Thursday, April 13, 2017

Wisata Bersepeda menyeberangi Bengawan Solo

Pohon rindang masih banyak tumbuh di beberapa tepi ruas jalan di Solo, meneduhkan para pesepeda dan pejalan kaki dari sengatan terik matahari. Bersepeda keliling kota bisa menjadi paket wisata menarik bagi wisatawan lokal maupun manca negara, selain mengunjungi tempat bersejarah heritage dan kuliner Kota Solo yang begitu menggoda untuk disinggahi.

Solo (pengucapan “o” seperti pada “lolos”) merupakan nama tidak resmi bagi Kota Surakarta. Sama halnya dengan Yogyakarta dengan sebutan Jogja.

Undangan wisata sepeda menjelajah Solo 6 April 2017, dari pemandu wisata di salah satu market place wisata tidak kusia-siakan. Berangkat dari Jogja dengan KA Prambanan Ekspress paling pagi kulakukan, meskipun harus keluar rumah jam 05.00 WIB menembus dinginnya pagi. Sesampainya di Stasiun Purwosari Solo, aku membonceng blogger Dimas Suyatno menuju Gedung Bakorwil II di ujung Jalan Slamet Riyadi Gladag, titik kumpul wisata sepeda.
Aida dan Ovi.
Hanya aku peserta dari Jogja, 8 orang lainnya berdominisili di Solo dimana 3 orang peserta dari market place wisata. Wisata sepeda kali ini tidak mengelilingi Kota Solo, melainkan menyeberangi Sungai Bengawan Solo, sekaligus bergeser dari Kota Solo ke Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah.

10 unit MTB dan city bike didatangkan dengan mobil bak terbuka, kuperhatikan hanya sedikit yang kondisinya prima. Ban city bike yang kupilih agak gembos, mayoritas sepeda terlihat kurang terawat, tapi masih bisa dikendarai dengan baik. Aku memilih city bike dengan keranjang di depan, sebagai tempat tas dan gawai untuk memotret sepanjang perjalanan. Maklum hanya punya gawai 😊 .

Berangkat menuju penyeberangan Sungai Bengawan Solo
Peserta sudah mulai risau, kenapa tidak segera berangkat agar terhindar dari sengatan matahari. Aku tidak tahu mana panitia dan pemandu hahaha... karena tidak ada yang memakai seragam kecuali 3 orang dari market place wisata, kuperhatikan mereka tidak berinisiatif memulai, jadi kusimpulkan mereka juga peserta 😀.
Jembatan Sungai Pepe di Demangan Sangkrah.

Tujuan wisata kali ini mengunjungi 3 tempat di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, yaitu sentra pembuatan kerupuk karak, tempat pembuatan gamelan spesialis gong, dan UKM pembuatan alkohol. Uniknya perjalanan ini akan menyeberangi Bengawan Solo dengan perahu (gethek). Sebenarnya ada jembatan menyeberangi Bengawan Solo, tapi (katanya) harus memutar sekitar 4 km dan.... perjalanan akan terasa hambar, hanya melihat aspal melulu.

Akhirnya kami berangkat jam 08.45 WIB menuju jembatan pintu air Sungai Pepe, Kelurahan Sangkrah Kecamatan Pasar Kliwon. Lalu melipir sepanjang tanggul hingga ke penyeberangan Bengawan Solo di Kampung Beton, Kelurahan Sewu, Jebres Kota Surakarta. Kalau dirunut sedari awal, start dari gedung Bakorwil II - alun-alun utara - Kraton Kasunanan, belok ke timur terus dan terus..... hingga berhenti di pintu air Sungai Pepe.
Bersepeda di Beton, Kampung Sewu.

Jembatan Sungai Pepe tergolong unik, selain hanya bisa dilalui roda dua, kiri-kanan jembatan dipasang teralis besi berongga dan memiliki atap. Bawah jembatan tersebut adalah pintu air Sungai Pepe yang bermuara ke Bengawan Solo. Agak miris melihat air sungai berwarna merah kecoklatan, pertanda air sungai tercemar limbah pabrik.

Setelah beristirahat sejenak sambil berbincang, rombongan bergerak menyusuri tanggul Sungai Pepe. Sebagian jalan sudah dicor semen, beberapa titik dipasangi gundukan agar kendaraan tidak ngebut. Tak lama kemudian sampailah kami di penyeberangan Bengawan Solo.

Gladag – Pintu air Sungai Pepe 10 menit
Pintu air – Beton penyeberangan Bengawan Solo 3 menit.

Menyeberang ke Gadingan Sukoharjo
Di dermaga yang hanya terbuat dari anyaman bambu, sudah menunggu seorang anak membawa sangkar burung dan bapak dengan motornya. Terlihat perahu gethek di seberang Bengawan Solo menuju ke arah kami, hanya ada seorang ibu sepuh yang menumpang menuju Solo.

Perahu kayu yang digunakan besarnya hampir sama dengan perahu nelayan pantai. Kenapa aku menyebutnya perahu gethek? Karena perahu untuk menyeberang Bengawan Solo tidak didayung atau bermotor. Depan perahu dikaitkan dengan seutas tali tambang yang sengaja dibentangkan membelah Bengawan Solo. Ketika menyeberang, nahkoda menarik perahu seisinya dengan berpegangan tali tambang (aku bingung mengungkapkannya, intinya seperti panjat dinding deh,,, menarik diri dengan tali gitu). Baru setelah dekat dengan dermaga, dia menggunakan bambu untuk merapatkan perahu ke tepi sungai.
Naik ke atas perahu gethek.

Hari sebelumnya, hujan mengguyur Solo dan sekitarnya dari siang hingga malam. Pagi itu air sungai Bengawan Solo terlihat tinggi dan mengalir deras, orang-orang menyebutnya banjir. Kadang heran juga sih, sungai kok banjir? Biasanya disebut banjir itu jika dataran terdapat air yang menggenang atau dilalui air diluar kebiasaan.

Setibanya di dermaga Solo (seberang sungai sudah masuk wilayah Kabupaten Sukoharjo), kudengar pembicaraan penumpang dan nahkoda, “Lunyu ora, sandale tak copot nak lunyu.” Tanya ibu penumpang perahu kepada nahkoda.

“Mengko sik, tak taleni dhisik. Iki kaline rodo dhuwur.” Seloroh nahkoda tersebut sambil berusaha menambatkan tali perahu ke pathok bambu yang menancap di tepi sungai.

Karena kesulitan, orang tersebut mengumpat dua kali dan dengan nada marah menyuruh penumpangnya untuk naik ke dermaga. “Kono munggah dhisik, malah marai kemrungsung!”

Ibu tersebut akhirnya turun dari perahu gethek tanpa alas kaki. Dermaga anyaman bambu kebetulan kering, biasanya jika basah agak sedikit licin apalagi ada sisa tanah yang dibawa oleh alas kaki penumpang.
Di atas perahu gethek.

Kami kemudian naik satu-persatu membawa sepeda masing-masing. Sepeda ditata rapi berjajar, terbukti perahu gethek ini mampu membawa 10 sepeda dan 2 motor plus penumpangnya.

Setelah semua naik dan menampatkan diri pada posisi berimbang (agar perahu tidak oleng ke satu sisi), Pak Bagong (kalau tidak salah dengar); nama nahkoda tersebut mulai menengahkan perahu dengan bambu. Aku duduk di depan sehingga dapat melihat Pak Bagong sekuat tenaga menarik tari, agar perahu sampai di seberang. Sampai di tengah Bengawan Solo nyaliku ciut, ngeri juga melihat derasnya aliran sungai. Terbayang bagaimana jika ada orang yang jatuh, kemungkinan ditemukan dalam keadaan hidup kecil.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam, merekam penyeberangan sungai dan memotret beberapa sudut untuk dokumentasi. Sampai di seberang baru ingat, aku lupa tidak swafoto wkwkwkk.

Setelah menepi di dermaga Dukuh Klatak Desa Gadingan, Mojolaban Sukoharjo, motor dan sepeda diturunkan satu persatu. Kami beristirahat sejenak sambil berdiskusi penyeberangan Bengawan Solo ini. Di sinilah aku baru tahu, ketua rombongan dan pemandu adalah Mas Ayip (pengucapan dalam bahasa Belanda) wkwkwkk, parah memang 😂😂.

Menurut Mas Ayip, Pak Bagong mengoperasikan perahu gethek ini bergantian dengan satu rekannya. Melayani dari sekitar jam 04.00 – 19.00 WIB. “Serius dari jam empat pagi?” Semua tidak percaya sepagi dan semalam itu menyeberang Bengawan Solo.

“Beneran, ada penumpangnya. Tapi saya sarankan jangan malam hari karena kalau kenter pertolongan pertama baru datang keesokan hari.” Dengan setengah bercanda Mas Ayip menerangkan kepada kami. Jika tidak ada kebutuhan mendesak, mana mau aku naik perahu gethek gelap-gelapan... hehehe.

Setiap orang yang menyeberang dikenakan biaya Rp. 1.000 – 2.000. Aku yang membawa sepeda hanya ditarik Rp. 2.000, demikian juga dengan motor. Paling mahal biaya penyeberangan hanya Rp. 3.000. Mas Ayip mengaku sering membayar lebih jika membawa tamu bike tour, bukan karena diminta tapi karena ingin berbagi rezeki,,, toh harga Rp. 3.000 tidak terhitung mahal bagi wisatawan. Jadi saat menyeberang tadi, Mas Ayip menghitung per orang Rp. 3.000.

Koordinat terdekat penyeberangan:
- Solo:
- Sukoharjo: https://goo.gl/maps/KeRkvsT3Trs

Bagaimana perjalanan berikutnya, dan berapa harga paket wisata bike tour ini? Baca kelanjutannya di Mojolaban, kecamatan sentra pembuat kerupuk dan gamelan... ini sudah terlalu panjang 😄.

3 comments: