Saya telah berjanji akan mengunjungi kerabat di Semarang pada hari ketiga lebaran, meskipun jalan raya diprediksi sangat padat. Rute yang menjadi pilihan adalah Jogja - Solo - Bawen - Semarang untuk meringankan biaya perjalanan. Kenapa tidak menggunakan kendaraan pribadi saja, kan lebih irit dan hemat waktu? Jawabannya mudah, saya tidak memiliki kendaraan pribadi 😀.

Perjalanan pertama yaitu menggunakan kereta ke Solo dengan KA Prameks. Kondisi cukup lengang, padahal biasanya tempat duduk terisi penuh. Harga tiket kereta pun tidak mengalami kenaikan. Perjalanan menjadi kurang menyenangkan ketika berganti moda transportasi bus dari Solo menuju Bawen.

Di dinding kaca bus PO Safari Lux yang saya naiki tertempel tarif selama lebaran, tertulis Solo - Bawen Rp.30.000, Solo - Ungaran Rp.35.000, dan Solo - Semarang Rp.40.000. Saya sodorkan uang Rp.50.000 kepada kondektur, ternyata hanya diberi kembalian Rp.15.000 😢. Saya hanya diam tidak kuasa berbicara, sambil berdo'a semoga hasil yang didapatkan tidak barokah.

Setelah terisi penuh penumpang, laju bus malah melambat berasa malas sampai tujuan, mungkin karena target penumpang sudah terpenuhi. Sesampainya di Boyolali jalan terlihat sangat ramai padahal masih pukul 08.00 WIB, puncaknya kemacetan terjadi di jalan masuk tol Bawen selatan terminal. Sepertinya semua orang berangkat pagi ingin menghindari macet.

Di Terminal Bawen, saya turun untuk berganti bus yang tiketnya sangat terjangkau isi dompet, Bus Rapid Trans (BRT) Jateng. Bus berukuran 3/4 ini setiap hari menempuh rute Terminal Bawen - Stasiun Tawang Semarang PP. Bus pertama berangkat pukul 05.00 WIB dan terakhir 19.20 WIB.

Dari Terminal Bawen
Terminal megah nan luas yang berdiri di persimpangan jalan Semarang - Jogja - Solo ini relatif sepi. Terlihat jelas perbedaan perawatan infrastruktur yang dikelola oleh perusahaan dengan pemerintah. Pemandangannya kontras dengan terminal penumpang pesawat atau stasiun kereta api.

Calon penumpang yang masuk dan keluar terminal tidak dikenakan biaya, demikian juga penggunaan fasilitas toilet. Beberapa lapak agen tiket bus dan warung makan sudah buka, meskipun masih suasana lebaran.

Saya agak kebingungan mencari halte Trans Jateng, tidak terlihat penunjuk pengumuman dari tempat penurunan penumpang bus dari arah Solo. Halte itu ternyata ada di sisi paling barat terminal, ciri khas halte bus rapid trans yang tinggi terlihat jelas. Saat berjalan ke sana, sudah ada 5 calon penumpang menunggu bus Trans Jateng tiba.
Di dalam bus Trans Jateng.
Hanya berselang 3 menit, bus yang ditunggu tiba. Para calon pemumpang naik dengan tertib. Sedikit informasi, bus Trans Jateng dan Trans Semarang memisahkan tempat duduk pria dan wanita. Batasnya adalah pintu masuk bus, tempat duduk pria di depan sedangkan wanita di belakang. Misalkan tempat duduk pria sudah penuh dan sebagian berdiri, tapi di belakang (untuk wanita) masih kosong, penumpang pria tetap tidak bisa duduk di kursi belakang.

Tiket murah
Pembayaran tiket di atas bus sebesar Rp.3.500, terhitung murah dibandingkan naik bus antar kota yang mencapai puluhan ribu. Tiket dicetak langsung dengan mode hotprint, seperti struk pembelian minimarket.

Yang menarik, sebelum melaju supir bus mengatur alat di atas dashboard. Rupanya itu sensor otomatis suara dan running text. Beberapa meter sebelum memasuki satu halte, suara lembut mbak-mbak mengingatkan penumpang bahwa sesaat lagi akan memasuki halte X. Papan running text pun menuliskan halte yang akan disinggahi. Perkiraan saya, sensor tersebut berhubungan dengan spedometer. Ketika bus menempuh jarak tertentu, sensor memerintahkan runnning text dan mbak-mbak bekerja.
Ruang kemudi bus Trans Jateng.
Jalan Bawen - Semarang cukup lengang, bahkan bus yang tadi saya naiki bisa disalip dengan mudah. Penumpang bus Trans Jateng jurusan Semarang pagi itu tidak memenuhi kursi, sedangkan dari arah berlawanan terlihat bus Trans Jateng penuh sesak.

Halte berbeda
Halte yang digunakan bus Trans Jateng dengan Trans Semarang berbeda, hanya sebagian saja menggunakan fasilitas sama. Sebaiknya periksa dulu tulisan di halte, jika akan naik bus Trans Jateng.

Artikel Terkait:
- Menyambut Baskara di Puncak Telomoyo
- Kereta Api hanya Sekali Perjalanan, Penumpang Memilih Bus Solo-Semarang
- Berjuang Mendapatkan Tiket Prameks
- Mengapa Bayar Bus Rapid Trans Semarang Belum Bisa Pakai Kartu?