Monday, October 9, 2017

Menelisik Berdirinya Pura Pakualaman bersama Komunitas Malam Museum

Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Pura Pakualaman, kerajaan termuda dari sejarah Mataram Islam di masa lalu. Padahal ratusan kali lewat alun-alun Pakualaman, tapi belum pernah masuk tempat bersejarah ini. Bersama Komunitas Malam Museum, aku dan sekitar empat puluhan orang diajak berkeliling dan menelisik berdirinya Pura Pakualaman (Sabtu 30/9/2017).

Mendung pagi membuatku malas gerak, terlebih bertepatan dengan puasa 10 Muharram. Rasanya pengen leyeh-leyeh seharian, menghemat tenaga sampai adzan Maghrib menggema. Tapi aku sudah mendaftar kelas heritage ini, sayang kalau dilewatkan begitu saja.

Singkat cerita, kami berkumpul di parkir depan Pakualaman mendengarkan uraian Erwin Malam Museum sedari menunggu persiapan tempat. Pakualaman adalah kadipaten dengan wilayah administratif (sekarang) Kecamatan Pakualaman dan "Adikarto" daerah Brosot Kabupaten Kulonprogo.
Artikel ini tidak mengurai banyak sejarah Pura Pakualaman, untuk keakuratan silakan merujuk pada buku-buku sejarah yang ada di perpustakaan.
Sebelum masuk bahasan utama yang dimulai dari Hamengku Buwono I (HB I), sedikit tambahan bahwa putra mahkota di tanah Jawa (Mataram khususnya) disebut adipati anom. Menurutku ada baiknya sedikit mengetahui dinasti Mataram Islam.
Parkir barat alun-alun Pakualaman.
Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 merupakan awal terbentuknya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian ini mengakui kedaulatan Pangeran Mangkubumi sebagai raja di Yogyakarta yang menguasai separuh wilayah Paku Buwono III; penguasa Kasunanan Surakarta. Mataram terbelah menjadi 2 (lagi), Yogyakarta dan Surakarta. Pangeran Mangkubumi adalah putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura dari istri selir.

Kasunanan Kartasura ada sejak Susuhunan Amangkurat II (nama kecil Raden Mas Rahmat) yang membangun istana baru kerajaan Mataram di Kartasura, setelah ibukota Mataram Pleret Yogyakarta diduduki oleh saudara tirinya Pangeran Puger (nama kecil Raden Mas Drajat). Pangeran Puger menjadi raja Mataram dengan menumpas sisa pengikut Trunajaya yang menyerang Mataram. Ketika itu ayahnya, Amangkurat I bersama adipati anom Raden Mas Rahmat menyingkir sampai Tegal, Jawa Tengah. Pangeran Puger sendiri kemudian menyerah dalam perang saudara dan Mataram berada di bawah Kasunanan Kartasura.

Amangkurat III menggantikan ayahnya Amangkurat II yang wafat. Perselisihan keluarga terjadi lagi yang menyebabkan Pangeran Puger mengungsi ke Semarang. Perjanjian Semarang memaksa Pangeran Puger menyerahkan Madura bagian timur kepada VOC dengan imbalan membantu perjuangan Pangeran Puger merebut Kasunanan Kartasura.

Pangeran Puger diangkat menjadi raja tanpa kerajaan bergelar Paku Buwono I, kemudian menyerang Kasunanan Kartasura yang membuat Amangkurat III mengungsi ke Pasuruan, dari peristiwa inilah PB I menjadi raja Kasunanan Kartasura. Setelah beberapa saat akhirnya Amangkurat III menyerah di Surabaya dan diasingkan ke Sri Lanka hingga wafat.

PB I wafat kemudian digantikan putranya dengan gelar Amangkurat IV. Amangkurat IV memiliki beberapa putra seperti Raden Mas Sandeyo (kelak menjadi Nur Iman Mlangi), Raden Mas Probosuyoso (kelak menjadi PB II), Raden Mas Sujana (dewasa bernama Pangeran Mangkubumi, kelak menjadi HB I), dan Arya Mangkunegara (kelak anaknya yang bernama Raden Mas Said menjadi Mangkunegara I).

Setelah Amangkurat IV wafat dan digantikan PB II, beberapa tahun kemudian Kasunanan Kartasura runtuh karena perang saudara. PB II membangun istana baru di desa Sala yang kemudian dikenal dengan Kasunanan Surakarta. Raden Mas Suryadi melanjutkan kepemimpinan Kasunanan Surakarta bergelar PB III, menggantikan ayahnya PB II yang wafat karena sakit.

Semua ontran-ontran di tanah Jawa melibatkan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie); perusahaan dagang multinasional Belanda yang ingin menguasai dan menjarah kekayaan alam nusantara.

Tertib Masuk Pura Pakualaman
Ada tata tertib tidak tertulis bagi pengunjung Pura Pakualaman yaitu;
  • Berpakaian rapi dan sopan.
  • Tidak mengenakan celana pendek.
  • Tidak mengenakan bahan jeans.
  • Tidak menggunakan alas kaki tanpa tali (seperti selop dan jepit).
Bila pengunjung tidak memenuhi tata tertib, bisa menutupi dengan kain (cari sendiri atau beli di toko dekat Pasar Sentul) dan tanpa alas kaki (nyeker).

Bersambung jika sempat...

2 comments:

  1. Saya blm pernah masuk ke pura pakualaman mas, padahal sering lwt, jadi rute berabgkat pulang kantor

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekali² masuk aja, gratis kok 😀

      Delete