Monday, July 30, 2018

Makan Bakso di peringatan 100 tahun berdirinya The Phoenix Hotel Yogyakarta

Sebelum makan bakso, kami para undangan peringatan 100 tahun berdirinya The Phoenix Hotel Yogyakarta diajak berkeliling hotel. Aku ikut kelompok 2 yang dipandu oleh Mbak X (tidak tahu namanya), dan tempat pertama yang dikunjungi adalah ruang kerja Ir. Soekarno di lantai 2 bangunan asli (usianya 100 tahun dari tahun pembangunan). Tempat itu sampai sekarang masih dipakai sebagai ruang direktur utama. Untuk menuju ke sana harus melewati tangga putar, yang usianya juga sudah tua.
Ruang kerja direktur utama.
Ruangan itu memiliki lorong menuju kamar 201 yang konon pernah dihuni oleh Ir. Soekarno. Kata teman saya, di kamar tersebut terdapat lukisan bergambar wanita, tapi aku belum membuktikannya.

Selanjutnya kami turun lagi ke bawah, di situ terdapat museum perjalanan pembangunan hotel. Ruangan ini juga digunakan para tamu lokal untuk mencari sinyal internet, maklum tempat duduk yang nyaman.
Museum.
Di teras belakang sekarang digunakan sebagai tempat makan, teras tersebut terhubung dengan bangunan baru yaitu restoran. Sedangkan bangunan hotel berada di belakang bangunan asli. Di sisi barat tempat makan terdapat gramaphone, sedangkan dindingnya tertempel foto-foto zaman dahulu.
Teras yang digunakan sebagai rumah makan.
Jadi, makan baksonya kapan? Sabar ya cerita baksonya πŸ˜€πŸ˜‚ wwkkwk. Aku mau ceritanya sesuai kronologi kejadian #halah. Kami saja sabar puluhan menit menunggu dipersilakan makan bakso, masak kamu yang hanya tinggal baca saja enggak sabar? πŸ˜‹
Gramaphone dan lainnya.
Sekilas The Phoenix Hotel Yogyakarta
Dari tadi nulis keliling hotel, tapi belum menjelaskan hotelnya 😁. Jadi begini, The Phoenix Hotel Yogyakarta merupakan hotel bintang 5 beralamat di Jalan Jendral Sudirman 9, Kotabaru Yogyakarta, tepatnya timur Tugu Pal Putih. Hotel ini masuk jaringan Accorhotels dengan jenama MGallery by Sofitel.
Kredit: harianjogja.com.
Bangunan asli dibangun oleh Kwik Djoen Eng pada 1918 sebagai tempat tinggal. Pada 1930 rumah tersebut berpindah tangan ke Liem Djoen Hwat, yang kemudian menyewakannya kepada orang Belanda D.N.E. Francle. Bangunan ini dinamakannya The Splendid Hotel hingga Jepang menguasai Indonesia pada tahun 1942, dan berganti nama menjadi Yamato Hotel.

Kalah Perang Dunia II 1945, Jepang mengembalikan bangunan ini pada pemiliknya. Sempat juga menjadi kediaman resmi Konsulat Cina pada tahun 1946-1949, saat Yogyakarta menjadi ibukota RI. Setelah tidak menjadi kediaman resmi lagi, pada 1951 disewa oleh Direktorat Perhotelan Negara dan Pariwisata, kemudian dijadikan hotel dengan nama Hotel Merdeka.
Kolam renang.
Keluarga Liem Djoen Hwatt memutuskan untuk mengelola sendiri hotel ini pada tahun 1988. Bangunan direnovasi dan ada menambah bangunan baru. Pada 1993 beroperasi kembali dengan manajemen keluarga dengan nama Phoenix Heritage Hotel.

Akhirnya pada 2003 kepemilikan berpindah kepada Imelda Sundoro Hosea, dari grup Sun Motor. Renovasi kembali dilakukan selama setahun untuk menyesuaikan standar bintang 5 grup Accorhotel. Nama hotel berubah lagi menjadi Grand Mercure Yogyakarta pada tahun 2004, berubah lagi menjadi The Phoenix Hotel Yogyakarta, a Member of MGallery Collection pada tahun 2009, lalu berubah lagi belakangnya menjadi Mgallery by Sofitel pada 2016.
Kamar Deluxe Legacy.
Tahun 2018, hotel ini memiliki 143 kamar, 8 ruang pertemuan, 1 ballroom, kolam renang, spa, tempat fitness, butik, dan toko roti. Kulihat, yang menginap di sini kebanyakan orang luar negeri, benua Eropa atau America.

Makan bakso
Kenalannya panjang ya? Wkwkkkwk πŸ˜‚πŸ˜„πŸ˜…. Baiklah, inilah penampakan bakso yang dihidangkan pada 22 Juli 2018 lalu. Sebelum bakso tersaji di meja, beberapa sambutan dan pertunjukan tradisional menghiasi peringatan 1 abad The Phoenix Hotel Yogyakarta.

Bakso The Phoenix Hotel Yogyakarta.
Bakso daging sapi sangat halus, berbeda dengan sajian bakso di luar hotel. Menu pada acara ini mengikuti selera orang Eropa, sehingga kurang cocok dengan lidah orang Indonesia.

Wednesday, July 25, 2018

Mampir Makan di RM Mbak Nik Godong Grobogan

Ketika perut sudah mulai keroncongan, saya diajak mampir ke salah satu rumah makan di jalan Purwodadi - Semarang. Meskipun tidak begitu sesuai selera dengan model warung Pantura, saya paksakan masuk juga daripada kelaparan di tengah perjalanan. Nama warung itu RM Ayam Bakar Mbak Nik yang terletak di Jalan Raya Semarang - Purwodadi km 46,2 Klampok, Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan Jawa Tengah.
Rumah Makan Mbak Nik Godong.
Peristiwa ini sudah 2 tahun lalu, tapi baru sempat saya tulis πŸ˜€, mungkin keadaan sekarang sudah berubah. Letaknya berada di utara jalan utama, bila dari arah Semarang setelah melewati pusat Kecamatan Godong dan jalan masuk ke Bendungan Klambu.
Menu
Meskipun namanya RM ayam bakar, ternyata di dalamnya terdapat banyak menu khas Pantura. Saya tidak memilih ayam bakar karena dirasa akan memakan banyak waktu untuk membakarnya. Pilihan jatuh kepada tongkol dan sayur asam.
Sayur asam ikan tongkol.
Rasanya lumayan sesuai selera saya. Yang agak menghilangkan selera makan adalah tempatnya yang cenderung kurang bersih khas Pantura. Sepiring nasi habis dalam waktu singkat, karena lapar dan berburu waktu. Saya tidak memperhatikan rombongan memesan apa. Untuk minumannya, saya pilih jeruk hangat yang lumayan masam.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke penginapan. Ketika itu hujan baru saja reda, tidak ada tukang parkir yang menyela selama kami datang dan pergi. Harga makanan di sini relatif agak mahal dibandingkan warung yang melayani warga pekerja, karena tentunya segmen pasarnya berbeda.

Tuesday, July 10, 2018

Menang Lomba Blog? Alhamdulillah Pecah Telur juga Blog Ini

Perubahan zaman ikut menenggelamkanku dalam lautan. Dulu, saat era keemasan blog aku sempat "mencuri" kesempatan memenangkan lomba blog. Bukan, bukan dari blog ini, tapi dari penyedia blog gratisan berikut domainnya. Saat daratan mulai terkena abrasi, aku ikut tenggelam bersama blog-blog tersebut menuju kepunahan.

Sekarang konten visual lebih disukai terutama video, konten dengan banyak tulisan seperti blog mulai ditinggalkan. Dan aku belum sanggup menghadapi kenyataan, yeee bilang saja tidak bisa buat video πŸ˜€.
Juara 2.

Ada benarnya juga, aku memang belum bisa membuat video karena keterbatasan alat. Aku masih setia dengan gawai dan laptop jadul, yang tidak mampu diinstall program editing video 😁.

Aku tetap menulis karena mencintainya. Mau zaman berubah seperti apa, aku tetap menulis, meskipun hanya aku sendiri yang baca.

Kembali lagi ke judul yang aku buat, meskipun jarang ikut lomba blog (karena kekurangan bahan) sesekali aku mengikutinya. Yang terakhir adalah pujasera Jogja Paradise yang beberapa waktu aku kutulis di sini.

Dan,,,, pada 5 Juli 2018 lalu manajemen Jogja Paradise mengundang kami kembali; para blogger Jogja untuk beramah-tamah. Di sela-sela acara tersebut, terseliplah pengumuman lomba blog dan Instagram. Alhamdulillah, tulisanku menang juara kedua!!! Pecah telur juga blog ini πŸ˜ƒ...

Begitu saja sih, semoga kemenangan ini bisa merembet ke tulisan-tulisanku selanjutnya, amin. Hadiah blog Jogja Paradise bisa untuk beli boks kontainer 100 liter 😁.

Sunday, July 8, 2018

Tambahan Pembayaran saat Tiba di Hotel

Beberapa bulan lalu aku mendapat voucher potongan harga menginap hotel dengan menggunakan aplikasi A. Lumayan, potongan harga Rp.200.000. Yang artinya bisa saja menginap gratis, jika memilih kamar yang harga semalamnya di bawah itu. Akupun memesan kamar untuk berlebaran di salah satu tempat di Sunan Muria Jogja. Awalnya kupikir akan menyenangkan beristirahat di situ, ada kolam renang dan dapat sarapan. Namun bayangan itu akhirnya buyar oleh eksekusi supervisor hotel tersebut.

Harga kamar semalam melebihi voucher, sehingga aku harus membayar lagi lewat minimarket waralaba. Kenapa tidak transfer bank saja? Karena aplikasi A tidak menawarkan metode pembayaran dari bank rujukanku, sedangkan bayar lewat minimarket (waktu itu) tidak dikenakan biaya (sekarang kena Rp.2.500). Apalagi uang yang harus kubayar di bawah Rp.10.000.
Ilustrasi.
Esok paginya, teleponku berdering oleh panggilan nomor lokal Jogja. Terdengar suara memperkenalkan diri dari hotel yang akan kuinap. Dia jelaskan kalau saat lapor masuk bakalan ada tambahan biaya Rp.130.000. Heee? Kok bisa bayar lagi? Dia beralasan karena aku pesan untuk libur lebaran, sedangkan pihak hotel hanya mendapatkan Rp.170.000 dari aplikasi A.

Setelah mendapatkan telepon itu, aku minta konfirmasi pada layanan pelanggan aplikasi A melalui email. Tanggapan mereka lambat dan berlarut-larut, intinya mereka melarang adanya biaya tambahan, kecuali deposit yang akan dikembalikan ketika lapor keluar. Katanya mereka akan menanyakan kepada pihak hotel mitra tersebut.

Alasan yang digunakan pihak hotel tidak masuk akal, dia sebenarnya bisa saja mengubah harga di aplikasi tapi kenapa main belakang? Sama saja ini menodong calon tamu yang telah terlanjur transfer uang. Kubiarkan saja percakapan nirfaedah itu, toh aku baru akan menginap 3 bulan kemudian.

Tetap disuruh bayar
Hari yang ditunggupun tiba, malam sekitar pukul 19.30 WIB aku menuju hotel tersebut. Kebetulan waktu itu mati listrik, sepanjang jalan gelap, demikian juga dengan hotelnya. Aku memarkir kendaraan di depan pohon mangga yang menutupi jalan masuk. Mereka menyalakan genset yang terdengar sampai ruang resepsionis. Suasana sepi, tak terlihat mobil berderet menginap di situ.

Di ruang resepsionis berukuran sekitar 2x3 meter, lampu tak begitu terang. Kulihat sepintas di dinding, tertempel papan tulis putih dengan banyak coretan. Ada 1 nama dan hanya ada 1 yang tertulis di situ sangat familiar. Tak berapa lama kemudian datanglah penjaga dari ruang belakang, sepertinya baru saja memeriksa genset.

Kuutarakan maksudku untuk lapor masuk, lalu penjaga tersebut mengambil sebuah kertas buram penuh tulisan tangan dan memperlihatkannya padaku. Dia mengatakan (seperti yang tertulis) kalau ada yang masuk (checkin) dari (aplikasi) A kena charge Rp.130.000. Kalau tidak mau bayar, besok disuruh ketemu dengan supervisor.

Aku turut membaca tulisan itu. Namun ketika aku izin ingin memotret kertas itu, dia tidak membolehkan. Dia berdalih itu hanya corat-coretan saja dan dia hanya menjalankan perintah.

Setelah kupikirkan masak-masak dalam 3 menit, akupun cabut dari hotel horor itu. Ngapain bayar lagi? Menurutku itu sama saja nodong tamu yang menginap.

Selanjutnya aku menginap di tempat lain yang memberiku ketenangan di daerah kota. Cukuplah ketemu hotel seperti ini sekali saja, semoga tidak barokah.

Tanggapan layanan pelanggan
Kuutarakan kekecewaanku pada layanan pelanggan aplikasi A malam itu juga, mereka tetap ngotot jika yang dikenakan adalah deposit. Aku memang tidak berpendikan tinggi, tapi masih bisa mendengar, membedakan huruf, dan baca tulisan 'charge' dengan 'deposit'. Keduanya jauh berbeda begitupun definisinya, tapi jika pihak aplikasi A menafsirkan kedua kata tersebut sama, apa boleh buat.

Herannya, jelas-jelas mitra aplikasi A itu tidak sesuai aturan tapi tetap dibela. Idealnya si pelayan pelanggan membela jenama mereka sendiri, tapi ini malah menjeblokkan diri sendiri πŸ˜€.

Setelah kejadian tersebut, hotel ini masuk daftar hitam teman-teman di Jogja. Bagi yang belum pernah menginap di sini, lebih baik hati-hati dengan jebakan batman.

Tuesday, July 3, 2018

Naik Bus Trans Jateng Bawen – Stasiun Tawang di Masa Lebaran

Saya telah berjanji akan mengunjungi kerabat di Semarang pada hari ketiga lebaran, meskipun jalan raya diprediksi sangat padat. Rute yang menjadi pilihan adalah Jogja - Solo - Bawen - Semarang untuk meringankan biaya perjalanan. Kenapa tidak menggunakan kendaraan pribadi saja, kan lebih irit dan hemat waktu? Jawabannya mudah, saya tidak memiliki kendaraan pribadi πŸ˜€.

Perjalanan pertama yaitu menggunakan kereta ke Solo dengan KA Prameks. Kondisi cukup lengang, padahal biasanya tempat duduk terisi penuh. Harga tiket kereta pun tidak mengalami kenaikan. Perjalanan menjadi kurang menyenangkan ketika berganti moda transportasi bus dari Solo menuju Bawen.

Di dinding kaca bus PO Safari Lux yang saya naiki tertempel tarif selama lebaran, tertulis Solo - Bawen Rp.30.000, Solo - Ungaran Rp.35.000, dan Solo - Semarang Rp.40.000. Saya sodorkan uang Rp.50.000 kepada kondektur, ternyata hanya diberi kembalian Rp.15.000 😒. Saya hanya diam tidak kuasa berbicara, sambil berdo'a semoga hasil yang didapatkan tidak barokah.

Setelah terisi penuh penumpang, laju bus malah melambat berasa malas sampai tujuan, mungkin karena target penumpang sudah terpenuhi. Sesampainya di Boyolali jalan terlihat sangat ramai padahal masih pukul 08.00 WIB, puncaknya kemacetan terjadi di jalan masuk tol Bawen selatan terminal. Sepertinya semua orang berangkat pagi ingin menghindari macet.

Di Terminal Bawen, saya turun untuk berganti bus yang tiketnya sangat terjangkau isi dompet, Bus Rapid Trans (BRT) Jateng. Bus berukuran 3/4 ini setiap hari menempuh rute Terminal Bawen - Stasiun Tawang Semarang PP. Bus pertama berangkat pukul 05.00 WIB dan terakhir 19.20 WIB.

Dari Terminal Bawen
Terminal megah nan luas yang berdiri di persimpangan jalan Semarang - Jogja - Solo ini relatif sepi. Terlihat jelas perbedaan perawatan infrastruktur yang dikelola oleh perusahaan dengan pemerintah. Pemandangannya kontras dengan terminal penumpang pesawat atau stasiun kereta api.

Calon penumpang yang masuk dan keluar terminal tidak dikenakan biaya, demikian juga penggunaan fasilitas toilet. Beberapa lapak agen tiket bus dan warung makan sudah buka, meskipun masih suasana lebaran.

Saya agak kebingungan mencari halte Trans Jateng, tidak terlihat penunjuk pengumuman dari tempat penurunan penumpang bus dari arah Solo. Halte itu ternyata ada di sisi paling barat terminal, ciri khas halte bus rapid trans yang tinggi terlihat jelas. Saat berjalan ke sana, sudah ada 5 calon penumpang menunggu bus Trans Jateng tiba.
Di dalam bus Trans Jateng.
Hanya berselang 3 menit, bus yang ditunggu tiba. Para calon pemumpang naik dengan tertib. Sedikit informasi, bus Trans Jateng dan Trans Semarang memisahkan tempat duduk pria dan wanita. Batasnya adalah pintu masuk bus, tempat duduk pria di depan sedangkan wanita di belakang. Misalkan tempat duduk pria sudah penuh dan sebagian berdiri, tapi di belakang (untuk wanita) masih kosong, penumpang pria tetap tidak bisa duduk di kursi belakang.

Tiket murah
Pembayaran tiket di atas bus sebesar Rp.3.500, terhitung murah dibandingkan naik bus antar kota yang mencapai puluhan ribu. Tiket dicetak langsung dengan mode hotprint, seperti struk pembelian minimarket.

Yang menarik, sebelum melaju supir bus mengatur alat di atas dashboard. Rupanya itu sensor otomatis suara dan running text. Beberapa meter sebelum memasuki satu halte, suara lembut mbak-mbak mengingatkan penumpang bahwa sesaat lagi akan memasuki halte X. Papan running text pun menuliskan halte yang akan disinggahi. Perkiraan saya, sensor tersebut berhubungan dengan spedometer. Ketika bus menempuh jarak tertentu, sensor memerintahkan runnning text dan mbak-mbak bekerja.
Ruang kemudi bus Trans Jateng.
Jalan Bawen - Semarang cukup lengang, bahkan bus yang tadi saya naiki bisa disalip dengan mudah. Penumpang bus Trans Jateng jurusan Semarang pagi itu tidak memenuhi kursi, sedangkan dari arah berlawanan terlihat bus Trans Jateng penuh sesak.

Halte berbeda
Halte yang digunakan bus Trans Jateng dengan Trans Semarang berbeda, hanya sebagian saja menggunakan fasilitas sama. Sebaiknya periksa dulu tulisan di halte, jika akan naik bus Trans Jateng.

Artikel Terkait:
- Menyambut Baskara di Puncak Telomoyo
- Kereta Api hanya Sekali Perjalanan, Penumpang Memilih Bus Solo-Semarang
- Berjuang Mendapatkan Tiket Prameks
- Mengapa Bayar Bus Rapid Trans Semarang Belum Bisa Pakai Kartu?