Swiss-Cafe Restauran di lantai 1 Swiss-BelHotel Yogyakarta termasuk restoran hotel yang rajin mengganti tema dinner (makan malam) sebulan sekali. Bulan Mei 2017, Swiss-Cafe mengusung tema Sahara, Middle East Food Festival. Tema ini sepertinya sebagai pemanasan bulan Ramadhan 1438 H, yang diperkirakan jatuh pada akhir bulan Mei 2017.
Suasana dalam Swiss-Cafe.
Undangan dari Pak Ang Tek Khun ke restoran yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman 69 Yogyakarta datang sekitar jam 09.00 WIB tanggal 3 Mei 2017, okelah aku datang mumpung tidak ada agenda malam itu. Cultural Buffet Dinner dengan tema Sahara baru dibuka jam 18.00 WIB, tapi jam 16.54 aku sudah sampai Swiss-Bel Hotel, keren ya... 😁, daripada terlambat dan terburu-buru mending datang lebih awal.
Undangan Cultural buffet dinner.
Cultural Buffet Dinner adalah paket makan malam prasmanan Swiss-Cafe, dengan tema menu spesial. Paket ini khusus hari Rabu dan Sabtu, bila pada Rabu malam  pengunjung akan disuguhi tarian sesuai tema bulanan, pada Sabtu malam ada sendratari yang menemani. Usai tarian, sambil menikmati santap malam pengunjung akan dihibur orkes keroncong yang dimainkan langsung dari lobi hotel.
Dapur Swiss-Cafe terlihat dari restoran.

Masuk ke Swiss-Cafe, kulihat meja-meja sudah ditandai "reserved" a.k.a. dipesan. Kami, 5 orang yang diundang Pak Khun memilih duduk di pojok utara. Dari sini pandangan mata lebih luas, termasuk melihat dapur yang hanya dibatasi dengan kaca bening. Mungkin ada yang belum tahu, tempat tanpa pendingin ruangan berada di sisi timur, tinggal buka pintu di dekat meja desert.
Menu Tema Sahara Middle East Food Festival.
Sebagai makanan pembuka kupilih fattoush, salad ala timur tengah. Di dalamnya terdapat potongan roti pita goreng yang kriuk, selain sayuran seperti tomat, selada, mentimun, bawang merah dengan baluran minyak zaitun. Fattoush tanpa mayonis tidak membuat eneg, menyegarkan, dan perut siap diisi lagi.
Fattoush.
Setelah menghabiskan fattoush, aku coba salad lainnya. "malfouf" nama salad tersebut, tapi di buffet tertulis malfoof,,, makanya dicari di Google tidak ketemu 😀. Salad ini berbahan utama kubis, khusus di festival ini kubis yang digunakan adalah kubis ungu. Warna kubis ungu lebih menawan dengan khasiat mencegah kanker dan osteoporosis [detikhealth].
Malfouf ala Swiss-Cafe Jogja.
Habis salad terbitlah buah 😂, ada banyak potongan buah yang menggugah selera. Aku tak kuasa mengambil pepaya, semangka, dan melon. Mayoritas buah yang disajikan sudah sering kita lihat sehari-hari seperti nanas, salak, markisa, belimbing, strawberry, jeruk, anggur, dan lemon.
Mau mengiris buah sendiri?
Salad sudah, buah juga sudah. Selanjutnya aku mengambil makanan berkuah. Nama makanan yang tertera di meja adalah "hasa al-hummus". Dilihat sepintas seperti sup jagung dengan potongan daging ayam dan wortel. Ketika sendok mulai bermain di dalam mangkok, terlihat bulir kecil putih seperti kacang Arab. Kucicipi sesendok, bumbu rempahnya khas Timur Tengah banget. Benar dugaanku, "hasa al-hummus" atau "Moroccan chickpea soup" adalah sup dari Maroko dengan bahan kacang chickpea, atau garbanzo, atau orang Indonesia menyebutnya kacang Arab. Sup ini lebih nikmat dimakan dalam keadaaan hangat.
Hasa al-Hummus.
Sebagai penganut filosofi "belum makan jika belum makan nasi" akupun mengambil nasi dari dataran Persia (shirin polow). Tadinya banyak bawah putih goreng ditaburkan di atasnya, tapi karena aku mengambil di saat terakhir, bawang putihnya sudah habis 😀. Warnanya seperti nasi kuning tanpa santan, rasa rempahnya terasa banget di lidah.

Shirin polow kukombinasikan dengan baba ghanous, tsarid, acar, dan sambal terasi; perpaduan asal nabrak. Baba ghanous merupakan masakan dari Syria dengan bahan utama terong. Setelah diolah dengan bawang, tomat, minyak zaitun, dan rempah lainnya, bentuknya berubah seperti sambal berwarna coklat. Sebagai pasangannya, dipilihlah roti pita yang telah dipotong segitiga.
Menu makan besar yang kumakan.
Tsarid menurutku sejenis lauk (Indonesia banget ya..). Di meja tertulis Tharid,,, gimana ya, jika ditulis dengan huruf Arab beda arti dan cara baca..🙍. Pramusaji yang bertugas mengatakan kalau tsarid adalah masakan daging kambing dan kentang. Aku agak kecewa karena ternyata yang kuambil lebih banyak kentangnya wkwkkwk.. karbo + karbo = 😢.

Masih banyak menu yang disajikan seperti fish harrah, shish taouk, kibbeh, falafel, dan kufteh. Karena masakan festival ini tergolong baru bagi pengunjung termasuk diriku, pemberian nama di depan masakan terasa masih kurang. Tak jarang pengunjung bertanya kepada pramusaji, masakan ini terbuat dari apa. Mayoritas masakan Timur Tengah didominasi daging kambing, sedangkan pengunjung yang kebanyakan WNI banyak yang menghindari daging kambing karena mengidap penyakit kolesterol dan darah tinggi.

Menu terakhir yang kumakan di cafe hotel terbaik di pusat kota Yogyakarta ini adalah "chicken shawarma", menu yang sering disebut kebab isi daging ayam. Bahan-bahannya adalah daging ayam kari yang sudah dipotong tipis, ditambah tomat, selada, bawang bombay, dan... apalagi ya? Kulitnya dari roti pita, lalu digoreng dengan minyak zaitun di atas wajan datar,,, seperti menggoreng martabak.

Chicken Shawarma.
Pengunjung bisa menyaksikan langsung pembuatannya oleh chef (koki) Satrio Sulistiono, boleh juga kepoin resepnya.... Uniknya saos yang disediakan di festival tidak hanya saos ala Timur Tengah, tapi juga saos martabak. Chicken shawarna pada gambar, merupakan inisiatif pramusaji yang membawanya ke mejaku. Jika ingin penampilan masih original, tidak dipotong agar terlihat cantik, dan memilih saos sesuka hati; mendingan ambil sendiri saja deh 😃.

Hidangan penutup (desert) ada di meja paling selatan. Nama menunya juga asing di telinga seperti halva brownies, maroccain almond snake, pistachio baklava, middle east cheese cake, tahini bukeyes, dan pisang Turki, mungkin nama terakhir cukup familier karena ditulis dengan bahasa Indonesia 😃.
Pilih sendiri desert-mu.

Aku tidak tertarik makan desert karena mayoritas manis sedangkan aku sendiri sudah manis 😂. Sebenarnya aku ingin makan daging dan susu unta tapi tidak tersedia (susah banget bawanya ke Indonesia). Untuk mendapatkan semua masakan ini, kamu cukup merogoh Rp. 175.000 net/orang. Dan buy 1 get 1 free alias bayar satu bisa untuk berdua.