Wednesday, August 15, 2018

Perlukah Kaos Lengan Panjang saat Berwisata?

Selama ini aku belum pernah bahas pakaian saat traveling (berwisata). Apa tidak ada yang penasaran, aku memilih memakai pakaian jenis apa? Mengingat jarang ada swafoto atau fotoku di blog ini, hehehe. Khusus di bulan Agustus ini (katanya bulan spesial bagi negara kita) aku kasih sedikit bocoran, starterpack yang kugunakan saat berwisata.

Yang pertama adalah pelengkap saat berwisata, aku suka memakai sepatu kanvas. Tidak perlu yang mahal karena usia sol sepatu hanya setahun. Mungkin langkahku terlalu boros, setelah setahun berlalu dari pembelian pasti sol sepatu habis dan lem kanvas dengan tidak rekat lagi. Aku kurang suka memakai sandal berpengait belakang, karena tidak bisa menutupi jempol kaki yang gedhe.

Topi untuk melindungi wajah dan kepala dari sinar matahari, surgical face mask (penutup wajah) untuk mengurangi terhirupnya debu dan hawa dingin, serta kacamata pelindung ultra violet tidak lupa selalu kubawa dan selalu tersedia dalam tas punggung.
Di atas bukit.
Yang kedua tentang pakaian, aku kurang suka memakai pakaian jenis jeans, sudah bertahun-tahun tidak ada lagi celana jeans tersimpan di lemari pakaian. Meskipun bahannya awet dan tahan banting, tapi berat dan sulit dicuci. Aku tidak bisa meniru gaya teman yang celana jeansnya tidak dicuci berbulan-bulan, apa tidak gatal di kulit? Kebersihan tetap harus dijaga kan. Itu untuk celana ya... kalau jaket jeans kadang masih kupakai. Celana pilihanku adalah celana panjang biasa berkolor, dengan pertimbangan elastis mengikuti lingkar perut πŸ˜€. Lah kenapa? Berat badanku cepat naik-turun yang berimbas pada ukuran perut, daripada pusing mikir “Kok jadi kekecilan? Kok jadi kebesaran?” lebih baik aku investasi celana yang memiliki kolor.

Ada pengalaman unik beberapa tahun lalu. Dinas pariwisata suatu daerah memberikan kemeja dari jenis kain Japan Drill sebagai seragam, dan itu harus dipakai dalam perjalanan wisata! Pilihan warna yang kurang layak dengan model pakaian seragam perusahaan otobis. Kocak sih, kami seperti pegawai yang meninjau beberapa tempat wisata, bukan untuk berwisata 😁. Karena itulah bagi yang memiliki tujuan berwisata (bukan meninjau tempat wisata lho), sebaiknya memakai pakaian atas kaos. Bahan yang dipilih pun yang mudah menyerap keringat, seperti katun atau kombinasi polister dan katun.

Nyaman kaos lengan panjang atau pendek? Sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Aku pribadi lebih memilih kaos lengan pendek. Namun jika berada di daerah dingin seperti di pegunungan maupun tempat yang terkena paparan sinar matahari langsung seperti di pantai, aku memilih menggunakan kaos lengan panjang.
duduk di hammock.
Aku tidak suka memakai manset lengan, bagiku itu ribet. Aku juga merasa tidak nyaman menggunakannya, meskipun harganya jauh lebih murah dari kaos. Bagi wanita berkerudung, saat berwisata lebih cocok memakai kaos lengan panjang wanita daripada manset tangan. Apalagi jika bermain Highropes (tali tinggi), jika memakai manset pasti sering menarik manset lengannya ke atas. Kekurangan manset tangan adalah ketika sudah sering dipakai dan dicuci, akan molor. Apalagi dipakai ketika lengan mengecil karena diet, sepertinya perlu karet gelang dipasang di lengan.

Kaos lengan panjang wanita tidak dikhususkan untuk yang berkerudung, lha wong model dan jenis kainnya bejibun, tinggal pilih seperti apa menurut selera. Yang jelas, kaos lengan panjang wanita bisa untuk bergaya maupun melindungi pemakainya dari cuaca kurang bersahabat.

Menurut aku yang tidak suka menggunakan kosmetik tabir surya, kaos lengan panjang perlu dipakai saat berwisata. Fungsinya selain melindungi diri dari hawa dingin dan paparan sinar matahari langsung penyebab kulit gosong, juga menyembunyikan siku tangan yang hitam dan bersisik πŸ˜ƒ.

Sunday, August 5, 2018

Lotek dan Gado-gado Mbak Anti, Terban

Setelah lelah berbelanja kebutuhan harian di Mirota Kampus, perut terasa lapar. Kuputar memori warung-warung yang sudah lama tidak kukunjungi. Ya maaf saja, sobat kismin hanya kuat makan di warung, bukan di kafe πŸ˜ƒ. Kemudian aku ingat dengan warung pinggir jalan di selatan MAN 1 Yogyakarta. Dulu terlihat selalu ramai, tapi aku belum pernah makan di sana.
Loteknya sedap.
Barang belanjaan kutitipkan ke penitipan tas supermarket, aku lalu berjalan kaki ke arah Jalan C Simanjuntak, Terban Yogyakarta. Kulihat warung tersebut ada dua tempat makan. Yang terbaca dari seberang jalan adalah kata Lotek. Kupilih warung tersebut untuk makan siang, 2016 lalu.

Spesial Lotek dan Gado-gado Mbak Anti, nama warung tersebut menghadap ke timur. Siang saat jam makan siang lumayan ramai tapi masih tersedia tempat duduk. Setelah masuk, aku langsung memesan lotek. Standar lotek di Jogja menggunakan kupat, karena ada juga pembeli yang pesan nasi sebagai pengganti kupat.
Menu dan harga, sekarang sudah naik.
Tak seberapa lama, lotek terhidang di atas meja. Sayuran lengkap, ada bayam, kecambah, kubis, dan tomat. Tak ketinggalan kerupuk yang menjadi ciri khas lotek. Rahasia kelezatan menu-menu bersambal terletak pada ulegan dan komposisi sambal kacang. Begitu juga dengan Lotek Mbak Anti, bumbu sambal loteknya begitu menggigit. Masih ada tekstur kasar kacang sehingga pembeli dapat merasakannya.

Monday, July 30, 2018

Makan Bakso di peringatan 100 tahun berdirinya The Phoenix Hotel Yogyakarta

Sebelum makan bakso, kami para undangan peringatan 100 tahun berdirinya The Phoenix Hotel Yogyakarta diajak berkeliling hotel. Aku ikut kelompok 2 yang dipandu oleh Mbak X (tidak tahu namanya), dan tempat pertama yang dikunjungi adalah ruang kerja Ir. Soekarno di lantai 2 bangunan asli (usianya 100 tahun dari tahun pembangunan). Tempat itu sampai sekarang masih dipakai sebagai ruang direktur utama. Untuk menuju ke sana harus melewati tangga putar, yang usianya juga sudah tua.
Ruang kerja direktur utama.
Ruangan itu memiliki lorong menuju kamar 201 yang konon pernah dihuni oleh Ir. Soekarno. Kata teman saya, di kamar tersebut terdapat lukisan bergambar wanita, tapi aku belum membuktikannya.

Selanjutnya kami turun lagi ke bawah, di situ terdapat museum perjalanan pembangunan hotel. Ruangan ini juga digunakan para tamu lokal untuk mencari sinyal internet, maklum tempat duduk yang nyaman.
Museum.
Di teras belakang sekarang digunakan sebagai tempat makan, teras tersebut terhubung dengan bangunan baru yaitu restoran. Sedangkan bangunan hotel berada di belakang bangunan asli. Di sisi barat tempat makan terdapat gramaphone, sedangkan dindingnya tertempel foto-foto zaman dahulu.
Teras yang digunakan sebagai rumah makan.
Jadi, makan baksonya kapan? Sabar ya cerita baksonya πŸ˜€πŸ˜‚ wwkkwk. Aku mau ceritanya sesuai kronologi kejadian #halah. Kami saja sabar puluhan menit menunggu dipersilakan makan bakso, masak kamu yang hanya tinggal baca saja enggak sabar? πŸ˜‹
Gramaphone dan lainnya.
Sekilas The Phoenix Hotel Yogyakarta
Dari tadi nulis keliling hotel, tapi belum menjelaskan hotelnya 😁. Jadi begini, The Phoenix Hotel Yogyakarta merupakan hotel bintang 5 beralamat di Jalan Jendral Sudirman 9, Kotabaru Yogyakarta, tepatnya timur Tugu Pal Putih. Hotel ini masuk jaringan Accorhotels dengan jenama MGallery by Sofitel.
Kredit: harianjogja.com.
Bangunan asli dibangun oleh Kwik Djoen Eng pada 1918 sebagai tempat tinggal. Pada 1930 rumah tersebut berpindah tangan ke Liem Djoen Hwat, yang kemudian menyewakannya kepada orang Belanda D.N.E. Francle. Bangunan ini dinamakannya The Splendid Hotel hingga Jepang menguasai Indonesia pada tahun 1942, dan berganti nama menjadi Yamato Hotel.

Kalah Perang Dunia II 1945, Jepang mengembalikan bangunan ini pada pemiliknya. Sempat juga menjadi kediaman resmi Konsulat Cina pada tahun 1946-1949, saat Yogyakarta menjadi ibukota RI. Setelah tidak menjadi kediaman resmi lagi, pada 1951 disewa oleh Direktorat Perhotelan Negara dan Pariwisata, kemudian dijadikan hotel dengan nama Hotel Merdeka.
Kolam renang.
Keluarga Liem Djoen Hwatt memutuskan untuk mengelola sendiri hotel ini pada tahun 1988. Bangunan direnovasi dan ada menambah bangunan baru. Pada 1993 beroperasi kembali dengan manajemen keluarga dengan nama Phoenix Heritage Hotel.

Akhirnya pada 2003 kepemilikan berpindah kepada Imelda Sundoro Hosea, dari grup Sun Motor. Renovasi kembali dilakukan selama setahun untuk menyesuaikan standar bintang 5 grup Accorhotel. Nama hotel berubah lagi menjadi Grand Mercure Yogyakarta pada tahun 2004, berubah lagi menjadi The Phoenix Hotel Yogyakarta, a Member of MGallery Collection pada tahun 2009, lalu berubah lagi belakangnya menjadi Mgallery by Sofitel pada 2016.
Kamar Deluxe Legacy.
Tahun 2018, hotel ini memiliki 143 kamar, 8 ruang pertemuan, 1 ballroom, kolam renang, spa, tempat fitness, butik, dan toko roti. Kulihat, yang menginap di sini kebanyakan orang luar negeri, benua Eropa atau America.

Makan bakso
Kenalannya panjang ya? Wkwkkkwk πŸ˜‚πŸ˜„πŸ˜…. Baiklah, inilah penampakan bakso yang dihidangkan pada 22 Juli 2018 lalu. Sebelum bakso tersaji di meja, beberapa sambutan dan pertunjukan tradisional menghiasi peringatan 1 abad The Phoenix Hotel Yogyakarta.

Bakso The Phoenix Hotel Yogyakarta.
Bakso daging sapi sangat halus, berbeda dengan sajian bakso di luar hotel. Menu pada acara ini mengikuti selera orang Eropa, sehingga kurang cocok dengan lidah orang Indonesia.

Wednesday, July 25, 2018

Mampir Makan di RM Mbak Nik Godong Grobogan

Ketika perut sudah mulai keroncongan, saya diajak mampir ke salah satu rumah makan di jalan Purwodadi - Semarang. Meskipun tidak begitu sesuai selera dengan model warung Pantura, saya paksakan masuk juga daripada kelaparan di tengah perjalanan. Nama warung itu RM Ayam Bakar Mbak Nik yang terletak di Jalan Raya Semarang - Purwodadi km 46,2 Klampok, Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan Jawa Tengah.
Rumah Makan Mbak Nik Godong.
Peristiwa ini sudah 2 tahun lalu, tapi baru sempat saya tulis πŸ˜€, mungkin keadaan sekarang sudah berubah. Letaknya berada di utara jalan utama, bila dari arah Semarang setelah melewati pusat Kecamatan Godong dan jalan masuk ke Bendungan Klambu.
Menu
Meskipun namanya RM ayam bakar, ternyata di dalamnya terdapat banyak menu khas Pantura. Saya tidak memilih ayam bakar karena dirasa akan memakan banyak waktu untuk membakarnya. Pilihan jatuh kepada tongkol dan sayur asam.
Sayur asam ikan tongkol.
Rasanya lumayan sesuai selera saya. Yang agak menghilangkan selera makan adalah tempatnya yang cenderung kurang bersih khas Pantura. Sepiring nasi habis dalam waktu singkat, karena lapar dan berburu waktu. Saya tidak memperhatikan rombongan memesan apa. Untuk minumannya, saya pilih jeruk hangat yang lumayan masam.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke penginapan. Ketika itu hujan baru saja reda, tidak ada tukang parkir yang menyela selama kami datang dan pergi. Harga makanan di sini relatif agak mahal dibandingkan warung yang melayani warga pekerja, karena tentunya segmen pasarnya berbeda.

Tuesday, July 10, 2018

Menang Lomba Blog? Alhamdulillah Pecah Telur juga Blog Ini

Perubahan zaman ikut menenggelamkanku dalam lautan. Dulu, saat era keemasan blog aku sempat "mencuri" kesempatan memenangkan lomba blog. Bukan, bukan dari blog ini, tapi dari penyedia blog gratisan berikut domainnya. Saat daratan mulai terkena abrasi, aku ikut tenggelam bersama blog-blog tersebut menuju kepunahan.

Sekarang konten visual lebih disukai terutama video, konten dengan banyak tulisan seperti blog mulai ditinggalkan. Dan aku belum sanggup menghadapi kenyataan, yeee bilang saja tidak bisa buat video πŸ˜€.
Juara 2.

Ada benarnya juga, aku memang belum bisa membuat video karena keterbatasan alat. Aku masih setia dengan gawai dan laptop jadul, yang tidak mampu diinstall program editing video 😁.

Aku tetap menulis karena mencintainya. Mau zaman berubah seperti apa, aku tetap menulis, meskipun hanya aku sendiri yang baca.

Kembali lagi ke judul yang aku buat, meskipun jarang ikut lomba blog (karena kekurangan bahan) sesekali aku mengikutinya. Yang terakhir adalah pujasera Jogja Paradise yang beberapa waktu aku kutulis di sini.

Dan,,,, pada 5 Juli 2018 lalu manajemen Jogja Paradise mengundang kami kembali; para blogger Jogja untuk beramah-tamah. Di sela-sela acara tersebut, terseliplah pengumuman lomba blog dan Instagram. Alhamdulillah, tulisanku menang juara kedua!!! Pecah telur juga blog ini πŸ˜ƒ...

Begitu saja sih, semoga kemenangan ini bisa merembet ke tulisan-tulisanku selanjutnya, amin. Hadiah blog Jogja Paradise bisa untuk beli boks kontainer 100 liter 😁.

Sunday, July 8, 2018

Tambahan Pembayaran saat Tiba di Hotel

Beberapa bulan lalu aku mendapat voucher potongan harga menginap hotel dengan menggunakan aplikasi A. Lumayan, potongan harga Rp.200.000. Yang artinya bisa saja menginap gratis, jika memilih kamar yang harga semalamnya di bawah itu. Akupun memesan kamar untuk berlebaran di salah satu tempat di Sunan Muria Jogja. Awalnya kupikir akan menyenangkan beristirahat di situ, ada kolam renang dan dapat sarapan. Namun bayangan itu akhirnya buyar oleh eksekusi supervisor hotel tersebut.

Harga kamar semalam melebihi voucher, sehingga aku harus membayar lagi lewat minimarket waralaba. Kenapa tidak transfer bank saja? Karena aplikasi A tidak menawarkan metode pembayaran dari bank rujukanku, sedangkan bayar lewat minimarket (waktu itu) tidak dikenakan biaya (sekarang kena Rp.2.500). Apalagi uang yang harus kubayar di bawah Rp.10.000.
Ilustrasi.
Esok paginya, teleponku berdering oleh panggilan nomor lokal Jogja. Terdengar suara memperkenalkan diri dari hotel yang akan kuinap. Dia jelaskan kalau saat lapor masuk bakalan ada tambahan biaya Rp.130.000. Heee? Kok bisa bayar lagi? Dia beralasan karena aku pesan untuk libur lebaran, sedangkan pihak hotel hanya mendapatkan Rp.170.000 dari aplikasi A.

Setelah mendapatkan telepon itu, aku minta konfirmasi pada layanan pelanggan aplikasi A melalui email. Tanggapan mereka lambat dan berlarut-larut, intinya mereka melarang adanya biaya tambahan, kecuali deposit yang akan dikembalikan ketika lapor keluar. Katanya mereka akan menanyakan kepada pihak hotel mitra tersebut.

Alasan yang digunakan pihak hotel tidak masuk akal, dia sebenarnya bisa saja mengubah harga di aplikasi tapi kenapa main belakang? Sama saja ini menodong calon tamu yang telah terlanjur transfer uang. Kubiarkan saja percakapan nirfaedah itu, toh aku baru akan menginap 3 bulan kemudian.

Tetap disuruh bayar
Hari yang ditunggupun tiba, malam sekitar pukul 19.30 WIB aku menuju hotel tersebut. Kebetulan waktu itu mati listrik, sepanjang jalan gelap, demikian juga dengan hotelnya. Aku memarkir kendaraan di depan pohon mangga yang menutupi jalan masuk. Mereka menyalakan genset yang terdengar sampai ruang resepsionis. Suasana sepi, tak terlihat mobil berderet menginap di situ.

Di ruang resepsionis berukuran sekitar 2x3 meter, lampu tak begitu terang. Kulihat sepintas di dinding, tertempel papan tulis putih dengan banyak coretan. Ada 1 nama dan hanya ada 1 yang tertulis di situ sangat familiar. Tak berapa lama kemudian datanglah penjaga dari ruang belakang, sepertinya baru saja memeriksa genset.

Kuutarakan maksudku untuk lapor masuk, lalu penjaga tersebut mengambil sebuah kertas buram penuh tulisan tangan dan memperlihatkannya padaku. Dia mengatakan (seperti yang tertulis) kalau ada yang masuk (checkin) dari (aplikasi) A kena charge Rp.130.000. Kalau tidak mau bayar, besok disuruh ketemu dengan supervisor.

Aku turut membaca tulisan itu. Namun ketika aku izin ingin memotret kertas itu, dia tidak membolehkan. Dia berdalih itu hanya corat-coretan saja dan dia hanya menjalankan perintah.

Setelah kupikirkan masak-masak dalam 3 menit, akupun cabut dari hotel horor itu. Ngapain bayar lagi? Menurutku itu sama saja nodong tamu yang menginap.

Selanjutnya aku menginap di tempat lain yang memberiku ketenangan di daerah kota. Cukuplah ketemu hotel seperti ini sekali saja, semoga tidak barokah.

Tanggapan layanan pelanggan
Kuutarakan kekecewaanku pada layanan pelanggan aplikasi A malam itu juga, mereka tetap ngotot jika yang dikenakan adalah deposit. Aku memang tidak berpendikan tinggi, tapi masih bisa mendengar, membedakan huruf, dan baca tulisan 'charge' dengan 'deposit'. Keduanya jauh berbeda begitupun definisinya, tapi jika pihak aplikasi A menafsirkan kedua kata tersebut sama, apa boleh buat.

Herannya, jelas-jelas mitra aplikasi A itu tidak sesuai aturan tapi tetap dibela. Idealnya si pelayan pelanggan membela jenama mereka sendiri, tapi ini malah menjeblokkan diri sendiri πŸ˜€.

Setelah kejadian tersebut, hotel ini masuk daftar hitam teman-teman di Jogja. Bagi yang belum pernah menginap di sini, lebih baik hati-hati dengan jebakan batman.

Tuesday, July 3, 2018

Naik Bus Trans Jateng Bawen – Stasiun Tawang di Masa Lebaran

Saya telah berjanji akan mengunjungi kerabat di Semarang pada hari ketiga lebaran, meskipun jalan raya diprediksi sangat padat. Rute yang menjadi pilihan adalah Jogja - Solo - Bawen - Semarang untuk meringankan biaya perjalanan. Kenapa tidak menggunakan kendaraan pribadi saja, kan lebih irit dan hemat waktu? Jawabannya mudah, saya tidak memiliki kendaraan pribadi πŸ˜€.

Perjalanan pertama yaitu menggunakan kereta ke Solo dengan KA Prameks. Kondisi cukup lengang, padahal biasanya tempat duduk terisi penuh. Harga tiket kereta pun tidak mengalami kenaikan. Perjalanan menjadi kurang menyenangkan ketika berganti moda transportasi bus dari Solo menuju Bawen.

Di dinding kaca bus PO Safari Lux yang saya naiki tertempel tarif selama lebaran, tertulis Solo - Bawen Rp.30.000, Solo - Ungaran Rp.35.000, dan Solo - Semarang Rp.40.000. Saya sodorkan uang Rp.50.000 kepada kondektur, ternyata hanya diberi kembalian Rp.15.000 😒. Saya hanya diam tidak kuasa berbicara, sambil berdo'a semoga hasil yang didapatkan tidak barokah.

Setelah terisi penuh penumpang, laju bus malah melambat berasa malas sampai tujuan, mungkin karena target penumpang sudah terpenuhi. Sesampainya di Boyolali jalan terlihat sangat ramai padahal masih pukul 08.00 WIB, puncaknya kemacetan terjadi di jalan masuk tol Bawen selatan terminal. Sepertinya semua orang berangkat pagi ingin menghindari macet.

Di Terminal Bawen, saya turun untuk berganti bus yang tiketnya sangat terjangkau isi dompet, Bus Rapid Trans (BRT) Jateng. Bus berukuran 3/4 ini setiap hari menempuh rute Terminal Bawen - Stasiun Tawang Semarang PP. Bus pertama berangkat pukul 05.00 WIB dan terakhir 19.20 WIB.

Dari Terminal Bawen
Terminal megah nan luas yang berdiri di persimpangan jalan Semarang - Jogja - Solo ini relatif sepi. Terlihat jelas perbedaan perawatan infrastruktur yang dikelola oleh perusahaan dengan pemerintah. Pemandangannya kontras dengan terminal penumpang pesawat atau stasiun kereta api.

Calon penumpang yang masuk dan keluar terminal tidak dikenakan biaya, demikian juga penggunaan fasilitas toilet. Beberapa lapak agen tiket bus dan warung makan sudah buka, meskipun masih suasana lebaran.

Saya agak kebingungan mencari halte Trans Jateng, tidak terlihat penunjuk pengumuman dari tempat penurunan penumpang bus dari arah Solo. Halte itu ternyata ada di sisi paling barat terminal, ciri khas halte bus rapid trans yang tinggi terlihat jelas. Saat berjalan ke sana, sudah ada 5 calon penumpang menunggu bus Trans Jateng tiba.
Di dalam bus Trans Jateng.
Hanya berselang 3 menit, bus yang ditunggu tiba. Para calon pemumpang naik dengan tertib. Sedikit informasi, bus Trans Jateng dan Trans Semarang memisahkan tempat duduk pria dan wanita. Batasnya adalah pintu masuk bus, tempat duduk pria di depan sedangkan wanita di belakang. Misalkan tempat duduk pria sudah penuh dan sebagian berdiri, tapi di belakang (untuk wanita) masih kosong, penumpang pria tetap tidak bisa duduk di kursi belakang.

Tiket murah
Pembayaran tiket di atas bus sebesar Rp.3.500, terhitung murah dibandingkan naik bus antar kota yang mencapai puluhan ribu. Tiket dicetak langsung dengan mode hotprint, seperti struk pembelian minimarket.

Yang menarik, sebelum melaju supir bus mengatur alat di atas dashboard. Rupanya itu sensor otomatis suara dan running text. Beberapa meter sebelum memasuki satu halte, suara lembut mbak-mbak mengingatkan penumpang bahwa sesaat lagi akan memasuki halte X. Papan running text pun menuliskan halte yang akan disinggahi. Perkiraan saya, sensor tersebut berhubungan dengan spedometer. Ketika bus menempuh jarak tertentu, sensor memerintahkan runnning text dan mbak-mbak bekerja.
Ruang kemudi bus Trans Jateng.
Jalan Bawen - Semarang cukup lengang, bahkan bus yang tadi saya naiki bisa disalip dengan mudah. Penumpang bus Trans Jateng jurusan Semarang pagi itu tidak memenuhi kursi, sedangkan dari arah berlawanan terlihat bus Trans Jateng penuh sesak.

Halte berbeda
Halte yang digunakan bus Trans Jateng dengan Trans Semarang berbeda, hanya sebagian saja menggunakan fasilitas sama. Sebaiknya periksa dulu tulisan di halte, jika akan naik bus Trans Jateng.

Artikel Terkait:
- Menyambut Baskara di Puncak Telomoyo
- Kereta Api hanya Sekali Perjalanan, Penumpang Memilih Bus Solo-Semarang
- Berjuang Mendapatkan Tiket Prameks
- Mengapa Bayar Bus Rapid Trans Semarang Belum Bisa Pakai Kartu?

Wednesday, June 20, 2018

Berjuang Mendapatkan Tiket Prameks

Tiket Kereta Api Prambanan Ekspres (Prameks) menurutku agak sulit didapatkan setelah ada kebijakan bisa dipesan H-7. Sepanjang pengalaman naik KA yang melayani rute Solo Balapan - Yogyakarta - Kutoarjo, beberapa kali harus terlewat 1 keberangkatan kereta karena kehabisan tiket. Tiket paling mudah diperoleh pada perjalanan pertama, jika dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta berangkat pukul 05.36 WIB. Tidak perlu memesan sebelumnya, bahkan 5 menit sebelum keberangkatan masih bisa mendapatkan tiket.
Tiket Prameks pesanan.
Hal ini membawa kekhawatiran, sehingga ketika bulan lalu ada keperluan di Solo, aku langsung memesan tiket ke Jogja sesampainya di Stasiun Purwosari. Bisa toh? Bisa.... khusus Prameks ya.

Pesan tiket Prameks
Sesampainya di Stasiun Purwosari, aku bergegas menuju loket pemesanan tiket lokal, yang melayani pemesanan KA Prameks dan Kalijaga (yang ini berangkat dari Stasiun Solo Balapan). Meskipun baru pukul 07.00 WIB, aku bisa memesan tiket kepulangan yang berangkat dari Stasiun Solo Balapan pukul 16.10 WIB.

Syarat memesan tiket ini hanya perlu membawa kartu identitas, dengan maksimal pembelian 4 tiket. Harga tetap sama tanpa biaya tambahan.

Agak bingung, tempat pemesanan Purwosari tapi kok keberangkatannya tertulis dari Balapan? Aku lalu balik lagi ke loket, kata petugas; pemegang tiket bisa naik dari Stasiun Purwosari maupun Solo Balapan. Oh begitu rupanya... Sore harinya, aku benar-benar naik dari Stasiun Solo Balapan.

Namun pemesanan tiket di pagi hari tersebut tidak berlaku untuk KA Kalijaga. Saat akan memesan, aku diminta mengambil nomor antrian pukul 09.00 WIB. Artinya pemesanan KA Kalijaga dilayani mulai pukul 09.00 WIB.

Aku sebenarnya berharap, kebijakan pemesanan tiket KA Prameks dari H-7 ditinjau kembali. Sungguh merepotkan bagi yang benar-benar akan bepergian pada saat itu juga.

Wednesday, May 16, 2018

Menyapa Pagi Malioboro dengan Sarapan Pecel Madiun

Pelari cantik asal kota Solo itu membatalkan keikutsertaan secara mendadak, teman satu tim belum juga datang ke kilometer nol, padahal waktu telah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Kami seharusnya berkumpul pada hari Ahad di kilometer nol Jogja pukul 06.00 WIB untuk pemotretan lari, padahal aku sudah berada di depan Gedung Agung sejak pukul 06.10 WIB. Karena kehilangan satu anggota, tim kami memutuskan bergabung dengan tim lain dan menggeser tempat bertemu di depan Mal Malioboro.

Pedestrian memenuhi trotoar sepanjang Malioboro, dari wisatawan hingga olahragawan. Tepian trotoar ramai kaki lima menjajakan sarapan. Gudeg, makanan khas Jogja mendominasi, selain pecel, soto, bubur ayam, dan nasi kuning. Ada penjual yang menuliskan menu dan harga di spanduk, ada juga yang cuek saja. Pembeli sebaiknya bertanya kepada penjual, berapa harga satu porsi, sebelum menyesal kemudian.
Nasi pecel Madiun.

Perutku mulai menggelitik minta diisi, tapi belum juga kutemukan menu yang menambat hati. Setelah menyapa teman-teman yang sudah duduk di bangku depan Mal Malioboro, kulanjutkan perjalanan ke utara berharap menemukan pembeda. Harapan itu kandas, tak ada sesuatu yang baru. Kuputuskan mengakhiri perjalanan di samping pintu masuk parkir Mal Malioboro, dimana sebuah gerobak Pecel Madiun berdiri di atas dua roda.

Stiker warna ungu bertuliskan Pecel Madiun Berkat ditempel di kaca gerobak. Di atasnya terpasang acrylic putih yang memuat nomor NPWP. Di balik kaca gerobak terlihat sayuran bahan pecel, sate, tempe garit goreng, dan sambal kacang. Sebuah papan kecil menutup pegangan tangan gerobak, sebagai tempat termos berisi teh panas manis yang juga dijajakan.
Pecel Madiun Berkat.
Pesan menu standar
Kupilih menu ini karena sebagian orang mengerubungi gerobak. Bangku-bangku Malioboro di sekitarnya dipenuhi orang yang duduk sambil membawa pincuk. Meskipun tidak ada daftar harga yang tertera, aku yakin harganya sekitar Rp10.000. Di luar (Malioboro) sana, seporsi nasi pecel dihargai mulai Rp8.000.

“Nasi pecel satu.” Kataku kepada ibu penjual Dengan sigap dia meracik pesananku. Sayuran matang yang dimasukkan dalam pincuk seperti bayam, kenikir, kacang panjang, dan ketimun. Aku tidak ingat apa saja di dalamnya, terlalu larut dalam suasana dan kenikmatan rasa.

“Sampun niki mawon? Tanya wanita berseragam itu kepadaku.

“Inggih, pinten Bu?” Aku balik bertanya kepadanya.

“Sedasa ewu.” Jawabnya singkat. Dia berbagi tugas dengan dua orang lain, pria dan wanita. Menyiapkan minum dan sayuran di gerobak yang hampir habis.

Pincuk, dahulu adalah sebutan untuk lembaran daun pisang yang ujungnya dilipat jadi satu sehingga terbentuk seperti wadah untuk makan. Agar tidak lepas dikait dengan biting, dahan pohon kelapa (lidi) yang dipotong kecil-kecil. Ujungnya dipotong lancip. Sendok juga dibuat dari daun pisang dinamakan suru.
Hampir habis.
Seporsi nasi pecel, sudah termasuk tempe garit goreng dan rempeyek teri cacah. Bagiku ini sudah cukup, tidak perlu tambah lauk lagi. Porsinya juga sudah mengenyangkan. Sambal kacang cukup kental dengan tingkat kepedasan sedang dan sudah standar (tidak bisa minta sambal tidak pedas). Mengusung nama kota di belakang pecel, menandakan manisnya gula jawa dalam sambal kacang berada pada tingkatan sedang. Berbeda dengan asli Jogja yang sangat suka manis.

Setelah kenyang, kami bergeser ke Ketandan untuk memulai pemotretan.

Monday, May 14, 2018

Kereta Api hanya Sekali Perjalanan, Penumpang Memilih Bus Solo Semarang

Sudah pernah naik Kereta Api (KA, selanjutnya disebut kereta saja) Kalijaga relasi Solo Balapan Semarang Poncol? Aku belum pernah, jadwal keberangkatan yang tidak bersahabat membuatku tidak menggunakan kereta, meskipun harga tiketnya sangat murah (mendapat subsidi). Dari Solo Balapan (per Mei 2018) berangkat pukul 05.20 WIB, aku harus berangkat pukul berapa? Itupun hanya dilayani sekali perjalanan per hari.
Tarif karcis salah satu bus Solo - Semarang.

Kebalikannya, KA Kalijaga dari Semarang ke Solo yang berangkat pukul 09.00 WIB hampir selalu penuh. Bahkan aku pernah tidak kebagian tiket dua bulan lalu, padahal di tengah pekan belum musim liburan. Ceritanya, aku tidak memesan tiket karena biasanya selalu ada tiket pada hari keberangkatan. Sesampainya di loket stasiun, terpampang pengumuman tiket KA Kalijaga sudah habis, padahal waktu keberangkatan masih 30 menit lagi.

Tiket KA Kalijaga bisa dipesan 30 hari sebelum tanggal keberangkatan. Pemesanan hanya dilakukan di stasiun yang disinggahi dengan menyertakan kartu identitas.

Naik bus
Karena itulah penumpang memilih transportasi lain berupa bus. Aku kurang tahu keberadaan travel dan shuttle bus saat ini, tidak tertarik menaikinya kecuali sponsor mewajibkannya πŸ˜€. Ada beberapa perusahaan otobus yang melayani jurusan Solo - Semarang, tidak hanya berasal dari Jawa Tengah tapi juga Jawa Timur.

Semua bus Solo Semarang (PO Jawa Tengah) berpendingin ruangan dengan tempat duduk 2-2. Beroperasi 24 jam, pada jam-jam sibuk, waktu tunggu sekitar 10 menit. Setelah jam tersebut semakin lama dan lama, apalagi malam hari bisa menunggu berjam-jam.

Berikut tarif bus Solo Semarang tertanggal 14 Mei 2018. Tarif bisa berubah, menyesuaikan harga bahan bakar, libur lebaran.

Rp.30.000
Solo - Semarang.

Rp.25.000
Semarang - Boyolali, Ungaran - Solo.

Rp.20.000
Solo - Bawen, Ungaran - Boyolali, Semarang - Ampel.

Rp.15.000
Solo - Salatiga, Semarang - Salatiga, Boyolali - Bawen, Ampel - Ungaran.

Rp.10.000
Semarang - Bawen, Ungaran - Salatiga, Ampel - Bawen, Boyolali - Salatiga, Solo - Ampel.

Rp.7.000
Semarang - Ungaran, Ungaran - Bawen, Salatiga - Bawen, Ampel - Salatiga, Ampel - Boyolali, Boyolali - Solo.

Sewaktu aku dan teman-teman pergi ke puncak Telomoyo, kami berangkat dari Jogja naik KA Prameks dan berganti dengan bus jurusan Solo - Semarang, tentu saja turun di Salatiga.

Artikel Terkait:
- Camping, Archery, dan High Ropes yang Menantang
- Menyambut Baskara di Puncak Telomoyo
- Off-road di Perkebunan d'Emmerick Salatiga
- Berjuang Mendapatkan Tiket Prameks

Monday, May 7, 2018

Pensiunnya Dompet Kesayangan

Dompet nilon yang kubawa setiap hari akhirnya pensiun juga. Sudah beberapa bulan lalu minta pensiun tapi belum terkabul. Baru pada hari ini, permintaan tersebut terlaksana. Dompet berwarna hijau yang sudah dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman, nyaris seusia Arsene Wenger melatih Arsenal.

Dompet Eiger ini dibeli (mungkin) pada musim 1997 atau 1998, seusia dedek-dedek yang baru aktif mencari perhatian. Konon ceritanya, dompet ini dibeli di Toko Gramedia Jalan Jendral Sudirman, Yogyakarta. Ketika itu harganya Rp7.500. Beberapa saat berselang, teman si pembeli ini melihat dompet tersebut. Heran kok ada dompet bagus berharga murah. Langsung saja dia ke Gramedia untuk beli dompet Eiger. Laki-laki bernama Bernad itu kemudian membeli dompet yang lebih mahal, Rp.8.500.
Dompet nilon buluk.
Dua tiga bulan kemudian, Bernad jengkel dan agak kecewa karena dompet yang dibelinya telah rusak. Dia menyalahkan pemilik dompet hijau, karena menganggap telah menjerumuskannya. Teman-teman lain yang melihat rusaknya dompet Bernad malah tertawa πŸ˜€. Laki-laki itu membeli dompet dengan model jaring yang rentan rusak, kenapa dia tidak beli model yang sama? πŸ˜‚

Dompet buluk ini kemudian jatuh ke tanganku, menemaniku ke mana saja dalam berbagai cuaca. Tak jarang basah oleh hujan, tersiram air, maupun resapan keringat. Uang di dalamnya pun ikut basah, baunya juga berubah ketika keringat membasahi dinding dompet.

Kini aku sudah menemukan pengganti, walaupun salah beli dan merasa dikhianati. Harga daring dan harga luring nyatanya lebih murah daring. Salah beli karena dompet itu lebih layak untuk kunci mercy πŸ˜†.

Begitulah sahabat kismin, beli hanya saat ada reduksi. Tidak sadar jika sedikit dikibuli. Cinta datang karena terbiasa, siapa tahu seiring berjalannya waktu, cinta kepada dompet baru makin terasa. Sambil menanti dompet yang baru (lagi) tiba.

Saturday, May 5, 2018

Jogja yang Membuat Selalu ingin Kembali, untuk Berbagi dengan Hati

Jogja, nama beken dari Yogyakarta, kota yang membuat tiap orang yang pernah mengunjunginya selalu ingin kembali. Hati yang mulai sepi akan terobati saat menapakkan kaki di kota ini. Penggalan lirik lagu Yogyakarta yang dinyanyikan Kla Project di tahun 90an diamini setiap orang, Yogyakarta selalu membuat hati damai. Demikian juga yang dialami Anggia Pino, yang menurut pengakuannya sempat bekerja di ibukota, untuk kembali ke kota asal, Yogyakarta.

Di kota ini, perempuan bernama asli Anggia Pitaloka ini menemukan ketenangan. Jarang terkena macet, cuaca yang tidak begitu panas, serta dikelilingi orang-orang yang ramah dan bersahabat. Dia tidak tinggal diam, ingin berkarya untuk Yogyakarta. Berbagai profesi dan usaha dijalani, mulai sebagai dosen pengajar, membuka konsultan desain dan agensi digital, dan beberapa bisnis. Gelar entrepeneur muda layak disandang. Tahun 2018 ini bergandengan dengan seorang teman; Sandhy Seven Nova, membuka lini usaha baru di bidang kuliner di Yogyakarta.
Gathering media Bolu Susu Merapi.
Bukan makanan berat yang jadi pilihan, tapi kudapan yang bisa menjadi pengganti minum susu. Kudapan jenis bolu (cake) ini dinamakan Bolu Susu Merapi.

Kenapa Bolu Susu?
Cerita lalu, perempuan yang pernah bekerja sebagai jurnalis My Magz ini mengaku susah minum susu. Mungkin di matanya, susu terlihat seperti jamu pahit. Susu, dengan deretan manfaatnya tetap ada yang kurang suka, itu masalah selera. Dari cerita lalu itu, ada bisikan dalam hati untuk membuat alternatif pengganti minum susu, dan bolu menjadi pilihan.
Irisan bolu gantinya minum susu.
Bolu yang memiliki tekstur yang lembut dapat dikonsumsi anak-anak hingga dewasa. Teruntuk yang bermasalah dengan susu, produk ini bisa menjadi gantinya minum susu. Bukan dalam artian harfiah, karena minum tak akan tergantikan dengan makan. Maksudnya, bagi yang kurang suka minum susu, tetap dapat menyerap kandungan nutrisi susu dengan makan Bolu Susu Merapi.

Sebagai lulusan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjajaran, Sandhy Seven Nova tentu tidak asing dengan dunia susu. Apalagi pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah ini pernah berkiprah di perusahaan produk turunan susu internasional. Namun tetap perlu riset dan percobaan demi percobaan untuk mendapatkan komposisi bolu yang tepat. Butuh waktu hingga 6 bulan saat mengembangkan kudapan ini, kemudian lahirlah produk Bolu Susu Merapi.
Varian Bolu Susu Merapi saat ini.
Kandungan nutrisi dalam susu sendiri cukup lengkap. Setiap 100 gram susu mengandung sekitar 75 kalori. Hampir 90% susu terdiri dari air. Kaya kalsium dan protein. Susu juga mengandung lemak, vitamin A, B, D, dan K, natrium, magnesium, serta kalium.

Kenapa ada nama Merapi di belakangnya?
Merapi, salah satu gunung aktif di Indonesia terhampar di 3 kabupaten, Kabupaten Sleman di DIY, Kabupaten Magelang dan Klaten di Jawa Tengah. Luput dari keganasannya saat marah, Gunung Merapi juga menyuguhkan keindahan. Dari Yogyakarta, Merapi indah dilihat. Dari Yogyakarta, Merapi mudah merasakan kesejukannya. Merapi juga menjadi ujung utara garis imajiner Merapi - Tugu - Kraton Yogyakarta - laut selatan. Merapi menjadi istimewa bagi Yogyakarta, karena itulah jenama kudapan ini diberi nama Bolu Susu Merapi.

Varian Produk
Pada peresmian akbar yang diadakan di Atrium Lippo Plaza Yogyakarta pada 6 Mei 2018, Bolu Susu Merapi tersedia dalam 2 varian, Vanilla dan Cokelat (sesuai KBBI) dengan taburan keju parut di atasnya. Harganya pun cukup terjangkau, Rp28.000 per kotak dengan ukuran sekitar 25x10x5 atau 400 gram.

Produk ini tidak memiliki toko khusus, hanya membuka kedai di acara-acara tertentu atau bisa juga berpindah tempat. Fleksibilitas pemasaran ini bisa dipantau di Instagram: @bolumerapi, Facebook: Bolu Merap, atau nara hubung: +62 811-2744-499 dan surel bolumerapi@gmail.com

Komposisi bahan dan Keunggulan
Tidak menggunakan bahan pengawet dan pengembang menjadi komitmen pembuatan Bolu Susu Merapi, sehingga aman dikonsumsi. Konsekuensi ketiadaan dua bahan tersebut menjadikan daya tahan produk (kedaluwarsa) menjadi lebih sempit.
Masa penyimpanan.
Dalam suhu ruang dan kondisi normal, daya tahan hanya 3 hari. Sedangkan jika dimasukkan ke dalam lemari pendingin, bolu susu dapat bertahan sampai 5 hari. Hindari terkena sinar matahari langsung dan suhu panas, yang akan menyebabkan rasa berubah dan tidak tahan lama.
Komposisi bahan dan manfaat susu di kotak bolu.

Produk yang dibuat di daerah Monumen Jogja Kembali ini memiliki komposisi telur, tepung terigu, susu cair, gula, dan keju.

Sertifikat halal LPPOM MUI
Kemasan cukup menarik, bagian dalam sudah berlapis plastik, cukup aman dari percikan air atau taburan keju menempel di kemasan. Sudah tersedia pisau plastik putih untuk memotong bolu, sehingga tidak perlu "mencuil" dengan tangan.

Pada sisi luar kemasan, terpampang komposisis bahan, saran penyajian, manfaat susu, akun media sosial dan nara hubung. Tidak ketinggalan tanggal produksi dan kedaluwarsa. Logo Halal MUI pun sudah tercetak di situ.

Pilih bolu atau bakso?
Pilihan yang sulit, beberapa rekan ini ketika disodorkan Bolu Susu Merapi, mereka langsung mengambil dan memakannya. Ketika ditanya alasannya, mereka mengatakan baru melihat jenama ini, makanya penasaran. Sekotak bolu pun habis diserbu, artinya produk ini enak dan bisa diterima banyak kalangan.
Sikat.
Bolu Susu Merapi, akan jadi pilihan bukan makanan khas
Pemilik bisnis ini mengatakan, "Bolu Susu Merapi tidak akan menjadi makanan khas Yogyakarta. Posisi kami hanya menjadi pilihan, alternatif makanan yang berasal dari Yogyakarta. Makanan khas Yogyakarta tak akan tergantikan sampai kapan saja."

Nikmati romantisme Yogyakarta, dari alamnya yang indah hingga beraneka macam kuliner dan kudapan. Jangan lupa singgah untuk membawa buah tangan Bolu Susu Merapi, karena Bolu Susu Merapi berbagi dengan hati.

Wednesday, May 2, 2018

Mengenyam Beragam Kuliner di Jogja Paradise Foodcourt

Terkenal sebagai kota pendidikan dan tujuan wisata, menjadikan Yogyakarta memiliki ragam budaya dan kuliner. Keaneka ragaman tersebut sebagian besar dibawa oleh mahasiswa yang belajar di kota gudeg ini, selain menuntut ilmu mereka juga membawa budaya dan resep kuliner dari daerah asal.

Jogja Paradise Foodcourt merupakan salah satu pujasera yang menyediakan beragam kuliner dan tempat yang nyaman bersantap bersama keluarga. Kuliner nusantara, western, dan eastern bisa dengan mudah dipesan tanpa harus berpindah tempat untuk mendapatkannya.
Jogja Paradise Foodcourt.
Menempati lahan 5450 m2 dengan luas bangunan 1309 m2 menjadikan tempat ini cukup ideal untuk menikmati kuliner dengan santai bersama keluarga. Taman dan tempat bermain anak berada di tengah-tengah bangunan pujasera yang berdiri sejak Agustus 2012, memberikan kenyamanan bagi pengunjung saat bersantap bersama.
Halaman dalam Jogja Paradise.
Sebagai foodcourt terbesar di Yogyakarta, tempat berlogo seperti bunga teratai 5 warna ini memiliki 21 tenant, antara lain:

Rujak Cingur - Tahu Tek Paijo Bless Coffee
Bakso Rahayu Salatiga Snick Snack
Gudeg bu Mur Wijilan Sushi Story
Steamboat and Friend Food Story
Mbok Berek Garden Sate Ratu
Sambal Jahanam Es Murni
Sop Empal Yoeni Ah Moy
Mie Surabaya Joglo
Mie Jakarta DC2
Steak Addict -
Master Seafood Lunchbox
Rujak Cingur
Siang hari yang terik di hari Kamis, 26 April 2018 aku mencium bau khas petis udang saat mengelilingi area tenant Jogja Paradise Foodcourt. Rupanya aroma harum tersebut keluar dari rujak cingur, salah satu menu yang ditawarkan salah satu tenant. Meskipun tampilan kurang menarik, tapi petis itu begitu menggoda untuk dicoba. Akupun mengambil memilih kuliner dari Jawa Timur ini sebagai makan siang.
Beberapa menu di Jogja Paradise Foodcourt.
Tersirat dari namanya, menu ini memadukan dua jenis kuliner yaitu rujak dan cingur. Cingur dalam bahasa Jawa, khususnya Jawa Timur berarti mulut (sapi). Rujak cingur di sini berisi sayuran kacang panjang, kecambah, dan kangkung. Buah-buahan ketimun, krai, bengkoang, dan nanas. Disamping itu irisan tahu goreng melengkapi kekhasan kuliner.
Rujak cingur pilihanku.

Sebagai asupan karboidrat digunakan lontong. Jangan sampai ketinggalan cingur yang dipotong kecil-kecil. Di sela lautan saus kental yang dibuat dari petis udang dan sambal kacang, aku masih bisa mengenali sedikit bahan rujak cingur ini. Kerupuk menjadi lapisan atas rujak cingur.
Tenant di sisi utara foodcourt.
Tidak hanya baunya saja yang harum, rasa petis yang telah dipadukan dengan sambal kacang juga nendang. Kunci kenikmatan rujak cingur adalah bumbu sausnya (petis dan sambal kacang). Selain saus, kunci lain adalah tingkat kepedasan yang disesuaikan dengan selera. Porsi rujak cingur ini benar-benar mengenyangkan, hampir tak sanggup menuntaskannya 😊.
suasana di foodcourt.
Fasilitas lain
Beberapa tahun lalu aku pernah ikut acara bertema UMKM di lantai 2 Jogja Paradise. Sekarang pun ruangan yang bisa menampung 300 orang itu masih digunakan. Tempat shalat ada di lantai 2 pojok belakang, mampu menampung 12-15 orang. Selain taman, di tengah lahan berdiri panggung pertunjukan.
Tempat shalat.
Parkir kendaraan gratis, bisa di depan maupun di dalam kawasan taman. Pengunjung juga dimanjakan dengan akses internet gratis. Sementara itu, livemusik selalu tampil setiap Sabtu malam mulai pukul 19.00 WIB.
Live music acara khusus.
Coworking Space
Tempat yang diharapkan menjadi magnet baru Jogja Paradise adalah coworking space yang ada di lantai 2, tepat di atas Bless Coffeeshop.
Coworking space Jogja Paradise.
Coworking space adalah tempat dimana orang memiliki berbagai latar belakang pekerjaan, yang bekerja dalam sebuah tempat. Tempat ini memiliki fasilitas Common Space, yaitu ruang kerja utama untuk perorangan dan grup.
Free coffee break.
Dilengkapi free coffee break, dan office assistan untuk membantu kebutuhan. Ada juga Ruang serba guna dengan kapasitas sampai 60 orang, yang dilengkapi dengan wide screen dan sound system untuk kebutuhan event seperti workshop, seminar, screening.

Toilet
Hampir lupa, letak toilet ada di beberapa sisi, salah satunya dekat parkir depan. Ada yang unik pada pengumuman yang tertempel di dinding dalam toilet, silakan baca sendiri πŸ˜‚.
Tata tertib toilet Jogja Paradise.
Survey kepuasan
Untuk mewujudkan visi Jogja Paradise sebagai tempat kuliner wisata keluarga terbaik dan terbesar di Yogyakarta, manajemen mencetuskan Jogja Paradise reborn. Lahir kembali dengan pengelolaan baru, sehingga dapat memberikan kepuasan, kenyamanan, dan membangun hubungan dengan pelanggan. Salah satu caranya dengan memberikan survey kepuasan pelanggan setelah menikmati aneka kuliner.
Survey kepuasan pelanggan.

Lokasi
Jogja Paradise foodcourt berada di gerbang masuk utara kota Yogyakarta. Jika dari arah Magelang berjarak sekitar 500 meter selatan jalan layang dan Terminal Jombor DIY. Tepatnya di Jalan Magelang km.6 Sinduadi Mlati, Sleman DIY, seberang Hotel Rich Jogja.
Denah.
Sebelum masuk foodcourt, terdapat denah Jogja Paradise Foodcourt beserta semua tenant. Semoga ke depan, denah ini dibuat lebih besar supaya para pengunjung dapat melihatnya.

Sunday, April 22, 2018

Apa yang Ditonton pada Gelaran Lomba Lari Marathon?

Pekan lalu telah diselenggarakan Mandiri Jogja Marathon 2018 (15/04/2018) yang menjadi lomba tahun kedua, di Prambanan, Sleman DIY. Aku diajak menontonnya meskipun agak bingung, apa yang menarik, apa yang akan diceritakan? Namun aku tetap berangkat juga, kali saja ada kontes atau kuis, aku dapat menjawabnya πŸ˜€.

Kepanikan sore hari
Drama banget sehari sebelum hari H. Sore hari aku lalai menguras oli motor, dan ternyata oli pengganti tinggal separuh botol. Kuhubungi teman agar bisa membonceng esok hari. Sambil berkomunikasi dengan pesan berantai, aku mencari bengkel untuk membeli oli. Siapa tahu ada yang masih buka meskipun sudah pukul 17.15 WIB. Alhamdulillah masih ada bengkel kecil yang buka, meskipun harga oli kelewat mahal. Aku meminta pada teman itu agar mau melewati jalan dekat tempat tinggal. Iya, aku tetap membonceng karena motor juga tidak bisa ngebut.
Pasang aksi sebelum lari.
Setelah lama menunggu jawaban, temanku mau juga melewati jalan dekat tempat tinggal. Namun akhirnya pukul 20.00 WIB kubatalkan, karena mendadak mendapat penginapan di Tirta Martani, Kalasan Sleman, DIY, sekitar 4 km dari lokasi. Jadi, pukul 19.00 WIB aku dihubungi mbak narahubung (sekaligus makelar penginapan lain 😁) ada kamar kosong berpendingin ruangan. Aku lalu menghubungi seorang teman yang bertugas meliput lomba, apa mau menginap dekat Prambanan? Singkat cerita, dengan patungan Rp.100.000 aku menginap dekat Prambanan.

Daripada semalaman tidak bisa tidur (agar tidak telat), belum lagi jika ada kejadian tak terduga di jalan. Lebih baik keluar uang untuk menginap dekat lokasi. Saat teman lain sudah sampai lokasi, aku masih guling-guling di kasur πŸ˜‚. Prinsipnya, waktu Shubuh pukul 04.25 WIB aku harus sudah di lokasi. Lupakan start full marathon, toh sia-sia diabadikan dengan kamera gawaiku (baca: butuh kamera).

Keluhan peserta
Beberapa teman ikut Mandiri Jogja Marathon 2018, belum mulai mereka sudah mengeluh di media sosial. Tenda untuk shalat dengan tempat start jauh, 700 meter. Kulihat ada sih tempat shalat permanen dekat tempat start, tapi luasnya sekitar 3x4 meter, tidak cukup menampung ribuan peserta full marathon. Satu teman sempat-sempatnya nulis status, mau wudhu saja susah air.... panitia tidak peka.

Jalannya lomba juga tidak luput dari kritik. Dari stasiun air, beberapa marshall di jalan yang kurang sigap, hanya menyediakan 1 macam buah, keluhan wet sponge, water sprinkler, dan medis. Tidak ketinggalan, jalur yang tidak steril. Sebagian keluhan diluapkan di media sosial, forum, dan blog (meskipun kemudian dihapus karena takut). Sebagai contoh, bacalah komentar di akun ini dan unggahan media sosial bertagar #MandiriJogjaMarathon2018

Pandangan mata
Aku memang tidak kemana-mana, hanya di lokasi start dan finish sambil memperhatikan sekeliling. Lokasi finish terbagi 2, half dan full marathon di sisi barat. Sedangkan 5k dan 10k di sisi timur. Jalan selebar 2 meter itu masih dibagi 2 lagi, yang memisahkan kedua kategori lari.

Beberapa pelari salah masuk finish, harusnya 5k masuk ke jalur 10k dan sebaliknya. Pembawa acara pun mengingatkan panitia untuk lebih sigap mengarahkan peserta masuk garis finish yang benar. Aku juga sempat melihat ada peserta yang ambruk di garis finish, entah pingsan atau kecapekan. Pembawa acara pun terlihat gemes dengan kelambanan medis waktu itu. Aku kurang paham apakah keterbatasan jumlah medis, atau mereka tidak terlatih.

Saat pulang sekitar pukul 11.15 WIB, aku melewati sedikit jalur lomba. Masih ada sisa-sisa pelari full marathon berjuang mencapai finish. Jalur tidak 100% steril, beberapa warga bermotor nekat menerobos jalur terlarang. Padahal lebar jalan hanya 2 meter. Hampir lupa, tidak semua jalur lomba beraspal, depan penginapan yang dilewati full dan half marathon jalannya hanya paving block.

Menurut koran, acara ini memang dikemas sport tourism. Sehingga "dianggap" wajar jika jalur tidak steril 100%. Penghambat lain di jalur lomba adalah sebagian pelari secara berkelompok menyempatkan diri swafoto di tengah jalur lomba. Teman saya sampai curhat, tahun ini penyelenggaraan menurun dari tahun sebelumnya, termasuk total hadiah yang diperebutkan.

Aku baru tahu ada rungrapher, semacam pemotret yang mengkhususkan diri memotret para pelari. Selama ini aku hanya tahu idolgrapher, selain footballgrapher di luar negeri.

Intinya, kita bisa menonton pelari melakukan start, memasuki finish, perjuangan mereka, hingga melihat yang manis-manis. Sudah disediakan pula tenda kuliner, memanjakan penonton dan pelari meski harga bandrol agak mahal.

Semoga tahun mendatang penyelenggaraan acara ini lebih baik lagi.

Catatan
Tulisan ini bukan pesanan maupun dibayar.

Wednesday, April 11, 2018

Cikis, Lini Usaha Cake & Bakery dari Bale Ayu

Siang yang terik tidak menyurutkan niatku ke Cikis Cake & Bakery, toko roti yang baru diresmikan 13 Februari 2018 di Jalan Pringgokusuman 16 Yogyakarta. Selain membeli roti, juga ingin memotret beberapa sudut ruangan dan produk Cikis. Memang bukan waktu ideal, tapi hanya itu waktu senggang yang kupunya. Jangan tanya hasil potretnya ya, cuma menggunakan gawai untuk keperluan Local Guide πŸ˜€.
Cikis Bakery.
Jalan ke arah barat dari Malioboro ini cukup lengang, tidak semacet jalan-jalan utama. Apalagi ini hari Ahad, orang lebih banyak melewati jalan tempat wisata. Saat kuparkirkan motor, terlihat beberapa karyawan sedang melipat kardus. Saat kubuka pintu masuk, mereka malah menghentikan pekerjaan itu dan pindah ke belakang. Yah, sedikit kecewa, padahal ingin swafoto bersama mereka, hehe.

Kulepaskan nafas panjang saat pendingin ruangan menerpa tubuh, kontras sekali dengan cuaca luar yang panas. Melangkahkan kaki ke ruangan berukuran sekitar 8x12 meter langsung disambut meja kursi penerima tamu. Di belakangnya terlihat aneka tart dan brownies yang tersimpan dalam lemari pendingin, sederet dengan lemari kue bolu. Rak di bagian tengah ruangan, terpajang rapi bakery (roti basah) dan bread dengan berbagai varian. Lalu berbagai kue kering dipisahkan di sisi kanan. Sedangkan rak paling belakang diperuntukkan cemilan oleh-oleh non cake & bakery. Jadi, sebenarnya tempatnya sudah tertata dari kiri ke kanan, yaitu deretan cake, bakery, dan cookies.
Ruangan Cikis Cake Bakery.
Aku langsung menuju rak di sisi kanan, terdapat bermacam kue kering cantik semacam kastangel dan teman-temannya. Kupilih satu stoples Choco Square Stick, kemudian berpindah mengitari rak roti basah. Hmmm, agak bingung karena banyak varian. Mbak Bertha yang bertugas saat itu dengan sabar menjelaskan varian roti dan kue, beserta harganya. Maklum, aku tidak hafal jenis cake dan bakery, apalagi jika tanpa ada nama yang tertera di rak atau produk.

Katanya harga termurah Rp4.000, aku jadi ingin membeli semua. Tapi kantong kemeja berbisik mengingatkanku hahaha.. Akhirnya kupilih melted cheese, banana cheese, banana choco, dan pizza. Varian yang kupilih adalah kesukaan keluargaku. Mohon jangan bandingkan pizza toko roti dengan restoran, jelas beda.
Free tester, silakan ambil.
Di meja kasir tersedia 3 roti yang bisa diicip, ketiganya adalah produk unggulan Cikis. Japanese Cheese Cake, Banana Cheese Cake, dan Choco Square Stick. Produk terakhir adalah kue kering, dengan lapisan atas cokelat memanjang berbentuk setengah lingkaran. Menurutku kue ini cocok untuk cemilan dan hidangan tamu. Rasanya gurih, tidak terlalu manis, serta dominan rasa cokelatnya. 

Tahu Cikis Cake & Bakery darimana?
Tanda-tanda kemunculan Cikis Cake & Bakery sudah terendus beberapa waktu lalu, terutama bagi pengikut akun media sosial grup Bale Ayu. Iya, benar. Cikis merupakan lini pertama grup Bale Ayu di ranah makanan ringan. Sebelumnya, grup ini sukses menelurkan berbagai lini usaha makanan berat.

Sehari sebelumnya (7/4/2018), aku sudah datang ke Cikis dan disambut beberapa jajaran manager grup Baleayu termasuk GM Yudhiono. Sempat juga masuk ke dapur berukuran 8x8,5 meter dan melihat sekilas pembuatan roti. Proses produksi sudah menggunakan mesin modern dan memenuhi standar kebersihan.
Choco Square Stick.
"Cikis berasal dari bahasa Turki yang berarti pintu atau jalan keluar. Harapannya dapat menjadi solusi bagi masyarakat Jogja untuk mendapatkan bermacam oleh-oleh." Tandas Yudhiono kala itu.

Harga roti di Cikis cukup terjangkau karena segmentasi untuk kalangan menengah ke bawah. Selain menerima pembayaran tunai, juga bisa menggunakan non tunai seperti uang elektronik, kartu debit, serta kartu kredit. Dan yang terpenting, tanpa ada tambahan pajak!

Reputasi layanan grup Bale Ayu selama ini bagus, termasuk layanan antar. Nah Cikis juga menyediakan layanan antar minimal Rp100.000 serta melayani pesanan sesuai permintaan dan bujet pelanggan.