 tokoh yang berkaitan dengan museum. Tokoh tersebut adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman (uang Rp. 5.000 yang terbit tahun 1968), Ki Hajar Dewantara (uang Rp. 20.000 yang terbit tahun 1998), dan Dr. Sutomo (uang Rp. 1.000 yang terbit tahun 1980).
Tukar kupon dengan gatot.

Semua peserta diwajibkan memakai atribut yang telah dibagikan, sedangkan panitia menggunakan kostum pejuang atau pakaian tradisional Jawa. Setelah semua atribut lengkap dikenakan, peserta berkumpul sesuai pembagian grup dan kelompok. Jelajah Malam Museum ini mengambil tema "Pahlawan Idolaku" yang berjuang membebaskan Irian Barat, karena itulah nama grup dan kelompok  diambil dari para pahlawan tersebut. Dalam 4 grup terdapat 2-3 kelompok yaitu:

Grup 1 Operasi Banteng Ketaton terdiri 3 kelompok:
Kelompok Mayor Udara Nayoan
Kelompok Letda Heru Santoso
Kelompok Letda Agus Hernoto

Grup 2 Operasi Srigala terdiri 2 kelompok:
Kelompok Letnan Udara II Manuhua
Kelompok Letnan Muda Udara Suhadi (di peta jelajah salah tulis pangkat dan nama)

Grup 3 Operasi Naga terdiri 3 kelompok:
Kelompok Letda Soedarto
Kelompok Kapten Bambang Soepeno
Kelompok Kapten Benny Moerdani

Grup 4 Operasi Jatayu terdiri 3 kelompok:
Kelompok Kapten Psk. Radix Sudarsono
Kelompok Mayor Untung
Kelompok Letnan Udara II B. Matitaputty
Peserta siap beraksi.

Kepala Museum Benteng Vredeburg, Dra Zaimul Azzah, M. Hum. berkenan melepas peserta menjelajah 4 museum di kota Yogyakarta. Keempat museum tersebut adalah Museum Benteng Vredeburg, Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman, Museum Dewantara Kirti Griya, dan Museum Perjuangan. Masing-masing grup mendapat rute jelajah dan menuju museum dengan alat transportasi berbeda. Tapi semua peserta akan merasakan jalan kaki, naik sepeda kuno, dan jeep.
Empat museum yang dijelajahi.

Tiap kelompok diminta meneriakkan yel-yel sebelum melakukan aktivitas. Di Museum Vredeburg, tiap kelompok diminta menjawab beberapa soal berkaitan dengan museum, serta membatik. Di Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman, waktu yang disediakan menjawab soal hanya 5 menit. Sedangkan di Museum Dewantara Kirti Griya, tiap grup diwajibkan menjawab soal, yang jawabannya bisa dicari di dalam museum. 2 aktivitas di Museum Perjuangan adalah menyanyikan lagu nasional dan menjawab soal.
Peta jelajah 4 museum.

Soal dicetak dalam selembar kertas yang digulung bagai kertas sayembara, yang dipilih oleh perwakilan kelompok. Sebelum dan sesudah aktivitas, pemimpin kelompok harus melapor kepada panitia, kurang lebih seperti saat melakukan upacara bendera.

Grup 4 adalah yang terakhir kembali ke titik kumpul sekitar pukul 20.00 WIB, disaat wedang ronde tinggal wedangnya saja.
Grup 1 naik jeep dan grup 2 bersepeda.

Kegiatan ini memperebutkan hadiah lho, menurut pembawa acara sih "uang pembinaan" πŸ˜‚... yah itu cuma guyonan saja. 3 kelompok terbaik dan tercepat dalam melakukan aktivitas mendapatkan piagam juara.

Pada akhirnya semua peserta puas mengikuti Jelajah 4 Museum, bisa mengenal museum dari sudut pandang berbeda. Saat keluar dari Benteng Vredeburg, terdengar celetukan salah seorang peserta, "Nggak rugi Rp. 25.000, dapat kaos, tas, topi, dan makan." Harapannya, jelajah museum juga diadakan di museum lain dengan aktivitas yang lebih seru dan menarik.