Mengecap Lansekap Buana Dari Sleman Lantai 2

Wilayah Kabupaten Sleman membentang dari timur ke barat bagian utara Daerah Istimewa Yogyakarta, yang didominasi dataran rendah. Dua dataran tinggi yang acapkali disebut “lantai dua” berada di utara dan timur wilayah Sleman, yaitu sisi utara kawasan Gunung Merapi dan di sisi timur perbukitan Gunung Baturagung yang masuk zona Pegunungan Selatan Jawa.

Sleman Timur lantai 2 masuk daerah administratif Kecamatan Prambanan, destinasi wisata yang sudah dikenal antara lain Tebing Breksi, Candi Ijo, dan Candi Ratu Boko. Kabupaten Sleman, melalui Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Sleman bersama Disperindag dan Dispar Sleman memperkenalkan 3 destinasi baru di perbukitan ini yaitu Selo Langit (Watu Payung), Bukit Teletubbies, dan Bukit Klumprit.

SuV Jeep, Toyota, Suzuki, dan Daihatsu.
Kamis 19 Oktober 2017, sekitar 23 warganet mengunjungi 3 lokasi tersebut menggunakan 11 Sport Utility Vehicle (SUV) dari Taman Tebing Breksi. Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, M.S.I. dan Camat Prambanan Eko Suhargono, S.IP turut serta hingga akhir perjalanan. Panitia menyediakan bus bagi peserta famtrip yang tidak bisa langsung ke Tebing Breksi.

Titik kumpul di JCM.
Selo Langit Watu Payung
Usai mendengarkan paparan Bapak Bupati dan Camat, rombongan 11 SUV berangkat pukul 14.10 WIB. Aku naik Daihatsu Taft, satu-satunya SUV berbahan bakar solar kala itu. Dengan kapasitas 4 penumpang, SUV kami hanya diisi Ibu Evi, Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Sleman di jok depan, dan aku serta Mas Dimas Disperindag Sleman di jok belakang.

Jalan mulus memudahkan rombongan sampai tujuan dalam 10 menit, padahal jalan terus menanjak. Dari jalan raya menuju parkir Selo Langit hanya berjarak 50 meter dengan medan ekstrim; sengaja dibuat begitu untuk rute SUV. Ada 1 jalan lagi di sisi timur yang lebih ramah bagi mobil sasis pendek.
Di atas Watu Payung (sumber: IG @metuomah).
Aku kurang paham kenapa dinamakan Selo Langit, peta Google belum mencantumkan nama Selo Langit, namun sudah tersimpan Watu Payung dengan puluhan review pemilik akun Google. Mungkin nama Selo Langit dipilih untuk membedakan dengan "watu payung" di daerah lain.


Selo Langit berada di Dukuh Gedang Atas Desa Sambirejo, Prambanan Sleman, DIY. Alpa menyalakan GPS gawai menyebabkan koordinat akurat tidak kuketahui pasti, pun bertanya pada Mas Dimas yang membawa perangkat GPS.

Watu payung adalah sebuah batu pipih di tepi bukit (yang dulu) letaknya menumpang pada batu lain, sehingga terlihat seperti huruf L tengkurap. Semakin banyaknya wisatawan datang dan berdiri untuk pemotretan di atas batu, maka setelah Agustus 2017 cekungan bawah diberi batu penahan untuk keselamatan wisatawan. Sehingga sekarang tidak lagi berbentuk L tengkurap. Pahatan batu penahan di bawah adalah karya seni, tidak mengurangi estetika watu payung.
Watu payung.

Di atas ketinggian 399 mbpl, wisatawan dapat mengecap lansekap memanjang dari utara hingga selatan. Deretan pegunungan selatan Jawa yang tidak kuhafal membentengi pandangan kami. Dari deretan pegunungan itu hanya Gunungapi Purba Nglanggeran Kabupaten Gunungkidul yang kukenal, selain pernah kesana, Bukit Pathuk dengan belasan menara ada di depannya.

Bukit Teletubbies
20 menit di Selo Langit, kamipun menuju destinasi kedua Bukit Teletubbies di Desa Wukirharjo, Prambanan Sleman. Jalan aspal dan cor beton yang naik turun mengikuti struktur tanah tidak membuat kami sakit perut, karena kondisi jalan mulus dan jok SUV yang empuk.

Aku punya pengalaman kurang mengenakkan naik angkutan wisata di suatu daerah. Duduk saling berhadapan di mobil terbuka dengan jok dari sepet, sepanjang perjalanan bau asap menusuk hidung dari pembakaran mesin diesel. Dan jalanan sempit berbatu dengan hiasan aspal tipis. Sesampainya di penginapan tubuh remuk redam 😁.


Banyak jalan menuju Bukit Teletubbies, famtrip kali ini rombongan terdepan memilih lewat hutan jati, atau penduduk setempat menamakannya Jati Bon (Jati Kebon). Kami takjub dengan deretan pohon jati muda yang ditanam rapi. Ingin rasanya memotret di tepian jalan, tapi kami harus mengejar waktu sesuai itinerary.
Akhir dari Jati Bon.
Cuaca panas menyengat menemani 20 menit perjalanan kami, padahal gerimis sempat menyapaku ketika berangkat ke JCM. Bukit Teletubbies berada di Desa Wukirharjo, Prambanan Sleman. Tanah milik pribadi ini baru saja direnovasi oleh Satker PKP DIY. Selain taman dan beberapa gazebo, sebuah gardu pandang dibangun untuk melihat lansekap rumah dome di desa sebelah; yang dibangun saat gempa Jogja 2006 lalu.
Bukit Teletubbies Sumberharjo Prambanan.
Rumah dome di desa Sumberharjo, Prambanan Sleman menyerupai rumah karakter boneka di serial televisi Teletubbies. Karena itulah orang Indonesia juga menyebutnya "rumah dome Teletubbies". Taman di ketinggian 253 mdpl ini disebut Bukit Teletubbies karena dari jarak 1,5 km arah barat daya bisa melihat rumah dome yang berada di ketinggian 96 mdpl.
Bukit Teletubbies.
Sama seperti destinasi wisata sebelumnya, retribusi masuk ke Bukit Teletubbies bersifat sukarela. Wisatawan hanya perlu membayar parkir Rp. 2.000 untuk roda 2 dan Rp. 5.000 untuk kendaraan roda 4. Hebatnya, tempat wisata ini memberikan layanan internet gratis.

Daerah Wukirharjo sering dilanda kekeringan, pasokan air tergantung aliran PDAM dan air hujan. Di depan mushalla Bukit Teletubbies terdapat sumur tadah hujan, terlihat sebuah talang air rumah pemilik taman diarahkan ke sumur. Saat rombongan sampai, pipa PDAM sudah jebol selama 3 hari sehingga tidak ada air mengalir.


Pak Camat pun dibuat sibuk menghubungi para Kepala Desa di bawah (bukit), mencari masjid mana yang pasokan airnya lancar. Sejatinya, rombongan famtrip shalat Ashar dan istirahat di Bukit Teletubbies. Kami akhirnya meninggalkan bukit menuju masjid terdekat (dan ada pasokan air), setelah Pak Camat mendapat kepastian dari Kepala Desa. Usai shalat Ashar perjalanan dilanjutkan menuju destinasi terakhir, Bukit Klumprit.

Bukit Klumprit
Snack yang dibagikan untuk bekal baru kubuka, salah satu snack adalah bubur dalam cup kecil. Aku teringat pemaparan Camat Prambanan sebelum berangkat, ada makanan khas dari lereng Gunung Baturagung yaitu Burkong. Terlihat benda berwarna kuning muda menyembul dibalik bubur, inilah burkong yang dimaksud Pak Camat yaitu Bubur Singkong. Benda kuning muda tersebut adalah singkong.

Menurutku rasanya seperti bubur cethil atau candil. Kemungkinan, burkong dibuat dari tepung sagu; sama persis dengan bahan baku bubur candil. Tak perlu waktu lama menghabiskan burkong, ingin nambah lagi tapi tidak ada jatah kedua.
Burkong.
Semua kendaraan tidak bisa langsung menuju puncak Bukit Klumprit di ketinggian 343 mdpl, kami harus berjalan kaki naik ke bukit milik tanah kas desa Wukirharjo. Paduan batu dan tanah sepanjang jalan setapak membuat sebagian rombongan kewalahan. Di kiri kanan jalan setapak, padi ditanam di tanah tandus di antara bebatuan. Tidak ada sumber air mengairi, menunggu hujan membasahi bumi.
Menunggu sunset di Puncak Bukit Klumprit.
Dari atas bukit Klumprit terlihat lansekap buana selatan hingga barat daya. Di selatan terlihat daerah Pathuk Kabupaten Gunungkidul dengan ciri khasnya beberapa menara relay televisi. Di Barat daya terlihat kecilnya rumah dome. Sedangkan arah barat terlihat sang surya mulai tenggelam.

Aku tidak terlalu hafal daerah di "lantai 1" tersebut, kunikmati saja angin yang menerjang tubuh ini, semakin sore semakin kencang hingga tubuhku serasa akan terbang dibawa angin. Pukul 17.20 WIB kuputuskan turun lebih cepat dari rombongan, tubuhku tak kuasa lagi menahan terjangan angin yang semakin menusuk tulang.
Sunset dari Bukit Klumprit.
Bukit Klumprit benar-benar destinasi wisata yang masih alami, belum terjamah kenistaan. Kesunyian menemani kami saat menunggu terbenamnya sang surya, tidak ada sumber cahaya selain dari alam. Puas menikmati di atas bebatuan, kamipun meninggalkannya usai adzan Maghrib berkumandang.


Artikel Terkait:
- Mahalkah Sewa Jeep Wisata di Tebing Breksi?

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »