November 2017 - metuomah.com

Rabu, 29 November 2017

2

Arti Simbol Hokben

Pernah makan di Hokben? Merhatiin gelas plastik (cup), kertas pembungkus sumpit, atau ornamen di dinding restoran? Jika diperhatikan rupanya ornamen di tempat yang kusebut tadi merupakan gabungan dari simbol Hokben. Aku saja baru tahu hal itu setelah ikut Temu Blogger dengan Hokben beberapa waktu lalu 😄. Apa saja simbol-simbol tersebut? Ini dia:
Sumber: bloggerjogja.org

1. Welcoming Hello
Pelayanan setulus hati dari kru HokBen.

2. Parent and Kid
Menggambarkan kasih sayang orang tua kepada anaknya. Simbol ini dipilih karena HokBen adalah restoran keluarga dengan sajian lezat dan bergizi.

3. Friendship
Menggambarkan persahabatan. HokBen merupakan tempat untuk berbagi waktu dengan para sahabat.

4. Respect
Menggambarkan orang membungkuk memberi salam dalam budaya Jepang. Simbol penghormatan HokBen kepada kustomer.

5. Pride
Menggambarkan rasa bangga menjadi keluarga HokBen yang kredibilitasnya terjaga baik. Dan menjadi jenama yang dipercaya oleh para kustomer.

Artikel ini pernah tayang di artikel sebelumnya, tapi setelah dipikir-pikir lebih baik kupisah supaya lebih mudah dicari saat membutuhkannya.

Artikel Terkait:

Kamis, 09 November 2017

0

Menu Tokyo Bowl Apa yang Jadi Favoritmu?

Apa tuh Tokyo Bowl? Wikipedia menerangkan pertandingan tahunan American Football di Tokyo yang mempertemukan antara peringkat kedua Kansai Collegiate American Football League dan peringkat kedua Kantoh Collegiate American Football Association. Definisi Tokyo Bowl yang populer adalah menu makanan nasi lengkap dalam satu mangkok, dengan topping rumput laut dan daun bawang. Tentu saja menu tersebut dari negara Jepang.

Satu restoran yang menyajikan menu tersebut di Indonesia adalah HokBen, dengan menawarkan 5 varian menu yaitu Tori Soboro, Gyu Soboro, Chicken Steak, Chicken Katsu Tare, dan Chicken Karaage.
HokBen Jalan Kaliurang.
Ketika ke Hokben Jalan Kaliurang Sleman, DIY 3 November 2017 lalu, aku dihadapkan dua pilihan menu Tokyo Bowl; Chicken Karaage atau Chicken Steak? Akhirnya kupilih Chicken Karaage karena aku suka masakan yang digoreng. Eh, kelima menu tersebut komposisinya apa saja? Ini dia komposisi kelima menu Tokyo Bowl dari web restoran yang didirikan pada tanggal 18 April 1985 ini.

Tori Soboro
Daging ayam cincang dengan saus teriyaki khas HokBen (Teriyaki Soboro). Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan rumput laut dan daun bawang.

Gyu Soboro
Daging sapi cincang dengan saus teriyaki khas HokBen (Gyu Soboro). Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan rumput laut dan daun bawang.

Chicken Steak
Daging ayam panggang tanpa tulang yang dibumbui saus teriyaki dengan rasa manis dan gurih. Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan rumput laut dan daun bawang.

Chicken Karaage
Daging ayam berkualitas dan terpilih yang dimasak dengan teknik Deep Frying Oil sehingga menghasilkan tekstur tepung yang garing dan renyah. Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping Mayonaise Khas HokBen, potongan rumput laut dan daun bawang.

Chicken Katsu Tare
Daging ayam tanpa tulang yang dibalut dengan bread crumbs dan bumbu khas HokBen yang dimasak dengan metode Deep Frying Oil. Disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping Saus Tare Khas HokBen, potongan rumput laut dan daun bawang.
Menu Tokyo Bowl.

Sambil menunggu makanan dihidangkan, aku yang datang bersama Komunitas Blogger Jogja beramah tamah dengan jajaran HokBen Kaliurang. Perkenalan pertama dari Pak Arman selaku Local Marketing, Ibu Katrina selaku Marketing Communication, dan Pak Sutrisno selaku Store manager; ketiganya bagian dari HokBen Kaliurang.

Makan malam dengan Tokyo Bowl Chicken Karaage
Lepas Maghrib, menu yang dipesan pun tiba. Menu pertama yang hadir adalah Yakitori Grilled; daging ayam tanpa lemak yang dipotong dan ditusuk dengan bambu, kemudian dipanggang dengan Saus Teriyaki khas HokBen. Bahasa Indonesia masakan ini adalah sate ayam.

Selanjutnya datanglah minuman yang kupesan, Koori Konyaku Lychee, sejenis minuman dingin dengan jelly dan sirup lychee. Dan terakhir adalah Chicken Karaage.

Yakitorinya empuk dan lembut, bumbu meresap dan panggangan tidak gosong. Koori Konyaku Lychee memenuhi gelas, aku agak heran kok esnya nggak cair-cair? Hahaha... ini pertama kalinya 😀, kukira hanya es lychee biasa ternyata ada jelly (agar-agar) di dasar gelas. Memang agak susah nyeruput jelly dengan sedotan 😁.

Nasi HokBen rasanya sangat khas, dimakan tanpa lauk pun sudah terasa enak. Apalagi ditambah daging ayam yang empuk berbalur mayonaise, plus rumput laut (disebut juga seaweed atau nori) dan daun bawang... mantab deh. Awalnya saat melihat porsi Tokyo Bowl tidak akan habis, realita bicara habis tanpa sisa! 😃

Chicken Karaage jadi favoritku karena memang menyukai masakan ayam goreng HokBen. Kalo kamu suka menu Tokyo Bowl apa?

Selasa, 07 November 2017

0

Belajar Merenda Perak di Kotagede

Meskipun sudah tahu kata emas dan perak sedari kecil, tapi aku baru tahu bentuk perak menginjak kelas 2 SMA ketika salah seorang teman saya memakai “monel'. Usut punya usut monel adalah nama lain perak. Maklum aku tinggal di dusun dan waktu itu belum ada internet. Ketahuan umurnya kan hahaha..

Perak merupakan alat pembayaran dan perhiasan nomer dua setelah emas. Di beberapa hadits menyebutkan hal tersebut. Perak juga menjadi perhiasan yang diperbolehkan bagi laki-laki dan termasuk benda yang wajib dizakati; jika mencapai nishab.

17 Oktober 2017, aku mengikuti Silversmith Workshop yang diadakan oleh HS Silver 800-925 di Jalan Mondorakan 1 Kotagede, Yogyakarta. Awalnya aku mendaftar hari Senin pagi, tapi menurut Markom HS Silver kelas sudah penuh, yang akhirnya terlempar ke tanggal 17 Oktober 2017 jam 09.00 WIB.
HS Silver.
Hari merenda perak
Hujan yang mengguyur DIY sejak pagi tak menyurutkan niatku untuk mengikuti pelatihan ini. Datang paling awal membuatku leluasa berkeliling HS Silver. Mas Rosi dari HS Silver memandu mengenalkan ruang kerja perajin, peralatan yang digunakan, dan perhiasan yang dihasilkan HS Silver. Sambil menunggu peserta lain, aku juga diajak ke showroom yang berada di selatan ruang kerja.

Urutan acara pelatihan secara garis besar adalah:
  1. Perkenalan HS Silver,
  2. factory (workshop) tour,
  3. pelatihan,
  4. foto untuk sertifikat,
  5. pulang.
Daripada lama menunggu, aku mulai pelatihan jam 09.30 WIB mendahului yang lain. Pada pelatihan kali ini, peserta mendapatkan:
  • Benang perak (99,9%) 4 gram,
  • cetakan (kerangka pola) dari perak,
  • peralatan (gunting lipat dan pinset besar),
  • gambar pola,
  • makanan kecil.

Sebagai "telenan" digunakanlah keramik yang biasa dipasang untuk lantai. Kenapa keramik bukan alumunium, papan kayu, atau bahan lain? Keramik tidak akan rusak ketika terkena benda tajam, padahal pinset dan gunting selalu mengenai "telenan" saat membuat kerajinan perak. sedangkan pilihan keramik warna merah karena kontras dengan putihnya perak.

Membuat kerajinan perak filigree
Kerajinan yang akan dibuat dengan tangan (hand made) kali ini adalah jenis perak filigree (filigri). Teknik filigree adalah pembuatan perhiasan dengan menggunakan benang perak yang lembut (kecil). Teknik ini juga disebut teknik trap.

Selain teknik filigree, perak juga dibuat dengan teknik solid silver dan casting. HS Silver 800-925 sendiri membuat kerajinan perak dengan teknik filigree dan solid silver.

Selain Mas Rosi, ada Mbak Widiyanti yang menjadi pendamping peserta pagi itu. Awalnya Mbak Widiyanti memperagakan cara memasukkan perak ke dalam kerangka. Kelihatannya mudah, tapi setelah kucoba ternyata sulit 😀. Bagian bawah kerangka dilapisi kertas minyak semisal kertas minyak atau "grenjeng" supaya perak tidak lepas saat diisi di kerangka.

Merenda perak.
Kupilih desain cincin unisex yang sederhana, mengantisipasi kegagalan pembuatan 😃. Tangan kanan memegang pinset, jari telunjuk kiri menjaga benang perak agar tidak "mrusut", dan dibentuk spiral kecil di atas keramik. Cetakan harus terisi perak semua. Waktu yang kubutuhkan membuat cincin perak? 1,5 jam 😁.
Pematrian
Selesai mengisi cetakan, kemudian dilakukan proses pematrian dengan pompa patri sederhana berbahan bakar Pertalite. Mbak Widiyanti menyarankan aku mencoba sendiri mematri agar bisa merasakan sulitnya (untuk pemula). Wisatawan manca negara tidak mau dipatrikan, mereka selalu minta untuk bisa melakukannya sendiri. Meskipun untuk memperhalus hasil kerajinan, tetap saja dilanjutkan oleh ahlinya.
Mematri perak.
Memang sulit, kaki kananku belum bisa kontinyu memompa untuk menghasilkan api patrian yang selalu panas. Hasilnya pun jelek, hehehe Daripada cincin tidak berbentuk, pematrian diambil alih oleh pekerja. Sebelum dipatri, kawat kerangka yang kubuat tadi ditaburi serbuk perak. Gunanya untuk menutupi kerangka kawat agar sama semuanya terlapisi perak, agar bisa dikatakan cincin perak.

Setelah itu kami pulang, proses terakhir kami lewati karena waktu telah habis dan sebaiknya dilakukan oleh ahlinya. Hasilnya baru kami ambil hari berikutnya.
Tempat dan alat membersihkan perak.

Pembersihan kerajinan perak
Inilah tahap terakhir pembuatan kerajianan perak. Pembersihan pertama dengan membakar perak agar kotoran yang menempel lepas dari perak. Kedua, direbus ke dalam air tawas agar warna perak memutih. Terakhir adalah dicuci dengan air busa lerak, dan digosok (sangling) sampai kinclong mengkilap.

Akhirnya selesailah belajar merenda perak. Tidak capek sih, hanya perlu ketelitian dan telaten. Pelatihan kerajinan perak terbuka bagi siapa saja, perorangan maupun secara kelompok.
Silversmith workshop dan cincinku.

Harga Silversmith Workshop (pelatihan perak)
001 orang: Rp.190.000
2-3 orang: Rp.170.000
4-6 orang: Rp.150.000

Fasilitas standar yang didapatkan:
4 gram perak
peralatan
2-3 jam workshop dengan support penuh
jajanan tradisional dan minuman.

Harga Silversmith Workshop (pelatihan perak) + makan siang
001 orang: Rp.265.000
2-3 orang: Rp.245.000
4-6 orang: Rp.225.000

Fasilitas yang didapatkan:
fasilitas standar ditambah makan siang di restoran Omah Dhuwur.