Ketika bertamu di toko teman yang ada di Jalan Monjali 25A Yogyakarta, aku diajak makan malam. Kukira makan nasi ternyata makan ketoprak, alasannya ini yang paling dekat toko dan mengenyangkan. Sekalipun belum pernah makan ketoprak, dalam hati aku berprasangka jangan-jangan tengah malam aku kelaparan. Tidak enak menolak ajakan teman, apalagi ditraktir ­čśä, kalau lapar lagi siap-siap tengah malam ke warmindo.

Kami harus menunggu agak lama karena sambal kacangnya habis. Kata si penjual, sambal kacang masih dalam perjalanan ke warung... ­čśÇ. Aku kurang tahu, Ketoprak Jakarta Bang Rudy ini sistem franchise atau punya cabang. Ada warungnya di Jalan Monjali, dua di Jalan Kaliurang, mungkin masih ada warung lainnya ya?
Ketoprak Jakarta Bang Rudy.
Warung yang ada di Jalan Monjali terletak di timur jalan, dekat dengan toko cat dan bengkel motor. Dari perempatan lampu merah Monjali kira-kira 200 meter ke selatan.

Cara meracik bumbu ketoprak agak berbeda dengan lotek, kulihat si penjual “menguleg“ bawang putih dan cabai di piring, bukan di cobek. Digethok-gethok lumayan keras piringnya tidak pecah, sungguh luar biasa #lebay.
Daftar menu Ketoprak Jakarta Bang Rudy.

Inilah ketoprak Jakarta Bang Rudy, piring dipenuhi soon (bihun), taoco (kecambah) dan kerupuk. Irisan kecil kupat ada di dasar piring. Kalau mau makan diudek (diaduk) dahulu agar sambal kacang dan lainnya tercampur. Ciri khas ketoprak Bang Rudy ada di sambal kacangnya, rasa bumbunya terasa dan tekturnya tidak begitu lembut sehingga aroma kacangnya masih terasa.

Beberapa kali aku beli di warung timur MM UGM karena parkir motor gratis ­čśé, pengunjung yang bawa mobil akan kesulitan parkir karena tidak ada lahan, apalagi dekat dengan perempatan lampu merah Barek yang tiap hari macet.

Ada yang unik saat aku makan di ketoprak Jakarta Bang Rudy Monjali, setiap pembelian dibungkus dikenai biaya tambahan Rp. 1.000 hehehe.