Kalikuning Adventure Park, Bird Watcing dan Keelokan Alamnya

Sarapan telah tersedia pukul 07.30 WIB di pendopo Kalikuning Adventure Park (KAP). Kupilih bubur, terik tahu, dan kerupuk; mencoba variasi menu selain nasi. Selanjutnya kami bersiap trekking dan bird watching di lahan kosong selatan pendopo. Peserta dibagi menjadi 4-5 kelompok (lupa), masing-masing mendapatkan gelang karet warna, sesuai kelompok. Aku dapat kelompok terakhir bergelang merah.

Sebelum berangkat, peserta dan panitia melakukan pemanasan 🙆🙋🙌 dan permainan. Aku tidak ikut karena bolak-balik toilet! Dingin banget, baru keluar toilet lalu menuju ke lapangan, sudah kebelet lagi. Mungkin ada 10x aku ke toilet dalam rentang 1 jam. Agak sebel juga kenapa tidak segera berangkat, keburu cairan dalam tubuh habis dikeluarkan untum k menetralisir suhu tubuh.
Bird Watching di Plunyon.

Setahuku, rute trekking kali ini adalah KAP – Plunyon – Dam Plunyon – Umbul Temanten – Kalikuning Park, dengan estimasi jarak ± 5,7 km.
Rute trekking. Dok. Titin Septiana.

Beda KAP dengan Kalikuning Park? Silahkan baca artikel sebelumnya.

Berangkat Menuju Plunyon
Kelompok terakhir ini unik, anggota hanya 8 orang termasuk panitia, itupun berkurang 1 karena ada tugas mendadak dan harus balik ke pendopo. Separuhnya adalah fotografer Genpi Jogja dan Nat Geo (Dwi Oblo). Kami jalan tanpa berhenti hingga bisa menyusul kelompok depan 😂 wkwkwk.
Sarapan bubur.
Entah ada penjelasan dari pemandu atau tidak (aku blank), sepanjang perjalanan kami malah asyik mengambil gambar dari berbagai angle. Takjub melihat indahnya alam Kali (sungai) Kuning dan jurangnya, Gunung Merapi, atau Bukit Plawangan yang ada di seberang barat KAP. Jarak dari tempat aku berdiri di KAP dengan permukaan air Kali Kuning sekitar 700 meter (nanti direvisi setelah lihat Google Earth).
Permainan sebelum trekking.
Kupilih jalan bersemen halus di tepi jalan setapak, karena tengahnya ditanam batu-batu besar. Jalan di atas batu membuat kaki cepat lelah, camkan ya..

Selain peserta berseragam, tampak segelintir warga setempat menyeberangi jalan setapak. Mereka memanggul rumput yang disabit di area KAP untuk pakan ternak mereka. Berkat warga tersebut, rumput liar yang tumbuh tinggi jadi bersih. Aku jadi bertanya-tanya apakah rumput ini bisa dijadikan wayang? Mengingat aku pernah membuat wayang rumput di Desa Wisata Pentingsari.
Keindahan Plunyon.
Jalan setapak berundak turun hingga setengah tebing, mulailah terlihat air Kali Kuning. Jalan berbatu berganti cor semen, pucuk-pucuk pinus seperti berebut, bergesek berdesak, berjalin tangan (#halah malah nyanyi). Melewati jembatan, yang jika kita turun ke bawah ternyata berarsitektur stone arch bridge. Itulah pertanda telah sampai di Plunyon.


Andaikan jembatan tersebut bersih dari ilalang, tentu akan menjadi spot foto menarik. Sejak erupsi Merapi 2010, sebagian infrastruktur rusak belum sempat dibenahi.

Melihat dengan monokular dan binokular
Kami harus mengantri menggunakan teropong monokular dan binokular untuk melihat burung Perling mata merah, yang bercengkrama di pohon pinus yang telah mati tapi masih tegak berdiri. Aku kurang mengerti nama latin burung itu, lebih mudahnya kusebut burung jalak berbulu hitam dengan ciri khas memiliki mata merah.

Teropong seperti gambar paling atas adalah tipe monokular; memiliki 1 lensa. Sedangkan binokular memiliki 2 lensa, mudah dicangklong, bentuknya seperti teropong tentara yang sering terlihat di film perang. Sebetulnya kita juga bisa bawa peralatan sendiri, atau melihat dengan kamera DSLR atau mirrorles.

Akan sangat sulit bird watching dengan mata telanjang, kecantikan burung tersebut tidak terekpose karena jauhnya jarak penglihatan.
Perling dipotret dari lubang mata teropong monokular.

Trekking baru dimulai
Waktu terus berjalan, kamipun segera melanjutkan etape berikutnya. Kali ini peserta menyeberang Kali Kuning (sisi barat), jalanan landai naik dan turun perpaduan cor semen dan tanah. Yang cukup mengejutkan, kami harus menyeberang lagi ke timur dengan melewati pipa air! Oke fine... mau lewat sungai yang cethek, tapi kok yo kudu nyopot sepatu.. males. Aku ngikut juga melewati pipa itu dengan penuh keraguan 😭.
Dam Plunyon.
Setelah itu jalanan sedikit ekstrim. Sekali lagi kami harus meniti pipa, jika tidak ingin basah dan kotor melewati jalan setapak yang baru dibuka, yang tidak tahu kemana arahnya 😂. Melewati tanggul batu branjang, naik-turun jalan tanah dan batu yang licin oleh bocoran air pipa PAM. Tak ketinggalan ilalang tinggi menggores kulitku hingga terasa gatal. Pandai-pandai mengatur nafas, tak jarang para peserta beristirahat di atas tanggul dan meneguk bekal air minum.


Di antara tebing tinggi yang menghimpit Kali Kuning, terbesit jika tebing longsor menimpa orang di bawahnya.... ngeri kan. Terlepas dari kengerian itu, pemandangan sepanjang jalur trekking sungguh elok. Aku merasa kecil dibandingkan ciptaan-Nya yang lain, bersyukur atas nikmat yang dianugerahkanNya.
Istirahat di Umbul Temanten.
Istirahat dan minum kopi
Setelah 1 jam jalan kaki sampailah di Umbul Temanten, sampailah di sumber mata air yang mengaliri Kali Kuning dan sumber beberapa perusahaan air minum sekitar Yogyakarta. Umbul Temanten adalah sepasang mata air di sisi timur dan kanan Kali Kuning. Umbul Wadon di sisi timur, dan Umbul Lanang di sisi barat.

Kolam ikan dibangun di Umbul Wadon yang tempatnya lebih luas daripada Umbul Lanang, tapi secara kasat mata pancaran airnya lebih deras Umbul Lanang, yang keluar dari (mungkin) gua Bukit Plawangan.
Umbul Temanten.

Kami membuka bekal yang dibawa, jadah tempe dan kacang telor. Tak ketinggalan kopi, teh, dan gula. Masing-masing kelompok mengeluarkan kompor gas portable dan panci kecil untuk memasak air. Etapi, kenapa air yang dimasak malah dari air mineral, bukan dari umbul? Wkwk 😁.

Selanjutnya peserta trekking menanam pohon asli Merapi, yang direncanakan menjadi program setiap trekking di KAP. Pohon yang dipilih adalah kemenyan 😶. Ora mudeng kenapa milih kuwi.

Naik ke Kalikuning Park
Setelah seremonial penutupan, semua peserta trekking menuju ke Kalikuning Park melewati jalan di utara Umbul Wadon. Aku kaget, jalbaan setapak dengan pegangan bambu ini tak kalah ekstrim, sudut kemiringan ± 45⁰!!! Benar-benar membuat ngos-ngosan, sejenak berhenti di tengah jalan mengatur nafas kerena jalanan naik terus sepanjang ±800 meter 😱😭. Di Joglo Semar Kalikuning Park, makan siang sudah menanti.

Well, petualangan baru di tempat wisata Taman Nasional Gunung Merapi ini cukup keren 👌👍. Elok alamnya, sejuk hawanya, capek jalannya wkwkwk. Sebelum melakukan trekking, sebaiknya menyiapkan beberapa peralatan ini dari rumah:
  • Alas kaki yang nyaman, bisa sandal, sneaker, atau boot.
  • Jas hujan tipis sebagai antisipasi hujan. Payung kurang layak untuk trekking.
  • Lengan dan kaos kaki panjang untuk menghindari kulit lecet dan merah terkena ilalang.
  • Penutup kepala dan kacamata.
  • Perbekalan, air minum dan jajanan sebagai teman trekking.
Sampai jumpa di petualangan berikutnya 👋.

Artikel Terkait:
- Membatik Kain di Imogiri
- Spektakuler, Tarif Parkir saat Liburan di Jogja

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »