Ajakan teman ke Barat tak kutampik, belum pernah sekalipun pergi ke Barat; tempat yang baru kudengar selain disebut di film. Barat bukan tujuan utama, kami hanya mampir menikmati kuliner unggulan yang murah meriah; sate dan gule kambing. Di Jogja, makan sate dan gule kambing termasuk mewah, tapi di Barat kulihat semua kalangan menikmatinya.

Barat merupakan kecamatan dengan 13 desa di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Daerah yang berdiri sejak tahun 2000 merupakan pemekaran wilayah dari Kecamatan Karangmojo. Pasar Barat dan Stasiun Barat, biasa diucapkan Mbarat adalah dua tempat terpopuler. Di dekat pasar itulah kami ngiras di warung Sate Gule Kambing Pak Cholik, Singgahan Barat.

Temanku sempat kebingungan karena sudah lama tidak ke Barat. Setelah bertanya pada petugas parkir di timur pasar, kami pun berjalan kaki mencarinya. Katanya, warung ini pindah ke tempat baru.
Warung sate gule kambing Pak Cholik, Barat Magetan.
Ketemu juga warung sederhana ini di sebuah gang. Waktu itu belum booming penggunaan Googlemap, cuma sebatas mencari tempat ternama dan jalan. Sekarang semua orang bisa berkontribusi. Terlihat beberapa motor parkir di depan tempat berukuran 3 x 2 meter berdinding triplek beratapkan seng. Bangku panjang kayu di depannya kosong, sedangkan di samping orang-orang merokok sambil berbincang. Sepertinya mereka telah selesai makan.

Di depan pintu kiri, kulihat semua bangku penuh, kami menunggu sampai beberapa orang beranjak meninggalkan piring dan gelas mereka. Duduklah kami berhadapan dengan penjual. Di atas meja tersaji air mineral, tissue, cuka, kecap, tusuk gigi, dan rokok. Aku segera memesan nasi gule tanpa minum.
Aneka hidangan di meja.
Ibu penjual setengah baya cekatan melayani pembeli yang antri dari depan, kanan, kiri, dan belakang. Penyajiannya unik, setelah nasi masuk piring diambillah gule dari panci. Kuah ditambahkan lagi dari panci lain, begitu disiram ke piring sebagian lagi disuntak ke panci kembali. Barulah ditaburi bawang merah dan kecap.
Gule kambing Pak Cholik.
Dagingnya empuk, kuah gule juga mantap. Hanya terlalu banyak kecap. Pembeli boleh meminta menu kustom, misalnya hanya daging tanpa jeroan, sate dengan kuah gule, atau tanpa kecap.
Sate kambing enak dan murah.
Merasa kurang, kami memesan sate kambing Rp15.000. Yang bikin kaget adalah kami mendapat 15 tusuk sate, benar-benar murah. Kulahap habis sate yang menggugah selera, empuknya sama dengan daging gule. Saat itu membayar hanya Rp28.000. Kami keheranan, apakah salah hitung atau memang harganya murah? Aku belum membuktikannya lagi karena teman tidak mau lagi kembali ke sana, penyakit darah tinggi sudah menyerangnya.