Tuesday, March 21, 2017

Melihat Persiapan Kembalinya Malangan sebagai Desa Wisata

Tahun 1998 Malangan telah dicanangkan pemerintah sebagai desa wisata kerajinan. Namun seiring jatuhnya pemerintahan saat itu program desa wisata ikut "menguap". Baru setelah booming desa wisata menjalar di seluruh pelosok Indonesia, sekitar 3 bulan lalu Desa Wisata Malangan kembali memoles diri mengejar ketinggalannya.
Membelah persawahan Malangan (Foto: Riana Dewie).
Sabtu 11 Maret 2017 aku ikut serta Jelajah Malangan bersama Masdjo (Masyarakat Digital Jogja) yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Sleman. Tidak banyak yang ikut serta, mungkin karena Jogja tiap hari hujan, menyebabkan para warga internet malas ikut acara luar ruangan.
Naik bus Safari Dharma Raya.
Letak Desa Wisata Malangan
Malangan merupakan nama dusun yang terletak di desa Sumberagung kecamatan Moyudan kabupaten Sleman, DIY; sekitar 14 km sebelah barat Tugu Pal Putih Jogja, yang bisa ditempuh dalam 30 menit (bila tidak macet).
Desa wisata Malangan.
Dusun ini berada di selatan (kiri dari arah Jogja) Jalan Godean, sekitar 100 meter barat lampu merah Gedongan Moyudan. Mungkin yang paling mudah dihafal adalah di seberang (utara jalan raya Godean) dusun Malangan terdapat pool bus Kukuh dan Prayogo.
Gapura Malangan.
Selamat datang di Malangan
Kami disambut hangat Pokdarwis Desa Wisata Malangan di sekretariat desa wisata, sekitar 35 meter dari gapura dusun. Jajanan pasar dari pisang godhog, kacang godhog, dan wedang secang sudah tersedia di meja. Sungguh menggoda tenggorokan yang mulai kering.

Sebagai seremonial kepada para peserta Jelajah Malangan, dikenakanlah Udeng dengan harapan agar wisatawan selalu ingat dengan Desa Wisata Malangan. Sebagian besar peserta belum mengerti cara memakai udeng, sehingga Pak Wiji sebagai pengelola Desa Wisata Malangan memberikan tutorial pada rombongan. Udeng adalah ikat atau penutup kepala dari kain segitiga bermotif batik. Aku kurang tahu pemakainnya pada perempuan. Mungkin digunakan sebagai bando atau bandana?
Cara memakai udeng.
Ada 5 hal yang saat ini menjadi unggulan Desa Wisata Malangan, yaitu kerajinan bambu Tunggak Semi, pembuatan keris pusaka, perikanan, pertanian mina padi, dan kerajinan batik. Kami diberi kesempatan melihat kelima hal tersebut dengan menggunakan sepeda.
Sepeda untuk para pelancong Malangan.

Perikanan
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah perikanan yang terletak di sisi timur dusun. Menurut Pak Wiji, Malangan sudah dikenal sebagai sentra perikanan, terutama lele dumbo dan ikan mujahir. Para pedagang ikan dari luar Jogja pun "kulakan" ikan di Malangan, ada juga pemilik warung dan rumah makan yang membeli ikan di Malangan.
Makanan lele adalah pelet.
"Warga nggak ada yang jual matengan?" Tanya seorang peserta Jelajah kepada Pak Wiji.

"Ada tapi tidak banyak, warga lebih banyak menjual langsung. Dijual begini (ikan belum diolah -pen) aja sudah laku banyak." Jawaban Pak Wiji menghapus rasa penasaran penanya.

Oke deh... melihat kolam ikan menarik bagi yang ingin belajar beternak ikan. Tapi aku pribadi cukup 5 menit di sini, aku lebih tertarik melihat petani memanen ikan atau makan ikan olahan dari kolam petani. Saat kami datang, beberapa kolam lele dumbo sebenarnya sudah akan dipanen... tapi baru esok hari pemilik kolam berencana panen ikan 😊.

Perikanan Malangan terbantu oleh saluran irigasi Van der Wijck peninggalan Belanda, yang mengambil sumber dari Kali Progo di barat dan Kali Opak di timur. Mengenai jaring kelambu yang menutup seperti pada gambar di atas, berfungsi untuk melindungi lele agar tidak dimangsa burung Kontul atau sebagian menyebutnya burung Bango.

Batik
Dengan bersepeda kami melanjutkan perjalanan ke kerajinan batik, di tengah perjalanan kami berhenti melihat warga membuat kerajinan bambu. Mereka adalah anak asuh dari perusahaan kerajinan bambu Tunggak Semi.
Bertanya kepada warga.
Sejauh 15 langkah dari rumah warga tersebut, rombongan mendatangi rumah yang juga digunakan sebagai toko dan tempat membuat batik. Kubaca kartu nama yang diberikan kepadaku, tertulis "menerima pesanan seragam batik cap dan printing partai besar dan kecil."
Merajin batik tulis
Sekilas kuperhatikan Malangan bukan sentra batik dan tidak begitu banyak warga yang menggeluti profesi ini. Dan Malangan belum memiliki ciri khas motif batik, mengingat sudah banyak desa wisata yang menampilkan kerajinan batik dalam paket wisata. Tapi wisatawan masih bisa membeli batik dan (nantinya) belajar membatik di lokasi.

Melihat mina padi
Untuk melihat mina padi, rombongan bergerak menuju selatan dusun. Mina padi adalah pemanfaatkan lahan sawah untuk ditanami padi dan memelihara ikan secara bersamaan. Malangan adalah salah satu sentra mina padi Kabupaten Sleman, yang programnya terkenal hingga manca negara.
Mina padi di Desa Wisata Malangan.
Dengan mina padi, petani mendapat keuntungan dari panen padi dan ikan. Selain itu tidak direpotkan dengan hama tikus, rumput ilalang yang tumbuh di sela padi, serta pupuk; karena pupuk sudah tersedia alami oleh kotoran ikan (?). Suka deh lihat sawah begini, jadi betah berlama-lama di tepi sawah.

Pembuatan keris pusaka
Karena rombongan lain sudah beranjak meninggalkan persawahan mina padi, rombonganku (5 orang) pun mengikuti mereka, meskipun belum puas melihat dan mendengarkan penjelasan mina padi. Destinasi selanjutnya adalah pembuatan keris pusaka kraton yang hanya ada di Malangan.

Perjalanan agak jauh, membelah jalan antar desa yang ramai kendaraan bermotor. Dari persawahan kami menuju barat dan belok ke utara. Kali ini jalan sedikit menanjak. Secara geografis, DIY berada di sebelah selatan Gunung Merapi sehingga semakin ke utara maka jalanan akan naik. Sebaliknya selatan DIY adalah Samudra Hindia, semakin ke selatan maka jalanan semakin menurun. Tapi hal ini tidak berlaku untuk Gunungkidul.

Aku tidak mengikuti penjelasan pemandu dan empu keris, aku hanya duduk di teras rumah si empu. Panas yang mulai menyengat membuatku dehidrasi, kugunakan waktu tersisa untuk istirahat dan melewatkan momen ini. Tapi aku sempat mengambil beberapa gambar dan video saat besi keris dikeluarkan dari bara api dan dipukul dengan godam agar terbentuk sesuai keinginan.

Kerajinan bambu
Ba'da shalat Dzuhur berjama'ah di masjid depan pembuat keris, aku dan dua orang teman pulang ke sekretariat Desa Wisata Malangan, karena makan siang sudah menanti. Sepertinya aku selalu jadi yang terakhir 😍. Di tengah perjalanan kami dibelokkan pemandu, menelusuri jalan setapak menuju rumah warga pembuat kerajinan bambu. Mereka juga perajin bambu anak asuh Tunggak Semi.
Membuat kerajinan di rumah.
Pesanan klien Tunggak Semi mereka kerjakan di rumah, setelah jadi barulah dikirim kembali ke Tunggak Semi untuk finishing produk. Perusahaan Tunggak Semi menampung sekitar 150 karyawan yang mengerjakan berbagai kerajinan bambu pesanan klien yang kebanyakan dari luar negeri.

Perusahaan bambu Tunggak Semi hanya berjarak 50 meter selatan sekretariat Desa Wisata. Rombongan baru menuju perusahaan milik Supriyadi tersebut setelah istirahat makan siang.
Menjemur tali tambang dari bambu.
Aku tidak melihat kebun bambu di dusun Malangan, bahan baku bambu bukan berasal dari Malangan tapi dipasok dari daerah lain. Kebanyakan bambu yang ada di pabrik sudah dipotong kecil, hanya beberapa bambu utuh saja yang terlihat di halaman pabrik.
Siap di-ekspor.
Wisatawan yang berkunjung boleh membuat dan belajar kerajinan bambu (model sederhana) untuk dibawa pulang. Tapi sebelum ke Tunggak Semi harus membuat perjanjian atau proposal dahulu, karena pengelola desa wisata belum memiliki paket wisata ini. Semoga dalam beberapa bulan mendatang paket wisata sudah siap untuk wisatawan.

Tunggak Semi menjadi destinasi terakhir Jelajah Wisata Malangan. Pengelola desa wisata mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan dibuat arena outbond dan home stay. Semoga setelah semuanya siap, aku diundang kembali ke Malangan.

Bila ditanya apa yang paling berkesan saat melihat persiapan Desa Wisata Malangan? Jawabannya adalah jelajah dusun dengan sepeda.

Kontak Desa Wisata Malangan:
email: wisata.malangan@gmail.com
Instagram: @desawisata_Malangan

No comments:

Post a Comment