Untuk pertama kalinya aku mendaki dan sampai ke puncak gunung. Bersama teman-teman Masdjo (Masyarakat Digital Jogja) kami diajak Dinas Pariwisata DIY mengeksplorasi Geosite Nganggeran di Kabupaten Gunungkidul DIY. Gunung yang kutaklukkan adalah Gunung Wayang atau dikenal juga dengan sebutan Gunung Nglanggeran.
Salah satu sudut dari atas Puncak Watu Bantal.

Gunung Wayang berada di 700 mdpl (700 meter di atas permukaan laut), tidak terlalu tinggi ya 😀, tapi ketika sampai puncak rasanya luar biasa. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke puncak kira-kira 45 menit 😁. Ikuti kisah keseluruhan perjalanan kami berikut ini.

Meeting Point di Dinas Pariwisata DIY
Undangan yang tertulis untuk hadir di Dinas Pariwisaata DIY jam 11.00 WIB, tapi karena listrik padam acara dengan agenda pertama ramah tamah baru dimulai 11.35 WIB, dipimpin Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY, Arya Nugrahadi, sekaligus memberikan sedikit pemaparan mengenai Geosite Nglanggeran.

Ramah tamah dan briefing.
Usai perkenalan para peserta eksplorasi Geosite Nglanggeran, kami menyepakati hashtag (tagar) yang akan digunakan selama mengeksplor Geosite Nglanggeran adalah #GeositeNglanggeran.

Berangkat ke Nglangggeran
Sebanyak 20 peserta menggunakan bus medium menuju Nglanggeran, sedangkan rombongan Dispar DIY menggunakan kendaraan 1500 cc plat merah. Jarak tempuh yang sebenarnya pendek, menjadi lebih lama dari semestinya karena jalanan siang itu padat merayap.
Berangkat ke Nglanggeran.
Kami berangkat dari kantor Dispar DIY di Jalan Malioboro Yogyakarta jam 12.10 WIB dan sampai di TKP jam 13.21 WIB. Turun di tempat parkir, sebagian muslim melaksanakan shalat Dhuhur di mushalla terdekat. Mushalla ini tidak menyediakan toilet sehingga beberapa wanita wudhu di toilet warga sekitar mushalla. Aku juga pergi ke toilet warga, kebetulan toilet yang kupakai pintu bawahnya sliwir-sliwir 😄.
Peta perjalanan dari Dispar DIY ke Nglanggeran.
Setelah melaksanakan shalat, kami bergerak ke Pendopo Nglanggeran untuk melaksanakan makan siang 😂. Berhubung separuh peserta terlambat, maka tidak bisa mengabadikan makanan-makanan yang disajikan.

Trancam ayam kampung oseng tempe.
Menu dari ingkung Ayam Kampung, oseng tempe, trancam, sambal, dan kerupuk. Buah sebagai pembuka makan besar adalah Pisang Mas. Tapi sayang hanya menyediakan minuman teh, air putih malah tidak ada. Yang kuambil adalah nasi gurih, atau orang barat menyebutnya nasi uduk.

Dari Nglanggeran ke Kampung Pitu
Kampung Pitu adalah sebutan legendaris dari Padukuhan Tlogo, Desa Ngalanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul DIY. Dari sana kemudian naik ke Gunung Wayang.
Loket Ekowisata Nglanggeran.

Sebelum itu, mari kita ke toilet lagi 😁, letak toilet tepat di sebelah loket masuk Ekowisata Nglanggeran. Bahasa harga tiket di artikel mendatang karena kami tidak masuk obyek wisata ini.

Toilet dan pusat informasi.
Toiletnya lumayan bersih, kakusnya ada yang jongkok dan duduk. Toilet laki-laki di sebelah kiri, sedangkan perempuan di sebelah kanan... tapi jalan masuknya tetap satu.

Kaget juga waktu diberi tahu angkutan yang digunakan adalah Pajero (Panas Njobo Njero). Surprise banget wkwkwk, ternyata yang datang adalah 2 Mitsubishi L300 dan 1 Mitsubishi 100ps 😀. Keren nggak tuh, dan atapnya adalah terpal plastik.
Antri masuk angkutan.
Aku pilih naik truk, memisahkan diri dari para wanita. Kukira dengan naik truk bisa berdiri tegak, eh... karena ada terpal jadi tidak bisa berdiri. Ini benar-benar truk bak terbuka, tempat duduk pun nggak ada, kami jongkok saja di bak 😀.

Sepanjang perjalanan ke Kampuung Pitu ditemani hujan. Jalan cor semen di kiri kanan (tengah tetap tanah) membuat penumpang bergoyang. Dua pemandu menemani di truk kami, kami sesekali bertanya tentang geosite Nglanggeran ini.
Pemandangan di tengah perjalanan.
Sebelum berangkat, para supir dan pemandu saling mengingatkan untuk jaga jarak. Selain itu meminta penumpang untuk geser ke belakang (mepet dengan pintu bak) ketika jalan naik terjal, maksudnya agar kendaraan tetap seimbang dengan adanya beban dekat ban. Salah satu manfaat lain agar ban tidak mengalami slip.

Di tengah perjalanan, beberapa kali rombongan berhenti. Truk kami paling belakang sehingga tidak tahu apa yang terjadi di depan. Sekali rombongan berhenti memberi kesempatan kepada kami mengabadikan pemandangan alam sekitar. Sayang sekali, karena hujan pemandangan tidak menarik untuk dipotret (meskipun aku tetap motret sebagai bukti 😀).
Pos terakhir di Kampung Pitu.
Sampai di Kampung Pitu, istirahat sejenak di rumah Mbah Rejodimulyo, rombongan disuguhi makanan khas ndeso: jadah thiwul, kacang godhog, pisang godhog, pisang mas, dan telo godhog.

Aku duduk di dalam rumah mendengarkan pemaparan tuan rumah sambil menikmati teh hangat dan jadah thiwul. Kacang godhognya juga enak, tapi pisang godhog keburu diangkut ke teras... sepertinya rombongan yang berada di luar kelaparan... ekekekk.
Jadah Thiwul.
Naik ke Gunung Wayang
Berburu waktu agar tidak kemalaman, rombongan "memaksakan diri" naik meskipun masih hujan. Berangkat jam 16.04 WIB dengan jalanan becek oleh hujan. Tak seberapa jauh terlihat loket masuk wisata.
Naik ke Gunung Wayang,
Harga tiket masuk Kampung Pitu:
- wisatawan domestik: Rp. 15.000
- wisatawan asing: Rp. 30.000

Harga tiket tersebut berlaku siang dan malam. Karena kami dari rombongan Dispar, maka tidak dikenakan tiket masuk (sudah borongan di depan). Sebelum sampai loket ini, terlihat di sisi kanan 2-3 toilet umum baru dalam proses pembangunan.
Penunjuk arah.
Jika tanpa pemandu, jangan khawatir kesasar karena di sepanjang perjalanan sudah dipasang penunjuk jalan. Hanya 4 menit kami berjalan sudah sampai di Gunung Wayang. Kami banyak mengambil gambar di Gunung Wayang, meskipun hujan dan sesekali angin tertiup agak kencang, sehingga payung yang dibawa hampir hilang terbawa angin.

Bergegas ke Puncak Watu Bantal
Cuaca kurang bersahabat di Gunung Wayang, pemandu mengajak kami bergegas ke Puncak Watu Bantal. Jalan setapak tetap becek, tampak beberapa ruas baru saja dilewati motor.

Menuju Puncak Watu Bantal.
Puncak Watu Bantal berada di sisi selatan atau puncak selatan. Ciri khasnya adalah di sini terdapat sebuah gazebo untuk beristirahat. Tempatnya lebih luas daripada Gunung Wayang, menurutku wilayah tanahnya juga lebih banyak; karena di Gunung Wayang adalah gunung bebatuan.
Penunjuk arah Puncak Watu Bantal.
Jadi, ketika di Puncak Watu Bantal wisatawan bisa melihat hamparan Gunung Sewu. Terus terang aku agak bingung dengan mata angin dan lokasi koordinat di sini. Sinyal operator telekomunikasi seluler bisa diterima, tapi internet kagak 😀.

A photo posted by Lek Man (@metuomah) on

Dari Puncak Watu Bantal ini pula, wisatawan bisa melihat Embung Nglanggeran dari kejauhan. Andaikan mau, kita juga bisa turun ke Embung Nglanggeran, tapi kemarin bukan waktu yang cocok untuk melakukan tracking. Dan pastinya untuk turun ke embung butuh pemandu, karena sama sekali belum mengenal medan.

Foto bersama sebelum turun.
Foto bersama sebelum turun.
Kembali ke Gunung Wayang
Waktu semakin sore, rombongan bergegas pulang menuju Kampung Pitu melalui rute yang sama. Beginilah kira-kira jalan pulang dari Puncak Watu Bantal, terjal berbatu. Perlu kehati-hatian untuk turun, jangan sampai terpeleset dan jatuh.
Antri turun satu per satu.
Hujan sudah reda dan kami melewati Gunung Wayang lagi. Sebagian rombongan tergoda naik ke puncaknya kembali karena sunset terlihat indah! 😁 Aku yang melihat cahaya merah menghiasi Gunung Merapi di kejauhan pun turut serta naik kembali,,, hehehe..
Naik ke Gunung Wayang.
Tidak sia-sia naik lagi ke Gunung Wayang, keindahan langit sore terlihat jelas. Sepatu basah dan kotor menemani langkah kami tak menjadi kendala, jika menggunakan sandal malah merasa salah kostum. Benar-benar puas hingga pemandu mengingatkan kendali untuk segera turun, karena jika kemalaman jalanan sangat gelap.
A photo posted by Lek Man (@metuomah) on
Setelah turun dari Gunung Wayang rombongan langsung menuju kendaraan yang telah menunggu di Kampung Pitu. Hampir sama dengan saat berangkat, rombongan berhenti dua kali untuk mengabadikan pemandangan sekeliling yang indah, salah satunya dengan latar belakang gunung yang kita daki tadi [lihat di https://www.instagram.com/p/BPvrzaCAyhF/].

Langsung ke Embung Nglanggeran
Sampai di parkiran pendopo Nglanggeran, kami turun dari kendaraan bak terbuka untuk foto bersama sebelum berpisah. Perpisahan hanya bagi rombongan dinas provinsi dan kabupaten, sedangkan kami yang rombongan naik bis diajak pemandu ke embung! 😀.
Embung Nglanggeran.
Jalan masuk lokasi Embung Nglanggeran mudah dilihat, karena gapura ke lokasi berlogo Pertamina. Letaknya sekitar 1,5 km selatan pendopo Nglanggeran. Masih sama, jalan cor semen di kiri - kanan tanpa tanjakan ekstrim seperti ketika naik ke Kampung Pitu.

Adzan Maghrib sayup-sayup terdengar ketika kami sampai di embung. Aku hanya memotret di sekeliling, terlihat gunung yang tadi kami singgahi. Ternyata tinggi juga ya 😀. Matahari sudah terbenam, hasil pemotretan pun tidak bagus karena pencahayaan kurang. Ada spot bagus untuk memotret, letaknya di gazebo di (mungkin) timur embung. Karena hari sudah gelap dan belum pernah ke sini, aku tidak ke sana 😃.

Ada yang belum tahu embung? Embung itu waduk kecil, jika waduk harus membebaskan tangan ribuan hektar, embung hanya puluhan hektar... bahkan bisa kurang dari 10 hektar. Biaya pembangunan dan perawatannya juga relatif lebih murah daripada waduk.

Destinasi Terakhir ke Griya Cokelat
Sebelum balik ke Jogja, 3 kendaraan bak terbuka yang membawa kami mampir ke Griya Cokelat; sentra penjualan minuman (sachet) cokelat Nglanggeran. Kami juga disuguhi secangkir kecil cokelat sebagai sampel. Kurang ya cangkirnya kecil begitu hehehe.
Pose apa ini?
Biasanya Griya Cokelat tutup jam 16.00 WIB, jika ada tamu rombongan outlet akan dibuka kembali 😀. Nyatanya rekan-rekan Masdjo banyak yang memborong cokelat.

Akhirnya kami pulang ke Jogja setelah setengah hari ngublek Nglanggeran. Aku sepakat dengan yang dikatakan pemandu, mengeksplorasi Geosite Nglanggeran tidak cukup hanya sehari, paling tidak minimal 3 hari. Mungkin di lain waktu aku mendapat kesempatan mengeksplorasi kembali Geosite Nglanggeran.