Wednesday, May 16, 2018

Menyapa Pagi Malioboro dengan Sarapan Pecel Madiun

Pelari cantik asal kota Solo itu membatalkan keikutsertaan secara mendadak, teman satu tim belum juga datang ke kilometer nol, padahal waktu telah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Kami seharusnya berkumpul pada hari Ahad di kilometer nol Jogja pukul 06.00 WIB untuk pemotretan lari, padahal aku sudah berada di depan Gedung Agung sejak pukul 06.10 WIB. Karena kehilangan satu anggota, tim kami memutuskan bergabung dengan tim lain dan menggeser tempat bertemu di depan Mal Malioboro.

Pedestrian memenuhi trotoar sepanjang Malioboro, dari wisatawan hingga olahragawan. Tepian trotoar ramai kaki lima menjajakan sarapan. Gudeg, makanan khas Jogja mendominasi, selain pecel, soto, bubur ayam, dan nasi kuning. Ada penjual yang menuliskan menu dan harga di spanduk, ada juga yang cuek saja. Pembeli sebaiknya bertanya kepada penjual, berapa harga satu porsi, sebelum menyesal kemudian.
Nasi pecel Madiun.

Perutku mulai menggelitik minta diisi, tapi belum juga kutemukan menu yang menambat hati. Setelah menyapa teman-teman yang sudah duduk di bangku depan Mal Malioboro, kulanjutkan perjalanan ke utara berharap menemukan pembeda. Harapan itu kandas, tak ada sesuatu yang baru. Kuputuskan mengakhiri perjalanan di samping pintu masuk parkir Mal Malioboro, dimana sebuah gerobak Pecel Madiun berdiri di atas dua roda.

Stiker warna ungu bertuliskan Pecel Madiun Berkat ditempel di kaca gerobak. Di atasnya terpasang acrylic putih yang memuat nomor NPWP. Di balik kaca gerobak terlihat sayuran bahan pecel, sate, tempe garit goreng, dan sambal kacang. Sebuah papan kecil menutup pegangan tangan gerobak, sebagai tempat termos berisi teh panas manis yang juga dijajakan.
Pecel Madiun Berkat.
Pesan menu standar
Kupilih menu ini karena sebagian orang mengerubungi gerobak. Bangku-bangku Malioboro di sekitarnya dipenuhi orang yang duduk sambil membawa pincuk. Meskipun tidak ada daftar harga yang tertera, aku yakin harganya sekitar Rp10.000. Di luar (Malioboro) sana, seporsi nasi pecel dihargai mulai Rp8.000.

“Nasi pecel satu.” Kataku kepada ibu penjual Dengan sigap dia meracik pesananku. Sayuran matang yang dimasukkan dalam pincuk seperti bayam, kenikir, kacang panjang, dan ketimun. Aku tidak ingat apa saja di dalamnya, terlalu larut dalam suasana dan kenikmatan rasa.

“Sampun niki mawon? Tanya wanita berseragam itu kepadaku.

“Inggih, pinten Bu?” Aku balik bertanya kepadanya.

“Sedasa ewu.” Jawabnya singkat. Dia berbagi tugas dengan dua orang lain, pria dan wanita. Menyiapkan minum dan sayuran di gerobak yang hampir habis.

Pincuk, dahulu adalah sebutan untuk lembaran daun pisang yang ujungnya dilipat jadi satu sehingga terbentuk seperti wadah untuk makan. Agar tidak lepas dikait dengan biting, dahan pohon kelapa (lidi) yang dipotong kecil-kecil. Ujungnya dipotong lancip. Sendok juga dibuat dari daun pisang dinamakan suru.
Hampir habis.
Seporsi nasi pecel, sudah termasuk tempe garit goreng dan rempeyek teri cacah. Bagiku ini sudah cukup, tidak perlu tambah lauk lagi. Porsinya juga sudah mengenyangkan. Sambal kacang cukup kental dengan tingkat kepedasan sedang dan sudah standar (tidak bisa minta sambal tidak pedas). Mengusung nama kota di belakang pecel, menandakan manisnya gula jawa dalam sambal kacang berada pada tingkatan sedang. Berbeda dengan asli Jogja yang sangat suka manis.

Setelah kenyang, kami bergeser ke Ketandan untuk memulai pemotretan.

Monday, May 14, 2018

Kereta Api hanya Sekali Perjalanan, Penumpang Memilih Bus Solo Semarang

Sudah pernah naik Kereta Api (KA, selanjutnya disebut kereta saja) Kalijaga relasi Solo Balapan Semarang Poncol? Aku belum pernah, jadwal keberangkatan yang tidak bersahabat membuatku tidak menggunakan kereta, meskipun harga tiketnya sangat murah (mendapat subsidi). Dari Solo Balapan (per Mei 2018) berangkat pukul 05.20 WIB, aku harus berangkat pukul berapa? Itupun hanya dilayani sekali perjalanan per hari.
Tarif karcis salah satu bus Solo - Semarang.

Kebalikannya, KA Kalijaga dari Semarang ke Solo yang berangkat pukul 09.00 WIB hampir selalu penuh. Bahkan aku pernah tidak kebagian tiket dua bulan lalu, padahal di tengah pekan belum musim liburan. Ceritanya, aku tidak memesan tiket karena biasanya selalu ada tiket pada hari keberangkatan. Sesampainya di loket stasiun, terpampang pengumuman tiket KA Kalijaga sudah habis, padahal waktu keberangkatan masih 30 menit lagi.

Tiket KA Kalijaga bisa dipesan 30 hari sebelum tanggal keberangkatan. Pemesanan hanya dilakukan di stasiun yang disinggahi dengan menyertakan kartu identitas.

Naik bus
Karena itulah penumpang memilih transportasi lain berupa bus. Aku kurang tahu keberadaan travel dan shuttle bus saat ini, tidak tertarik menaikinya kecuali sponsor mewajibkannya 😀. Ada beberapa perusahaan otobus yang melayani jurusan Solo - Semarang, tidak hanya berasal dari Jawa Tengah tapi juga Jawa Timur.

Semua bus Solo Semarang (PO Jawa Tengah) berpendingin ruangan dengan tempat duduk 2-2. Beroperasi 24 jam, pada jam-jam sibuk, waktu tunggu sekitar 10 menit. Setelah jam tersebut semakin lama dan lama, apalagi malam hari bisa menunggu berjam-jam.

Berikut tarif bus Solo Semarang tertanggal 14 Mei 2018. Tarif bisa berubah, menyesuaikan harga bahan bakar, libur lebaran.

Rp.30.000
Solo - Semarang.

Rp.25.000
Semarang - Boyolali, Ungaran - Solo.

Rp.20.000
Solo - Bawen, Ungaran - Boyolali, Semarang - Ampel.

Rp.15.000
Solo - Salatiga, Semarang - Salatiga, Boyolali - Bawen, Ampel - Ungaran.

Rp.10.000
Semarang - Bawen, Ungaran - Salatiga, Ampel - Bawen, Boyolali - Salatiga, Solo - Ampel.

Rp.7.000
Semarang - Ungaran, Ungaran - Bawen, Salatiga - Bawen, Ampel - Salatiga, Ampel - Boyolali, Boyolali - Solo.

Sewaktu aku dan teman-teman pergi ke puncak Telomoyo, kami berangkat dari Jogja naik KA Prameks dan berganti dengan bus jurusan Solo - Semarang, tentu saja turun di Salatiga.

Artikel Terkait:
- Camping, Archery, dan High Ropes yang Menantang
- Menyambut Baskara di Puncak Telomoyo
- Off-road di Perkebunan d'Emmerick Salatiga
- Berjuang Mendapatkan Tiket Prameks

Monday, May 7, 2018

Pensiunnya Dompet Kesayangan

Dompet nilon yang kubawa setiap hari akhirnya pensiun juga. Sudah beberapa bulan lalu minta pensiun tapi belum terkabul. Baru pada hari ini, permintaan tersebut terlaksana. Dompet berwarna hijau yang sudah dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman, nyaris seusia Arsene Wenger melatih Arsenal.

Dompet Eiger ini dibeli (mungkin) pada musim 1997 atau 1998, seusia dedek-dedek yang baru aktif mencari perhatian. Konon ceritanya, dompet ini dibeli di Toko Gramedia Jalan Jendral Sudirman, Yogyakarta. Ketika itu harganya Rp7.500. Beberapa saat berselang, teman si pembeli ini melihat dompet tersebut. Heran kok ada dompet bagus berharga murah. Langsung saja dia ke Gramedia untuk beli dompet Eiger. Laki-laki bernama Bernad itu kemudian membeli dompet yang lebih mahal, Rp.8.500.
Dompet nilon buluk.
Dua tiga bulan kemudian, Bernad jengkel dan agak kecewa karena dompet yang dibelinya telah rusak. Dia menyalahkan pemilik dompet hijau, karena menganggap telah menjerumuskannya. Teman-teman lain yang melihat rusaknya dompet Bernad malah tertawa 😀. Laki-laki itu membeli dompet dengan model jaring yang rentan rusak, kenapa dia tidak beli model yang sama? 😂

Dompet buluk ini kemudian jatuh ke tanganku, menemaniku ke mana saja dalam berbagai cuaca. Tak jarang basah oleh hujan, tersiram air, maupun resapan keringat. Uang di dalamnya pun ikut basah, baunya juga berubah ketika keringat membasahi dinding dompet.

Kini aku sudah menemukan pengganti, walaupun salah beli dan merasa dikhianati. Harga daring dan harga luring nyatanya lebih murah daring. Salah beli karena dompet itu lebih layak untuk kunci mercy 😆.

Begitulah sahabat kismin, beli hanya saat ada reduksi. Tidak sadar jika sedikit dikibuli. Cinta datang karena terbiasa, siapa tahu seiring berjalannya waktu, cinta kepada dompet baru makin terasa. Sambil menanti dompet yang baru (lagi) tiba.

Saturday, May 5, 2018

Jogja yang Membuat Selalu ingin Kembali, untuk Berbagi dengan Hati

Jogja, nama beken dari Yogyakarta, kota yang membuat tiap orang yang pernah mengunjunginya selalu ingin kembali. Hati yang mulai sepi akan terobati saat menapakkan kaki di kota ini. Penggalan lirik lagu Yogyakarta yang dinyanyikan Kla Project di tahun 90an diamini setiap orang, Yogyakarta selalu membuat hati damai. Demikian juga yang dialami Anggia Pino, yang menurut pengakuannya sempat bekerja di ibukota, untuk kembali ke kota asal, Yogyakarta.

Di kota ini, perempuan bernama asli Anggia Pitaloka ini menemukan ketenangan. Jarang terkena macet, cuaca yang tidak begitu panas, serta dikelilingi orang-orang yang ramah dan bersahabat. Dia tidak tinggal diam, ingin berkarya untuk Yogyakarta. Berbagai profesi dan usaha dijalani, mulai sebagai dosen pengajar, membuka konsultan desain dan agensi digital, dan beberapa bisnis. Gelar entrepeneur muda layak disandang. Tahun 2018 ini bergandengan dengan seorang teman; Sandhy Seven Nova, membuka lini usaha baru di bidang kuliner di Yogyakarta.
Gathering media Bolu Susu Merapi.
Bukan makanan berat yang jadi pilihan, tapi kudapan yang bisa menjadi pengganti minum susu. Kudapan jenis bolu (cake) ini dinamakan Bolu Susu Merapi.

Kenapa Bolu Susu?
Cerita lalu, perempuan yang pernah bekerja sebagai jurnalis My Magz ini mengaku susah minum susu. Mungkin di matanya, susu terlihat seperti jamu pahit. Susu, dengan deretan manfaatnya tetap ada yang kurang suka, itu masalah selera. Dari cerita lalu itu, ada bisikan dalam hati untuk membuat alternatif pengganti minum susu, dan bolu menjadi pilihan.
Irisan bolu gantinya minum susu.
Bolu yang memiliki tekstur yang lembut dapat dikonsumsi anak-anak hingga dewasa. Teruntuk yang bermasalah dengan susu, produk ini bisa menjadi gantinya minum susu. Bukan dalam artian harfiah, karena minum tak akan tergantikan dengan makan. Maksudnya, bagi yang kurang suka minum susu, tetap dapat menyerap kandungan nutrisi susu dengan makan Bolu Susu Merapi.

Sebagai lulusan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjajaran, Sandhy Seven Nova tentu tidak asing dengan dunia susu. Apalagi pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah ini pernah berkiprah di perusahaan produk turunan susu internasional. Namun tetap perlu riset dan percobaan demi percobaan untuk mendapatkan komposisi bolu yang tepat. Butuh waktu hingga 6 bulan saat mengembangkan kudapan ini, kemudian lahirlah produk Bolu Susu Merapi.
Varian Bolu Susu Merapi saat ini.
Kandungan nutrisi dalam susu sendiri cukup lengkap. Setiap 100 gram susu mengandung sekitar 75 kalori. Hampir 90% susu terdiri dari air. Kaya kalsium dan protein. Susu juga mengandung lemak, vitamin A, B, D, dan K, natrium, magnesium, serta kalium.

Kenapa ada nama Merapi di belakangnya?
Merapi, salah satu gunung aktif di Indonesia terhampar di 3 kabupaten, Kabupaten Sleman di DIY, Kabupaten Magelang dan Klaten di Jawa Tengah. Luput dari keganasannya saat marah, Gunung Merapi juga menyuguhkan keindahan. Dari Yogyakarta, Merapi indah dilihat. Dari Yogyakarta, Merapi mudah merasakan kesejukannya. Merapi juga menjadi ujung utara garis imajiner Merapi - Tugu - Kraton Yogyakarta - laut selatan. Merapi menjadi istimewa bagi Yogyakarta, karena itulah jenama kudapan ini diberi nama Bolu Susu Merapi.

Varian Produk
Pada peresmian akbar yang diadakan di Atrium Lippo Plaza Yogyakarta pada 6 Mei 2018, Bolu Susu Merapi tersedia dalam 2 varian, Vanilla dan Cokelat (sesuai KBBI) dengan taburan keju parut di atasnya. Harganya pun cukup terjangkau, Rp28.000 per kotak dengan ukuran sekitar 25x10x5 atau 400 gram.

Produk ini tidak memiliki toko khusus, hanya membuka kedai di acara-acara tertentu atau bisa juga berpindah tempat. Fleksibilitas pemasaran ini bisa dipantau di Instagram: @bolumerapi, Facebook: Bolu Merap, atau nara hubung: +62 811-2744-499 dan surel bolumerapi@gmail.com

Komposisi bahan dan Keunggulan
Tidak menggunakan bahan pengawet dan pengembang menjadi komitmen pembuatan Bolu Susu Merapi, sehingga aman dikonsumsi. Konsekuensi ketiadaan dua bahan tersebut menjadikan daya tahan produk (kedaluwarsa) menjadi lebih sempit.
Masa penyimpanan.
Dalam suhu ruang dan kondisi normal, daya tahan hanya 3 hari. Sedangkan jika dimasukkan ke dalam lemari pendingin, bolu susu dapat bertahan sampai 5 hari. Hindari terkena sinar matahari langsung dan suhu panas, yang akan menyebabkan rasa berubah dan tidak tahan lama.
Komposisi bahan dan manfaat susu di kotak bolu.

Produk yang dibuat di daerah Monumen Jogja Kembali ini memiliki komposisi telur, tepung terigu, susu cair, gula, dan keju.

Sertifikat halal LPPOM MUI
Kemasan cukup menarik, bagian dalam sudah berlapis plastik, cukup aman dari percikan air atau taburan keju menempel di kemasan. Sudah tersedia pisau plastik putih untuk memotong bolu, sehingga tidak perlu "mencuil" dengan tangan.

Pada sisi luar kemasan, terpampang komposisis bahan, saran penyajian, manfaat susu, akun media sosial dan nara hubung. Tidak ketinggalan tanggal produksi dan kedaluwarsa. Logo Halal MUI pun sudah tercetak di situ.

Pilih bolu atau bakso?
Pilihan yang sulit, beberapa rekan ini ketika disodorkan Bolu Susu Merapi, mereka langsung mengambil dan memakannya. Ketika ditanya alasannya, mereka mengatakan baru melihat jenama ini, makanya penasaran. Sekotak bolu pun habis diserbu, artinya produk ini enak dan bisa diterima banyak kalangan.
Sikat.
Bolu Susu Merapi, akan jadi pilihan bukan makanan khas
Pemilik bisnis ini mengatakan, "Bolu Susu Merapi tidak akan menjadi makanan khas Yogyakarta. Posisi kami hanya menjadi pilihan, alternatif makanan yang berasal dari Yogyakarta. Makanan khas Yogyakarta tak akan tergantikan sampai kapan saja."

Nikmati romantisme Yogyakarta, dari alamnya yang indah hingga beraneka macam kuliner dan kudapan. Jangan lupa singgah untuk membawa buah tangan Bolu Susu Merapi, karena Bolu Susu Merapi berbagi dengan hati.

Wednesday, May 2, 2018

Mengenyam Beragam Kuliner di Jogja Paradise Foodcourt

Terkenal sebagai kota pendidikan dan tujuan wisata, menjadikan Yogyakarta memiliki ragam budaya dan kuliner. Keaneka ragaman tersebut sebagian besar dibawa oleh mahasiswa yang belajar di kota gudeg ini, selain menuntut ilmu mereka juga membawa budaya dan resep kuliner dari daerah asal.

Jogja Paradise Foodcourt merupakan salah satu pujasera yang menyediakan beragam kuliner dan tempat yang nyaman bersantap bersama keluarga. Kuliner nusantara, western, dan eastern bisa dengan mudah dipesan tanpa harus berpindah tempat untuk mendapatkannya.
Jogja Paradise Foodcourt.
Menempati lahan 5450 m2 dengan luas bangunan 1309 m2 menjadikan tempat ini cukup ideal untuk menikmati kuliner dengan santai bersama keluarga. Taman dan tempat bermain anak berada di tengah-tengah bangunan pujasera yang berdiri sejak Agustus 2012, memberikan kenyamanan bagi pengunjung saat bersantap bersama.
Halaman dalam Jogja Paradise.
Sebagai foodcourt terbesar di Yogyakarta, tempat berlogo seperti bunga teratai 5 warna ini memiliki 21 tenant, antara lain:

Rujak Cingur - Tahu Tek Paijo Bless Coffee
Bakso Rahayu Salatiga Snick Snack
Gudeg bu Mur Wijilan Sushi Story
Steamboat and Friend Food Story
Mbok Berek Garden Sate Ratu
Sambal Jahanam Es Murni
Sop Empal Yoeni Ah Moy
Mie Surabaya Joglo
Mie Jakarta DC2
Steak Addict -
Master Seafood Lunchbox
Rujak Cingur
Siang hari yang terik di hari Kamis, 26 April 2018 aku mencium bau khas petis udang saat mengelilingi area tenant Jogja Paradise Foodcourt. Rupanya aroma harum tersebut keluar dari rujak cingur, salah satu menu yang ditawarkan salah satu tenant. Meskipun tampilan kurang menarik, tapi petis itu begitu menggoda untuk dicoba. Akupun mengambil memilih kuliner dari Jawa Timur ini sebagai makan siang.
Beberapa menu di Jogja Paradise Foodcourt.
Tersirat dari namanya, menu ini memadukan dua jenis kuliner yaitu rujak dan cingur. Cingur dalam bahasa Jawa, khususnya Jawa Timur berarti mulut (sapi). Rujak cingur di sini berisi sayuran kacang panjang, kecambah, dan kangkung. Buah-buahan ketimun, krai, bengkoang, dan nanas. Disamping itu irisan tahu goreng melengkapi kekhasan kuliner.
Rujak cingur pilihanku.

Sebagai asupan karboidrat digunakan lontong. Jangan sampai ketinggalan cingur yang dipotong kecil-kecil. Di sela lautan saus kental yang dibuat dari petis udang dan sambal kacang, aku masih bisa mengenali sedikit bahan rujak cingur ini. Kerupuk menjadi lapisan atas rujak cingur.
Tenant di sisi utara foodcourt.
Tidak hanya baunya saja yang harum, rasa petis yang telah dipadukan dengan sambal kacang juga nendang. Kunci kenikmatan rujak cingur adalah bumbu sausnya (petis dan sambal kacang). Selain saus, kunci lain adalah tingkat kepedasan yang disesuaikan dengan selera. Porsi rujak cingur ini benar-benar mengenyangkan, hampir tak sanggup menuntaskannya 😊.
suasana di foodcourt.
Fasilitas lain
Beberapa tahun lalu aku pernah ikut acara bertema UMKM di lantai 2 Jogja Paradise. Sekarang pun ruangan yang bisa menampung 300 orang itu masih digunakan. Tempat shalat ada di lantai 2 pojok belakang, mampu menampung 12-15 orang. Selain taman, di tengah lahan berdiri panggung pertunjukan.
Tempat shalat.
Parkir kendaraan gratis, bisa di depan maupun di dalam kawasan taman. Pengunjung juga dimanjakan dengan akses internet gratis. Sementara itu, livemusik selalu tampil setiap Sabtu malam mulai pukul 19.00 WIB.
Live music acara khusus.
Coworking Space
Tempat yang diharapkan menjadi magnet baru Jogja Paradise adalah coworking space yang ada di lantai 2, tepat di atas Bless Coffeeshop.
Coworking space Jogja Paradise.
Coworking space adalah tempat dimana orang memiliki berbagai latar belakang pekerjaan, yang bekerja dalam sebuah tempat. Tempat ini memiliki fasilitas Common Space, yaitu ruang kerja utama untuk perorangan dan grup.
Free coffee break.
Dilengkapi free coffee break, dan office assistan untuk membantu kebutuhan. Ada juga Ruang serba guna dengan kapasitas sampai 60 orang, yang dilengkapi dengan wide screen dan sound system untuk kebutuhan event seperti workshop, seminar, screening.

Toilet
Hampir lupa, letak toilet ada di beberapa sisi, salah satunya dekat parkir depan. Ada yang unik pada pengumuman yang tertempel di dinding dalam toilet, silakan baca sendiri 😂.
Tata tertib toilet Jogja Paradise.
Survey kepuasan
Untuk mewujudkan visi Jogja Paradise sebagai tempat kuliner wisata keluarga terbaik dan terbesar di Yogyakarta, manajemen mencetuskan Jogja Paradise reborn. Lahir kembali dengan pengelolaan baru, sehingga dapat memberikan kepuasan, kenyamanan, dan membangun hubungan dengan pelanggan. Salah satu caranya dengan memberikan survey kepuasan pelanggan setelah menikmati aneka kuliner.
Survey kepuasan pelanggan.

Lokasi
Jogja Paradise foodcourt berada di gerbang masuk utara kota Yogyakarta. Jika dari arah Magelang berjarak sekitar 500 meter selatan jalan layang dan Terminal Jombor DIY. Tepatnya di Jalan Magelang km.6 Sinduadi Mlati, Sleman DIY, seberang Hotel Rich Jogja.
Denah.
Sebelum masuk foodcourt, terdapat denah Jogja Paradise Foodcourt beserta semua tenant. Semoga ke depan, denah ini dibuat lebih besar supaya para pengunjung dapat melihatnya.