Thursday, January 12, 2017

Gemerlap Lampu Festival of Lights Kaliurang

Kesampaian juga kemarin melihat Festival of Lights di Gardu Pandang Turgo Kaliurang Yogyakarta. Festival of Lights (dulu sering disebut Festival Lampion) merupakan agenda tahunan yang dibuka dari awal bulan Desember – akhir Januari tahun berikutnya. Penyelenggaraan Festival of Lights kedua ini mengusung tema Dragon Castle, dimulai 8 Desember 2016 -29 Januari 2017, jadi spanduk-spanduk yang diikat di pohon berisi pengumuman event ini hanya sampai tanggal 9 Januari adalah hoax.

Tanggal 1 Januari 2017 lalu aku sempat nebeng teman dan keluarganya melihat festival ini, tapi kami kurang beruntung. Terjebak macet di Jalan Warekso Kaliurang karena ada mobil mogok dan ribuan orang turun ke jalan. Setelah diselidiki (kayak Upin dan Ipin) baru ketahuan kalau festival tutup karena genset mati.


Kecewa kan.., sudah perjalanan jauh, menghabiskan bensin, dan membayar retribusi Kaliurang tarif liburan ternyata festival tutup. Tidak hanya kami saja yang kecewa, ribuan orang yang menyemut juga kecewa. Sebagian orang mengobati kekecewaan dengan berfoto di depan patung lampu yang sengaja diletakkan di sepanjang jalan dari Gardu Pandang sampai gerbang retribusi Kaliurang. Tutupnya festival hanya diwartakan sebuah harian lokal, wartawan harian lain masih libur tahun baru 2017.


Motor tidak kuat menanjak
10 Januari 2016 aku berangkat menuju Kaliurang sekitar jam 16.40 WIB, menurut Google Map perjalanan butuh waktu kurang lebih 45 menit. Sekedar mengingatkan, aku selalu berpatokan perempatan Kentungan ring road utara sebagai titik keberangkatan jika akan bertolak ke utara (Kaliurang dan sekitarnya).
Peta wisata Kaliurang. (Klik untuk perbesar gambar)

Motor tuaku mulai terasa berat saat menanjak selepas perempatan Pakem, Kaliurang. Kemarin aku berboncengan dengan teman, duh... cuma bisa merangkak hingga akhirnya mesin mati sendiri di gerbang timur Kaliurang 😞.
Retribusi masuk wisata Kaliurang Rp. 2.000.
Kuhidupkan lagi motor dan kupaksakan merangkak dengan gigi 1 menuju Gardu Pandang Turgo. Alhamdulillah sampai juga di penitipan motor gardu pandang, samar-samar tercium bau terbakar dari motorku... mesinnya memuai kepanasan 😞..... semoga tidak apa-apa ya..
Retribusi parkir motor Festival of Lights.

Merapi tertutup kabut
Kami sampai di pintu masuk festival jam 17.27 WIB dan langsung jeprat-jepret sekeliling. Pertama kali kami bergerak ke selatan area festival, dimana sisi baratnya terdapat jurang (mungkin) Kali Boyong. Selanjutnya kami ke satu-satunya gazebo, dimana pengunjung hanya bisa melihat bukit di seberang Kali Boyong (barat), sungainya juga sama sekali tidak nampak. Sedangkan sisi selatan tertutup pepohonan liar yang rindang.

Tak lama kemudian kami ke utara dan naik ke lantai teratas gardu pandang. Di tingkat 3 inilah terlihat samar Gunung Merapi yang diapit 2 bukit bersembunyi dibalik kabut. Hatiku berbisik, “Begitu besar ciptaan Allah ini, manusia tidak ada apa-apanya.... keciiiiill sekali.” (Baca: menakutkan)
Gunung Merapi tidak terlihat di antara dua bukit.

Kami abadikan keindahan pemandangan sekitar, semburat kuning di selatan terlihat memanjang hingga bukit di sisi barat menghalanginya; tanda senja telah berganti malam.

Tempat shalat kecil dan kotor
Sayup-sayup terdengar adzan masjid yang berada jauh di bawah (selatan taman Gardu Pandang), kami berdua menuju tempat shalat (mushalla) yang sangat kecil, kotor, dan tidak terawat. Dua kran wudhu portable disediakan di sisi utara, pengunjung bergantian wudhu, sebagian wanita wudhu di toilet yang berada di selatan mushalla.

Tempat shalat hanya 3 shaf yang bisa menampung kira-kira 15 orang dengan mihrab imam. Karpet dan sajadah terlihat lusuh dan tidak layak pakai. Mihrabnya kotor tidak disapu, bahkan 1 eternitnya ambrol berlubang.
Masjid.

Benih perpecahan mulai terlihat, sebagian orang shalat sendiri menurut kepercayaan dan kecepatan masing-masing. Padahal dengan berjamaah akan mendapat pahala berlipat dan mengangkut banyak orang.
Tiket box festival of Lights.

Memotret Festival of Lights
Dengan hanya bermodal kamera gawai, aku tidak banyak berharap bisa mendapatkan hasil potret yang bagus. Di samping itu beberapa tanaman menghalangi pemotretan, sehingga kami mengabadikan sesuai keadaan.
Naga, dipotret dari gardu pandang.

Ketika malam tiba, lampu-lampu mulai menerangi Gardu Pandang Turgo. Indah dilihat tapi susah jika dijadikan latar belakang foto. Backlight.... jika kamu mengabadikan momenmu di malam hari, hasilnya tidak bagus karena backlight. Menggunakan cahaya tambahan seperti flash? Menurutku akan merusak kualitas foto #sotoy #pakar.
Kuda poni.

Jadi nikmati saja keindahan Festival of Lights, abadikan lampu-lampu yang menghiasinya tanpa cahaya tambahan. Menurutku bagus jika divideokan atau mengambil gambar dengan drone #sotoylagi.
Benteng Takeshi.

Terlihat beberapa lampu di Festival of Lights mati. Apakah memang sudah seharusnya diganti, konslet, atau terjamah pengunjung. Penanganan petugas agak lamban saat separuh lampu istana mati. Mungkin panitia belum menggunakan sistem kendali modern yang bisa mengetahui ada lampu yang mati. Sewaktu pulang kulihat 4 pekerja memperbaiki lampu yang mati, itupun baru di gerbang masuk... pasti kewalahan jika harus mengecek arena seluas itu.
Rumah hantu.

Aku juga tidak melihat petugas keamanan berseragam berkeliling. Menurutku itu perlu karena ada pengunjung kepergok melakukan perbuatan tak senonoh di kegelapan, ketika mau kupotret mereka sadar dan pergi 😂.
Separuh lampu istana mati.

Kami memutuskan pulang jam 20.10 WIB, meskipun belum begitu puas mengabadikan event ini. Gerimis mulai berjatuhan sedangkan kami tidak membawa payung, perut kami pun sudah melilit ingin diisi. Tampak tenda-tenda kuliner berdiri di arena, tapi kami keukeuh makan di bawah saja (Jogja). Biasanya harga di obyek wisata lebih mahal 😀, kami makan di Penyetan Pak Bro Jalan Kaliurang km 7.
Ada penampakan.

Perjalanan pulang cukup mencekam
Alhamdulillah motor bisa hidup, siap digunakan untuk pulang 😊. Sebagian vila Kaliurang gelap gulita tak berpenghuni dan terlihat angker. Jalanan pulang ke Jogja sepi senyap, di beberapa ruas jalan gelap gulita tanpa penerangan. Bagiku suasananya cukup mencekam, lampu motor tua tidaklah seterang motor sekarang.... hidupnya lampu motor sekedar formalitas saja. Ingin ngebut tidak berani karena jalanan gelap dan aku tidak hafal jalan 😀 .
Bianglala tak berputar dan T-Rex.

Suasana lebih hidup ketika kami sudah sampai Pakem, meskipun sudah terlihat sepi, tapi setidaknya ada Rumah Sakit Jiwa dan minimarket di daerah ini. Kehidupan nyata mulai terlihat di sekitar Universitas Islam Indonesia di Jalan Kaliurang km 14,4. Terima kasih UII, kamu telah memberi pencerahan di daerah ini, tanpamu daerah ini tetap sepi jauh dari hiruk pikuk mahasiswa.

Kaliurang ramai dikunjungi wisatawan saat liburan atau akhir pekan. Hari-hari biasa terlihat seperti desa pada umumnya. Kaliurang adalah daerah terakhir di utara Jogja, tidak ada jalan lagi ke utara, barat, maupun timur. Bisa diistilahkan jalur mati, sepertinya mustahil membuat jalan tembus ke utara mengitari Gunung Merapi, karena termasuk gunung api aktif.
Pintu masuk Festival of Lights.

Tips menyaksikan Festival of Lights
Sekedar tips dariku yang telah menyaksikan Festival of Lights 2 hari lalu. Ini pendapat pribadi loh,, boleh beda pendapat kok..
  • Pastikan daerah Kaliurang cerah, minimal tidak hujan atau berkabut. Cuaca di Jogja dengan Kaliurang berbeda, bisa saja Jogja cerah tapi sesampainya di Kaliurang turun hujan.
  • Bawa jaket jika tidak kuat dingin.
  • Bawa tikar, makanan dan minuman dari rumah; siapa tahu kamu ingin makan dan merebahkan diri bersama keluarga.
  • Bawa payung atau jas hujan ke lokasi, mengantisipasi datangnya hujan. Hanya ada 1 terpal besar setelah pintu masuk bisa menjadi tempat berteduh tanpa kursi.
  • Datang sebelum gelap, kalau memungkinkan sudah berada di Gardu Pandang Turgo jam 17.00 WIB saat pintu masuk festival baru dibuka. Kamu bisa mendapatkan hasil foto lebih menarik tanpa lampu tambahan.
  • Datang lebih awal untuk meminimalkan "kebocoran" foto, karena semakin malam arena festival semakin ramai.
Biaya menyaksikan Festival of Lights:
  • BBM dan kendaraan pribadi, tidak ada angkutan umum massal.
  • Retribusi obyek wisata Kaliurang (sudah disebut di atas). Hari libur dan weekend lebih mahal.
  • Parkir (sudah disebut di atas)
Jika tidak ada festival.

Tiket masuk Festival of Lights:
Hari biasa: Rp. 15.000
Hari libur dan Jum'at - Ahad: Rp. 20.000

Terima kasih kepada Dinas Pariwisata Sleman, DIY yang telah memberikan free entrance kepada kami. Semoga kerjasama kita tetap berlanjut.

Ohiya, ada video amatiran sih.. tapi belum sempat kuedit 😃

    2 comments:

    1. masyaAllaah...
      ulasannya kereeeen mas...

      banyak harapan bisa bermanfaat untuk semua

      salam kenal joe...

      ReplyDelete
      Replies
      1. Alhamdulillah bisa bermanfaat.

        Salam kenal juga ��

        Delete