Destinasi wisata Geo Tubing Lava Bantal baru diresmikan oleh Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo M.SI. pada 18 Desember 2016 lalu. Waktu itu aku juga mendapat undangan dari Dinas Pariwisata Sleman tapi batal berangkat karena "ditahan" teman setelah mengikuti sebuah event, padahal pakaian ganti dan peralatan mandi sudah dibawa. Alhamdulillah kesampaian juga tubing di Kali Opak pada Sabtu, 18 Februari 2017.

Apa itu Geo Tubing Lava Bantal
Definisi termudah adalah menyusuri Kali (sungai) Opak dengan menggunakan ban dalam. Definisi agak serius adalah Geo dari kata geologi, tubing (tube + ing) dalam bahasa Inggris artinya menggunakan ban dalam (?), sedangkan lava bantal (pillow lava) menurut Wikipedia adalah lava yang mengandung karakteristik struktur berbentuk bantal, yang dikaitkan dengan ekstrusi lava di bawah air atau ekstrusi berhubung dengan dasar laut. Pusing ya? Sama, mending menggunakan definisi termudah di atas 😀.
Tubingers Jogja.

Wisatawan akan diajak menyusuri Kali Opak sepanjang 2 km berdurasi 1-2 jam, tergantung derasnya arus sungai.

Letak Geo Tubing Lava Bantal
Secara administratif berada di Dusun Tanjungtirto, Desa Kalitirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya mepet dengan PIAT UGM (Pusat Inovasi Agro Teknik Universitas Gadjah Mada) atau dulu dikenal dengan KP4 (Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) UGM. Koordinat -7.795727,110.465838.

Rute Menuju Geo Tubing Lava Bantal
Cukup mudah dijangkau karena sudah ada di Google Map dan Google Street View. Tinggal aktifkan saja GPS mobil atau gawai, insya Allah tidak salah alamat. Yang menjadi tujuan utama adalah kantor sekretariat yang satu kawasan dengan PIAT UGM, jika kesulitan dengan koordinat Geo Tubing Lava Bantal, atur saja GPS ke PIAT atau KP4 UGM.
Klik untuk memperbesar.

Aku start dari kebun binatang Gembira Loka, ternyata jaraknya cukup dekat; hanya sekitar 9 km. Kuingatkan sekali lagi, jangan percaya 100% dengan Google Map karena kadang menyesatkan. Coba lihat penunjuk arah yang disarankan Google di atas, malah terlalu jauh memutar di ring road.

1. Rute yang kutempuh
Aku naik motor dari Gembira Loka – Jl Kusumanegara – Jl Wonocatur -Ringroad Timur. Di ringroad timur semua kendaraan searah ke kiri, sekitar 50 meter ada portal pembatas antara motor dan kendaraan roda 4 yang terbuka. Masuk ke jalur roda 4 ambil sisi kanan, menuju tempat memutar. Setelah memutar menuju ke selatan, ambil jalan jalur lambat motor dan belok kiri ke Jl Berbah – Kalasan.

Telusuri jalan beraspal bagus tersebut, jika menemukan persimpangan jalan tetap ambil jalan aspal yang bagus atau menuju Kalasan. Hingga akhirnya ketemu penunjuk jalan banner kuning menuju Geo Tubing Lava Bantal. Aku tidak bertanya rute kepada warga sekitar, hanya mengandalkan GPS Google Map.
Penunjuk jalan menuju sekretariat Geo Tubing Lava bantal.

Pemandangan kiri kanan jalan lumayan bagus, masih terlihat kebun tebu dan persawahan. Beberapa titik jalan begitu teduh dengan rindangnya pepohonan besar. Ada yang terlupa, rute yang kutempuh akan melewati pasar Wonocatur, Paskhas,  dan kolam renang AAU. Sebelum sampai ke lokasi aku sarapan soto di Soto Bathox Pitek Jowo di Jalan Raya Berbah.

2. Dari Kalasan Jalan Jogja - Solo
Tetapkan koordinat lokasi Geo Tubing Lava Bantal atau PIAT UGM pada GPS atau peta, dari Jalan Solo – Jogja belok ke selatan hingga ketemu pertigaan pohon beringin. Di bawah pohon beringin ada segelintir orang menjajakan makanan. Terus saja (tidak belok kanan) mentok hingga menemukan penunjuk lokasi PIAT UGM dan sekretariat Geo Tubing Lava Bantal.
Penunjuk arah ke PIAT UGM dan Geo Tubing Lava Bantal.

Jika start dari Jogja, di Jalan Jogja – Solo (tepatnya sampai Kalasan) harus menemukan penggalan jalan memutar sesudah SPBU Kalasan, kemudian belok kiri ke selatan.

Waktu yang dibutuhkan menuju Geo Tubing Lava Bantal
Secara keseluruhan, dari Gembira Loka ke Geo Tubing Lava Bantal hanya butuh waktu 27 menit, 3 kali berhenti melihat GPS dan memotret penunjuk jalan. Kecepatan rata-rata 20-30 km/jam atau setara kecepatan penuh sepeda listrik. Berhenti untuk makan soto tidak dihitung ya, stopwatchnya kumatikan.

Sampai di lokasi
Sekretariat Geo Tubing Lava Bantal terletak di sisi kiri pojokan perempatan jalan setelah kantor PIAT UGM. Jangan khawatir tersesat karena ada baliho besar di perempatan di bawah pohon rindang. Setelah jeprat-jepret seperlunya, aku menuju sekretariat dan disambut oleh Mbak Kiki dan penggagas Geo Tubing Lava Bantal; Pak Sarwoto Dwi Atmojo atau lebih dikenal dengan panggilan Otto.
Sekretariat Geo Tubing Lava bantal.

Jam menunjukkan 08.40 WIB, para pemandu sudah siap ditempat. Tapi aku tidak bisa tubing sendirian karena harus berkelompok. Sedangkan 9 orang kelompokku belum sampai karena kesasar, sehingga harus dijemput paksa Mbak Kiki wkwkwk. Sambil menunggu mereka aku ngobrol banyak dengan Pak Otto tentang tubing dan pariwisata Sleman pada umumnya.

Peraturan Geo Tubing Lava Bantal
Sudah tertera di banner sekretariat, tapi ada sedikit revisi yang belum diubah yaitu umur peserta tubing minimal 10 tahun. Untuk trek biasa (normal) akan dijadikan 1 kelompok, tiap kelompok sekitar 10 orang. Wisatawan yang tidak datang bersama kelompok sebaiknya reservasi dahulu jauh hari.
Peraturan Tubing Lava Bantal.

Peralatan tubing
Sudah disediakan operator tubing, yaitu jaket pelampung, ban, helm, dan sepatu karet. Boleh juga menggunakan sepatu sendiri yang sesuai dengan olahraga air.
Jaket pelampung dan helm tubing.

Pemanasan sebelum tubing
Setelah semua perlengkapan tubing dipakai, kelompok berjumlah 10 orang menuju ke perempatan jalan untuk melakukan sedikit pemanasan. Perempatan jalan sepi kok, karena 2 arah jalan menuju sungai dan dusun. Yang benar-benar sering dilalui hanya 1 arah menuju selatan, itupun kendaraan yang lewat dalam 1 jam bisa dihitung dengan jari 😊.

Setelah pemanasan, kami foto-foto sejenak, foto pose santai dan foto bersama ban. Selanjutnya kami berjalan kaki menuju Kali Opak, tidak lupa ban dibawa sendiri. Jarak antara perempatan sekretariat dengan start tubing hanya 50 meter. Kami dilepas sendiri-sendiri oleh pemandu. Ada 3 pemandu yang menyertai kami, istilahnya ada yang menjadi pembuka jalan, ada yang bersama tubingers, dan ada yang menyisir paling belakang.
Start tubing Lava Bantal Kali Opak.

Posisi ban untuk tubing
Sewaktu meletakkan ban ke sungai, yang perlu diperhatikan adalah posisi ban. Setiap ban punya pentil dan besi yang mencuat sebagai tempat mengisi angin. Posisi pentil mengarah ke bawah, jangan mengarah ke atas karena bisa melukai badan.

Coba perhatikan gambar pertama. Ban tubing didesain memiliki 2 tali yang saling terkait silang di tengah, sehingga dapat digunakan untuk duduk di tengah ban. Di sisi luar ban terpasang 2 tali yang digunakan untuk pegangan. Setelah duduk di tengah ban, perjalanan tubing pun dimulai.

Tubing menyusuri Kali Opak
Jangan membayangkan air Kali Opak itu jernih 😁, airnya keruh coklat karena di atas (sebelum aliran sungai masuk wilayah Kalitirto) banyak warga yang masih membuang sampah di sungai. Ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola Geo Tubing Lava Bantal. Kampanye menjaga kebersihan sungai perlu ditingkatkan terutama di daerah atas sebelum area tubing. Menurut Pak Otto, sampah di sepanjang area tubing tinggal 25% dari saat pertama kali wisata ini akan dibuka.

Ini adalah pertama kalinya aku naik ban (tubing) di atas air. Awalnya agak takut karena ban berputar mengikuti aliran sungai. Maksud hati posisi badan selalu menghadap ke depan, tapi selalu saja ban berputar, kadang melaju dengan posisi badan miring, kadang membelakangi aliran sungai,,, hahaha... tapi seru deh.

Kebetulan aku bawa action cam milik kakak Riana yang tidak terpakai, dia sendiri membawa gawai yang sudah dibungkus dry bag. Saat itu sama sekali tidak terpikir untuk menyewa action cam, atau beli dry bag untuk memudahkan dokumentasi acara di air. Semoga di trip air mendatang membawa action cam sendiri.

Beberapa kali melewati arus yang lumayan deras karena ada batu besar, aliran sungai berbelok maupun ada”jeglongan”. Ini yang membuat tubing di Kali Opak menyenangkan. Pemandangan tepi sungai masih alami tidak eksotik (biasa saja). Beberapa tempat terlihat sampah menumpuk, orang yang menambang pasir, memancing, dan ada yang mandi! Wkwkwkwk. Sudah jarang kujumpai orang mandi di sungai, menurutku itu suatu keunikan di desa asalkan tidak lepas semua pakaian. Selama tubing aku tidak melihat orang membuang sampah atau mencuci pakaian.
Mandi yuk.

Lorong Syahdu
Seperempat perjalanan tubingers berhenti menepi. Pengelola Geo Tubing Lava Bantal menamakan tempat ini Lorong Syahdu; yang teduh oleh rimbun pohon bambu yang tumbuh di kiri kanan Kali Opak. Sebagian pohon tumbuh miring ke tengah sungai sehingga menyerupai terowongan bambu.

Rombongan menepi di sisi kiri (mungkin sebelah timur), salah seorang tubingers sengaja diganggu dan dijatuhkan dari ban, tubingers ini ketakutan sampai menjerit,,, hahahaha kami semua tertawa. Kenapa harus takut, padahal dia sudah memakai pelampung. Setelah jatuh ke sungai dia masih ketakutan dan memegang ban dengan erat. Salah seorang dari kami berkata, “Mbak ora usah wedhi, kowe ki wis nganggo pelampung, kaline yo cethek. Jajalen ngadek.” (Mbak tidak usah takut, kamu sudah memakai pelampung, sungainya juga dangkal, coba berdiri).

Kemudian tubingers ini mencoba berdiri, dan kami semua tertawa terpingkal-pingkal. Lorong Syahdu saat itu hanya sedalam 50 cm 😁! Iya kebetulan malam sebelumnya Jogja (terutama daerah hulu) tidak hujan, mungkin di sebagian tempat hujan tapi tidak berlangsung lama dan deras.
Sengaja diganggu.

Selanjutnya kami diminta pemandu membuat formasi melingkar di atas ban, untuk diabadikan oleh pemandu darat bagian dokumentasi. Bagian dokumentasi ini tidak ikut tubing, dan hadir di sisi kanan aliran Kali Opak. Minimal 3 titik yang menjadi tempat pengambilan potret, saat start tubing, di Lorong Syahdu, dan finish di jembatan Kali Opak.

Tubing semakin seru
Kami mulai tubing lagi, kali ini tubingers harus saling berkaitan. Kami harus saling memegang tali di sebelah atau belakang. Misalkan A, B, dan C. A harus memegang tali ban B dan B harus memegang tali ban A. Demikian juga dengan C. Karena B berada di tengah, dia harus memegang tali ban A dan C.

Sayangnya ada tubingers yang egois tidak mau terkait tali dengan lainnya, pilah-pilih hanya mau terkait dengan X, Y, atau Z, akibatnya tercecer di belakang rombongan dan beberapa kali merepotkan pemandu. Fungsi saling terkait adalah menjaga supaya tubingers tidak lepas dari rombongan karena terbawa arus sungai. Ini untuk keselamatan, kebersamaan, dan memudahkan pantauan pemandu.
Formasi lingkaran di Lorong Syahdu.

Sebelum saling terkait, aku kadang “tersesat” di tepi sungai dan terhenti oleh potongan bambu 😃. Ada juga yang berat badannya ringan sehingga lebih cepat terbawa arus meninggalkan yang lain 😄, hehehe. Pemandu harus mengejar dan membawa ke tengah sungai ketika tubingers nyangkut. Hahaha...

Tak jarang pemandu garda depan harus menarik tubingers ke jalan yang benar. Beberapa rintangan agak membahayakan keselamatan, cuma batu atau bambu sih yang kalau dilalui dengan berjalan kaki tidak masalah, tapi jika dengan ban bisa nyangkut tidak bergerak.

Kadang arus landai, tubingers bisa tidur sesaat menikmati kesunyian pejalanan. Kadang kami melewati bebatuan yang membuat arus jadi deras dan membelokkan arah kami, ini yang seru menaikkan sedikit adrenalin.

Keterkaitan kami (saling memegang tali ban) membuat posisi paling depan sering berubah, satu saat paling depan menjadi paling belakang dan kembali lagi seperti awal mula.

Harga tiket:
Lintasan normal: Rp. 50.000
Lintasan pendek: RP. 30.000

Bersambung ke Memacu Adrenalin di Lintasan Pendek Geo Tubing Lava Bantal