Meskipun sudah tahu kata emas dan perak sedari kecil, tapi aku baru tahu bentuk perak menginjak kelas 2 SMA ketika salah seorang teman saya memakai “monel'. Usut punya usut monel adalah nama lain perak. Maklum aku tinggal di dusun dan waktu itu belum ada internet. Ketahuan umurnya kan hahaha..

Perak merupakan alat pembayaran dan perhiasan nomer dua setelah emas. Di beberapa hadits menyebutkan hal tersebut. Perak juga menjadi perhiasan yang diperbolehkan bagi laki-laki dan termasuk benda yang wajib dizakati; jika mencapai nishab.

17 Oktober 2017, aku mengikuti Silversmith Workshop yang diadakan oleh HS Silver 800-925 di Jalan Mondorakan 1 Kotagede, Yogyakarta. Awalnya aku mendaftar hari Senin pagi, tapi menurut Markom HS Silver kelas sudah penuh, yang akhirnya terlempar ke tanggal 17 Oktober 2017 jam 09.00 WIB.
HS Silver.
Hari merenda perak
Hujan yang mengguyur DIY sejak pagi tak menyurutkan niatku untuk mengikuti pelatihan ini. Datang paling awal membuatku leluasa berkeliling HS Silver. Mas Rosi dari HS Silver memandu mengenalkan ruang kerja perajin, peralatan yang digunakan, dan perhiasan yang dihasilkan HS Silver. Sambil menunggu peserta lain, aku juga diajak ke showroom yang berada di selatan ruang kerja.

Urutan acara pelatihan secara garis besar adalah:
  1. Perkenalan HS Silver,
  2. factory (workshop) tour,
  3. pelatihan,
  4. foto untuk sertifikat,
  5. pulang.
Daripada lama menunggu, aku mulai pelatihan jam 09.30 WIB mendahului yang lain. Pada pelatihan kali ini, peserta mendapatkan:
  • Benang perak (99,9%) 4 gram,
  • cetakan (kerangka pola) dari perak,
  • peralatan (gunting lipat dan pinset besar),
  • gambar pola,
  • makanan kecil.

Sebagai "telenan" digunakanlah keramik yang biasa dipasang untuk lantai. Kenapa keramik bukan alumunium, papan kayu, atau bahan lain? Keramik tidak akan rusak ketika terkena benda tajam, padahal pinset dan gunting selalu mengenai "telenan" saat membuat kerajinan perak. sedangkan pilihan keramik warna merah karena kontras dengan putihnya perak.

Membuat kerajinan perak filigree
Kerajinan yang akan dibuat dengan tangan (hand made) kali ini adalah jenis perak filigree (filigri). Teknik filigree adalah pembuatan perhiasan dengan menggunakan benang perak yang lembut (kecil). Teknik ini juga disebut teknik trap.

Selain teknik filigree, perak juga dibuat dengan teknik solid silver dan casting. HS Silver 800-925 sendiri membuat kerajinan perak dengan teknik filigree dan solid silver.

Selain Mas Rosi, ada Mbak Widiyanti yang menjadi pendamping peserta pagi itu. Awalnya Mbak Widiyanti memperagakan cara memasukkan perak ke dalam kerangka. Kelihatannya mudah, tapi setelah kucoba ternyata sulit 😀. Bagian bawah kerangka dilapisi kertas minyak semisal kertas minyak atau "grenjeng" supaya perak tidak lepas saat diisi di kerangka.

Merenda perak.
Kupilih desain cincin unisex yang sederhana, mengantisipasi kegagalan pembuatan 😃. Tangan kanan memegang pinset, jari telunjuk kiri menjaga benang perak agar tidak "mrusut", dan dibentuk spiral kecil di atas keramik. Cetakan harus terisi perak semua. Waktu yang kubutuhkan membuat cincin perak? 1,5 jam 😁.
Pematrian
Selesai mengisi cetakan, kemudian dilakukan proses pematrian dengan pompa patri sederhana berbahan bakar Pertalite. Mbak Widiyanti menyarankan aku mencoba sendiri mematri agar bisa merasakan sulitnya (untuk pemula). Wisatawan manca negara tidak mau dipatrikan, mereka selalu minta untuk bisa melakukannya sendiri. Meskipun untuk memperhalus hasil kerajinan, tetap saja dilanjutkan oleh ahlinya.
Mematri perak.
Memang sulit, kaki kananku belum bisa kontinyu memompa untuk menghasilkan api patrian yang selalu panas. Hasilnya pun jelek, hehehe Daripada cincin tidak berbentuk, pematrian diambil alih oleh pekerja. Sebelum dipatri, kawat kerangka yang kubuat tadi ditaburi serbuk perak. Gunanya untuk menutupi kerangka kawat agar sama semuanya terlapisi perak, agar bisa dikatakan cincin perak.

Setelah itu kami pulang, proses terakhir kami lewati karena waktu telah habis dan sebaiknya dilakukan oleh ahlinya. Hasilnya baru kami ambil hari berikutnya.
Tempat dan alat membersihkan perak.

Pembersihan kerajinan perak
Inilah tahap terakhir pembuatan kerajianan perak. Pembersihan pertama dengan membakar perak agar kotoran yang menempel lepas dari perak. Kedua, direbus ke dalam air tawas agar warna perak memutih. Terakhir adalah dicuci dengan air busa lerak, dan digosok (sangling) sampai kinclong mengkilap.

Akhirnya selesailah belajar merenda perak. Tidak capek sih, hanya perlu ketelitian dan telaten. Pelatihan kerajinan perak terbuka bagi siapa saja, perorangan maupun secara kelompok.
Silversmith workshop dan cincinku.

Harga Silversmith Workshop (pelatihan perak)
001 orang: Rp.190.000
2-3 orang: Rp.170.000
4-6 orang: Rp.150.000

Fasilitas standar yang didapatkan:
4 gram perak
peralatan
2-3 jam workshop dengan support penuh
jajanan tradisional dan minuman.

Harga Silversmith Workshop (pelatihan perak) + makan siang
001 orang: Rp.265.000
2-3 orang: Rp.245.000
4-6 orang: Rp.225.000

Fasilitas yang didapatkan:
fasilitas standar ditambah makan siang di restoran Omah Dhuwur.