Saturday, March 31, 2018

Off-road di Perkebunan dEmmerick Salatiga

Rombongan sampai di Hotel d'Emmerick pukul 08.40 WIB, berhenti di atas wahana memanah. Mobil "mulus" di depan menurunkan penumpang, aku sendiri sudah siap-siap turun. Namun pengemudi malah melanjutkan perjalanan. Ternyata mobil SUV lain sudah berada di depan. Kukira akan diantar dekat tenda kami menginap, ternyata belok menuju perkebunan!

Jeritan saling bersahutan terdengar jelas di telinga, ada apa? Aku bingung, permainan apa lagi? Mobil di depan belum terlihat. Setelah sampai di jalan tanah berkelok, terlihat mobil setengah terbang setelah menghantam gundukan tanah basah. Jengjeng.... kejutan, kami mendapat off-road Jeep Trip Package!
Mobil safety car malah terperosok tanah liat basah.
Kebayang kan, menelusur jalan tanah yang sebagian ditanami pohon Karet. Jalur off-road sudah ada, pepohonan rindang membuat tanah perkebunan tetap basah meskipun tidak hujan. Pipa besi hasil modifikasi mobil jadi pegangan tangan-tangan kami. Mobil bergoyang kanan kiri, kadang terhempas menerjang medan. Kami hanya pasrah dengan keadaan, mengikuti gerakan mobil.

Baru mau memasuki kebun lebih dalam, Toyota Kijang kotak di depan selip ban. Meskipun 4 rodanya berusaha keluar dari kubangan tanah, tetap tidak berhasil. Ternyata mobil itu tidak membawa penumpang, hanya pengemudi saja. Kemungkinan penumpangnya adalah kru d'Emmerick, jadi mereka tidak ikut “Jeep Trip”.

Mobil-mobil off-road dibekali winch, sebagai persiapan jika bertemu keadaan seperti ini. Pengemudi mobil kami turun, membantu mengaitkan sling Kijang ke pohon depan mobil sebagai winching point. Pengemudi Kijang lalu menekan gas lebih dalam, dibantu tarikan winch. Sempat beberapa kali gagal tapi akhirnya selamat dari kubangan.
Terperosok.

Perjalanan dilanjutkan, oh tidak, ada rasa takut dan menantang diaduk jadi satu. Menjajah kebun ini bak adu drift dan slalom dengan medan berbeda. Sesampainya di cekungan agak dalam, mobil mulai kesulitan melewati, termasuk yang kutumpangi. Beberapa kali mobil slip, mencipratkan lumpur ke belakang dengan ganas. Om Sarbu yang duduk d depan berkata kepada pengemudi, "Kayaknya momen bagus nih, saya tak turun saja mengambil gambar."

Mas Teguh yang duduk di samping pun ikutan turun. Kelak aku tahu, itu cuma alibi karena mereka takut mobil hantam kiri dan kanan πŸ˜‚.

Setelah mereka turun, aku pindah ke tempat duduk sebelah pengemudi, ingin tahu rasanya off-road yang sesungguhnya. Ketika mesin mobil mulai meraung untuk melewati kubangan, aku seperti digoyang kanan-kiri, RPM tinggi tapi mobil tidak beranjak lari. Ban slip di tanah berlumpur, hanya bisa goyang kanan-kiri. Sedikit bergerak maju, sisi kiri mobil oleng menghantam pohon. Posisinya pas dengan pintu depan. Beberapa kali percobaan mobil hampir terguling, akhirnya aku menyerah juga.... keluar dari mobil karena ketakutan wkkwkwk.

Setelah turun mobil dan berkumpul dengan teman-teman, Om Sarbu dan Mas Teguh tertawa. Mereka bercerita bahwa pernah mengalami kejadian serupa di Pemalang, makanya mereka tadi turun duluan. Karena tidak mau dicap penakut, mereka beralibi mau memotret. Dasar... 😁😁😁

Baiklah, sampai disini kisahnya. Semua mobil bisa melewati kubangan lumpur tersebut setelah ditarik dengan Toyota Hardtop. Kami melanjutkan perjalanan di jalan tanah... tetap naik mobil yang sama. Sebenarnya kami masih akan diajak mengitari kebun lagi, tapi kami minta sudah cukup karena akan persiapan pulang. Ini alibi juga, kami sudah lelah jiwa dan raga wkwkkwk πŸ˜‚.

Sekian deh, pengalaman tak terlupakan. Mungkin aku tadi masih berani melanjutkan naik mobil off-road jika alat keselamatan tersedia lengkap. Sampai ketemu di program selanjutnya....

Artikel Terkait:
- Camping, Archery, dan High Ropes yang Menantang
- Menyambut Baskara di Puncak Telomoyo
- Kereta Api hanya Sekali Perjalanan, Penumpang Memilih Bus Solo-Semarang

Sunday, March 25, 2018

Menyambut Baskara di Puncak Telomoyo

Sayup kudengar suara, "Mas bangun..." Masih di bawah sadar kupastikan itu suara manusia, bukan vampir atau dracula. Saat membuka mata, kulihat penjaga malam berjalan menjauh diikuti sosok lain berpakaian tebal. Sedikit demi sedikit barulah teringat pukul 03.00 WIB harus bersiap menuju puncak Gunung Telomoyo. Kuhidupkan gawai untuk melihat jam, alamak... sudah pukul 03.30 WIB! Akupun bergegas menuju tenda mengambil perbekalan yang sudah kusiapkan tadi malam.

Kasur tidur membuatku terjaga di dalam tenda, punggung dan tangan sakit setelah sorenya bermain titian tinggi. Pukul 02.35 WIB aku keluar tenda dan menemukan 'tratag', dimana galon air minum peserta Blogger Camp d'Emmerick Salatiga berada, begitu menggoda untuk disinggahi. Tertidurlah di sana lepas pukul 03.00 WIB, usai mendengar tiang bendera dipukul beberapa kali.
Menunggu rombongan lain.
Aku jadi orang terakhir yang naik ke lobi hotel. Sepanjang jalan setapak aku bergumam, kenapa jarak perkemahan dengan lobi terasa jauh? Batu-batu pengeras jalan menanjak ke area hotel, kupijak dengan malas. Di depan lobi hotel, puluhan mobil SUV (warga kita sering menyebut jenama Jeep) penggerak 4 roda sudah terparkir rapi, siap membawa kami ke Gunung Telomoyo.

Beranjak menuju Telomoyo
Mesin 11 mobil itu mulai dihidupkan, semua sudah dimodifikasi agar bisa melintasi medan berat. Mayoritas menggunakan bodi Suzuki Jimny dan Katana, selain itu ada bodi Toyota Kijang kotak dan Toyota Hardtop. Tiap mobil mengangkut 1 penumpang di depan dan 2 di belakang. Satu mobil kulihat masih mulus, hanya diameter ban lebih besar dari standar. Sedangkan mobil lain sudah "tidak utuh lagi". Aku kebagian mobil yang masih utuh atap dan jendela, tapi pintu belakang diubah menjadi pintu mobil bak terbuka. Saat akan naik, penumpang belakang harus melompati tempat duduk dari belakang. Jum'at 16 Maret 2018 pukul 03.45 WIB, 30 blogger dan kru Hotel d'Emmerick bergerak menuju puncak Telomoyo.

Saling menyalip antar mobil komunitas s4x4tiga Adventure Offroad terjadi hingga gerbang pintu masuk Gunung Telomoyo. Apakah itu bagian dari paket perjalanan atau sebagian mobil memang kesulitan menanjak? Aku tidak tahu jawabannya. Di tempat transit ini kami menunggu 3 mobil yang terpisah dari rombongan karena melewati jalan berbeda.

Menurut Mas Yanto, salah satu pengemudi; sebelum ada pintu masuk retribusi tiket, jalan menuju puncak rawan kejahatan. Tak jarang orang pergi naik motor, pulang jalan kaki. Dengan dibangunnya pintu gerbang, setiap orang yang masuk akan terdeteksi. Lahan parkir retribusi tiket berada di Desa Pandean Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Mampu menampung sekitar 100 mobil, dan dilengkapi 4 toilet yang cukup bersih. Untuk shalat sudah ada masjid tidak jauh dari tempat parkir.
Selamat datang di Gunung Telomoyo.
Kami melanjutkan perjalanan 10 menit sebelum adzan Shubuh berkumandang, berpacu dengan waktu Shubuh di puncak. Medan cukup berat, 90% aspal jalan yang hanya bisa dilalui 1 mobil ini, mengelupas seluruhnya semenjak pintu gerbang. Pengemudi harus pandai memilih jalan untuk memberi kenyamanan penumpang. Keadaan diperparah dengan bocornya knalpot mobil yang kutumpangi, suaranya pun menggelegar. Kulihat ada lubang di lantai mobil, karbon monoksida selalu terhirup meskipun hidung sudah tertutup masker dan kain. Semoga paru-paruku tetap sehat setelah mengalami kejadian itu.

Dinginnya puncak terusir oleh kirana loka
Pukul 05.08 WIB rombongan sampai di puncak Gunung Telomoyo. Kami segera melaksanakan shalat Shubuh berjama'ah, dengan beralaskan tikar di tengah jalan. Cukup sempit, aku berharap di masa datang, sekitar puncak ada sedikit ruang lapang untuk istirahat, shalat, dan toilet. Itu jika berniat dijadikan destinasi wisata. Untuk keperluan wudhu, panitia membawa 1 jeriken air, secara bergantian kami wudhu dengan 1 botol air 600 ml. Ada juga peserta yang sudah wudhu di gerbang masuk Telomoyo. Di ketinggian 1847 mdpl ini, kurasakan betapa mahal dan berharganya air untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Matahari terbit dari puncak Gunung Telomoyo.
Gunung Telomoyo terletak di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang dijuluki gunung menara (mount tower). Julukan tersebut disematkan atas prestasinya menjadi favorit menara telekomunikasi operator selular, radio, dan televisi. Pendaki gunung tidak bisa benar-benar di puncak, biasanya berhenti di 2 titik yang digunakan untuk landasan olahraga gantole. Puncak telah dipagar menara, dan 2 titik tersebut adalah titik terbaik menyambut baskara pagi. keberadaannya kurang lebih 10 meter di bawah puncak. Menggapai puncak Gunung Telomoyo merupakan salah satu yang termudah di Pulau Jawa, dengan kendaraan bermotor sudah bisa menaklukkannya.

Semburat jingga di kaki langit timur mulai terbentang, tengara surya menyingsing. Teman-teman mencari tempat untuk memotret baskara. Dua pemotret profesional yang selalu semobil sedari penjemputan, sudah siap bersama beberapa lensa. Menurut jadwal shalat Salatiga, pada hari itu matahari akan terbit pada pukul 05.40 WIB.
Mengabadikan diri sebagai bukti.
Jari tanganku tiba-tiba kaku, ruas jari sulit menekuk dan kulit tangan mengeriput. Aku tidak memakai sarung tangan, karena kuperkirakan di atas Telomoyo tidak sedingin di gunung yang pendakiannya ekstrem. Kubuka Instagram Story, ternyata menurut mereka suhu saat itu 14⁰ Celcius!

Kamera gawai, mirrorless, dan DSLR menyerang membabi buta saat matahari keluar dari persembunyiannya. Matahari naik perlahan di sela awan, pagi pun menyapa. Pukul 05.40 WIB, baskara tampil utuh pertanda Shubuh telah tamam. Dingin yang merangkul jari sirna saat melihat kirana loka Telomoyo.

Dari barisan gunung membentang, gunung hijau di sisi barat daya bernama Gunung Andong adalah yang terdekat. Selain itu? Hmmm..., tidak tahu, aku harus membuka peta Google untuk memastikannya. Hanya itu satu-satunya sumber informasi wilayah yang bisa dipercaya. Ketiadaan pemandu yang bisa memberi penjelasan, menguntungkan agar aku bisa lebih mensyukuri semua ciptaan-Nya.

Sajian jurutama masak di atas ketinggian
Aku berjalan turun, adakah hal menarik di sana? Di titik gantole 1 kru Hotel d'Emmerick menyiapkan sarapan. Jurutama masak hotel yang turut serta, meracik mie Jawa dalam mangkuk stereoform. Kru bergerak cepat, kuah mie segera dipanaskan di atas kompor portabel. Racikan yang sudah siap, ditata rapi di atas pembatas jalan, siapa yang ingin sarapan, tinggal menuangkan kuahnya. Jam masih menunjukkan pukul 06.00 WIB, tapi udara dingin membuat perut cepat kosong, kami lalu sarapan ditemani segelas teh panas.
Chef (jurutama masak) d'Emmerick.
Titik gantole 1 (menurutku) menghadap utara. landasan yang sudah diakui Federation Aeronautique Internationale (FAI) menjadi favorit pemotretan. Landasan di tepi jalan ini dibuat dari papan kayu, dengan panjang 2 meter dan lebar 3 meter. Landasan lalu menukik turun 1 meter membentuk sudut 45 derajat.

Rawa Pening dan desa-desa di sekitarnya terlihat jelas. Satu menara telekomunikasi menaungi 1 desa, desa tetangga juga dinaungi 1 menara. Melihat jauh ke arah barat, Gunung Sindoro dan Sumbing gagah berdiri. Kedua gunung ini mudah dikenali karena letaknya berdekatan dan tampak seperti kembar. Oleh karena itu menyebut Sindoro kurang lengkap tanpa menyebut Sumbing.
Mie yang siap disiram kuah panas.

Melintasi air terjun Telomoyo
Kulit mulai terbakar baskara, 1 jam kemudian kami beranjak meninggalkan puncak Telomoyo. Rombongan tidak berhenti meski melewati tempat menarik untuk disinggahi. Mobil kami baru berhenti ketika berjumpa dengan air terjun, yang dikenal dengan nama Air Terjun Telomoyo. Dari ketinggian sekitar 10 meter, air dingin mengalir perlahan. Di puncak air terjun dan sekeliling kulihat pohon cemara, jadi teringat dengan Perum Perhutani yang identik dengan hutan cemara. Sebagian peserta menikmati kesegaran air pegunungan, sebagian mengabadikan gambar, sebagian ngempet pipis karena tidak segera sampai tujuan.
Air terjun Telomoyo.

Pukul 08.00 WIB rombongan sampai di pintu gerbang Gunung Telomoyo. Beberapa teman menyerbu toilet, teman lain memotret di area parkir, tapi kebanyakan tetap duduk di mobil. Lepas hajat dan penat, rombongan kembali ke hotel membawa serpihan kenangan.

Artikel Terkait:
- Camping, Archery, dan High Ropes yang Menantang
- Kereta Api hanya Sekali Perjalanan, Penumpang Memilih Bus Solo-Semarang
- Off-road di Perkebunan dEmmerick Salatiga
- Berjuang Mendapatkan Tiket Prameks

Wednesday, March 21, 2018

Camping, Archery, dan High Ropes yang Menantang

Lima peserta d'Emmerick Blogger Camp dijemput panitia di toko retail utara Pasar Sapi, Salatiga Jawa Tengah pukul 10.00 WIB. Dua dari Pekalongan dan tiga orang dari Jogja ini segera bergabung dengan teman-teman yang sudah datang menggunakan kendaraan pribadi. Rencananya Kamis - Jum'at 15-16 Maret 2018, 30 blogger akan mencoba beberapa paket yang ditawarkan d'Emmerick Hotel Salatiga.

Menurut blog milik Disporapar Jateng, kawasan d'Emmerick yang berada di Jalan Hasanudin km 4 Salib Putih, Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Salatiga, Jawa Tengah mencapai 90 hektar, terdiri dari perkebunan kopi, teh, cengkih, dan karet (seperti yang kulihat). Sebagian lahan di timur jalan digunakan sebagai penginapan, perkemahan, dan taman petualangan.
Memanah di d'Emmerick Adventure Park.
Sambil menunggu acara pembukaan, kami bercengkrama di lobi hotel yang berada di ketinggian 789 mdpl. Nggak perlu pendingin ruangan kan, entar malah kedinginan πŸ˜ƒ. Sesekali kutatap wajah bocah-bocah yang berlarian kesana kemari, mereka sedang mengikuti Field Trip di perkebunan, pertanian, dan peternakan d"Emmerick. Bahagia sekali mereka, selesai keliling kebun lalu berenang di kolam renang.... rasanya ingin nyebur juga 😱.

Pukul 11.50 WIB kami pindah ke restoran Cleverly Eatery yang menghadap kolam renang untuk santap siang sekaligus perkenalan. Jajaran d'Emmerick yang menyempatkan hadir adalah Manager Marketing Komunikasi Sigit Biantoro dan General Manager Grace Primadonna. Di antara makanan yang disediakan, kupilih sup sebagai penghangat badan.
Sup Cleverly Eatery restaurant.
Bulan Maret 2018 adalah bulan promo di restoran ini, pukul 12.00 - 13.00 pengunjung bisa makan sepuasnya dan bayar semaunya dari menu buffet yang sudah dipersiapkan. Aku nggak ikutan ya, karena semua sudah ditanggung panitia πŸ˜€.

Menuju tenda kemah
Pukul 13.30 WIB kami diantar menuju ke perkemahan, menuruni jalan berbatu untuk menaruh barang bawaan dan istirahat, karena jam 14.00 WIB sudah harus bermain petualangan, molor dari rencana.

Tenda ridge atau tenda regu dengan dua jendela di masing-masing sisi bisa memuat 6 orang berdesakan (sudah tertata 6 kasur tenda), tapi diputuskan hanya diisi 5 orang. Sebuah lampu badai (aku menyebutnya lampu ayam) yang di dalamnya terpasang bolam lampu listrik tergantung di tengah tenda. Stop kontak paralel belum tersedia, kami harus minta kepada petugas. Selesai makan malam kudapati stop kontak 3 paralel, tapi hanya 2 yang bisa digunakan karena 1 stop kontak untuk penerangan tenda.
Tenda ridge.
Dua bangunan terpisah toilet pria dan wanita berada di (tanah) atas tenda, saat masuk ke dalamnya harus membuka alas kaki untuk menjaga kebersihan. Kalau tidak keliru ada 10 toilet dengan kloset duduk dan beberapa wastafel. Karena satu dan lain hal, kami jarang menggunakan toilet tersebut, wanita lebih memilih toilet pria dan pria ke toilet wanita wkwkkwk πŸ˜‚ kocak.

Bermain archery dan high ropes
Tiba saatnya kami bermain-main di area adventure park. Masuk kelompok terakhir yang sampai di tujuan, kupilih bermain archery (panahan) dahulu. Dua instruktur membantu kami bagaimana cara memanah yang benar. Pegang barebow (busur) dengan tangan kiri. Arrow (anak panah) 'ditumpangke' arrow shelf busur, dengan posisi anak panah warna bulu berbeda ada di bagian luar. Bidik target sasaran dan tarik anak panah, lepaskaannnn, jebreeeettt...

Memanah ternyata mudah, beneran..., yang sulit hanya memastikan tepat sasaran 😁. Dari puluhan kali percobaan aku hanya 2 kali mengenai bullseye target, lainnya jauh meluncur ke belakang πŸ˜…. Bullseye target ditempatkan pada jarak 3, 5, dan 7 meter dari pemanah, aku hanya melepaskan anak panah ke target 7 meter, keren kan...

Bosan memanah, aku melipir ke tenda mengambil air minum lalu balik ke wahana high ropes (titian tinggi). Gelombang kedua titian tinggi sepi peminat, kebanyakan masih ngumpul di wahana panahan. Kuberanikan diri mencoba wahana ini, rugi dong jauh-jauh datang dari luar kota kalau tidak main. Sebagai pengaman, tali dililitkan secara manual ke tubuh (body harness) dan dipersenjatai dengan carabiner. Pemain wajib memindahkan satu-persatu (tidak boleh bersamaan) carabiner saat pindah tempat. Jangan lupa menggunakan helm outbound (mancakrida).
Titian tinggi.
Tantangan pertama naik pohon, semacam panjat dinding papan kayu. Sampai di atas pohon, uji nyali baru dimulai. Pemain harus berjalan di atas balok kayu agar sampai di pohon selanjutnya. Hihihihi,, sulit sekali melangkahkan kaki, patokannya adalah selalu letakkan satu telapak kaki di tengah balok. Usahakan kedua kaki berada di atas balok berbeda, untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Tantangan selanjutnya cukup mudah, tinggal mengayuh sepeda, merangkak di terowongan kayu, lalu  berjalan di tengah jaring tali menuju pohon lain. Setelah itu, bagian tersulit harus dilewati, melangkahkan kaki dengan bantuan stirrup iron (cincin besi) 😱. Oke, tantangan ini membuatku ngos-ngosan padahal hampir sama dengan tantangan pertama, hanya medianya yang beda.

Perjuanganku sampai pohon keenam tuntas meskipun nafas kembang kempis dan tenaga habis. Terakhir, aku harus menuruni jaring tali supaya bisa menginjak tanah lagi. Kupikir gampang, tapi.... tetoooooottttt,, di tengah lintasan kakiku kesrimpet tali beberapa kali dan susah keluar, dengan sisa-sisa tenaga kupegang tali pengaman tanda menyerah πŸ˜₯. Akupun meluncur ke bawah dengan bantuan tali, punggung menjadi bagian tubuh pertama yang menyentuh tanah dengan kaki di atas, wkwkkwk kocak πŸ˜‚. Menurutku jaring tali di tepi terlalu longgar, sehingga saat diinjak langsung molor. Lain kali kucoba agak ke tengah, mungkin ikatan jaringnya lebih kuat.

Melepas lelah dengan berenang
Aku kembali ke tenda untuk minum dan melepas lelah, tiba-tiba ada yang menyerukan berenang, uoooke... mari kita sambit renang sekaligus mandi. Seperti peribahasa 'sambil berenang sekalian mandi' (#eh salah 😁). Tidak bawa pakaian renang? Tenang,,, bisa pinjam kok ke pengelola, tersedia pakaian renang laki-laki dan perempuan.
Kolam renang dengan suhu air normal.
Salatiga berhawa sejuk, airnya juga duingin. Namun kolam renang d"Emmerick tidak sedingin perkiraan, suhu air terpantau normal. Kolam renang ini sepertinya untuk bersantai saja, kedalaman flat 1,5 meter tanpa palang pegangan aluminium. Kolam sebelah malah dalamnya 0,5 meter, yang belum bisa berenang bisa tiduran di kolam 'cethek' ini πŸ˜€. Semua ativitas di kolam harus berhenti pukul 18.00 WIB, "Tutup" kata petugas. Badan terasa segeer setelah nyemplung di kolam, berharap malamnya bisa tertidur pulas.

Artikel Terkait:
- Menyambut Baskara di Puncak Telomoyo
- Kereta Api hanya Sekali Perjalanan, Penumpang Memilih Bus Solo-Semarang
- Off-road di Perkebunan dEmmerick Salatiga

Sunday, March 18, 2018

Sebelum Matahari Tenggelam di Songgo Langit

Menurut jadwal, usai mengunjungi Batik Tulis Berkah Lestari, rombongan melanjutkan perjalanan ke Wisata Seribu Batu Songgo Langit, Mangunan Dlingo Kabupaten Bantul DIY. Nyaris batal karena hujan (padahal jam 14.00 WIB sudah reda) dan rombongan Jakarta membelot ke Malioboro, akhirnya blogger selo berangkat juga dengan dua mobil, ditemani rekan-rekan Dompet Dhuafa Jogja πŸ˜†.
Seribu Bata Songgo Langit.
Google Maps mengkonfirmasi bahwa perjalanan hanya 17 menit, padahal kenyataannya waktu tempuh sekitar 30 menit (Google Maps bohong ya?). Tikungan dan tanjangan di jalan tipe IIIC mewajibkan pengemudi selalu fokus dan berpengalaman. Sepanjang perjalanan tak terlihat angkutan umum melayani jalur menuju Songgo Langit. Mungkin sudah terlalu sore atau mungkin belum ada?
Social Trip Dompet Dhuafa.
Pukul 16.05 WIB sampailah di Songgo Langit, dari pertama kali masuk rest area hingga ke parkir mobil dan motor terlihat penataannya sudah rapi dan bersih. Tiket masuk hanya Rp2.000/orang sedangkan parkir mobil Rp5.000. Tarif untuk keperluan lainnya terpasang di loket masuk.

Foto terhapus
Qodarullah foto-foto di Songgo Langit terhapus secara tak sengaja, sehingga tidak bisa tampil di artikel ini. Hanya tersisa 2 foto yang telah terunggah di Google Maps dan Instagram 😟.
Rute ke Songgo Langit dari Batik Berkah Lestari.
Sebelum mengeksplore obyek wisata yang basah oleh hujan, kami shalat Ashar terlebih dahulu. Letak tempat shalat di depan loket masuk, yang cukup menampung sekitar 10 jamaah.

Tidak sampai puncak
Seribu Batu Songgo Langit buka pukul 06.00-18.00 WIB, tapi saat musim hujan seperti ini pukul 17.00 WIB langit sudah gelap. Kami hanya punya waktu 1 jam di sini agar kembali sampai meeting point Jogja sebelum Maghrib.
A post shared by metuomah.com (@metuomah) on
Di depan parkir mobil berdiri deretan warung makan yang dikelola warga setempat, terlihat sepi karena sudah menjelang sore dan gerimis kecil menemani. Aku bergegas ke utara (patokannya tempat shalat tadi) menuju tempat duduk kayu, mengambil beberapa gambar lalu menyeberangi jembatan menuju batu Songgo Langit; batu besar yang instagramable (?) Hanya 5 orang dari rombongan yang semangat berkeliling, sedangkan yang lain hanya menunggu di tempat parkir.

Berpacu dengan waktu, aku menuju Rumah Hobbit dan Rumah Seribu Kayu yang berada di barat batu Songgo Langit. Rumah Hobbit tidak bisa dimasuki orang dewasa, berbeda dengan Rumah Kayu. Dengan pijaran bolam lampu kuning di dalam Rumah Kayu, tidak mengurangi keangkerannya 😁. Mendung dan sunyi, hanya ditemani gemericik air sungai kecil.

Rumah kayu disusun dari ranting-ranting kayu panjang membentuk kerucut dan segitiga berbagai ukuran. Bukan rumah untuk berteduh dari hujan dan panas, hanya sebatas sebagai tempat berfoto.

Ada tempat terbuka dengan bangku kayu mengelilingi, bak pertunjukan opera dengan lantai papan kayu. Hampir semua sudut Songgo Langit cocok untuk pemotretan.

Kami kembali ke selatan, meniti satu-satunya jalan menuju puncak. Jalan setapak licin oleh air hujan, tanah menempel pada sepatu kami. Baru sepertiga jalan kami urung melanjutkan perjalanan, hari semakin gelap, berkabut, dan sunyi. Waktu tidak akan terkejar dan tidak membawa peralatan memadai jika terjebak malam dan hujan 😊.

Kursi di tepi jalan setapak jadi pelampiasan kepenatan, menata nafas yang tak beraturan sambil memotret sekeliling, sebelum beranjak menuju parkir mobil.

Waktu terbaik wisata di Songgo Langit adalah pagi hari, apalagi bisa melihat terbitnya matahari. Apakah loket sudah buka? Aku kurang mengerti, menurut penjaga loket selama 24 jam ada petugas jaga. Mengingat kawasan Mangunan merupakan favorit wisatawan melihat sunrise, kemungkinan obyek wisata sudah dibuka untuk umum.

Ingin kembali kesini, memotret kenangan yang hilang karena kealpaan.