April 2017 - metuomah.com

Minggu, 30 April 2017

0

Sekali-kali Makan Ketoprak Jakarta Bang Rudy Jogja

Ketika bertamu di toko teman yang ada di Jalan Monjali 25A Yogyakarta, aku diajak makan malam. Kukira makan nasi ternyata makan ketoprak, alasannya ini yang paling dekat toko dan mengenyangkan. Sekalipun belum pernah makan ketoprak, dalam hati aku berprasangka jangan-jangan tengah malam aku kelaparan. Tidak enak menolak ajakan teman, apalagi ditraktir 😄, kalau lapar lagi siap-siap tengah malam ke warmindo.

Kami harus menunggu agak lama karena sambal kacangnya habis. Kata si penjual, sambal kacang masih dalam perjalanan ke warung... 😀. Aku kurang tahu, Ketoprak Jakarta Bang Rudy ini sistem franchise atau punya cabang. Ada warungnya di Jalan Monjali, dua di Jalan Kaliurang, mungkin masih ada warung lainnya ya?
Ketoprak Jakarta Bang Rudy.
Warung yang ada di Jalan Monjali terletak di timur jalan, dekat dengan toko cat dan bengkel motor. Dari perempatan lampu merah Monjali kira-kira 200 meter ke selatan.

Cara meracik bumbu ketoprak agak berbeda dengan lotek, kulihat si penjual “menguleg“ bawang putih dan cabai di piring, bukan di cobek. Digethok-gethok lumayan keras piringnya tidak pecah, sungguh luar biasa #lebay.
Daftar menu Ketoprak Jakarta Bang Rudy.

Inilah ketoprak Jakarta Bang Rudy, piring dipenuhi soon (bihun), taoco (kecambah) dan kerupuk. Irisan kecil kupat ada di dasar piring. Kalau mau makan diudek (diaduk) dahulu agar sambal kacang dan lainnya tercampur. Ciri khas ketoprak Bang Rudy ada di sambal kacangnya, rasa bumbunya terasa dan tekturnya tidak begitu lembut sehingga aroma kacangnya masih terasa.

Beberapa kali aku beli di warung timur MM UGM karena parkir motor gratis 😂, pengunjung yang bawa mobil akan kesulitan parkir karena tidak ada lahan, apalagi dekat dengan perempatan lampu merah Barek yang tiap hari macet.

Ada yang unik saat aku makan di ketoprak Jakarta Bang Rudy Monjali, setiap pembelian dibungkus dikenai biaya tambahan Rp. 1.000 hehehe.

Update 13 Oktober 2018
Selalu lupa menyampaikan bahwa kios yang tercantum dalam artikel ini sudah beralih ke pihak lain. Dengan kata lain pindah.

Rabu, 19 April 2017

2

Angkringan Tobat Buka Pagi, Soto Glugu dan Mangut Pesisir jadi Unggulan

Long weekend 14 April 2017 lalu, untuk pertama kalinya aku makan di Angkringan Tobat di Jalan Sukoharjo RT01/RW08, Sanggrahan Depok, Condongcatur, Sleman DIY. Kalau dari arah perempatan Condongcatur ke utara lurus hingga melihat onggokan reklame Angkringan Tobat di kanan (timur) jalan.
Soto Glugu Angkringan Tobat.

Baru 2 bulan Angkringan Tobat buka pagi hari mulai jam 09.00-17.00 WIB, sebelumnya warung milik 4 orang ini hanya buka sore dari jam 16.00-00.00 WIB. “Warung ini menyasar segmen keluarga dan anak muda, khususnya yang malu ketika jajan ke angkringan.” Tutur Mas Fandi, salah satu pemilik kepada pengunjung waktu itu.
Angkringan Tobat di Condong Catur.

Bebas akses internet menjadi daya tarik Angkringan Tobat, yang lebih mirip dengan warung atau cafe. Kurasa maksud angkringan di sini adalah menu makanan dan suasana, karena tidak ada gerobak angkring yang biasa menjadi tempat jualan angkringan di tepi jalan Jogja.

Menu pagi Angkringan Tobat
Dua menu unggulan di pagi hari adalah Soto Glugu dan Mangut Pesisir. Soto Glugu; menurut Mas Fandi adalah soto khas Jawa Timur, soto ini menurutku mirip Soto Surabaya; dimana separuh telur ayam menjadi toping. Rasa soto ini seperti soto sapi Jogja pada umumnya, yang disajikan dalam mangkuk terbuat dari glugu.

Di depan warung sudah tersaji lauk pelengkap seperti sate telur puyuh, tempe goreng, baceman, sate usus, perkedel, kerupuk, dan lain-lain... lengkap deh. Tapi aku keliru memilih lauk; perkedel dan sate telur puyuh! 😊 Karena model penyajiannya prasmanan, aku ambil mangkuk soto dan lauk dulu, barulah pramusaji menuang kuah dan topingnya.
Menu rekomendasi Angkringan Tobat.

Dua pilihan Mangut pesisir Angkringan Tobat yaitu Mangut ikan pari dan Mangut ikan layang; diklaim menjadi pembeda dengan warung lain di Jogja yang kebanyakan menyajikan menu Mangut Lele. Ikan bahan utama mangut, hidup di (sekitar) pesisir pantai sehingga menu di Angkringan Tobat dinamakan Mangut Pesisir.
Nasi sambal mangut pari oseng kangkung.

Sambal terasinya enak banget, jangan perhatikan piringnya ya... selain piring seng ada juga piring beling, aku yang salah ambil piring 😂.

Untuk minuman, aku pilih green tea dan teh tarik. Di sini ada dua teh yang membuatku susah membedakan karena warnanya sama-sama hijau, matca tea dan green tea. Keduanya hanya bisa dibedakan ketika mencicipinya wkwkwk.
Mangut Layang dan Pari.

Selain itu ada aneka minuman tradisional seperti wedang jahe, kunir asem, dan beras kencur. Ada juga kopi, sirup, dan limun sarsaparila. Yang menarik, pengunjung bisa memesan minuman kustom, misalnya sirup kopi atau teh jahe. Minuman kustom yang terpampang di daftar menu sudah pernah dicoba peraciknya, jika pengunjung minta kustom yang aneh boleh juga tapi rasa tanggung sendiri wkwkkw.
Pengunjung asyik ngobrol.
Harga makanan yang kupesan
Mangut Pesisir Rp. 10.000 belum termasuk nasi.
Soto Glugu Rp. 10.000
Es Green Tea Rp. 8.000
Es Teh Tarik Rp. 8.000

Sabtu, 15 April 2017

4

Mojolaban, Kecamatan yang terkenal dengan Kerupuk Karak dan Gamelan

Kami beranjak pergi meninggalkan dermaga Bengawan Solo di Dusun Klatak Desa Gadingan Kecamatan Mojolaban Sukoharjo, Jawa Tengah jam 09.30 WIB menuju destinasi pertama, salah satu pembuat kerupuk karak di Dusun Jagan Desa Gadingan, Mojolaban Sukoharjo. Desa Gadingan merupakan sentra pembuat kerupuk karak. Tulisan ini merupakan kelanjutan dari Wisata Bersepeda Menyeberangi Bengawan Solo.

Dari jauh Pak Bagyo berseru kepada kami, “Nggo tumut kula meleh...”

Kami hanya tersenyum mendengar ajakan tersebut, salah seorang dari kami menjawab “Mboten Pak, matur nuwun.” Kami terlalu asyik berdiskusi di tepi dermaga hingga lupa perjalanan masih panjang.
Keluar dari dermaga Bengawan Solo.

Hujan yang mengguyur sekitar Mojolaban menyebabkan jalan yang masih berupa tanah jeblok, kami harus berhati-hati melewatinya agar tidak kepathol. Bersepeda di atas tanah jeblok? Kalau tidak mau terperosok atau jatuh, mendingan dituntun saja deh.. sampai tanggul Bengawan Solo.

Turun dari tanggul, kami melihat sekumpulan sangkar (tentu saja di dalamnya ada burungnya) ditata rapi di tepi jalan. Menurut Mas Ayip, tempat tersebut ramai dikunjungi oleh fans love bird. Hmm... aku memang kuper, tetap belum paham dengan love bird.
Para pecinta Love bird.

Aku hanya melihat sepintas sangkar-sangkar itu, melenggang mengayuh sepeda mengikuti rombongan yang mulai jauh meninggalkanku. Tak banyak kendaraan lalu lalang di jalan aspal yang kami lewati. Jalanan yang sepi membuat kami tidak begitu khawatir akan "dibelai" kendaraan bermotor.

Kerupuk karak
10 menit perjalanan, sampailah di rumah salah satu pembuat kerupuk karak. Kusempatkan keliling rumah, rupanya rumah tersebut di bawah tanggul Bengawan Solo. Jadi kami harus jalan memutar untuk sampai di rumah pembuat karak langganan Mas Ayip ini.

Kesekian kalinya aku tidak mengaktifkan GPS di tempat yang kujamah pertama kali. Aku tidak tahu nama tempat dan rute jalan yang telah kulewati.

Mungkinkah kamu tidak akan makan kerupuk karak dan gendar pecel saat mengetahui pembuatannya? Wkwkwkwkk

Di rumah sederhana itu kulihat 2 orang ibu mengiris tipis-tipis gendar. Irisan tipis itu nantinya digoreng menjadi kerupuk karak. Gendar atau puli sering digunakan sebagai makanan pengganti nasi dengan sayur pecel. Orang sering menyebut nama makanan itu gendar pecel atau puli pecel. , Kerupuk karak juga punya nama lain yaitu kerupuk puli Jadi kerupuk karak adalah gendar atau puli yang digoreng.
Menjemur kerupuk karak.

Seorang ibu dan bapak berdiri di satu sudut rumah, menata gendar calon karak di atas anyaman bambu. Nantinya gendar dijemur di bawah sinar matahari sampai keras, penjemuran bisa sehari, 2 hingga 3 hari tergantung cuaca. Namun bila berhari-hari tidak ada sinar matahari (mendung atau hujan), gendar akan dipanaskan dengan tungku.

Mas Ayip membawa seplastik ukuran jumbo berisi karak kepada kami, akupun langsung menyerbu karena dari malam belum makan 😀. Pembuat kerupuk karak ini hanya menjual matang yang dikemas dalam plastik ukuran jumbo atau kira-kira sama dengan ukuran bagor. Aida; salah seorang peserta bertanya kepada pembuat kerupuk, “Sedinten telah beras pinten kilo?”

Ibu-ibu saling bersahutan menjawab, “Kinten-kinten nggih sekawan beras dolog, satus rongpuluh kiloan lah.”

Kesalahan kedua adalah aku tidak tahu nama narasumber.
Tempat menanak nasi.

Aku jadi inget, dahulu kerabatku sering membuat puli pecel, untuk konsumsi keluarga bukan untuk dijual. Gendar dibuat dari nasi sisa yang tidak termakan, daripada dibuang atau dimakan ayam juga tidak akan habis, mendingan diolah lagi menjadi gendar atau puli. Kadang hanya dijemur menjadi intip. Pembuatan gendar ini menggunakan obat kimia, orang-orang di pasar menyebutnya “bleng”. Memang enak, aku suka banget makan puli pecel sampai akhirnya tahu puli dibuat dari pengawet kimia berbahaya; berhenti pula makan puli pecel.

Tetangga yang berjualan di pasar pernah kutitipi “bleng” untuk obat pengusir semut. Bentuknya padat dijual dalam kemasan ±250 gr. Ketika aku bertanya kepada tetangga "bleng" itu apa? Dia tidak tahu, dia hanya tahu "bleng" adalah obat untuk mengeraskan makanan, bahan pembuat gendar. Kebanyakan orang tidak tahu bahwa "bleng" senada dengan boraks. (baca artikel detikfood ini)

Kerajinan Gamelan Palu Gongso
Setelah mencicipi kerupuk karak sebagai ganjal perut, rombongan melanjutkan perjalanan ke Dusun Gendengan, Wirun Mojolaban untuk melihat pembuatan gamelan. Menurut Mas Ayip, proses pembuatan gong dimulai jam 10.30 WIB.

Matahari membakar kulit, ketika kami meninggalkan Dusun Jagan menuju Dusun Gendengan. Sepanjang jalan dusun kulihat penduduk menjemur kerupuk karak di depan rumah, pemandangan ini berakhir saat kami keluar dari Desa Gadingan.
Separuh perjalanan menuju Gendengan.
Aku hanya mengikuti ketua rombongan, tidak tahu jalan dan dusun mana yang telah dilalui. Kurasa perjalanan ke destinasi kedua lumayan jauh,, belum capek banget sih, tapi cuaca panas membuat staminaku menurun. Setelah melipir rel kereta Solo - Wonogiri, kami beristirahat di rerimbunan kebun. Lumayan lah,,,  melepas penat, sambil bercerita pengalaman sepanjang perjalanan.

Jam 10.40 WIB kami menuju Palu Gongso, yang hanya berjarak 500 meter dari tempat kami istirahat. Rupanya waktu kunjungan kami kurang tepat, Pak Saroyo pemilik Palu Gongso tidak berada di tempat. Kami hanya memotret dan mengambil video saja.

Menurut Mas Ayip, gamelan Palu Gongso pernah dibeli Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seharga Rp. 450.000. Harga seperangkat gamelan lengkap terbilang mahal, terlebih kerajinan ini terbuat dari bahan berkualitas. Pak Saroyo adalah salah satu penerima Penghargaan Anugerah Kebudayaan  dan Maestro Seni Tradisi RI tahun 2012, sebagai pembuat dan pelestari gamelan. Piagamnya dipajang di dinding ruang gamelan.

Di Palu Gongso aku baru tahu gong yang bersuara merdu, jika dipukul suaranya empuk dan menggema panjang. UKM ini membuat gamelan berdasarkan pesanan, yang sedang dibuat saat kami ke sana adalah gong Bali.

Terakhir
Kami harus meneruskan perjalanan, jika ingin pulang lebih cepat... Karena cuaca kurang bersahabat, Mas Ayip mengubah rute menjadi lebih pendek. Sependek-pendeknya rute, tetap terasa jauh banget 😁. Jalan tanah di tengah persawahan kami lewati. Kulihat jalanan kering, artinya semalam daerah ini tidak hujan.
Melewati jalan kampung.
Jalan sawah, jalan dusun, dan perkampungan kami lewati di tengah terik matahari. Hingga sampailah di jempatan yang jadi maskot Desa bekonang, Mojolaban Kabupaten Sukoharjo. Di bawah pohon trembesi, rombongan menikmati es kelapa muda.
Minum es klamud.
Sueger buanguet,,, Aida yang mulai pucat pun kembali bersemangat 😅. Terima kasih untuk yang sudah nraktir, terima kasih juga Mbak Ovi yang mbayari snack 😀. Tiba-tiba saja air jatuh dari langit, kami pun bergegas mengambil sepeda dan ngebut menuju tempat yang nggak banget.
Ciu.
Melihat papan di ijin usaha, kelihatannya usaha tersebut dilegalkan pemerintah. Sebagian peserta tidak tertarik dengan destinasi terakhir ini, demikian juga dengan pemilik usaha... tidak keluar menemui rombongan bike tour. Jika memang memproduksi minuman keras, berarti haram bagi muslim.

Hujan mereda, rombongan berangkat makan siang di belakang Pasar Mojolaban. Bersyukur, hujan turun lagi ketika kami sudah makan. Inilah akhir petualangan sepeda menjelajah Mojolaban. Hujan terus menemaniku hingga balik ke Jogja malam itu.

Kamis, 13 April 2017

3

Wisata Bersepeda menyeberangi Bengawan Solo

Pohon rindang masih banyak tumbuh di beberapa tepi ruas jalan di Solo, meneduhkan para pesepeda dan pejalan kaki dari sengatan terik matahari. Bersepeda keliling kota bisa menjadi paket wisata menarik bagi wisatawan lokal maupun manca negara, selain mengunjungi tempat bersejarah heritage dan kuliner Kota Solo yang begitu menggoda untuk disinggahi.

Solo (pengucapan “o” seperti pada “lolos”) merupakan nama tidak resmi bagi Kota Surakarta. Sama halnya dengan Yogyakarta dengan sebutan Jogja.

Undangan wisata sepeda menjelajah Solo 6 April 2017, dari pemandu wisata di salah satu market place wisata tidak kusia-siakan. Berangkat dari Jogja dengan KA Prambanan Ekspress paling pagi kulakukan, meskipun harus keluar rumah jam 05.00 WIB menembus dinginnya pagi. Sesampainya di Stasiun Purwosari Solo, aku membonceng blogger Dimas Suyatno menuju Gedung Bakorwil II di ujung Jalan Slamet Riyadi Gladag, titik kumpul wisata sepeda.
Aida dan Ovi.
Hanya aku peserta dari Jogja, 8 orang lainnya berdominisili di Solo dimana 3 orang peserta dari market place wisata. Wisata sepeda kali ini tidak mengelilingi Kota Solo, melainkan menyeberangi Sungai Bengawan Solo, sekaligus bergeser dari Kota Solo ke Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah.

10 unit MTB dan city bike didatangkan dengan mobil bak terbuka, kuperhatikan hanya sedikit yang kondisinya prima. Ban city bike yang kupilih agak gembos, mayoritas sepeda terlihat kurang terawat, tapi masih bisa dikendarai dengan baik. Aku memilih city bike dengan keranjang di depan, sebagai tempat tas dan gawai untuk memotret sepanjang perjalanan. Maklum hanya punya gawai 😊 .

Berangkat menuju penyeberangan Sungai Bengawan Solo
Peserta sudah mulai risau, kenapa tidak segera berangkat agar terhindar dari sengatan matahari. Aku tidak tahu mana panitia dan pemandu hahaha... karena tidak ada yang memakai seragam kecuali 3 orang dari market place wisata, kuperhatikan mereka tidak berinisiatif memulai, jadi kusimpulkan mereka juga peserta 😀.
Jembatan Sungai Pepe di Demangan Sangkrah.

Tujuan wisata kali ini mengunjungi 3 tempat di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, yaitu sentra pembuatan kerupuk karak, tempat pembuatan gamelan spesialis gong, dan UKM pembuatan alkohol. Uniknya perjalanan ini akan menyeberangi Bengawan Solo dengan perahu (gethek). Sebenarnya ada jembatan menyeberangi Bengawan Solo, tapi (katanya) harus memutar sekitar 4 km dan.... perjalanan akan terasa hambar, hanya melihat aspal melulu.

Akhirnya kami berangkat jam 08.45 WIB menuju jembatan pintu air Sungai Pepe, Kelurahan Sangkrah Kecamatan Pasar Kliwon. Lalu melipir sepanjang tanggul hingga ke penyeberangan Bengawan Solo di Kampung Beton, Kelurahan Sewu, Jebres Kota Surakarta. Kalau dirunut sedari awal, start dari gedung Bakorwil II - alun-alun utara - Kraton Kasunanan, belok ke timur terus dan terus..... hingga berhenti di pintu air Sungai Pepe.
Bersepeda di Beton, Kampung Sewu.

Jembatan Sungai Pepe tergolong unik, selain hanya bisa dilalui roda dua, kiri-kanan jembatan dipasang teralis besi berongga dan memiliki atap. Bawah jembatan tersebut adalah pintu air Sungai Pepe yang bermuara ke Bengawan Solo. Agak miris melihat air sungai berwarna merah kecoklatan, pertanda air sungai tercemar limbah pabrik.

Setelah beristirahat sejenak sambil berbincang, rombongan bergerak menyusuri tanggul Sungai Pepe. Sebagian jalan sudah dicor semen, beberapa titik dipasangi gundukan agar kendaraan tidak ngebut. Tak lama kemudian sampailah kami di penyeberangan Bengawan Solo.

Gladag – Pintu air Sungai Pepe 10 menit
Pintu air – Beton penyeberangan Bengawan Solo 3 menit.

Menyeberang ke Gadingan Sukoharjo
Di dermaga yang hanya terbuat dari anyaman bambu, sudah menunggu seorang anak membawa sangkar burung dan bapak dengan motornya. Terlihat perahu gethek di seberang Bengawan Solo menuju ke arah kami, hanya ada seorang ibu sepuh yang menumpang menuju Solo.

Perahu kayu yang digunakan besarnya hampir sama dengan perahu nelayan pantai. Kenapa aku menyebutnya perahu gethek? Karena perahu untuk menyeberang Bengawan Solo tidak didayung atau bermotor. Depan perahu dikaitkan dengan seutas tali tambang yang sengaja dibentangkan membelah Bengawan Solo. Ketika menyeberang, nahkoda menarik perahu seisinya dengan berpegangan tali tambang (aku bingung mengungkapkannya, intinya seperti panjat dinding deh,,, menarik diri dengan tali gitu). Baru setelah dekat dengan dermaga, dia menggunakan bambu untuk merapatkan perahu ke tepi sungai.
Naik ke atas perahu gethek.

Hari sebelumnya, hujan mengguyur Solo dan sekitarnya dari siang hingga malam. Pagi itu air sungai Bengawan Solo terlihat tinggi dan mengalir deras, orang-orang menyebutnya banjir. Kadang heran juga sih, sungai kok banjir? Biasanya disebut banjir itu jika dataran terdapat air yang menggenang atau dilalui air diluar kebiasaan.

Setibanya di dermaga Solo (seberang sungai sudah masuk wilayah Kabupaten Sukoharjo), kudengar pembicaraan penumpang dan nahkoda, “Lunyu ora, sandale tak copot nak lunyu.” Tanya ibu penumpang perahu kepada nahkoda.

“Mengko sik, tak taleni dhisik. Iki kaline rodo dhuwur.” Seloroh nahkoda tersebut sambil berusaha menambatkan tali perahu ke pathok bambu yang menancap di tepi sungai.

Karena kesulitan, orang tersebut mengumpat dua kali dan dengan nada marah menyuruh penumpangnya untuk naik ke dermaga. “Kono munggah dhisik, malah marai kemrungsung!”

Ibu tersebut akhirnya turun dari perahu gethek tanpa alas kaki. Dermaga anyaman bambu kebetulan kering, biasanya jika basah agak sedikit licin apalagi ada sisa tanah yang dibawa oleh alas kaki penumpang.
Di atas perahu gethek.

Kami kemudian naik satu-persatu membawa sepeda masing-masing. Sepeda ditata rapi berjajar, terbukti perahu gethek ini mampu membawa 10 sepeda dan 2 motor plus penumpangnya.

Setelah semua naik dan menampatkan diri pada posisi berimbang (agar perahu tidak oleng ke satu sisi), Pak Bagong (kalau tidak salah dengar); nama nahkoda tersebut mulai menengahkan perahu dengan bambu. Aku duduk di depan sehingga dapat melihat Pak Bagong sekuat tenaga menarik tari, agar perahu sampai di seberang. Sampai di tengah Bengawan Solo nyaliku ciut, ngeri juga melihat derasnya aliran sungai. Terbayang bagaimana jika ada orang yang jatuh, kemungkinan ditemukan dalam keadaan hidup kecil.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam, merekam penyeberangan sungai dan memotret beberapa sudut untuk dokumentasi. Sampai di seberang baru ingat, aku lupa tidak swafoto wkwkwkk.

Setelah menepi di dermaga Dukuh Klatak Desa Gadingan, Mojolaban Sukoharjo, motor dan sepeda diturunkan satu persatu. Kami beristirahat sejenak sambil berdiskusi penyeberangan Bengawan Solo ini. Di sinilah aku baru tahu, ketua rombongan dan pemandu adalah Mas Ayip (pengucapan dalam bahasa Belanda) wkwkwkk, parah memang 😂😂.

Menurut Mas Ayip, Pak Bagong mengoperasikan perahu gethek ini bergantian dengan satu rekannya. Melayani dari sekitar jam 04.00 – 19.00 WIB. “Serius dari jam empat pagi?” Semua tidak percaya sepagi dan semalam itu menyeberang Bengawan Solo.

“Beneran, ada penumpangnya. Tapi saya sarankan jangan malam hari karena kalau kenter pertolongan pertama baru datang keesokan hari.” Dengan setengah bercanda Mas Ayip menerangkan kepada kami. Jika tidak ada kebutuhan mendesak, mana mau aku naik perahu gethek gelap-gelapan... hehehe.

Setiap orang yang menyeberang dikenakan biaya Rp. 1.000 – 2.000. Aku yang membawa sepeda hanya ditarik Rp. 2.000, demikian juga dengan motor. Paling mahal biaya penyeberangan hanya Rp. 3.000. Mas Ayip mengaku sering membayar lebih jika membawa tamu bike tour, bukan karena diminta tapi karena ingin berbagi rezeki,,, toh harga Rp. 3.000 tidak terhitung mahal bagi wisatawan. Jadi saat menyeberang tadi, Mas Ayip menghitung per orang Rp. 3.000.

Koordinat terdekat penyeberangan:
- Solo:
- Sukoharjo: https://goo.gl/maps/KeRkvsT3Trs

Bagaimana perjalanan berikutnya, dan berapa harga paket wisata bike tour ini? Baca kelanjutannya di Mojolaban, kecamatan sentra pembuat kerupuk dan gamelan... ini sudah terlalu panjang 😄.

Minggu, 09 April 2017

0

Pujasera Central City Mall Penggaron Semarang

Food Court (pujasera) Central City Mall atau lebih dikenal dengan Giant Hypermart Penggaron (karena tulisannya gedhe di depan) terletak di sisi barat mall. Gedung yang berada di Jalan Brigjen Sudiarto Km. 11, Plamongan Sari, Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah ini terlihat sepi. Hanya segelintir orang yang mampir berbelanja ke sini. Harga barang di hypermarket terasa mahal dibandingkan dengan minimarket yang buka di tengah perkampungan penduduk.

Mall 1 lantai ini berada di timur Terminal Penggaron, terminal bayangan di timur kota Semarang. Di terminal inilah bus antarkota Semarang menuju Purwodadi, Blora, Juwangi, dan Kedungjati berada. Kereta api Kalijaga yang melayani Semarang Solo via Kedungjati hanya satu rit, sehingga alternatif selain KA adalah bus kecil; seperti yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Selain naik bus kecil ke Kedungjati, bisa juga naik bus kecil jurusan Juwangi atau bus besar jurusan Purwodadi, lalu turun di Gubug dan ganti bus kecil menuju Kedungjati. Biasanya bus jurusan Kedungjati “ngetem” agak lama di Gubug, waktunya bisa digunakan untuk jalan-jalan sebentar.
Food court (pujasera) Central City Mall Semarang.

Kembali ke bahasan food court. Sambil menunggu bus yang akan berangkat ke Gubug (plus malas mendengarkan pengamen), saya ke food court Giant karena perut keroncongan. Kios berjejer membentuk huruf U ke timur. Banyak pilihan menu dari gado-gado, pempek, kupat tahu, aneka sup, nasi goreng, sea food, dan aneka soto.

Ada yang unik ketika membeli soto di sini, dimana penjual menawarkan mangkuk kecil dan besar. Sesuatu yang belum pernah saya jumpai di Jogja. Saya lebih suka pilih mangkuk kecil karena rencananya, sesampainya di Gubug akan beli makanan lagi 😊.
Soto Pujasera Central City Mall.
Saya juga pernah memesan gado-gado, porsinya memang bukan porsi kuli. Tapi cukup untuk mengganjal perut hingga saatnya makan siang. Minuman yang saya pesan selalu teh manis hangat untuk menghangatkan badan.
Gado-gado dan teh manis hangat.
Pengunjung food court cukup banyak, harganya juga bersahabat; murah untuk ukuran food court di sebuah mall. Semangkuk nasi soto kecil hanya Rp. 6.000, gado-gado seharga Rp. 10.000. yang menjadi kekurangan adalah seringkali penjual tidak memiliki kembalian uang kecil. Penjual seharusnya memahami, pengunjung di stand kuliner mereka bukan niat dari rumah untuk jajan, tapi mampir setelah selesai traveling atau shopping.

Yang nggak banget dari pengelola gedung adalah fasilitas toilet yang hanya ada di satu sudut bangunan, dan oknum sekuriti yang over acting yang kurang sopan kepada pengunjung. Mendingan di gedung ini tidak usah bertanya pada sekuriti, cukup makan saja lalu pulang.

Update 1 Maret 2019
Giant sudah hengkang dari Central City Mall menyebabkan Central City Mall sepi tanpa pengunjung. Pujasera menjadi tidak laku. Tunggu perkembangan mall ini setelah Transmart di seberang jalan dibuka untuk umum.

Artikel terkait:
- Mencoba Paket Udang Sambel Layah Semarang

Minggu, 02 April 2017

1

Pecinta Taoco Jogja, Sudahkah Mencicipi Soto Taoco Sedap Malam?

Jam mulai mendekati 21.00 WIB ketika aku pulang dari Kaliurang. Perut mulai terasa perih, belum terisi dari siang hari. Malam itu aku ingin makan sesuatu yang berkuah, kuliner yang jarang ditemui pada malam hari di Jogja. Di Jalan Kaliurang km 4,5 kulihat baliho besar sebuah warung menawarkan menu soto. Akupun tergoda untuk mencobanya.
Soto Taoco Sedap Malam
Ketika masuk warung di timur Jalan Kaliurang itu, kulihat 2 ibu-ibu yang menjaganya. Selain itu ada seorang pengunjung yang akan beranjak pergi, usai menghabiskan makanan yang dipesannya.

Kulihat menu yang terpampang di dinding, akupun memesan semangkuk soto taoco daging sapi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Taoco disebut juga taoge dan kecambah, kurang familier sebagai bahan utama soto di Jogja, namun banyak ditemukan di daerah sekitar Tegal (Jawa Tengah).
Menu soto.
Setelah pesanan tiba, terlihat kecambah ada dimana-mana 😃. Rasa kecambah mendominasi soto yang kupesan, dan kecambahnya memang fresh alias tidak layu sehingga aromanya sangat kuat.

Bagi pecinta taoco, taoge, atau kecambah, soto ini patut dicoba apakah sudah sesuai dengan selera anda? Setahuku warung ini tidak pernah tutup, entahlah jika di atas jam 00.00 WIB.
Warung Sedap Malam.
Sekarang, warung ini tidak hanya menjual soto, tapi juga lengko dan aneka lauk. Pecinta kecambah di Jogja mungkin tidak sebanyak di Tegal sehingga pemilik warung meluaskan menu yang lebih familier dengan lidah Jogja.

Update 15 September 2017
Per September 2017, Warung Sedap Malam tidak lagi hadir di Jalan Kaliurang Mbarek.