Maret 2017 - metuomah.com

Sabtu, 25 Maret 2017

0

Mencicipi Gelato di Hari Pembukaan Ciao Gelato Jogja City Mall

Ciao Gelato buka di Ground Floor (lantai dasar) Jogja City Mall (JCM), Jalan Magelang Yogyakarta pada 22 Maret 2017 lalu. Pintu masuknya ada 2; di sisi selatan (luar) pintu utama JCM atau timur eskalator jika dari dalam JCM. Menurutku kedua pintu masuk ini lebih nyaman bagi pengunjung daripada lewat pintu utama JCM, ribet dengan sekuriti.

Terima kasih Bu Maria -lewat administrator- atas undangannya. Seperti biasa aku mendapat invitasi di saat-saat terakhir, limpahan undangan 😀. Terima kasih (kembali) karena masih ingat metuomah.com 😊.
Ciao Gelato Jogja City Mall.
Ciao Gelato adalah cafe gelato kedua yang kukunjungi plus kali kedua makan gelato, setelah yang pertama ditraktir oleh Google Indonesia (baca ulasannya di sini). Waktu makan gelato di Ciao inilah aku bertanya dalam hati, apa sih perbedaan gelato dengan ice cream, perasaan sama saja? Esok hari aku baru cari di Google dan menemukan beberapa perbedaan, tolong ingatkan aku untuk menuliskannya.
Dari luar, smoke area.

Aku sudah di JCM jam 17.00 WIB, setelah mengikuti konferensi pers sebuah penyedia telekomunikasi. Duduk di kursi JCM depan Ciao Gelato beberapa saat, datanglah seorang teman blogger, dia datang ke JCM lebih awal karena sekalian pulang kerja, daripada harus pulang ke rumah lebih dulu.

Tak lama berselang kamipun masuk ke Ciao. Di dalam sudah ada beberapa pengunjung duduk bercengkrama. Beberapa wajah kukenali beberapa saat lalu, mereka para wartawan yang tadi meliput konferensi pers.

Tidak ada acara khusus, hanya undangan dan beberapa pengunjung yang sudah bisa membeli gelato di hari itu juga. Ruangan agak panas karena pendingin ruangan kurang berfungsi optimal dan sedang coba perbaiki pengelola JCM.
Antri.
Setelah teman-teman yang lain datang, akupun memesan gelato cup dalam dengan 2 rasa, oreo – coconut. Tampilannya tidak menarik dipotret karena warnanya tidak kontras, putih semua 😀. Di dalam gelato terdapat potongan kecil oreo. Jangan tanya rasa, aku hanya bisa komentar enak 😂.
Oreo -Coconut.

Lepas Maghrib pengunjung mulai berjubel, aku tidak bisa membedakan antara undangan dan konsumen. Pengunjung mengantri untuk memesan gelato. Ada yang pesan dalam cup, cone, dan ciao cup, tapi tidak ada satupun yang memesan pinocchio cup.

Ciao Gelato menawarkan 24 variant rasa dengan harga sama, jangan sampai bingung 😊, jika penasaran pesan saja all variant (kantong langsung kempes). Selain lantai utama, pengunjung juga bisa duduk di lantai 2 Ciao Gelato yang menyediakan sofa dan penerangan yang lebih redup.
Lantai 2 Ciao Galato JCM.

Sepertinya asyik nongkrong di lantai 2 tapi teman-teman males ke atas, ya sudah mendingan aku pesan gelato lagi. Foto di bawah adalah gelato rasa strawberry dalam cone yang dipesan kak Elzha, teman-teman pesan cone karena terlihat menarik saat difoto, bukan karena rasanya.... dasar.
Strawberry cone.

Aku kurang suka cone karena biasanya, ketika makan es puter dalam cone sering tumpah 😔, jadi aku pesan ciao cup rasa matca tea - yogurt dengan topping (yang aku tidak tahu hehehehe). Kali ini rasanya asem yogurt, ya seperti makan yogurt.
Matcha tea - yogurt.

Jika ditanya kok bentuknya seperti itu? Gelatonya sudah mulai meleleh, sekali-sekali hasil potretnya seperti itu 😄. Yang penting adalah rasa dan kepuasan makan mangkok cepres 😉. Sekarang lagi kekinian banget mangkok bisa dimakan. Pekan lalu aku makan mangkok pangsit yang bisa dimakan.
24 varian Ciao Gelato.
Harga 1 varian gelato Rp. 15.000, bisa pesan beberapa varian dengan tambahan harga. Ingat ya, harga belum termasuk pajak dan layanan.
Menu Ciao Gelato JCM.

Aku juga sempat mencicipi french fries, chicken wing, dan mini pizza; tapi yang jadi juara tetap gelato. Ciao....

Update Februari 2018
Menurut informasi, Ciao Gelato sudah tutup.

Selasa, 21 Maret 2017

0

Melihat Persiapan Kembalinya Malangan sebagai Desa Wisata

Tahun 1998 Malangan telah dicanangkan pemerintah sebagai desa wisata kerajinan. Namun seiring jatuhnya pemerintahan saat itu program desa wisata ikut "menguap". Baru setelah booming desa wisata menjalar di seluruh pelosok Indonesia, sekitar 3 bulan lalu Desa Wisata Malangan kembali memoles diri mengejar ketinggalannya.
Membelah persawahan Malangan (Foto: Riana Dewie).
Sabtu 11 Maret 2017 aku ikut serta Jelajah Malangan bersama Masdjo (Masyarakat Digital Jogja) yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Sleman. Tidak banyak yang ikut serta, mungkin karena Jogja tiap hari hujan, menyebabkan para warga internet malas ikut acara luar ruangan.
Naik bus Safari Dharma Raya.
Letak Desa Wisata Malangan
Malangan merupakan nama dusun yang terletak di desa Sumberagung kecamatan Moyudan kabupaten Sleman, DIY; sekitar 14 km sebelah barat Tugu Pal Putih Jogja, yang bisa ditempuh dalam 30 menit (bila tidak macet).
Desa wisata Malangan.
Dusun ini berada di selatan (kiri dari arah Jogja) Jalan Godean, sekitar 100 meter barat lampu merah Gedongan Moyudan. Mungkin yang paling mudah dihafal adalah di seberang (utara jalan raya Godean) dusun Malangan terdapat pool bus Kukuh dan Prayogo.
Gapura Malangan.
Selamat datang di Malangan
Kami disambut hangat Pokdarwis Desa Wisata Malangan di sekretariat desa wisata, sekitar 35 meter dari gapura dusun. Jajanan pasar dari pisang godhog, kacang godhog, dan wedang secang sudah tersedia di meja. Sungguh menggoda tenggorokan yang mulai kering.

Sebagai seremonial kepada para peserta Jelajah Malangan, dikenakanlah Udeng dengan harapan agar wisatawan selalu ingat dengan Desa Wisata Malangan. Sebagian besar peserta belum mengerti cara memakai udeng, sehingga Pak Wiji sebagai pengelola Desa Wisata Malangan memberikan tutorial pada rombongan. Udeng adalah ikat atau penutup kepala dari kain segitiga bermotif batik. Aku kurang tahu pemakainnya pada perempuan. Mungkin digunakan sebagai bando atau bandana?
Cara memakai udeng.
Ada 5 hal yang saat ini menjadi unggulan Desa Wisata Malangan, yaitu kerajinan bambu Tunggak Semi, pembuatan keris pusaka, perikanan, pertanian mina padi, dan kerajinan batik. Kami diberi kesempatan melihat kelima hal tersebut dengan menggunakan sepeda.
Sepeda untuk para pelancong Malangan.

Perikanan
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah perikanan yang terletak di sisi timur dusun. Menurut Pak Wiji, Malangan sudah dikenal sebagai sentra perikanan, terutama lele dumbo dan ikan mujahir. Para pedagang ikan dari luar Jogja pun "kulakan" ikan di Malangan, ada juga pemilik warung dan rumah makan yang membeli ikan di Malangan.
Makanan lele adalah pelet.
"Warga nggak ada yang jual matengan?" Tanya seorang peserta Jelajah kepada Pak Wiji.

"Ada tapi tidak banyak, warga lebih banyak menjual langsung. Dijual begini (ikan belum diolah -pen) aja sudah laku banyak." Jawaban Pak Wiji menghapus rasa penasaran penanya.

Oke deh... melihat kolam ikan menarik bagi yang ingin belajar beternak ikan. Tapi aku pribadi cukup 5 menit di sini, aku lebih tertarik melihat petani memanen ikan atau makan ikan olahan dari kolam petani. Saat kami datang, beberapa kolam lele dumbo sebenarnya sudah akan dipanen... tapi baru esok hari pemilik kolam berencana panen ikan 😊.

Perikanan Malangan terbantu oleh saluran irigasi Van der Wijck peninggalan Belanda, yang mengambil sumber dari Kali Progo di barat dan Kali Opak di timur. Mengenai jaring kelambu yang menutup seperti pada gambar di atas, berfungsi untuk melindungi lele agar tidak dimangsa burung Kontul atau sebagian menyebutnya burung Bango.

Batik
Dengan bersepeda kami melanjutkan perjalanan ke kerajinan batik, di tengah perjalanan kami berhenti melihat warga membuat kerajinan bambu. Mereka adalah anak asuh dari perusahaan kerajinan bambu Tunggak Semi.
Bertanya kepada warga.
Sejauh 15 langkah dari rumah warga tersebut, rombongan mendatangi rumah yang juga digunakan sebagai toko dan tempat membuat batik. Kubaca kartu nama yang diberikan kepadaku, tertulis "menerima pesanan seragam batik cap dan printing partai besar dan kecil."
Merajin batik tulis
Sekilas kuperhatikan Malangan bukan sentra batik dan tidak begitu banyak warga yang menggeluti profesi ini. Dan Malangan belum memiliki ciri khas motif batik, mengingat sudah banyak desa wisata yang menampilkan kerajinan batik dalam paket wisata. Tapi wisatawan masih bisa membeli batik dan (nantinya) belajar membatik di lokasi.

Melihat mina padi
Untuk melihat mina padi, rombongan bergerak menuju selatan dusun. Mina padi adalah pemanfaatkan lahan sawah untuk ditanami padi dan memelihara ikan secara bersamaan. Malangan adalah salah satu sentra mina padi Kabupaten Sleman, yang programnya terkenal hingga manca negara.
Mina padi di Desa Wisata Malangan.
Dengan mina padi, petani mendapat keuntungan dari panen padi dan ikan. Selain itu tidak direpotkan dengan hama tikus, rumput ilalang yang tumbuh di sela padi, serta pupuk; karena pupuk sudah tersedia alami oleh kotoran ikan (?). Suka deh lihat sawah begini, jadi betah berlama-lama di tepi sawah.

Pembuatan keris pusaka
Karena rombongan lain sudah beranjak meninggalkan persawahan mina padi, rombonganku (5 orang) pun mengikuti mereka, meskipun belum puas melihat dan mendengarkan penjelasan mina padi. Destinasi selanjutnya adalah pembuatan keris pusaka kraton yang hanya ada di Malangan.

Perjalanan agak jauh, membelah jalan antar desa yang ramai kendaraan bermotor. Dari persawahan kami menuju barat dan belok ke utara. Kali ini jalan sedikit menanjak. Secara geografis, DIY berada di sebelah selatan Gunung Merapi sehingga semakin ke utara maka jalanan akan naik. Sebaliknya selatan DIY adalah Samudra Hindia, semakin ke selatan maka jalanan semakin menurun. Tapi hal ini tidak berlaku untuk Gunungkidul.

Aku tidak mengikuti penjelasan pemandu dan empu keris, aku hanya duduk di teras rumah si empu. Panas yang mulai menyengat membuatku dehidrasi, kugunakan waktu tersisa untuk istirahat dan melewatkan momen ini. Tapi aku sempat mengambil beberapa gambar dan video saat besi keris dikeluarkan dari bara api dan dipukul dengan godam agar terbentuk sesuai keinginan.

Kerajinan bambu
Ba'da shalat Dzuhur berjama'ah di masjid depan pembuat keris, aku dan dua orang teman pulang ke sekretariat Desa Wisata Malangan, karena makan siang sudah menanti. Sepertinya aku selalu jadi yang terakhir 😍. Di tengah perjalanan kami dibelokkan pemandu, menelusuri jalan setapak menuju rumah warga pembuat kerajinan bambu. Mereka juga perajin bambu anak asuh Tunggak Semi.
Membuat kerajinan di rumah.
Pesanan klien Tunggak Semi mereka kerjakan di rumah, setelah jadi barulah dikirim kembali ke Tunggak Semi untuk finishing produk. Perusahaan Tunggak Semi menampung sekitar 150 karyawan yang mengerjakan berbagai kerajinan bambu pesanan klien yang kebanyakan dari luar negeri.

Perusahaan bambu Tunggak Semi hanya berjarak 50 meter selatan sekretariat Desa Wisata. Rombongan baru menuju perusahaan milik Supriyadi tersebut setelah istirahat makan siang.
Menjemur tali tambang dari bambu.
Aku tidak melihat kebun bambu di dusun Malangan, bahan baku bambu bukan berasal dari Malangan tapi dipasok dari daerah lain. Kebanyakan bambu yang ada di pabrik sudah dipotong kecil, hanya beberapa bambu utuh saja yang terlihat di halaman pabrik.
Siap di-ekspor.
Wisatawan yang berkunjung boleh membuat dan belajar kerajinan bambu (model sederhana) untuk dibawa pulang. Tapi sebelum ke Tunggak Semi harus membuat perjanjian atau proposal dahulu, karena pengelola desa wisata belum memiliki paket wisata ini. Semoga dalam beberapa bulan mendatang paket wisata sudah siap untuk wisatawan.

Tunggak Semi menjadi destinasi terakhir Jelajah Wisata Malangan. Pengelola desa wisata mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan dibuat arena outbond dan home stay. Semoga setelah semuanya siap, aku diundang kembali ke Malangan.

Bila ditanya apa yang paling berkesan saat melihat persiapan Desa Wisata Malangan? Jawabannya adalah jelajah dusun dengan sepeda.

Kontak Desa Wisata Malangan:
email: wisata.malangan@gmail.com
Instagram: @desawisata_Malangan

Sabtu, 18 Maret 2017

0

Berani Level Pedas Berapa di Miago Pangsit Juwita?

Miago (Mie Ayam Goreng) Pangsit Juwita pertama kali buka di daerah Tajem Baru, dekat Stadion Maguwoharjo, Sleman Yogyakarta. Dan kedua ada di Jalan Langensari 41 Yogyakarta. Apa keistimewaan Miago Pangsit Juwita hingga diliput stasiun televisi swasta nasional?
Miago Pangsit Juwita Langensari Jogja.
Juwita merupakan salah satu pemilik warung mie ini, terlihat dari foto-foto di Instagram @MiagoPangsitJuwita. Sedangkan seorang lagi adalah Mas Agus, yang sering terlihat menemani pengunjung warung, termasuk aku dan 9 teman blogger yang datang di Miago Pangsit Juwita Langensari 3 hari lalu.
Mas Agus menyambut pengunjung Miago Pangsit Juwita.

Menurut Mas Agus, setiap miago Juwita dibuat eksklusif. Artinya satu porsi dibuat sendiri-sendiri sehingga meskipun pesan menu yang sama, belum tentu rasanya juga sama. Uniknya lagi pangsit warung ini berbentuk mangkok dengan beberapa warna. Pilihan mangkok pangsit tempat mie antara lain  pangsit original, pangsit cokelat, pangsit bayam, dan pangsit strawberry.
Ketika masih sepi.

Aku mencoba menu baru yaitu Siomay Pelangi. Dalam sekejap, menu ini langsung dihantar ke meja karena pembuatannya relatif mudah. Langsung deh pangsit ini diserbu teman-teman untuk dipotret. Sepiring Siomay Pelangi berisi 5 siomay warna-warni. Seperti halnya pangsit, warna siomay juga berasal dari bahan-bahan yang telah disebut di atas yaitu cokelat, bayam, dan strawberry. Beberapa orang menyebut siomay ini sebagai dimsum karena bahan baku utama dari daging ikan.
Siomay Pelangi.

Menurutku rasanya cukup enak, beda tipis dengan dimsum beku dari pabrik tempat keponakanku bekerja. Siomay Pelangi tidak menggunakan sambal kacang melainkan sambal sachet 😀, sedangkan topingnya aku tidak tahu. Mendingan langsung dimakan saja deh 😁. Meskipun menu ini pesananku tapi aku hanya makan sebuah siomay saja, lainnya dimakan teman-teman 😌.
Menu Miago Pangsit Juwita.

Menu kedua yang kupesan adalah Miago Pangsit Bakso, aku harus menunggu 1,5 jam pesanan ini jadi. Mungkin saat pesan pertama ada sedikit mis-komunikasi, lalu bagian dapur lebih memprioritaskan pengunjung yang membludak. Aku sih memaklumi, tapi minuman pesananku juga datang pada saat yang sama. Sudah batuk, lupa bawa minum dari rumah, apes 😊.
Miago Ceker Pangsit.

Kok aku jadi lupa, keunikan lain Miago Pangsit Juwita adalah pengunjung bisa menentukan level kepedasan yang diinginkan. Level pedas warung ini dari angka 0–13. Temenku ada yang gila, pesan Miago Pangsit Ceker level 13 dan habis!!!! Satu teman menyerah di level 7 dan pesan lagi yang level 5 😂. Ada juga Vika yang Miago Bayam Pangsit level 5 tidak dihabiskan. Dia ngeles agar aku mencicipi mie bayamnya sembari menunggu pesanan datang 😊.
Miago Bayam Pangsit.

Mie milik Vika kuambil dengan sumpit sehelai demi sehelai, menurutku sudah sangat pedas! Aku hanya tertolong tidak kepedasan karena mengambil sehelai demi sehelai 😁, jika tidak begitu aku sudah menyerah. Miago Pangsit Bakso yang kupesan hanya level 3, sebenarnya ingin pesan level 1 tapi malu sama teman yang lain 😊.

Setelah menu pesanan datang, aku hanya kuat makan seperempat porsi. Perut tidak kuat lagi setelah makan siomay dan mie dari Vika, apalagi dari 2 jam lalu aku tidak minum,,, lengkap sudah. Kurasa porsi yang kupesan lebih banyak daripada pesanan teman lain. Mie terasa eneg dan “berat” dimakan, namanya juga mie goreng tanpa kuah, melihat saja sudah kenyang wkwkwkk. Akhirnya Miago Bakso Pangsit kuminta dibungkuskan 😀.
Miago Bakso Pangsit.

Level 3 kukira pedasnya sudah pas, biji cabe terlihat bertebaran dan lengket di mie wkwkwk, gimana yang level 13 ya? Bakso di miago yang kupesan rasanya enak, tapi jarang kutemukan daging ayam dalam se(pangsit)mangkuk mie. Apakah daging ayam menjadi bahan dasar mie? Entahlah, aku belum bertanya. Miago Bakso Pangsit yang kubawa pulang baru bisa habis keesokan harinya wkwkwk.
Abang Go-Food juga datang ke warung.

Selain menu miago, ada menu nasi goreng, burger tahu bakso, serta mie nyemek yang diolah dari merk mie terkenal Indonesia; semuanya layak dicoba. Sebaiknya pasokan air minum lancar bila akan mencoba cabe level 13 😉.

Alamat Miago Pangsit Juwita Langensari
Jalan Langensari 41 Klitren Yogyakarta. Depan Masjid Langensari, timur Planet Bookstore.
Harga makanan mulai Rp. 9.000.
Harga minuman mulai Rp. 1.000.

Rute
Jalan Langensari adalah jalan searah dari barat. Bila datang dari Jalan Solo pengunjung bisa belok ke selatan melewati AA YKPN. Bila dari arah selatan Jalan Dr. Sutomo utara lampu merah Fly Over Lempuyangan belok ke kanan. Bila dari Kridosono bisa lewat jalan depan SMP 5 ke timur. Bila dari Timoho atau Stadion Mandala Krida harus lewat depan Balai Yasa PT KAI, kemudian belok ke utara lalu ke timur menuju Jalan Langensari.

Senin, 13 Maret 2017

0

Memacu Adrenalin di Lintasan Pendek Geo Tubing Lava Bantal

Dari kejauhan terlihat jembatan Gemblung yang membelah Kali Opak, bau bulu ayam pun mulai tercium tanda finish sudah dekat. Tubingers pun menepi dibantu para pemandu yang sudah siap di bawah jembatan. Setelah menempuh sekitar 1,5 jam perjalanan akhirnya bisa menginjak daratan. Seketika kulepas sepatu dan jaket pelampung.


Tapi Mas Wahyu, salah seorang pemandu menantang kami untuk tubing di lintasan (track) pendek yang lebih menantang. Untuk melakukan itu kami harus berganti helm yang menutup telinga dan memakai pengaman siku serta lutut. Rute melewati lava bantal agak berbahaya, perlengkapan yang dipakai untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Aku masuk dalam 3 orang pertama yang terjun di lintasan pendek, dimulai dari tempat finish lintasan normal. Jarak yang ditempuh pendek, hanya 100 meter dengan kiri kanan bebatuan lava bantal. Sebelum masuk ke air, kami diberi pengarahan:
  • Tali ban berada di depan dan belakang.
  • Tubinger wajib memegang tali ban teman di depannya.
  • Jika ada komando “lepas”, tubingers harus melepas pegangan tali.
  • Setelah lepas tali, sebisa mungkin mengayuh ke kanan (tepi sungai).
  • Jangan panik.
  • Di tempat finish sudah bersiap pemandu yang akan membantu menepi.
  • Dilarang melewati tali garis finish karena arus yang berbahaya.

Kami pun mulai tubing dengan aba-aba peluit (atau siulan ya? 😁) yang bunyinya seperti peluit kepala stasiun. Kami berlima adalah yang mencoba pertama, jadi posisinya adalah yang terdepan pemandu, 3 tubingers (aku ada di tengah), dan paling belakang adalah pemandu.

Perasaan agak aneh dan deg-degan, setelah melewati jembatan, arus sungai berbelok karena menghantam lava bantal. Rasanya seperti naik “ombak banyu” hingga terdengar suara “lepas!” Akupun melepas tali ban depanku, dan tiba-tiba saja sudah sampai di tepi sungai.
Lintasan pendek Geo Tubing Lava Bantal.

Loh? Kok cepet, cuma kayak gitu? Rasanya seperti mimpi, demikian cepatnya dan tidak terasa! Wkwkwk... Kami lalu melihat kelompok tubing selanjutnya, kalau dilihat seperti mengasyikkan tapi tadi kok rasanya hambar? Wkwkwk karena penasaran aku mencoba lagi, kali ini sendirian. Tubingers mendapatkan kesempatan 2 kali, sekali bersama kelompok dan sekali sendirian.

Peringatan
Jika tubing sendiri di lintasan pendek, posisi tali ban berada di kiri-kanan badan sebagai pegangan kedua tangan.
Jembatan Gemblung Kali Opak.

Sepertinya pemandu mendorongku ke tengah sungai terlalu cepat, jarak antara aku dengan tubinger depan terlalu dekat. Akibatnya tidak ada yang memotret diriku 😞. Di tengah perjalanan tubing, arah ban tidak bisa kukendalikan. Maksud hati ingin terus menghadap ke depan, tapi ban ingin berputar. Posisiku berputar jadi menghadap ke kanan lalu ke belakang hahaha... alhamdulillah melewati lava bantal dengan lancar. Kali ini adrenalinnya lebih tinggi daripada tubing berkelompok.

Bagaimana jika tubingers lebih dari 3 orang? Setelah kelompokku, beberapa blogger wanita membentuk 1 kelompok; 4 tubingers dan 2 pemandu. Beginilah ketika mereka melewati lava bantal.
Njomplang terlalu banyak muatan.
Aku mendengar komentar beberapa pemandu yang berada di atas jembatan, njomplang atau gagal melewati lava bantal secara teratur terjadi karena 2 hal; kedisiplinan tubingers memegang dan melepas tali, dan terlalu banyak orang. Dari pengalaman sebelumnya, tubinger lebih dari 3 orang biasanya tidak sukses melewati lava bantal dengan mulus.

Arus sungai di lintasan pendek cukup deras, padahal debit air normal. Menurut Pak Otto, jika debit air tinggi (banjir), lava bantal malah tidak terlihat sama sekali, sehingga jika tubing tidak akan melewati lava bantal yang menaikkan adrenalin. Bersyukurlah diriku bisa menikmati tubing ini.

Aku juga ikut merasakan terjun dari batu lava bantal ke Kali Opak, cuma gaya biasa,.... tidak berani salto bak atlet loncat indah 😁. loncat dengan berdiri saja aku sudah minum air sungai, telinga kemasukan air dan baru normal keesokan harinya hahahahah...

Setelah puas main di Kali Opak, kamipun kembali ke sekretariat dengan angkutan bak terbuka. Aku kok merasa keren ya naik minivan bak terbuka dengan memakai helm dan jaket pelampung 😊.

Petualangan baru pun harus berakhir meninggalkan sisa pegal-pegal di sekujur badan (baru sembuh normal setelah 2 hari boooh).

Ingin mencoba Geo Tubing Lava Bantal, silahkan hubungi kontak yang ada di Instagram @tubinglavabantal.

Geo Tubing Lava Bantal
Alamat: Dusun Tanjungtirto, Kalitirto Kec. Berbah Kab.Sleman, DIY.
Buka: Senin-Ahad jam 09.00 - 15.00 WIB
Tubing lintasan normal Rp. 50.000
Tubing lintasan pendek Rp. 30.000

Rabu, 08 Maret 2017

0

Makan Malam di Acara Setahun Sultan Agung Cuisines

Sultan Agung Cuisines terletak di Jalan Sultan Agung 24 Yogyakarta, tepat di sebelah Museum Biologi. Restoran dengan tagline traditional food no pork no MSG pada 6 Maret 2017 lalu tepat berusia 1 tahun.
Tumpeng Sultan Agung Cuisines.

Pertama kali menginjakkan kaki ke Sultan Agung Cuisines (SAC) pada Oktober 2016 bersama beberapa penulis Kompasiana. Waktu itu SAC menyediakan kuliner western (barat), oriental (chinese), dan nusantara.

Senin siang 6 Maret 2017 administrator SAC menghubungiku untuk datang ke restoran jam 18.00 WIB, katanya makan malam gratis. Aku mengiyakan undangan tersebut, instingku berkata pasti ada blogger lain yang diundang.

Malamnya di pintu depan SAC aku berkata pada resepsionis ada janji dengan admin, lalu diarahkan menuju ke lantai 2 karena yang kucari ada di sana. Sesampainya di atas..... loh banyak undangan toh, kok nggak ngomong 😐? Setelah mengisi daftar hadir, para tamu dapat menikmati makanan pembuka.
Acara santai.
50 undangan disebar kepada travel agent, relasi, pelanggan setia, dan blogger yang jumlahnya 6 orang 😀. Acara dikemas santai, setelah sambutan oleh manager restoran dan pemilik, dilanjutkan dengan potong tumpeng dan makan malam.
Jadah goreng dan singkong kinco.
Dalam sambutan singkatnya, Ibu Maria Hermawan sebagai pemilik berharap pengunjung Sultan Agung Cuisines meningkat seiring kemajuan pariwisata Jogja.

Aku agak telat menyantap makan malam, beberapa sayur pelengkap sudah penghabisan hahahaha,,, dan lupa dipotret. Tapi lauknya masih banyak, beberapa diantaranya seperti gambar di bawah ini.
Dory lada hitam.
Aku tidak bisa membedakan ikan dori dengan jamur crispry, karena kumakan bareng 😂. Ada juga ayam goreng serundeng dan kerupuk. Sebagai pecinta kerupuk aku selalu mengambil lebih banyak 😃.
Jamur crispy.
Makanan penutup adalah buah semangka, pepaya, dan melon. Sedangkan minuman pendamping makan adalah air putih, es beras kencur dan es kunir asem. Es beras kencur dan kunir asem SAC perlu diperhitungkan,,, enak.
Ayam goreng serundeng.
Acara ditutup dengan foto bersama, para blogger tidak ikut foto malah motret 😐. Sebenarnya banyak pose dan foto, tapi hanya ini yang hasilnya bagus 😢.
Foto bersama.
Beberapa daftar menu sempat kupotret, mungkin bisa menjadi referensi pengunjung. Selain beras kencur, banana split SAC juga ngangenin.
Daftar menu Sultan Agung Cuisines.
Menu sekarang agak berbeda dengan menu yang dahulu pernah kuunggah di Youtube, karena saat membuat video, SAC masih menggunakan konsep lama. Harga yang tertera pada foto belum termasuk pajak dan layanan.
Menu Sultan Agung Cuisines.
Terima kasih Sultan Agung Cuisines, semoga kolaborasi dengan blogger tetap terjaga.

Update 4 Januari 2017
Per tanggal 4 Januari 2017 Sultan Agung Cuisines tutup selamanya. Silahkan baca pengumumannya di https://www.instagram.com/p/BdZL8t5gtv9/

Sabtu, 04 Maret 2017

10

5 Menu Sarapan Pagi Paling Populer di Jogja

Mencari aneka menu untuk sarapan pagi di Jogja gampang-gampang susah, terutama yang terbiasa makan di pagi buta. Ada beberapa warung yang buka 24 jam seperti warmindo dan masakan padang, tapi menu yang ditawarkan hanya itu. Warung rames di tepi jalan besar biasanya buka agak siang, setelah anak-anak sekolah berangkat.

5 menu sarapan berikut ini sangat mudah ditemui di sepanjang jalan kota Jogja, mereka mulai buka sekitar jam 05.30 WIB. Dan semuanya laris manis karena harganya yang ringan di kantong. Kebanyakan mereka hanya berjualan dari pagi hingga habis atau sebelum Dzuhur. Aneka menu tersebut antara lain:

1. Gudeg
Selain di sentra Gudeg Wijilan dan Barek, makanan khas Jogja ini sangat mudah dijumpai saat pagi hari. Sebagian warung makan menyediakan menu gudeg untuk sarapan, demikian juga dengan ibu-ibu yang membuka lapaknya di tepi jalan hanya saat pagi.
Gudeg Hj. Amad.

Peminat gudeg pagi cukup banyak, terutama ibu rumah tangga yang tidak sempat memasak untuk sarapan keluarga. Ada gudeg basah dan gudeg kering, dari beberapa penjual gudeg yang kubeli rata-rata menjual gudeg kering. Untuk "membasahi" nasi gudeg, disiram dengan kuah sayur tempe.

Harga bervariasi tergantung dimana penjual membuka warungnya. Penjual nasi gudeg pinggir jalan cukup murah, nasi gudeg lengkap dengan seiris tahu dan lauk telur bacem dihargai mulai Rp. 7.000. Harga yang sama dengan nasi telur di warmindo dan warung nasi rames.

2. Soto ayam
Penjual mulai mendorong gerobak sotonya sejak jam 05.30 WIB. Cukup mudah menemukan gerobak soto ayam di jalanan kota Jogja. Mereka menjual soto khas Jogja yang manis, harga mulai Rp. 5.000 cukup murah untuk mendapatkan sarapan dengan menu kuah segar.
Soto khas Jogja.
Selain soto khas Jogja yang dijual dengan gerobak, ada juga soto ayam kampung dan soto daging sapi yang jumlahnya relatif lebih sedikit. Warung soto lainnya menjual soto Lamongan, soto Kudus, soto Surabaya, soto tauco, dan soto lentuk; yang semuanya sudah dimodifikasi agar rasanya bersahabat dengan lidah warga Jogja.

3. Lontong sayur
Mayoritas penjual dari Sumatra Barat sehingga lapaknya sering dinamakan lontong sayur Sumatra atau lontong sayur Padang. Tempat yang terkenal dengan beberapa penjual lontong sayur Sumatra adalah di trotoar barat Stadion Mandala Krida.
Lontong sayur Uda Uni.

Lontong sayur Sumatra seperti halnya lontong sayur lodeh di Jawa, yang berisi lontong atau kupat, sayur lodeh (gori nangka), kuah santan pedas, dan kerupuk. Seporsi lontong sayur rata-rata mulai Rp. 7.000, tergantung tambahan menu telur atau ayam.

4. Bubur ayam
Penjual bubur ayam pun banyak dijumpai di pagi hari, biasanya mereka tidak hanya menjual bubur ayam saja, tapi juga nasi kuning, dan nasi uduk. Bubur ayam yang dimaksud di sini adalah bubur ayam Jakarta, yang penyajiannya berisi bubur beras, potongan ayam, kacang goreng, taburan daun bawang, dan kuah kare. Tidak lupa kerupuk sebagai penghias mangkok.
Makan bubur memang tidak mengenyangkan, tapi paling tidak sebagai pengganjal perut dan variasi sarapan. Harga seporsi rata-rata Rp. 7.000, belum termasuk tambahan perkedel 😀.

5. Nasi kuning
Ada dua jenis nasi kuning yang pernah kubeli; yang pertama the real nasi kuning yang pembuatannya menggunakan santan supaya nasi menjadi gurih. Yang kedua fake nasi kuning yang pembuatannya hanya diberi pewarna kuning saja tanpa santan 😊.

Nasi kuning yang lumayan gurih harganya berkisar Rp. 8.000 dengan perkedel atau telur. Sedangkan nasi kuning tanpa santan harganya hanya Rp. 2.000 - 3.000, ada harga ada rasa 😊.
Paket nasi kuning paha ayam.
Segmentasi kedua jenis nasi kuning tersebut berbeda, nasi kuning tanpa santan ditujukan pada kalangan siswa sekolah, mahasiswa, dan warga yang tidak ingin waktunya tersita. Biasanya nasi kuning ini dijual dalam kantong makanan, tinggal ambil dan bayar kepada penjual.
Nasi kuning original
Sedangkan the real nasi kuning lebih condong pada pembeli yang mengutamakan rasa dan punya sedikit waktu untuk antri membeli nasi kuning.

Standar penyajian kedua jenis nasi kuning di atas adalah nasi kuning dengan kering tempe, irisan telur dadar, dan seiris ketimun. Sekali lagi, ada harga ada rasa; semakin murah, kualitas dan kuantitas penyajian semakin berkurang 😁.

Inilah kelima menu sarapan pagi yang populer di Jogja versi metuomah.com. Semua menu tersebut merupakan kuliner nusantara, dimana Jogja adalah miniatur Indonesia. Orang yang datang ke Jogja, jika beruntung akan melihat WNI dari Sabang sampai Merauke, tidak hanya orangnya tapi juga kulinernya. Jogja merupakan kota pendidikan dan kota wisata.