Februari 2017 - metuomah.com

Selasa, 28 Februari 2017

0

Luapkan Semua Kenarsisan di De MATA Trick Eye Museum Jogja

Wisata kota Jogja yang dikelola swasta tidak banyak, karena lahan kota terbatas. Tapi De MATA Trick Eye 3D Museum dan De ARCA Statue Art Museum bisa menyulap bangunan yang berada di XT Square, Jalan Veteran 150 - 151 Yogyakarta menjadi museum yang ramai dikunjungi wisatawan.

Sengaja aku datang ke Museum De MATA pada hari Senin siang dengan harapan sepi pengunjung, sehingga bisa memotret tanpa antri. Memang saat ke Museum De MATA 1 hanya ada serombongan 3 orang yang lagi foto, semakin sore semakin ramai. Di Museum De Mata 2 wisatawan lebih banyak lagi, yang mengharuskan antri untuk narsis dan dipotret.

Apa itu Museum De Mata dan De Mata?
De MATA adalah museum ilusi mata 3 dimensi (3D) yang ada di 2 kota, Surabaya dan Jogja. Dinding dan lantai dipasang wallpaper atau gambar sebuah bangunan aksi. Untuk menghasilkan foto yang sesuai "ilusi mata", pengunjung harus berada di posisi tertentu, demikian pula juru foto.
Dibalik layar foto 3 dimensi.

Ada 2 wahana Museum De Mata Jogja; De MATA 1 di Lantai 1 XT Square adalah museum 3D, De MATA 2 yang berada di atasnya berisi foto 3D dan 4D, ilusi cermin, dan foto kostum. Sedangkan Museum De ARCA adalah museum patung tokoh Indonesia dan luar negeri.

Lokasi Museum De MATA
XT Square mudah dicapai dengan kendaraan pribadi maupun bus trans Jogja. Halte bus Trans Jogja berada di barat XT Square, hanya 100 meter dari Museum De MATA. Jika masuk dari Jalan Veteran Jogja, museum berada di sisi kanan mesin tiket parkir otomatis.

Museum De ARCA ada di gedung paling depan, atau lantai atas gedung Blok C zona pakaian, kerajinan, dan batu akik. Sedangkan Museum De MATA berada di Gedung Umar Khayam yang ada di belakang gedung kerajinan.

Harga tiket masuk
Gratis bagi yang berulang tahun hari itu 😁. Tiket De De MATA pada Senin - Jum'at Rp. 30.000 - 40.000, sedangkan Sabtu - Ahad Rp. 50.000. Tiket De ARCA Senin - Jum'at Rp. 35.000 - 50.000, sedangkan Sabtu - Ahad Rp. 60.000.

Tersedia juga tiket terusan De MATA 1 + De MATA 2 + De ARCA Senin - Jum'at Rp. 90.000 - 100.000 dan di hari Sabtu - Ahad Rp. 120.000.

Buka setiap hari jam 10.00 - 22.00 WIB.
Harga tiket masuk museum de MATA dan de ARCA.
Ke De MATA dan DE ARCA sendirian? Siapa takut..
Sebelumnya aku pasrah hanya bisa memotret suasana museum karena datang sendiri. Sesampainya di De MATA, pengunjung yang datang sendiri mendapat fasilitas pendampingan gratis! Keren kan, jadi tak perlu galau karena tidak ada yang motretin.

Ke museum De MATA 1 dan 2
Terima kasih untuk kak Elzha yang telah berbagi gift voucher De MATA, sehingga bisa berkeliling museum sepuasnya 😃. Loket De MATA 1 dan 2 jadi satu di dekat pintu masuk. Sedikit saran dari pengalaman pribadi, jika berniat ke De MATA 1 dan 2, mendingan langsung beli tiket 2 wahana atau terusan daripada bolak-balik beli tiket di loket 😃.
Gift voucher.
Karena menggunakan gift voucher, aku ditanya atas nama siapa dan dari mana, ditanya juga apakah rombongan atau sendiri. Aku menjawab semuanya dengan jujur 😂. Setelah tiket digunting, aku menuju pintu masuk setelah mendengar namaku dipanggil 😄.

Aku ditemani mas Dimas, kru De MATA yang memberi penjelasan gambar-gambar di museum. Dia juga rela memotret berulang-ulang dan crop foto agar trik mata (efek 3D) terlihat 😊.
Khong Guan de MATA.
Supaya mendapatkan potret 3D di sudut-sudut wallpaper dan lantai sudah tertempel contoh foto, pengunjung tinggal meniru saja harus berada di mana, kalau pose sih,,, suka-suka pengunjung 😅.

Beberapa petunjuk di lantai meminta pengunjung untuk melepaskan alas kaki jika akan pose. Ketika aku akan melepas sepatu, mas Dimas mencegah 😀, selama di De MATA aku sama sekali tidak melepas alas kaki. Jadi peraturan tersebut (mungkin) tidak berlaku lagi.
Berjalan di atas jembatan.
Semua foto dipotret Mas Dimas, beberapa zonk wkwkwk, tapi dia selalu mengarahkan agar aku berdiri di tempat yang tepat. Pun mengarahkan gaya agar aku tidak salah pose 😃.

Keluar dari De MATA wisatawan akan melewati kafetaria dan suvenir De MATA. Aku tidak sempat melirik kanan-kiri karena berburu waktu ke De MATA 2, lupa menukar semua gift voucher membuatku aku harus balik ke loket lagi 😔.
Kafetaria museum De MATA Jogja.
Setelah dari loket aku menuju ke De MATA 2 yang ada di lantai 2. Tak terasa sudah 1 jam aku berkeliling museum pertama, tinggal 1 jam lagi jatahku bermain di De MATA. Kali ini yang mendampingiku kru wanita. Aku tidak bertanya siapa namanya, males 😃.
Pintu masuk De MATA 2.
Semakin sore semakin banyak wisatawan datang. Sepertinya ada rombongan usai seminar yang mampir ke museum. Narsis tidak mengenal usia lho, sebagai wisatawan pasti ingin punya bukti pernah ke Jogja.
Antri foto.
Kali ini fotoku banyak yang zonk dan tidak diulang. Ada yang pengambilannya terlalu dekat sehingga efek 3D kurang sempurna, ada juga yang agak kabur 😋.  Hahaha,, biarlah, sudah terlanjur.

Untuk ilusi 4D menurut kru lebih baik menggunakan video dengan durasi 10 detik. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan, lokasi di bus laut terlalu gelap untuk gawaiku, hasil videonya gelap hehehe.
Tubing di De MATA.

Wisatawan bisa mendapatkan paket foto kostum di De MATA 2, wisatawan bisa menyewa kostum untuk foto sudah termasuk 3 kali foto dan 1 kali cetak ukuran 6R plus 1 CD. 3 paket foto yang ditawarkan adalah paket foto kostum, paket foto wahana De MATA 2, dan paket foto greenscreen yang latar belakangnya bisa diubah sesuai dengan kostum yang dipakai. Setahuku, harga paket mulai Rp. 75.000 per orang.

Yang paling disukai anak-anak adalah ilusi cermin, dimana cermin disusun dalam sebuah box yang akan memberikan ilusi banyak wajah saat dipotret. Ada 2 box dengan ilusi sama, dan 1 box dengan ilusi 3 lubang. Silahkan deh coba sendiri 😁.
Ilusi cermin.

Ke Museum De ARCA
Keluar De MATA, hujan deras mengguyur Jogja padahal De ARCA ada di gedung seberang. Meskipun jalan menyeberang beratap, tapi tetap basah saat naik tangga De ARCA. Sebenarnya ada ojek payung di depan De MATA, tapi aku kurang tahu apa termasuk fasilitas, karena mereka tidak menggunakan seragam kru museum.

Di De ARCA aku juga didampingi kru wanita. Di sini terdapat patung tokoh nasional, tokoh dunia, dan superhero. Aku cuma tersenyum kecut karena beberapa patung tidak mirip, mungkin karena berhubungan dengan royalti. Konsep museum patung ini seperti museum patung lilin Madam Tussaud, tapi kurang mirip dengan aslinya 😃.
Dalam De ARCA.
Aku sempat bertanya tingkat kunjungan wisatawan pada mas Dimas. Katanya dalam sehari ada 1.000-1.500 pengunjung, saat akhir pekan dan liburan pengunjung lebih banyak lagi. Mbak kru de ARCA juga kutanya hampir serupa, kebanyakan pengunjung de ARCA adalah para orang tua. Tapi kulihat anak-anak banyak juga yang masuk De ARCA, mereka lebih suka foto bersama superhero.
Spiderman berblangkon.

Aku sempat melihat rombongan keluarga ke museum ini bersama orang tua yang sudah sepuh berkursi roda. Entah bagaimana caranya bisa menaikkan kursi roda karena tidak ada jalan khusus untuk difabel. Saat pembuatan bangunan mungkin Pemkot kurang memperhatikan, tapi kulihat ada kursi roda di pojok ruangan. Sepertinya managemen museum memfasilitasi ini.

Parkir motor hanya Rp. 2.000 flat di XT Square. Sebaiknya jangan parkir di tempat tidak resmi karena di XT Square lahan parkir sangat luas.

Tidak perlu jauh-jauh untuk foto narsis dengan latar belakang ekstrim, cukup ke museum de MATA dijamin aman 😊.

Selasa, 21 Februari 2017

0

Menyusuri Kali Opak dengan Berwisata Geo Tubing Lava Bantal

Destinasi wisata Geo Tubing Lava Bantal baru diresmikan oleh Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo M.SI. pada 18 Desember 2016 lalu. Waktu itu aku juga mendapat undangan dari Dinas Pariwisata Sleman tapi batal berangkat karena "ditahan" teman setelah mengikuti sebuah event, padahal pakaian ganti dan peralatan mandi sudah dibawa. Alhamdulillah kesampaian juga tubing di Kali Opak pada Sabtu, 18 Februari 2017.

Apa itu Geo Tubing Lava Bantal
Definisi termudah adalah menyusuri Kali (sungai) Opak dengan menggunakan ban dalam. Definisi agak serius adalah Geo dari kata geologi, tubing (tube + ing) dalam bahasa Inggris artinya menggunakan ban dalam (?), sedangkan lava bantal (pillow lava) menurut Wikipedia adalah lava yang mengandung karakteristik struktur berbentuk bantal, yang dikaitkan dengan ekstrusi lava di bawah air atau ekstrusi berhubung dengan dasar laut. Pusing ya? Sama, mending menggunakan definisi termudah di atas 😀.
Tubingers Jogja.

Wisatawan akan diajak menyusuri Kali Opak sepanjang 2 km berdurasi 1-2 jam, tergantung derasnya arus sungai.

Letak Geo Tubing Lava Bantal
Secara administratif berada di Dusun Tanjungtirto, Desa Kalitirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya mepet dengan PIAT UGM (Pusat Inovasi Agro Teknik Universitas Gadjah Mada) atau dulu dikenal dengan KP4 (Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) UGM. Koordinat -7.795727,110.465838.

Rute Menuju Geo Tubing Lava Bantal
Cukup mudah dijangkau karena sudah ada di Google Map dan Google Street View. Tinggal aktifkan saja GPS mobil atau gawai, insya Allah tidak salah alamat. Yang menjadi tujuan utama adalah kantor sekretariat yang satu kawasan dengan PIAT UGM, jika kesulitan dengan koordinat Geo Tubing Lava Bantal, atur saja GPS ke PIAT atau KP4 UGM.
Klik untuk memperbesar.

Aku start dari kebun binatang Gembira Loka, ternyata jaraknya cukup dekat; hanya sekitar 9 km. Kuingatkan sekali lagi, jangan percaya 100% dengan Google Map karena kadang menyesatkan. Coba lihat penunjuk arah yang disarankan Google di atas, malah terlalu jauh memutar di ring road.

1. Rute yang kutempuh
Aku naik motor dari Gembira Loka – Jl Kusumanegara – Jl Wonocatur -Ringroad Timur. Di ringroad timur semua kendaraan searah ke kiri, sekitar 50 meter ada portal pembatas antara motor dan kendaraan roda 4 yang terbuka. Masuk ke jalur roda 4 ambil sisi kanan, menuju tempat memutar. Setelah memutar menuju ke selatan, ambil jalan jalur lambat motor dan belok kiri ke Jl Berbah – Kalasan.

Telusuri jalan beraspal bagus tersebut, jika menemukan persimpangan jalan tetap ambil jalan aspal yang bagus atau menuju Kalasan. Hingga akhirnya ketemu penunjuk jalan banner kuning menuju Geo Tubing Lava Bantal. Aku tidak bertanya rute kepada warga sekitar, hanya mengandalkan GPS Google Map.
Penunjuk jalan menuju sekretariat Geo Tubing Lava bantal.

Pemandangan kiri kanan jalan lumayan bagus, masih terlihat kebun tebu dan persawahan. Beberapa titik jalan begitu teduh dengan rindangnya pepohonan besar. Ada yang terlupa, rute yang kutempuh akan melewati pasar Wonocatur, Paskhas,  dan kolam renang AAU. Sebelum sampai ke lokasi aku sarapan soto di Soto Bathox Pitek Jowo di Jalan Raya Berbah.

2. Dari Kalasan Jalan Jogja - Solo
Tetapkan koordinat lokasi Geo Tubing Lava Bantal atau PIAT UGM pada GPS atau peta, dari Jalan Solo – Jogja belok ke selatan hingga ketemu pertigaan pohon beringin. Di bawah pohon beringin ada segelintir orang menjajakan makanan. Terus saja (tidak belok kanan) mentok hingga menemukan penunjuk lokasi PIAT UGM dan sekretariat Geo Tubing Lava Bantal.
Penunjuk arah ke PIAT UGM dan Geo Tubing Lava Bantal.

Jika start dari Jogja, di Jalan Jogja – Solo (tepatnya sampai Kalasan) harus menemukan penggalan jalan memutar sesudah SPBU Kalasan, kemudian belok kiri ke selatan.

Waktu yang dibutuhkan menuju Geo Tubing Lava Bantal
Secara keseluruhan, dari Gembira Loka ke Geo Tubing Lava Bantal hanya butuh waktu 27 menit, 3 kali berhenti melihat GPS dan memotret penunjuk jalan. Kecepatan rata-rata 20-30 km/jam atau setara kecepatan penuh sepeda listrik. Berhenti untuk makan soto tidak dihitung ya, stopwatchnya kumatikan.

Sampai di lokasi
Sekretariat Geo Tubing Lava Bantal terletak di sisi kiri pojokan perempatan jalan setelah kantor PIAT UGM. Jangan khawatir tersesat karena ada baliho besar di perempatan di bawah pohon rindang. Setelah jeprat-jepret seperlunya, aku menuju sekretariat dan disambut oleh Mbak Kiki dan penggagas Geo Tubing Lava Bantal; Pak Sarwoto Dwi Atmojo atau lebih dikenal dengan panggilan Otto.
Sekretariat Geo Tubing Lava bantal.

Jam menunjukkan 08.40 WIB, para pemandu sudah siap ditempat. Tapi aku tidak bisa tubing sendirian karena harus berkelompok. Sedangkan 9 orang kelompokku belum sampai karena kesasar, sehingga harus dijemput paksa Mbak Kiki wkwkwk. Sambil menunggu mereka aku ngobrol banyak dengan Pak Otto tentang tubing dan pariwisata Sleman pada umumnya.

Peraturan Geo Tubing Lava Bantal
Sudah tertera di banner sekretariat, tapi ada sedikit revisi yang belum diubah yaitu umur peserta tubing minimal 10 tahun. Untuk trek biasa (normal) akan dijadikan 1 kelompok, tiap kelompok sekitar 10 orang. Wisatawan yang tidak datang bersama kelompok sebaiknya reservasi dahulu jauh hari.
Peraturan Tubing Lava Bantal.

Peralatan tubing
Sudah disediakan operator tubing, yaitu jaket pelampung, ban, helm, dan sepatu karet. Boleh juga menggunakan sepatu sendiri yang sesuai dengan olahraga air.
Jaket pelampung dan helm tubing.

Pemanasan sebelum tubing
Setelah semua perlengkapan tubing dipakai, kelompok berjumlah 10 orang menuju ke perempatan jalan untuk melakukan sedikit pemanasan. Perempatan jalan sepi kok, karena 2 arah jalan menuju sungai dan dusun. Yang benar-benar sering dilalui hanya 1 arah menuju selatan, itupun kendaraan yang lewat dalam 1 jam bisa dihitung dengan jari 😊.

Setelah pemanasan, kami foto-foto sejenak, foto pose santai dan foto bersama ban. Selanjutnya kami berjalan kaki menuju Kali Opak, tidak lupa ban dibawa sendiri. Jarak antara perempatan sekretariat dengan start tubing hanya 50 meter. Kami dilepas sendiri-sendiri oleh pemandu. Ada 3 pemandu yang menyertai kami, istilahnya ada yang menjadi pembuka jalan, ada yang bersama tubingers, dan ada yang menyisir paling belakang.
Start tubing Lava Bantal Kali Opak.

Posisi ban untuk tubing
Sewaktu meletakkan ban ke sungai, yang perlu diperhatikan adalah posisi ban. Setiap ban punya pentil dan besi yang mencuat sebagai tempat mengisi angin. Posisi pentil mengarah ke bawah, jangan mengarah ke atas karena bisa melukai badan.

Coba perhatikan gambar pertama. Ban tubing didesain memiliki 2 tali yang saling terkait silang di tengah, sehingga dapat digunakan untuk duduk di tengah ban. Di sisi luar ban terpasang 2 tali yang digunakan untuk pegangan. Setelah duduk di tengah ban, perjalanan tubing pun dimulai.

Tubing menyusuri Kali Opak
Jangan membayangkan air Kali Opak itu jernih 😁, airnya keruh coklat karena di atas (sebelum aliran sungai masuk wilayah Kalitirto) banyak warga yang masih membuang sampah di sungai. Ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola Geo Tubing Lava Bantal. Kampanye menjaga kebersihan sungai perlu ditingkatkan terutama di daerah atas sebelum area tubing. Menurut Pak Otto, sampah di sepanjang area tubing tinggal 25% dari saat pertama kali wisata ini akan dibuka.

Ini adalah pertama kalinya aku naik ban (tubing) di atas air. Awalnya agak takut karena ban berputar mengikuti aliran sungai. Maksud hati posisi badan selalu menghadap ke depan, tapi selalu saja ban berputar, kadang melaju dengan posisi badan miring, kadang membelakangi aliran sungai,,, hahaha... tapi seru deh.

Kebetulan aku bawa action cam milik kakak Riana yang tidak terpakai, dia sendiri membawa gawai yang sudah dibungkus dry bag. Saat itu sama sekali tidak terpikir untuk menyewa action cam, atau beli dry bag untuk memudahkan dokumentasi acara di air. Semoga di trip air mendatang membawa action cam sendiri.

Beberapa kali melewati arus yang lumayan deras karena ada batu besar, aliran sungai berbelok maupun ada”jeglongan”. Ini yang membuat tubing di Kali Opak menyenangkan. Pemandangan tepi sungai masih alami tidak eksotik (biasa saja). Beberapa tempat terlihat sampah menumpuk, orang yang menambang pasir, memancing, dan ada yang mandi! Wkwkwkwk. Sudah jarang kujumpai orang mandi di sungai, menurutku itu suatu keunikan di desa asalkan tidak lepas semua pakaian. Selama tubing aku tidak melihat orang membuang sampah atau mencuci pakaian.
Mandi yuk.

Lorong Syahdu
Seperempat perjalanan tubingers berhenti menepi. Pengelola Geo Tubing Lava Bantal menamakan tempat ini Lorong Syahdu; yang teduh oleh rimbun pohon bambu yang tumbuh di kiri kanan Kali Opak. Sebagian pohon tumbuh miring ke tengah sungai sehingga menyerupai terowongan bambu.

Rombongan menepi di sisi kiri (mungkin sebelah timur), salah seorang tubingers sengaja diganggu dan dijatuhkan dari ban, tubingers ini ketakutan sampai menjerit,,, hahahaha kami semua tertawa. Kenapa harus takut, padahal dia sudah memakai pelampung. Setelah jatuh ke sungai dia masih ketakutan dan memegang ban dengan erat. Salah seorang dari kami berkata, “Mbak ora usah wedhi, kowe ki wis nganggo pelampung, kaline yo cethek. Jajalen ngadek.” (Mbak tidak usah takut, kamu sudah memakai pelampung, sungainya juga dangkal, coba berdiri).

Kemudian tubingers ini mencoba berdiri, dan kami semua tertawa terpingkal-pingkal. Lorong Syahdu saat itu hanya sedalam 50 cm 😁! Iya kebetulan malam sebelumnya Jogja (terutama daerah hulu) tidak hujan, mungkin di sebagian tempat hujan tapi tidak berlangsung lama dan deras.
Sengaja diganggu.

Selanjutnya kami diminta pemandu membuat formasi melingkar di atas ban, untuk diabadikan oleh pemandu darat bagian dokumentasi. Bagian dokumentasi ini tidak ikut tubing, dan hadir di sisi kanan aliran Kali Opak. Minimal 3 titik yang menjadi tempat pengambilan potret, saat start tubing, di Lorong Syahdu, dan finish di jembatan Kali Opak.

Tubing semakin seru
Kami mulai tubing lagi, kali ini tubingers harus saling berkaitan. Kami harus saling memegang tali di sebelah atau belakang. Misalkan A, B, dan C. A harus memegang tali ban B dan B harus memegang tali ban A. Demikian juga dengan C. Karena B berada di tengah, dia harus memegang tali ban A dan C.

Sayangnya ada tubingers yang egois tidak mau terkait tali dengan lainnya, pilah-pilih hanya mau terkait dengan X, Y, atau Z, akibatnya tercecer di belakang rombongan dan beberapa kali merepotkan pemandu. Fungsi saling terkait adalah menjaga supaya tubingers tidak lepas dari rombongan karena terbawa arus sungai. Ini untuk keselamatan, kebersamaan, dan memudahkan pantauan pemandu.
Formasi lingkaran di Lorong Syahdu.

Sebelum saling terkait, aku kadang “tersesat” di tepi sungai dan terhenti oleh potongan bambu 😃. Ada juga yang berat badannya ringan sehingga lebih cepat terbawa arus meninggalkan yang lain 😄, hehehe. Pemandu harus mengejar dan membawa ke tengah sungai ketika tubingers nyangkut. Hahaha...

Tak jarang pemandu garda depan harus menarik tubingers ke jalan yang benar. Beberapa rintangan agak membahayakan keselamatan, cuma batu atau bambu sih yang kalau dilalui dengan berjalan kaki tidak masalah, tapi jika dengan ban bisa nyangkut tidak bergerak.

Kadang arus landai, tubingers bisa tidur sesaat menikmati kesunyian pejalanan. Kadang kami melewati bebatuan yang membuat arus jadi deras dan membelokkan arah kami, ini yang seru menaikkan sedikit adrenalin.

Keterkaitan kami (saling memegang tali ban) membuat posisi paling depan sering berubah, satu saat paling depan menjadi paling belakang dan kembali lagi seperti awal mula.

Harga tiket:
Lintasan normal: Rp. 50.000
Lintasan pendek: RP. 30.000

Bersambung ke Memacu Adrenalin di Lintasan Pendek Geo Tubing Lava Bantal

Minggu, 05 Februari 2017

0

Menikmati Kuliner Ingkung Kuali di Desa Wisata Kalakijo yang Asri

Ingkung Kuali, tempatnya tergolong terpencil tapi diburu pecinta kuliner. Itulah kesimpulan setelah melihat tayangannya beberapa waktu lalu di sebuah televisi swasta lokal. Orang rela jauh-jauh untuk menikmati kuliner tentu karena alasan khusus, masakan lezat dan tempat yang nyaman.

Waktu berlalu, nama Ingkung Kuali sedikit demi sedikit memudar dari ingatanku, tertimpa dengan memori baru yang arusnya demikian deras. Hingga nama Ingkung Kuali muncul kembali dalam ingatan ketika mendapat kesempatan mengunjungi Ingkung Kuali 2 Februari 2017.

Kaki terasa tak kuat menopang tubuh ini pada hari 3 tahun berdirinya Ingkung Kuali. Demam tinggi yang menyerang dari semalam membuatku tak berdaya. Tapi ini adalah amanah, tanggung jawab yang harus diemban. Apalagi hanya 4 blogger + 1 vlogger makankeliling, IG makandijogja yang diundang. Aku kudu kuat.

Rute Menuju Ingkung Kuali dari Pusat Kota Jogja
Motor menjadi pilihan utama menuju lokasi, selain lebih irit juga memungkinkan menerobos kepadatan jalanan kota Jogja. Laju motor tidak kencang, hanya 50 – 60 km/jam. Situasi lalu lintas dalam kota Jogja yang padat malah mengharuskan kecepatan lebih rendah lagi. Lepas dari kota dan masuk ringroad selatan lalu lintas mulai lancar.

Alamat Ingkung Kuali:
Desa Kalikijo, Kalakijo RT 02, Guwosari, Pajangan, Bantul DIY.

Peta Google sudah tersedia, memudahkan wisatawan yang ingin datang ke Ingkung Kuali. Di sepanjang perjalanan, penunjuk jalan tidak akan ditemui hingga memasuki daerah Jalan Pajangan.
Dari Perempatan Senopati Jogja ke Ingkung Kuali.
  1. Ambil jalan menuju Ibukota Kabupaten Bantul.
  2. Traffic light pertama sesudah gerbang Kabupaten Bantul, belok kanan.
  3. Ikuti jalan hotmix ini hingga bertemu dengan traffic light. Sepanjang jalan memang menemui beberapa percabangan, tapi jalan bercabang tersebut bukan jalan kelas 1. Di traffic light ini ambil jalan ke kanan.
  4. Terlihat penunjuk jalan menuju lokasi wisata cukup jelas, lokasi Kuliner Ingkung Kuali tinggal 1 km lagi. Dari jalan utama Bantul – Pajangan belok ke kanan sesuai petunjuk Ingkung Kuali.
Penunjuk jalan menuju Ingkung Kuali.

Beberapa kali kuhentikan motor untuk memotret penunjuk jalan dan melihat GPS, navigator di belakang koneksi internetnya lemot jadi aku harus memastikan sendiri GPS di gawaiku 😁. Perjalananku hari ini tidak dibumbui acara kesasar. Waktu yang kubutuhkan sampai ke Ingkung Kuali start dari sebuah restoran di Jalan Sultan Agung Yogyakarta sekitar 40 menit (termasuk berhenti 3x).

Hujan menghiasi wilayah Yogyakarta setiap hari, dari semalam hujan dan baru benar-benar reda ketika bel masuk anak sekolah berbunyi. Awan menutupi matahari yang malu bersinar, meneduhkan pandangan mata dan menyejukkan raga. Tak terasa sampai juga di Ingkung Kuali.

Desa Wisata Kalikijo dan Ingkung Kuali
Terkejut melihat umbul-umbul terpasang di pintu masuk gapura Ingkung Kuali, ada apa gerangan? Beberapa petugas keamanan membantu tamu menyeberang jalan menuju Ingkung Kuali. Sepanjang jalan dusun yang dicor sisi kanan dan kiri, tampak meriah dengan warna-warni umbul-umbul.
Desa wisata Kalakijo.

Waktu menunjukkan 10.40 WIB usai memarkirkan motor di tempat yang disediakan. Suasana masih sepi, hanya segelintir orang yang sibuk mempersiapkan acara. Terlihat beberapa masih menguruk tanah lapang dengan pasir agak tidak becek dan tergenang air bekas hujan. Terdengar dari kejauhan suara musik keroncong, sepertinya sedang mengecek sound system. Suara tersebut berasal dari Bamboo hall (hal bambu).
Hal bambu desa wisata Kalakijo.

Hal Bambu adalah bangunan yang struktur bangunannya dari bambu. Serba terbuka tanpa daun jendela, angin pun dengan mudahnya menyentuh lembut setiap sudut ruang. Atap gunungan dilapisi karbon transparan supaya cahaya matahari menerangi ruangan, di bawahnya baru terurai blarak sebagai atap.

Sisi utara tempat Ingkung Kuali.

Hal inilah yang membelah dua ruangan, di sisi utara adalah Ingkung Kuali, dan di sisi selatan sepertinya aula untuk tempat pertemuan. Aku kurang tahu persis, untuk bertanya sudah tidak punya daya lagi,, demam semakin tinggi.
Bangunan sisi selatan.
Dari tempat itulah aku baru tahu, Ingkung Kuali tidak hanya tempat kuliner tapi masuk dalam desa wisata Kalikijo.
Desa Wisata Kalakijo dikelola oleh PT Bintang Langit Mandiri (Hoshizora Social Enterprise), dengan 20% keuntungan untuk warga desa dan 6% untuk beasiswa pendidikan. Perusahaan ini membawahi 4 divisi
1. Ingkung Kuali Restaurant.
2. Event dan Outbound.
3. Environmental Education Center.
4. Hoshizora Tour & Travel.

Setelah memotret beberapa sudut tempat dilaksanakannya acara, kami baru mengisi buku tamu. Ah, jadi penulis pertama,,, skip saja obrolan kami dengan penerima tamu, aku tidak fokus lagi. Keterjutanku tadi akhirnya terjawab, Bupati Bantul Drs. H. Suharsono akan hadir di hal bambu Ingkung Kuali.
Bupati Bantul Drs. H. Suharsono (paling kiri) Foto Vika.
Tubuh terasa semakin berat, kurebahkan sejenak di lincak sebelah barat hall bambu; berbatasan dengan tempat outbond dan musholla. Hari semakin siang para tamu undangan berdatangan, akupun pindah ke gubuk Ingkung Kuali.
Musholla dan toilet.
Beberapa tamu bertanya padaku apakah lagi kurang sehat, dari wajah memang terlihat merah demam. Kujawab apa adanya dan alasan tetap datang, meskipun berat mengeluarkan kata-kata. Kondisi tubuh yang drop membuatku dapat wedang jahe lebih dulu 😂.
Wedang jahe Ingkung Kuali.
Menu Ingkung Kuali
Tempat yang kutempati ini gubuk memanjang dari timur ke barat. 4 meja dengan sepasang kursi bambu panjang berhadapan. Tiap kursi bisa menampung hingga 3-4 orang, atau semeja untuk 6-8 orang (tergantung besar tubuh).
Kursi dan nasi. (Foto: Vika)

Gubuk ini juga terbuat dari bambu dengan atap dari blarak. Terlihat cahaya matahari mengintip dari balik blarak-blarak tersebut. Di utara gubuk terdapat beberapa gazebo bambu yang tak sempat kudokumentasikan.

Saat menunggu teman blogger datang, meja sebelah mulai diisi berbagai menu Ingkung Kuali. Kunikmati hangatnya wedang jahe sedikit demi sedikit, mencoba meringankan demam di sekujur tubuh. Tak terasa habislah wedang di gelas, seiring berkumpulnya teman di meja sebelah.

Menu Ingkung Kuali.
Dari kiri atas ke bawah berturut-turut; nasi putih, ingkung kuali original + areh, lalapan lengkap dengan sambal, ingkung kuali rica, godhong kates, nasi gurih, dan urap.

Dinamakan Ingkung Kuali karena ketika merebus ayam kampung utuh, menggunakan kuali tanah liat di atas perapian berbahan bakar kayu. Ayam yang sudah disembelih, jeroannya dikeluarkan untuk dibersihkan. Kemudian dimasukkan kembali. Bumbu-bumbu diselipkan di dada ayam dan diikat. Barulah ingkung masuk kuali, setelah rebusan empuk jadilah ayam ingkung kuali.
Daftar menu Ingkung Kuali.
Keluar dari kuali, pengunjung bisa pilih mau dimasak ingkung rica-rica, goreng, bakar, atau tetap seperti adanya (original). Kebetulan yang dihidangkan kala itu adalah ingkung original dan ingkung rica-rica.

Kelezatan makanan yang biasa kurasakan, baru dicabut sementara hingga tidak ada yang bisa kurasakan kecuali panas dan dingin. Aku hanya bisa menatap teman yang lahap menyantap makanan, sambil merasakan desir angin yang menyisir daun pepohonan. Mungkin lain kali kita coba bersama Ingkung Kuali di tengah rindang pepohonan dan bukit di Kalakijo.

Foto lain di Instagram @metuomah:
- www.instagram.com/p/BQHONVwgVWN
- www.instagram.com/p/BQKLcqCAEjR
- www.instagram.com/p/BQPNCz2gTyL

Jam buka Ingkung Kuali: setiap hari jam 09.00 - 21.00 WIB
Kontak: 0857-0110-1122
Situs: www.ingkungkuali.com