Januari 2017 - metuomah.com

Senin, 30 Januari 2017

0

Menaklukkan Gunung Wayang dan Puncak Watu Bantal di Geosite Nglanggeran

Untuk pertama kalinya aku mendaki dan sampai ke puncak gunung. Bersama teman-teman Masdjo (Masyarakat Digital Jogja) kami diajak Dinas Pariwisata DIY mengeksplorasi Geosite Nganggeran di Kabupaten Gunungkidul DIY. Gunung yang kutaklukkan adalah Gunung Wayang atau dikenal juga dengan sebutan Gunung Nglanggeran.
Salah satu sudut dari atas Puncak Watu Bantal.

Gunung Wayang berada di 700 mdpl (700 meter di atas permukaan laut), tidak terlalu tinggi ya 😀, tapi ketika sampai puncak rasanya luar biasa. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke puncak kira-kira 45 menit 😁. Ikuti kisah keseluruhan perjalanan kami berikut ini.

Meeting Point di Dinas Pariwisata DIY
Undangan yang tertulis untuk hadir di Dinas Pariwisaata DIY jam 11.00 WIB, tapi karena listrik padam acara dengan agenda pertama ramah tamah baru dimulai 11.35 WIB, dipimpin Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY, Arya Nugrahadi, sekaligus memberikan sedikit pemaparan mengenai Geosite Nglanggeran.

Ramah tamah dan briefing.
Usai perkenalan para peserta eksplorasi Geosite Nglanggeran, kami menyepakati hashtag (tagar) yang akan digunakan selama mengeksplor Geosite Nglanggeran adalah #GeositeNglanggeran.

Berangkat ke Nglangggeran
Sebanyak 20 peserta menggunakan bus medium menuju Nglanggeran, sedangkan rombongan Dispar DIY menggunakan kendaraan 1500 cc plat merah. Jarak tempuh yang sebenarnya pendek, menjadi lebih lama dari semestinya karena jalanan siang itu padat merayap.
Berangkat ke Nglanggeran.
Kami berangkat dari kantor Dispar DIY di Jalan Malioboro Yogyakarta jam 12.10 WIB dan sampai di TKP jam 13.21 WIB. Turun di tempat parkir, sebagian muslim melaksanakan shalat Dhuhur di mushalla terdekat. Mushalla ini tidak menyediakan toilet sehingga beberapa wanita wudhu di toilet warga sekitar mushalla. Aku juga pergi ke toilet warga, kebetulan toilet yang kupakai pintu bawahnya sliwir-sliwir 😄.
Peta perjalanan dari Dispar DIY ke Nglanggeran.
Setelah melaksanakan shalat, kami bergerak ke Pendopo Nglanggeran untuk melaksanakan makan siang 😂. Berhubung separuh peserta terlambat, maka tidak bisa mengabadikan makanan-makanan yang disajikan.

Trancam ayam kampung oseng tempe.
Menu dari ingkung Ayam Kampung, oseng tempe, trancam, sambal, dan kerupuk. Buah sebagai pembuka makan besar adalah Pisang Mas. Tapi sayang hanya menyediakan minuman teh, air putih malah tidak ada. Yang kuambil adalah nasi gurih, atau orang barat menyebutnya nasi uduk.

Dari Nglanggeran ke Kampung Pitu
Kampung Pitu adalah sebutan legendaris dari Padukuhan Tlogo, Desa Ngalanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul DIY. Dari sana kemudian naik ke Gunung Wayang.
Loket Ekowisata Nglanggeran.

Sebelum itu, mari kita ke toilet lagi 😁, letak toilet tepat di sebelah loket masuk Ekowisata Nglanggeran. Bahasa harga tiket di artikel mendatang karena kami tidak masuk obyek wisata ini.

Toilet dan pusat informasi.
Toiletnya lumayan bersih, kakusnya ada yang jongkok dan duduk. Toilet laki-laki di sebelah kiri, sedangkan perempuan di sebelah kanan... tapi jalan masuknya tetap satu.

Kaget juga waktu diberi tahu angkutan yang digunakan adalah Pajero (Panas Njobo Njero). Surprise banget wkwkwk, ternyata yang datang adalah 2 Mitsubishi L300 dan 1 Mitsubishi 100ps 😀. Keren nggak tuh, dan atapnya adalah terpal plastik.
Antri masuk angkutan.
Aku pilih naik truk, memisahkan diri dari para wanita. Kukira dengan naik truk bisa berdiri tegak, eh... karena ada terpal jadi tidak bisa berdiri. Ini benar-benar truk bak terbuka, tempat duduk pun nggak ada, kami jongkok saja di bak 😀.

Sepanjang perjalanan ke Kampuung Pitu ditemani hujan. Jalan cor semen di kiri kanan (tengah tetap tanah) membuat penumpang bergoyang. Dua pemandu menemani di truk kami, kami sesekali bertanya tentang geosite Nglanggeran ini.
Pemandangan di tengah perjalanan.
Sebelum berangkat, para supir dan pemandu saling mengingatkan untuk jaga jarak. Selain itu meminta penumpang untuk geser ke belakang (mepet dengan pintu bak) ketika jalan naik terjal, maksudnya agar kendaraan tetap seimbang dengan adanya beban dekat ban. Salah satu manfaat lain agar ban tidak mengalami slip.

Di tengah perjalanan, beberapa kali rombongan berhenti. Truk kami paling belakang sehingga tidak tahu apa yang terjadi di depan. Sekali rombongan berhenti memberi kesempatan kepada kami mengabadikan pemandangan alam sekitar. Sayang sekali, karena hujan pemandangan tidak menarik untuk dipotret (meskipun aku tetap motret sebagai bukti 😀).
Pos terakhir di Kampung Pitu.
Sampai di Kampung Pitu, istirahat sejenak di rumah Mbah Rejodimulyo, rombongan disuguhi makanan khas ndeso: jadah thiwul, kacang godhog, pisang godhog, pisang mas, dan telo godhog.

Aku duduk di dalam rumah mendengarkan pemaparan tuan rumah sambil menikmati teh hangat dan jadah thiwul. Kacang godhognya juga enak, tapi pisang godhog keburu diangkut ke teras... sepertinya rombongan yang berada di luar kelaparan... ekekekk.
Jadah Thiwul.
Naik ke Gunung Wayang
Berburu waktu agar tidak kemalaman, rombongan "memaksakan diri" naik meskipun masih hujan. Berangkat jam 16.04 WIB dengan jalanan becek oleh hujan. Tak seberapa jauh terlihat loket masuk wisata.
Naik ke Gunung Wayang,
Harga tiket masuk Kampung Pitu:
- wisatawan domestik: Rp. 15.000
- wisatawan asing: Rp. 30.000

Harga tiket tersebut berlaku siang dan malam. Karena kami dari rombongan Dispar, maka tidak dikenakan tiket masuk (sudah borongan di depan). Sebelum sampai loket ini, terlihat di sisi kanan 2-3 toilet umum baru dalam proses pembangunan.
Penunjuk arah.
Jika tanpa pemandu, jangan khawatir kesasar karena di sepanjang perjalanan sudah dipasang penunjuk jalan. Hanya 4 menit kami berjalan sudah sampai di Gunung Wayang. Kami banyak mengambil gambar di Gunung Wayang, meskipun hujan dan sesekali angin tertiup agak kencang, sehingga payung yang dibawa hampir hilang terbawa angin.

Bergegas ke Puncak Watu Bantal
Cuaca kurang bersahabat di Gunung Wayang, pemandu mengajak kami bergegas ke Puncak Watu Bantal. Jalan setapak tetap becek, tampak beberapa ruas baru saja dilewati motor.

Menuju Puncak Watu Bantal.
Puncak Watu Bantal berada di sisi selatan atau puncak selatan. Ciri khasnya adalah di sini terdapat sebuah gazebo untuk beristirahat. Tempatnya lebih luas daripada Gunung Wayang, menurutku wilayah tanahnya juga lebih banyak; karena di Gunung Wayang adalah gunung bebatuan.
Penunjuk arah Puncak Watu Bantal.
Jadi, ketika di Puncak Watu Bantal wisatawan bisa melihat hamparan Gunung Sewu. Terus terang aku agak bingung dengan mata angin dan lokasi koordinat di sini. Sinyal operator telekomunikasi seluler bisa diterima, tapi internet kagak 😀.

A photo posted by Lek Man (@metuomah) on

Dari Puncak Watu Bantal ini pula, wisatawan bisa melihat Embung Nglanggeran dari kejauhan. Andaikan mau, kita juga bisa turun ke Embung Nglanggeran, tapi kemarin bukan waktu yang cocok untuk melakukan tracking. Dan pastinya untuk turun ke embung butuh pemandu, karena sama sekali belum mengenal medan.

Foto bersama sebelum turun.
Foto bersama sebelum turun.
Kembali ke Gunung Wayang
Waktu semakin sore, rombongan bergegas pulang menuju Kampung Pitu melalui rute yang sama. Beginilah kira-kira jalan pulang dari Puncak Watu Bantal, terjal berbatu. Perlu kehati-hatian untuk turun, jangan sampai terpeleset dan jatuh.
Antri turun satu per satu.
Hujan sudah reda dan kami melewati Gunung Wayang lagi. Sebagian rombongan tergoda naik ke puncaknya kembali karena sunset terlihat indah! 😁 Aku yang melihat cahaya merah menghiasi Gunung Merapi di kejauhan pun turut serta naik kembali,,, hehehe..
Naik ke Gunung Wayang.
Tidak sia-sia naik lagi ke Gunung Wayang, keindahan langit sore terlihat jelas. Sepatu basah dan kotor menemani langkah kami tak menjadi kendala, jika menggunakan sandal malah merasa salah kostum. Benar-benar puas hingga pemandu mengingatkan kendali untuk segera turun, karena jika kemalaman jalanan sangat gelap.
A photo posted by Lek Man (@metuomah) on
Setelah turun dari Gunung Wayang rombongan langsung menuju kendaraan yang telah menunggu di Kampung Pitu. Hampir sama dengan saat berangkat, rombongan berhenti dua kali untuk mengabadikan pemandangan sekeliling yang indah, salah satunya dengan latar belakang gunung yang kita daki tadi [lihat di https://www.instagram.com/p/BPvrzaCAyhF/].

Langsung ke Embung Nglanggeran
Sampai di parkiran pendopo Nglanggeran, kami turun dari kendaraan bak terbuka untuk foto bersama sebelum berpisah. Perpisahan hanya bagi rombongan dinas provinsi dan kabupaten, sedangkan kami yang rombongan naik bis diajak pemandu ke embung! 😀.
Embung Nglanggeran.
Jalan masuk lokasi Embung Nglanggeran mudah dilihat, karena gapura ke lokasi berlogo Pertamina. Letaknya sekitar 1,5 km selatan pendopo Nglanggeran. Masih sama, jalan cor semen di kiri - kanan tanpa tanjakan ekstrim seperti ketika naik ke Kampung Pitu.

Adzan Maghrib sayup-sayup terdengar ketika kami sampai di embung. Aku hanya memotret di sekeliling, terlihat gunung yang tadi kami singgahi. Ternyata tinggi juga ya 😀. Matahari sudah terbenam, hasil pemotretan pun tidak bagus karena pencahayaan kurang. Ada spot bagus untuk memotret, letaknya di gazebo di (mungkin) timur embung. Karena hari sudah gelap dan belum pernah ke sini, aku tidak ke sana 😃.

Ada yang belum tahu embung? Embung itu waduk kecil, jika waduk harus membebaskan tangan ribuan hektar, embung hanya puluhan hektar... bahkan bisa kurang dari 10 hektar. Biaya pembangunan dan perawatannya juga relatif lebih murah daripada waduk.

Destinasi Terakhir ke Griya Cokelat
Sebelum balik ke Jogja, 3 kendaraan bak terbuka yang membawa kami mampir ke Griya Cokelat; sentra penjualan minuman (sachet) cokelat Nglanggeran. Kami juga disuguhi secangkir kecil cokelat sebagai sampel. Kurang ya cangkirnya kecil begitu hehehe.
Pose apa ini?
Biasanya Griya Cokelat tutup jam 16.00 WIB, jika ada tamu rombongan outlet akan dibuka kembali 😀. Nyatanya rekan-rekan Masdjo banyak yang memborong cokelat.

Akhirnya kami pulang ke Jogja setelah setengah hari ngublek Nglanggeran. Aku sepakat dengan yang dikatakan pemandu, mengeksplorasi Geosite Nglanggeran tidak cukup hanya sehari, paling tidak minimal 3 hari. Mungkin di lain waktu aku mendapat kesempatan mengeksplorasi kembali Geosite Nglanggeran.

Minggu, 29 Januari 2017

0

UberMOTOR Kini Melenggang di Yogyakarta

Mulai 9 Desember 2006 lalu UberMOTOR resmi beroperasi di Yogyakarta, menambah alternatif penggunaan mobile app untuk mendapatkan moda transportasi roda dua yang transparan, cepat, dan aman. Pertama kali tahu UberMOTOR hadir merambah Yogyakarta dari iklan di Instagram, yang menurutku kece banget.
Gathering Uber di Agenda Resto & Vibes.

Lebih dari sebulan beroperasi, aku baru dapat informasi lengkap Uber saat hadir di acara gathering Blogger dan Instagramer di Agenda Resto & Vibes, roof top Greenhost Hotel Jalan Prawirotawan Yogyakarta, Kamis 26 Januari 2017 lalu. Lead Marketing manager Uber Indonesia; Gia Adhika hadir langsung ke Yogyakarta untuk bertemu para Blogger dan Instagramer.
Gia Adhika.

Uber adalah perusahaan rintisan teknologi terbesar dari Amerika yang menghubungkan pengemudi dengan pengendara. Perusahaan ini menghebohkan dunia karena ide keren dan model bisnis yang belum banyak dilirik orang lain.

Layanan Uber yang bisa dinikmati di Indonesia adalah UberX, UberXL, UberPool, UberBlack, UberTrip, dan UberMOTOR. Yogyakarta adalah kota kelima yang bisa menggunakan aplikasi UberMOTOR. Kota-kota tersebut adalah Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta & Bali. Memang sih, baru bisa UberMOTOR tapi tidak menutup kemungkinan layanan lain akan menyusul.

Apasih keunggulan UberMOTOR dibandingkan yang lain?
  • Biaya sekali jalan Rp. 5.000
  • Biaya per kilometer adalah Rp. 1.800.
  • Identitas pengemudi dan motor tercantum di layar aplikasi.
  • Bayar cash atau deposit.
  • Asuransi sejak mulai perjalanan hingga selesai perjalanan.
  • Transparansi estimasi biaya perjalanan.
  • Selama perjalanan akan muncul di GPS.
  • Bisa berbagi status atau pesan via media sosial kepada keluarga, ketika menggunakan layanan Uber.
  • Lapor dan bantuan via aplikasi 24 jam dalam 7 hari.
Aku sudah install aplikasi Uber di Android sejak awal Januari 2017 lalu, baru sempat otak-atik tapi belum pernah mbonceng UberMOTOR. Biasanya aku menggunakan layanan aplikasi transportasi ketika mau mengakses ke 2 stasiun di Jogja, karena tidak bisa dijangkau dengan transportasi umum masal.

Kamu bisa loh masukin kode p77n5. Lumayan dapat deposit 25.000 tiap 3x naik Uber 😁.

Sepulang dari acara gathering, kami berempat (yang mengaku blogger) sengaja nemenin Vika di depan Greenhost Hotel, menunggu jemputan rider UberMOTOR. Gadis rajin ini memang pengguna setia angkutan transportasi umum.
Susah banget dapat pose senyum gini.
Kira-kira 8 menit kemudian riderMOTOR datang menjemput. Vika beruntung, dapat rider dengan motor dan helm baru, ditemenin para cowok ganteng, difotoin pula.
Lihat kamera... jepret.
Di sebelahnya juga ada mas UberMOTOR nunggu calon penumpang dari hotel, orangnya nggak keluar-keluar... keduluan Vika deh. Next time kutulis perjalananku bersama UberMOTOR, oke 😊.

Kamu bisa menikmati perjalanan dengan UberMOTOR di https://get.uber.com/
atau mendaftar sebagai partner Uber dengan menjadi rider di https://www.uber.com/signup/drive/.

Kamis, 19 Januari 2017

1

Mencoba Paket Udang Goreng di Sambel Layah Semarang

Saya melanjutkan perjalanan dari Salatiga menuju Semarang dengan tujuan akhir Stasiun Kedungjati. Bagi yang belum tahu, ada jalan alternatif menghubungkan Salatiga – Kedungjati via Tuntang dan Getas. Sebelum era kendaraan pribadi, bus mini sempat jaya melayani rute Salatiga – Kedungjati – Semarang. Saya tidak tahu kondisi sekarang, apakah masih ada bus yang melayani rute tersebut.


Seperti biasa perjalanan saya lalui dengan transportasi umum, sampai di Semarang saya tidak langsung menuju Kedungjati, tapi saya manfaatkan jalan-jalan dulu. Terlebih jadwal kereta Semarang – Solo tidak akan terkejar, paling tidak harus menginap semalam di Semarang. Kebetulan ada tempat menumpang tidur di pinggiran kota Semarang, hehehe.

Hari Ahad jalanan Semarang relatif sepi, saya menyempatkan diri berjalan kaki di Jalan Pandanaran.. tepatnya di sekitar pusat oleh-oleh. Terlihat para pelancong menyerbu toko oleh-oleh, yang dibeli kebanyakan bandeng Juwana. Dari namanya saja kita tahu asal daerahnya, bukan oleh-oleh asli Semarang. Lalu saya? Hmmm... hanya melihat saja, sama sekali tidak beli karena kantong tipis hehehe..

Hujan mulai turun, saya berteduh di lobby hotel dengan nama yang sama. Setelah hujan mereda, sayapun bergegas menuju ke Penggaron. Daerah ini dikenal karena terminal Semarang Timur ada di sini. Terminal ini adalah pemberhentian terakhir bus antar kota jurusan Semarang ke Purwodadi, Blora, Juwangi, dan Kedungjati. Bus-bus tersebut memang dilarang masuk Terminal Induk Terboyo. Dari Terminal Penggaron warga bisa meneruskan perjalanan ke pusat kota dengan bus BRT yang melayani trayek Penggaron – Mangkang, beberapa angkutan mini, bus mini jurusan Terboyo, serta jurusan Pudak Payung yang jarang sekali terlihat.


Sepanjang perjalanan saya juga mencari warung makan murah sesuai isi kantong. Hingga sampai daerah Pedurungan tidak ketemu, padahal perut sudah melilit. Sampai akhirnya ketemu Sambel Layah di daerah Plamongan, Penggaron. Tepatnya di Jalan Brigjen Sudiarto (Majapahit) km 10 no 46. Letaknya di utara jalan, atau sisi kiri dari arah Semarang. Tidak ada halte BRT di dekat warung ini, halte terdekat berjarak 400 meter. Jadi jika menggunakan transportasi umum ke sini, bisa naik angkutan mini atau bus mini.
Sambel Layah Semarang 1.

Sambal Layah berdiri di atas bangunan 2 lantai, lantai atas dibuat bukan permanen dan hanya separuh ruangan. Parkir lumayan luas, cukup untuk beberapa mobil. Ada wastafel dan toilet yang lumayan bersih. Setelah melihat sekeliling, saya pilih duduk di lantai dasar saja, malas naik ke lantai atas.
Menu Sambel Layah.

Karena sudah pernah merasakan lele terbang, saya memesan menu paket nasi udang goreng dengan minuman teh hangat. Boleh lho mengganti paket es teh dengan teh hangat, tapi porsinya diganti gelas kecil. Saya agak heran, kala itu sudah jam 15.00 WIB ingin pesan nasi goreng, ternyata menu tersebut belum ada dan mereka tidak mau membuatkan hmmm...
Teh hangat mereda dahaga.
Tak berapa lama pesanan pun datang, 4 udang goreng dan sepotong tempe, secobek kecil sambel, dan kubis ala kadarnya mewarnai piring anyaman.
Paket udang goreng.
Seporsi nasi segitu tentu tidak mengenyangkan, terlebih saya sempat berjalan kaki di Jalan Pandanaran. Tetap syukuri yang ada walau harganya Rp. 13.000. Yang saya suka dari Sambel Layah adalah sambelnya.

Sambel Layah Semarang 1
Jl. Brigjen Sudhiarto (Majapahit) Km. 10 No. 46, Penggaron Kidul, Pedurungan, Semarang.
Buka jam 10.00 - 21.30.

Artikel terkait:
- Pujasera Central City Mall Giant Penggaron Semarang

Kamis, 12 Januari 2017

4

Gemerlap Lampu Festival of Lights Kaliurang

Kesampaian juga kemarin melihat Festival of Lights di Gardu Pandang Turgo Kaliurang Yogyakarta. Festival of Lights (dulu sering disebut Festival Lampion) merupakan agenda tahunan yang dibuka dari awal bulan Desember – akhir Januari tahun berikutnya. Penyelenggaraan Festival of Lights kedua ini mengusung tema Dragon Castle, dimulai 8 Desember 2016 -29 Januari 2017, jadi spanduk-spanduk yang diikat di pohon berisi pengumuman event ini hanya sampai tanggal 9 Januari adalah hoax.

Tanggal 1 Januari 2017 lalu aku sempat nebeng teman dan keluarganya melihat festival ini, tapi kami kurang beruntung. Terjebak macet di Jalan Warekso Kaliurang karena ada mobil mogok dan ribuan orang turun ke jalan. Setelah diselidiki (kayak Upin dan Ipin) baru ketahuan kalau festival tutup karena genset mati.


Kecewa kan.., sudah perjalanan jauh, menghabiskan bensin, dan membayar retribusi Kaliurang tarif liburan ternyata festival tutup. Tidak hanya kami saja yang kecewa, ribuan orang yang menyemut juga kecewa. Sebagian orang mengobati kekecewaan dengan berfoto di depan patung lampu yang sengaja diletakkan di sepanjang jalan dari Gardu Pandang sampai gerbang retribusi Kaliurang. Tutupnya festival hanya diwartakan sebuah harian lokal, wartawan harian lain masih libur tahun baru 2017.


Motor tidak kuat menanjak
10 Januari 2016 aku berangkat menuju Kaliurang sekitar jam 16.40 WIB, menurut Google Map perjalanan butuh waktu kurang lebih 45 menit. Sekedar mengingatkan, aku selalu berpatokan perempatan Kentungan ring road utara sebagai titik keberangkatan jika akan bertolak ke utara (Kaliurang dan sekitarnya).
Peta wisata Kaliurang. (Klik untuk perbesar gambar)

Motor tuaku mulai terasa berat saat menanjak selepas perempatan Pakem, Kaliurang. Kemarin aku berboncengan dengan teman, duh... cuma bisa merangkak hingga akhirnya mesin mati sendiri di gerbang timur Kaliurang 😞.
Retribusi masuk wisata Kaliurang Rp. 2.000.
Kuhidupkan lagi motor dan kupaksakan merangkak dengan gigi 1 menuju Gardu Pandang Turgo. Alhamdulillah sampai juga di penitipan motor gardu pandang, samar-samar tercium bau terbakar dari motorku... mesinnya memuai kepanasan 😞..... semoga tidak apa-apa ya..
Retribusi parkir motor Festival of Lights.

Merapi tertutup kabut
Kami sampai di pintu masuk festival jam 17.27 WIB dan langsung jeprat-jepret sekeliling. Pertama kali kami bergerak ke selatan area festival, dimana sisi baratnya terdapat jurang (mungkin) Kali Boyong. Selanjutnya kami ke satu-satunya gazebo, dimana pengunjung hanya bisa melihat bukit di seberang Kali Boyong (barat), sungainya juga sama sekali tidak nampak. Sedangkan sisi selatan tertutup pepohonan liar yang rindang.

Tak lama kemudian kami ke utara dan naik ke lantai teratas gardu pandang. Di tingkat 3 inilah terlihat samar Gunung Merapi yang diapit 2 bukit bersembunyi dibalik kabut. Hatiku berbisik, “Begitu besar ciptaan Allah ini, manusia tidak ada apa-apanya.... keciiiiill sekali.” (Baca: menakutkan)
Gunung Merapi tidak terlihat di antara dua bukit.

Kami abadikan keindahan pemandangan sekitar, semburat kuning di selatan terlihat memanjang hingga bukit di sisi barat menghalanginya; tanda senja telah berganti malam.

Tempat shalat kecil dan kotor
Sayup-sayup terdengar adzan masjid yang berada jauh di bawah (selatan taman Gardu Pandang), kami berdua menuju tempat shalat (mushalla) yang sangat kecil, kotor, dan tidak terawat. Dua kran wudhu portable disediakan di sisi utara, pengunjung bergantian wudhu, sebagian wanita wudhu di toilet yang berada di selatan mushalla.

Tempat shalat hanya 3 shaf yang bisa menampung kira-kira 15 orang dengan mihrab imam. Karpet dan sajadah terlihat lusuh dan tidak layak pakai. Mihrabnya kotor tidak disapu, bahkan 1 eternitnya ambrol berlubang.
Masjid.

Benih perpecahan mulai terlihat, sebagian orang shalat sendiri menurut kepercayaan dan kecepatan masing-masing. Padahal dengan berjamaah akan mendapat pahala berlipat dan mengangkut banyak orang.
Tiket box festival of Lights.

Memotret Festival of Lights
Dengan hanya bermodal kamera gawai, aku tidak banyak berharap bisa mendapatkan hasil potret yang bagus. Di samping itu beberapa tanaman menghalangi pemotretan, sehingga kami mengabadikan sesuai keadaan.
Naga, dipotret dari gardu pandang.

Ketika malam tiba, lampu-lampu mulai menerangi Gardu Pandang Turgo. Indah dilihat tapi susah jika dijadikan latar belakang foto. Backlight.... jika kamu mengabadikan momenmu di malam hari, hasilnya tidak bagus karena backlight. Menggunakan cahaya tambahan seperti flash? Menurutku akan merusak kualitas foto #sotoy #pakar.
Kuda poni.

Jadi nikmati saja keindahan Festival of Lights, abadikan lampu-lampu yang menghiasinya tanpa cahaya tambahan. Menurutku bagus jika divideokan atau mengambil gambar dengan drone #sotoylagi.
Benteng Takeshi.

Terlihat beberapa lampu di Festival of Lights mati. Apakah memang sudah seharusnya diganti, konslet, atau terjamah pengunjung. Penanganan petugas agak lamban saat separuh lampu istana mati. Mungkin panitia belum menggunakan sistem kendali modern yang bisa mengetahui ada lampu yang mati. Sewaktu pulang kulihat 4 pekerja memperbaiki lampu yang mati, itupun baru di gerbang masuk... pasti kewalahan jika harus mengecek arena seluas itu.
Rumah hantu.

Aku juga tidak melihat petugas keamanan berseragam berkeliling. Menurutku itu perlu karena ada pengunjung kepergok melakukan perbuatan tak senonoh di kegelapan, ketika mau kupotret mereka sadar dan pergi 😂.
Separuh lampu istana mati.

Kami memutuskan pulang jam 20.10 WIB, meskipun belum begitu puas mengabadikan event ini. Gerimis mulai berjatuhan sedangkan kami tidak membawa payung, perut kami pun sudah melilit ingin diisi. Tampak tenda-tenda kuliner berdiri di arena, tapi kami keukeuh makan di bawah saja (Jogja). Biasanya harga di obyek wisata lebih mahal 😀, kami makan di Penyetan Pak Bro Jalan Kaliurang km 7.
Ada penampakan.

Perjalanan pulang cukup mencekam
Alhamdulillah motor bisa hidup, siap digunakan untuk pulang 😊. Sebagian vila Kaliurang gelap gulita tak berpenghuni dan terlihat angker. Jalanan pulang ke Jogja sepi senyap, di beberapa ruas jalan gelap gulita tanpa penerangan. Bagiku suasananya cukup mencekam, lampu motor tua tidaklah seterang motor sekarang.... hidupnya lampu motor sekedar formalitas saja. Ingin ngebut tidak berani karena jalanan gelap dan aku tidak hafal jalan 😀 .
Bianglala tak berputar dan T-Rex.

Suasana lebih hidup ketika kami sudah sampai Pakem, meskipun sudah terlihat sepi, tapi setidaknya ada Rumah Sakit Jiwa dan minimarket di daerah ini. Kehidupan nyata mulai terlihat di sekitar Universitas Islam Indonesia di Jalan Kaliurang km 14,4. Terima kasih UII, kamu telah memberi pencerahan di daerah ini, tanpamu daerah ini tetap sepi jauh dari hiruk pikuk mahasiswa.

Kaliurang ramai dikunjungi wisatawan saat liburan atau akhir pekan. Hari-hari biasa terlihat seperti desa pada umumnya. Kaliurang adalah daerah terakhir di utara Jogja, tidak ada jalan lagi ke utara, barat, maupun timur. Bisa diistilahkan jalur mati, sepertinya mustahil membuat jalan tembus ke utara mengitari Gunung Merapi, karena termasuk gunung api aktif.
Pintu masuk Festival of Lights.

Tips menyaksikan Festival of Lights
Sekedar tips dariku yang telah menyaksikan Festival of Lights 2 hari lalu. Ini pendapat pribadi loh,, boleh beda pendapat kok..
  • Pastikan daerah Kaliurang cerah, minimal tidak hujan atau berkabut. Cuaca di Jogja dengan Kaliurang berbeda, bisa saja Jogja cerah tapi sesampainya di Kaliurang turun hujan.
  • Bawa jaket jika tidak kuat dingin.
  • Bawa tikar, makanan dan minuman dari rumah; siapa tahu kamu ingin makan dan merebahkan diri bersama keluarga.
  • Bawa payung atau jas hujan ke lokasi, mengantisipasi datangnya hujan. Hanya ada 1 terpal besar setelah pintu masuk bisa menjadi tempat berteduh tanpa kursi.
  • Datang sebelum gelap, kalau memungkinkan sudah berada di Gardu Pandang Turgo jam 17.00 WIB saat pintu masuk festival baru dibuka. Kamu bisa mendapatkan hasil foto lebih menarik tanpa lampu tambahan.
  • Datang lebih awal untuk meminimalkan "kebocoran" foto, karena semakin malam arena festival semakin ramai.
Biaya menyaksikan Festival of Lights:
  • BBM dan kendaraan pribadi, tidak ada angkutan umum massal.
  • Retribusi obyek wisata Kaliurang (sudah disebut di atas). Hari libur dan weekend lebih mahal.
  • Parkir (sudah disebut di atas)
Jika tidak ada festival.

Tiket masuk Festival of Lights:
Hari biasa: Rp. 15.000
Hari libur dan Jum'at - Ahad: Rp. 20.000

Terima kasih kepada Dinas Pariwisata Sleman, DIY yang telah memberikan free entrance kepada kami. Semoga kerjasama kita tetap berlanjut.

Ohiya, ada video amatiran sih.. tapi belum sempat kuedit 😃

    Senin, 09 Januari 2017

    0

    Percuma Kalau ke Pasar Malam Hanya Sendirian

    Hari terakhir Pasar Malam Yogyakarta lumayan ramai, tidak rugi bela-belain datang ke sini. Rencana pergi ke Pasar Malam sejak akhir Desember 2016 sih, tapi terkendala hujan di sore hari. Pasar Malam Yogyakarta ini dipusatkan di lahan kosong sebuah rumah makan cepat saji impor di Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, dan berlangsung dari 18 Desember 2016 - 7 Januari 2017.
    Wahana Pasar Malam
    Ada 6 wahana di pasar malam ini, antara lain:

    1. Ontang-anting
    Wahana ini selalu ada di pasar malam, peminatnya dari anak-anak hingga dewasa. Ada yang belum tahu ontang-anting? Itu-tuh, kita duduk di kursi seperti ayunan tapi ada pegangannya di depan. Kursi ini diikat dengan tali baja atau besi ke atas lingkaran (bingung ngungkapinnya). Lalu operator akan memutar hingga kecepatan tertentu.
    Motretnya jelek banget.
    Tadi malam kulihat kecepatan putarnya sedang-sedang saja, tidak secepat di wahana Dunia Fantasi Ancol 😂. Sekarang tenaga memutar bukan manusia lagi melainkan mesin, dan harga tiketnya Rp. 10.000.

    2. Istana boneka
    Sekarang banyak tempat rekreasi memiliki istana boneka, karena fleksibel bisa digembosi dan dipindah. Pasar malam pun tak mau ketinggalan memiliki istana boneka. Tapi hanya anak-anak kurang dari 7 tahun saja yang boleh main ke sini.

    Aku tidak memotret wahana ini karena terlalu gelap, maklum cuma modal kamera gawai jadul.

    3. Trampolin
    Wahana ini cukup diminati anak-anak, aku sendiri tadi malam tidak melihat orang dewasa main trampolin. Mungkin hanya khusus untuk anak-anak?
    4. Dremolen atau Kincir Angin Bianglala
    Salah satu wahana favorit pengunjung, meskipun terlihat antri tapi tidak semua sangkar terisi. Uniknya, meskipun sudah diputar tapi jika ada pengunjung yang ingin naik maka Bianglala berhenti 😀.
    Dremolen.
    Lumayan lah Rp. 8.000 naik Dremolen sekitar 15 menit. Agak menegangkan karena beberapa kali putarannya lumayan cepat,,, hehehe..

    5. Kereta anak
    Ada 2 wahana sekaligus di Pasar Malam Yogyakarta, yang mengapit wahana bombom car (mobil senggol). Sama seperti kincir angin Bianglala, jika ada anak yang akan naik, kereta akan dihentikan operator hanya dengan menahan laju kereta dengan tangan! Sungguh ruar biasa...

    Ada sih potretnya tapi blur 😞, kamera gawai tidak bisa memotret obyek bergerak cepat. Hanya anak-anak yang diperbolehkan naik kereta ini. Orang dewasa? Nggak bakalan muat tempat duduknya wkwkwk. Naik kereta ini dikenakan tarif Rp. 8.000 per anak.

    6. Bombom car atau mobil senggol
    Favorit pengunjung, sekali naik Rp. 10.000 per mobil. Bombom car dapat diisi 2 orang; satu pengemudi, satu lagi pembuat video 😁. Bombom car di pasar malam lumayan cepat, jadi jika menyenggol atau tabrakan akan terasa sensasinya. Puas deh...
    Mobil senggol.
    Bombom car menggunakan listrik sebagai penggerak mesin. Listrik didapat dengan "menggantolkan" kawat yang terpasang di atas tiang bombom car, ke jaring kawat yang ada di atap. Operator cukup sibuk "menempelkan" kembali kawat bombom car ke jaring. Biasanya setelah terjadi senggolan kawat berubah posisi tidak menempel jaring, yang menyebabkan mobil tidak bergerak.

    7. Perahu kapal Kora-kora
    Wahana ini sangat sepi, tidak ada yang berani naik Kora-kora 😁. Butuh nyali besar dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung untuk naik wahana ini. Alhamdulillah ada juga yang berani naik, 3 perempuan dan 3 laki-laki uji nyali di sini,,, mereka tidak saling kenal loh..
    Kora-kora.
    Murah ya, cuma Rp. 8.000. Setelah kora-kora diayun, mulailah teriakan terdengar nyaring wkwkkw. 3 perempuan terlihat histeris, salah satunya malah terlihat pasrah setelah kehabisan tenaga berteriak. Setelah turun, tangannya masih gemetar parah wkwkwk.

    Di sisi seberang, lali-laki juga teriak meskipun tidak senyaring para wanita. Yang bikin terpingkal-pingkal adalah salah seorang diantaranya ngomong ke operator "Mas, uwis mas..." berkali-kali.. Dia minta Kora-kora dihentikan wkwkwk 😂.

    Perhatikan mas-mas yang ada di sebelah kiri, dia salah satu penjaga kora-kora. Dia berani duduk di ujung kora-kora, padahal diayun sampai 90°!!! Dia juga berdiri di kursi paling ujung dan meloncat turun sebelum kora-kora berhenti!! Amazing...

    8. Pasar
    Namanya juga pasar malam, pasti dilengkapi dengan penjual. Kulihat tadi malam ada penjual makanan hingga perabot rumah tangga. Aku hanya melihat penjual jagung bakar, tapi tidak melihat penjual arum manis, dimanakah dia?

    Sendirian
    Aku mengajak beberapa teman ke Pasar Malam ini, tapi mereka tidak merespon. Akhirnya hanya sendirian di sini,, duduk di kursi sambil memotret. Mau naik wahana kok rasanya hambar, tidak ada yang motret 😀, tidak ada yang diajak ngobrol, dan tidak ada teman teriak bareng 😢. Percuma datang ke Pasar Malam sendirian,, kurang seru!!

    Jam 20.50 WIB aku pulang ke rumah, melihat beberapa hasil jepretan. Banyak yang tidak layak diunggah karena hasilnya buruk. Semoga lain kali hasil potretnya lebih bagus dengan kamera bagus.

    Betewe, parkir motor Rp. 2.000 bayar di muka.