September 2017 - metuomah.com

Senin, 25 September 2017

5

Mengenal Museum di Kota Jogja dengan Jelajah 4 Museum

"Museum di hatiku", demikian teriakan peserta Jelajah 4 Museum sambil meletakkan telapak tangan kanan di dada kiri; menjawab “salam sahabat museum”. Kegiatan yang digagas Komunitas Malam Museum menggandeng Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dilaksanakan pada hari Ahad, 24 September 2017 mulai pukul 15.30-20.35 WIB.

Menurut koordinator kegiatan dari Komunitas Malam Museum Erwin Djunaedi, peserta yang mendaftar mencapai 500 orang dari kuota 120 orang yang tersedia. Antusiasme masyarakat mendaftar menjadi bukti kegiatan menjelajah museum sangat diminati, memungkinkan menjadi satu program paket wisata di masa datang.
Museum Vredeburg starter pack.

Dengan komposisi 40 orang dari Genpi Jogja, 50 peserta umum, 20 orang komunitas dari Magelang, dan 40 panitia gabungan mulai berdatangan ke titik kumpul di Museum Benteng Vredeburg pada pukul 12.30 WIB. Untuk peserta mendapatkan museum pack berupa tas selempang berisi kaos seragam, topi, bolpoin mini, air mineral 600 ml, tanda pengenal, dan 3 kupon untuk mengambil jatah kudapan dan makan malam.

Uniknya, kupon tersebut dicetak menyerupai mata uang yang pernah beredar dengan gambar 3 tokoh yang berkaitan dengan museum. Tokoh tersebut adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman (uang Rp. 5.000 yang terbit tahun 1968), Ki Hajar Dewantara (uang Rp. 20.000 yang terbit tahun 1998), dan Dr. Sutomo (uang Rp. 1.000 yang terbit tahun 1980).
Tukar kupon dengan gatot.

Semua peserta diwajibkan memakai atribut yang telah dibagikan, sedangkan panitia menggunakan kostum pejuang atau pakaian tradisional Jawa. Setelah semua atribut lengkap dikenakan, peserta berkumpul sesuai pembagian grup dan kelompok. Jelajah Malam Museum ini mengambil tema "Pahlawan Idolaku" yang berjuang membebaskan Irian Barat, karena itulah nama grup dan kelompok  diambil dari para pahlawan tersebut. Dalam 4 grup terdapat 2-3 kelompok yaitu:

Grup 1 Operasi Banteng Ketaton terdiri 3 kelompok:
Kelompok Mayor Udara Nayoan
Kelompok Letda Heru Santoso
Kelompok Letda Agus Hernoto

Grup 2 Operasi Srigala terdiri 2 kelompok:
Kelompok Letnan Udara II Manuhua
Kelompok Letnan Muda Udara Suhadi (di peta jelajah salah tulis pangkat dan nama)

Grup 3 Operasi Naga terdiri 3 kelompok:
Kelompok Letda Soedarto
Kelompok Kapten Bambang Soepeno
Kelompok Kapten Benny Moerdani

Grup 4 Operasi Jatayu terdiri 3 kelompok:
Kelompok Kapten Psk. Radix Sudarsono
Kelompok Mayor Untung
Kelompok Letnan Udara II B. Matitaputty
Peserta siap beraksi.

Kepala Museum Benteng Vredeburg, Dra Zaimul Azzah, M. Hum. berkenan melepas peserta menjelajah 4 museum di kota Yogyakarta. Keempat museum tersebut adalah Museum Benteng Vredeburg, Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman, Museum Dewantara Kirti Griya, dan Museum Perjuangan. Masing-masing grup mendapat rute jelajah dan menuju museum dengan alat transportasi berbeda. Tapi semua peserta akan merasakan jalan kaki, naik sepeda kuno, dan jeep.
Empat museum yang dijelajahi.

Tiap kelompok diminta meneriakkan yel-yel sebelum melakukan aktivitas. Di Museum Vredeburg, tiap kelompok diminta menjawab beberapa soal berkaitan dengan museum, serta membatik. Di Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman, waktu yang disediakan menjawab soal hanya 5 menit. Sedangkan di Museum Dewantara Kirti Griya, tiap grup diwajibkan menjawab soal, yang jawabannya bisa dicari di dalam museum. 2 aktivitas di Museum Perjuangan adalah menyanyikan lagu nasional dan menjawab soal.
Peta jelajah 4 museum.

Soal dicetak dalam selembar kertas yang digulung bagai kertas sayembara, yang dipilih oleh perwakilan kelompok. Sebelum dan sesudah aktivitas, pemimpin kelompok harus melapor kepada panitia, kurang lebih seperti saat melakukan upacara bendera.

Grup 4 adalah yang terakhir kembali ke titik kumpul sekitar pukul 20.00 WIB, disaat wedang ronde tinggal wedangnya saja.
Grup 1 naik jeep dan grup 2 bersepeda.

Kegiatan ini memperebutkan hadiah lho, menurut pembawa acara sih "uang pembinaan" 😂... yah itu cuma guyonan saja. 3 kelompok terbaik dan tercepat dalam melakukan aktivitas mendapatkan piagam juara.

Pada akhirnya semua peserta puas mengikuti Jelajah 4 Museum, bisa mengenal museum dari sudut pandang berbeda. Saat keluar dari Benteng Vredeburg, terdengar celetukan salah seorang peserta, "Nggak rugi Rp. 25.000, dapat kaos, tas, topi, dan makan." Harapannya, jelajah museum juga diadakan di museum lain dengan aktivitas yang lebih seru dan menarik.

Jumat, 22 September 2017

2

Potret Stasiun Kedungjati di Tahun 2016

Setelah ada rencana perpanjangan jalur kereta wisata dari Ambarawa - Tuntang dan berlanjut ke Kedungjati, stasiun Kedungjati pun berbenah. Bagian bangunan yang rusak direnovasi dan dipercantik. Bangunan pun terlihat terawat kembali, hanya saja kereta yang berhenti di stasiun ini hanya KA Kalijaga jurusan Semarang Poncol - Solo Balapan. Beberapa tahun lalu KA Majapahit jurusan Jakarta Pasar Senen – Malang berhenti di stasiun yang berada di +36 mdpl, sekarang kurang tahu.

Tahun lalu saya menyempatkan memotret beberapa bagian stasiun, sembari menunggu kedatangan KA Kalijaga. Rupanya jalur rel yang menghubungkan Kedungjati Tuntang, sebagian merupakan jalur baru. Pengerjaannya sudah berhenti dan terkesan mangkrak, kita tunggu saja jalur ini terealisasi.
Jalan sudah diaspal.

Stasiun dari kejauhan.
Pengaturan tone foto tidak sesuai harapan, setidaknya masih bisa menggambarkan keadaan stasiun sesungguhnya.
Ruang pertemuan stasiun.
Di peron selatan dimana jalur rel Tuntang - Kedungjati dibangun, kita bisa melihat rel tersebut memanjang hingga arah timur. Rel tersebut terhenti begitu saja, bila memungkinkan bisa tersambung ke jalur rel menuju Solo.
Dari peron selatan, rel (belum) menuju arah Solo.

Toilet.
Toilet berada di sisi timur stasiun, bangunan dan toiletnya masih model lama. Lumayan bersih untuk stasiun yang berada di desa yang jauh dari kota kabupaten dan ibukota provinsi.
Dua toilet.
Artikel Terkait:
Melihat Stasiun Kedungjati di Tahun 2014