Mojolaban, Kecamatan yang terkenal dengan Kerupuk Karak dan Gamelan

metuomah.com April 15, 2017
Kami beranjak pergi meninggalkan dermaga Bengawan Solo di Dusun Klatak Desa Gadingan Kecamatan Mojolaban Sukoharjo, Jawa Tengah jam 09.30 WIB menuju destinasi pertama, salah satu pembuat kerupuk karak di Dusun Jagan Desa Gadingan, Mojolaban Sukoharjo. Desa Gadingan merupakan sentra pembuat kerupuk karak. Tulisan ini merupakan kelanjutan dari Wisata Bersepeda Menyeberangi Bengawan Solo.

Dari jauh Pak Bagyo berseru kepada kami, “Nggo tumut kula meleh...”

Kami hanya tersenyum mendengar ajakan tersebut, salah seorang dari kami menjawab “Mboten Pak, matur nuwun.” Kami terlalu asyik berdiskusi di tepi dermaga hingga lupa perjalanan masih panjang.
Keluar dari dermaga Bengawan Solo.

Hujan yang mengguyur sekitar Mojolaban menyebabkan jalan yang masih berupa tanah jeblok, kami harus berhati-hati melewatinya agar tidak kepathol. Bersepeda di atas tanah jeblok? Kalau tidak mau terperosok atau jatuh, mendingan dituntun saja deh.. sampai tanggul Bengawan Solo.

Turun dari tanggul, kami melihat sekumpulan sangkar (tentu saja di dalamnya ada burungnya) ditata rapi di tepi jalan. Menurut Mas Ayip, tempat tersebut ramai dikunjungi oleh fans love bird. Hmm... aku memang kuper, tetap belum paham dengan love bird.
Para pecinta Love bird.

Aku hanya melihat sepintas sangkar-sangkar itu, melenggang mengayuh sepeda mengikuti rombongan yang mulai jauh meninggalkanku. Tak banyak kendaraan lalu lalang di jalan aspal yang kami lewati. Jalanan yang sepi membuat kami tidak begitu khawatir akan "dibelai" kendaraan bermotor.

Kerupuk karak
10 menit perjalanan, sampailah di rumah salah satu pembuat kerupuk karak. Kusempatkan keliling rumah, rupanya rumah tersebut di bawah tanggul Bengawan Solo. Jadi kami harus jalan memutar untuk sampai di rumah pembuat karak langganan Mas Ayip ini.

Kesekian kalinya aku tidak mengaktifkan GPS di tempat yang kujamah pertama kali. Aku tidak tahu nama tempat dan rute jalan yang telah kulewati.

Mungkinkah kamu tidak akan makan kerupuk karak dan gendar pecel saat mengetahui pembuatannya? Wkwkwkwkk

Di rumah sederhana itu kulihat 2 orang ibu mengiris tipis-tipis gendar. Irisan tipis itu nantinya digoreng menjadi kerupuk karak. Gendar atau puli sering digunakan sebagai makanan pengganti nasi dengan sayur pecel. Orang sering menyebut nama makanan itu gendar pecel atau puli pecel. , Kerupuk karak juga punya nama lain yaitu kerupuk puli Jadi kerupuk karak adalah gendar atau puli yang digoreng.
Menjemur kerupuk karak.

Seorang ibu dan bapak berdiri di satu sudut rumah, menata gendar calon karak di atas anyaman bambu. Nantinya gendar dijemur di bawah sinar matahari sampai keras, penjemuran bisa sehari, 2 hingga 3 hari tergantung cuaca. Namun bila berhari-hari tidak ada sinar matahari (mendung atau hujan), gendar akan dipanaskan dengan tungku.

Mas Ayip membawa seplastik ukuran jumbo berisi karak kepada kami, akupun langsung menyerbu karena dari malam belum makan 😀. Pembuat kerupuk karak ini hanya menjual matang yang dikemas dalam plastik ukuran jumbo atau kira-kira sama dengan ukuran bagor. Aida; salah seorang peserta bertanya kepada pembuat kerupuk, “Sedinten telah beras pinten kilo?”

Ibu-ibu saling bersahutan menjawab, “Kinten-kinten nggih sekawan beras dolog, satus rongpuluh kiloan lah.”

Kesalahan kedua adalah aku tidak tahu nama narasumber.
Tempat menanak nasi.

Aku jadi inget, dahulu kerabatku sering membuat puli pecel, untuk konsumsi keluarga bukan untuk dijual. Gendar dibuat dari nasi sisa yang tidak termakan, daripada dibuang atau dimakan ayam juga tidak akan habis, mendingan diolah lagi menjadi gendar atau puli. Kadang hanya dijemur menjadi intip. Pembuatan gendar ini menggunakan obat kimia, orang-orang di pasar menyebutnya “bleng”. Memang enak, aku suka banget makan puli pecel sampai akhirnya tahu puli dibuat dari pengawet kimia berbahaya; berhenti pula makan puli pecel.

Tetangga yang berjualan di pasar pernah kutitipi “bleng” untuk obat pengusir semut. Bentuknya padat dijual dalam kemasan ±250 gr. Ketika aku bertanya kepada tetangga "bleng" itu apa? Dia tidak tahu, dia hanya tahu "bleng" adalah obat untuk mengeraskan makanan, bahan pembuat gendar. Kebanyakan orang tidak tahu bahwa "bleng" senada dengan boraks. (baca artikel detikfood ini)

Kerajinan Gamelan Palu Gongso
Setelah mencicipi kerupuk karak sebagai ganjal perut, rombongan melanjutkan perjalanan ke Dusun Gendengan, Wirun Mojolaban untuk melihat pembuatan gamelan. Menurut Mas Ayip, proses pembuatan gong dimulai jam 10.30 WIB.

Matahari membakar kulit, ketika kami meninggalkan Dusun Jagan menuju Dusun Gendengan. Sepanjang jalan dusun kulihat penduduk menjemur kerupuk karak di depan rumah, pemandangan ini berakhir saat kami keluar dari Desa Gadingan.
Separuh perjalanan menuju Gendengan.
Aku hanya mengikuti ketua rombongan, tidak tahu jalan dan dusun mana yang telah dilalui. Kurasa perjalanan ke destinasi kedua lumayan jauh,, belum capek banget sih, tapi cuaca panas membuat staminaku menurun. Setelah melipir rel kereta Solo - Wonogiri, kami beristirahat di rerimbunan kebun. Lumayan lah,,,  melepas penat, sambil bercerita pengalaman sepanjang perjalanan.

Jam 10.40 WIB kami menuju Palu Gongso, yang hanya berjarak 500 meter dari tempat kami istirahat. Rupanya waktu kunjungan kami kurang tepat, Pak Saroyo pemilik Palu Gongso tidak berada di tempat. Kami hanya memotret dan mengambil video saja.

Menurut Mas Ayip, gamelan Palu Gongso pernah dibeli Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seharga Rp. 450.000. Harga seperangkat gamelan lengkap terbilang mahal, terlebih kerajinan ini terbuat dari bahan berkualitas. Pak Saroyo adalah salah satu penerima Penghargaan Anugerah Kebudayaan  dan Maestro Seni Tradisi RI tahun 2012, sebagai pembuat dan pelestari gamelan. Piagamnya dipajang di dinding ruang gamelan.

Di Palu Gongso aku baru tahu gong yang bersuara merdu, jika dipukul suaranya empuk dan menggema panjang. UKM ini membuat gamelan berdasarkan pesanan, yang sedang dibuat saat kami ke sana adalah gong Bali.

Terakhir
Kami harus meneruskan perjalanan, jika ingin pulang lebih cepat... Karena cuaca kurang bersahabat, Mas Ayip mengubah rute menjadi lebih pendek. Sependek-pendeknya rute, tetap terasa jauh banget 😁. Jalan tanah di tengah persawahan kami lewati. Kulihat jalanan kering, artinya semalam daerah ini tidak hujan.
Melewati jalan kampung.
Jalan sawah, jalan dusun, dan perkampungan kami lewati di tengah terik matahari. Hingga sampailah di jempatan yang jadi maskot Desa bekonang, Mojolaban Kabupaten Sukoharjo. Di bawah pohon trembesi, rombongan menikmati es kelapa muda.
Minum es klamud.
Sueger buanguet,,, Aida yang mulai pucat pun kembali bersemangat 😅. Terima kasih untuk yang sudah nraktir, terima kasih juga Mbak Ovi yang mbayari snack 😀. Tiba-tiba saja air jatuh dari langit, kami pun bergegas mengambil sepeda dan ngebut menuju tempat yang nggak banget.
Ciu.
Melihat papan di ijin usaha, kelihatannya usaha tersebut dilegalkan pemerintah. Sebagian peserta tidak tertarik dengan destinasi terakhir ini, demikian juga dengan pemilik usaha... tidak keluar menemui rombongan bike tour. Jika memang memproduksi minuman keras, berarti haram bagi muslim.

Hujan mereda, rombongan berangkat makan siang di belakang Pasar Mojolaban. Bersyukur, hujan turun lagi ketika kami sudah makan. Inilah akhir petualangan sepeda menjelajah Mojolaban. Hujan terus menemaniku hingga balik ke Jogja malam itu.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

4 komentar

komentar
4/20/17, 11:31 AM delete

Aku juga suka banget karak, bleng bisa diganti dengan tapioka, banyak kok sekarang penjual karak yg ngga pake bleng, pake tapioka itu aman.

Reply
avatar
4/20/17, 8:24 PM delete

Bagus sekali Mojolaban potensinya karak dan gamelan. Sayangnya, daerah dekat situ ada sentra ciu.

Reply
avatar
4/21/17, 8:23 AM delete

Makasih mbak Prima, baru tahu kalau bleng bisa diganti tapioka. Coba nanti aku cari karak yang nggak pake bleng ;).

Reply
avatar
4/21/17, 8:26 AM delete

Nah, artikel ini belum selesai :-(. Kemarin ke sentra itu juga, peserta tour tertarik begitu tertarik.

Reply
avatar