Minggu, 26 Agustus 2018

Untung Sudah Pernah Makan di RM Griya Tawang

Solo Car Friday di sepanjang jalan Slamet Riyadi Surakarta kudatangi khusus dari Jogja. Berangkat dengan KA Prameks terpagi, sampailah di Stasiun Purwosari pukul 06.45 WIB. Aku lalu berjalan menuju depan Sriwedari untuk menyaksikan seremonial pembukaan Solo Book Fair (jika tidak keliru), pada hari Ahad 1 Mei 2016. Di tempat itu pula aku bertemu pentolan warganet Solo; Dimas Suyatno dan istri. Kami bersama beberapa blogger berencana memenuhi undangan pihak Museum Atsiri di daerah Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.
Roda dokar.
Lewatkan kisah tentang Museum Atsiri yang kala itu baru awal dibangun kembali. Aku ceritakan saja makan-makannya saja 😁 hehehe. Kami berangkat dengan 2 mobil, mereka hanya menyediakan mobil 1 Grand Livina. Karena kurang dipinjamlah 1 mobil milik penulis Solo. Saat itu hanya 3 orang yang bisa menyetir, 1 orang lebih terbiasa menyetir transmisi otomatis, terpaksalah aku kedapuk menyetir Grand Livina dari Solo ke Tawangmangu 😢.
Papan nama Griya Tawang.
Sesampainya di Museum Atsiri kami istirahat sejenak dan minum teh hangat. Setelah shalat kami menuju ke Griya Tawang untuk makan siang. Kami naik mobil berbeda karena ban kiri belakang Grand Livina bocor, dan tidak tahu dimana letak dongkrak di dalam mobil 😃.
Air mengalir dari mata air.
Dari jalan raya Tawangmangu, sepintas terlihat kecil dan sempit. Memang harus masuk melalui jalan selebar bus medium. Setelah masuk ke dalam ternyata tempatnya luas melebihi rumahku 😞.

Lihat deh menu yang disajikan pada kami, kluban, ayam goreng, tempe goreng, dan apa lagi lupa. Minumannya ada teh dan wedang secang. Disajikan dengan model ndeso. Kami juga sengaja memilih tempat di gubug-gubug kecil, agar kaki bisa selonjoran.
Makanan yang tersedia.
Setelah kumakan hidangan bersama teman-teman, aku merasa kurang cocok dengan rasa masakannya, tapi minumannya lumayan oke... lumayan lho ya, catat. Harga yang dibandrol pun disesuaikan dengan kawasan wisata, tahu kan maksudnya..
Dapur, kasir, dan tempat makan bermeja.
Fasilitas tempat ini cukup lengkap, beberapa toilet dengan konsep ndeso dan tempat shalat di atas gubug tersedia. Parkir mobil sangat luas dan harus bayar lagi. Yang cukup menyenangkan adalah pengunjung bisa turun ke sungai, mandi dengan air sungai pun bisa jika mau.
Parkir mobil.
Sekarang rumah makan ini telah ditutup, aku sempat meliriknya ketika Mei 2018 melewati jalur Magetan - Tawangmangu - Solo. Papan nama yang berdiri terlihat sudah teyeng dan tidak terawat.

Tautan peta Google: https://goo.gl/maps/RvtaHSgvBrN2

Senin, 20 Agustus 2018

Bakmi Jowo Mas Gondrong yang ternyata Tidak Gondrong

Perut mulai lapar, waktunya pulang ke rumah. Tiba-tiba saja Pandi, temanku mengajak makan dahulu di Komplek ruko Kentungan, Jalan Kaliurang km 6,5 Yogyakarta. Aku selalu menaruh ketidak-percayaan pada Pandi dalam hal kulineran, seleranya parah banget. Dia, yang penting porsinya banyak sedangkan rasa nomor 10. Tapi ajakan itu tetap kuterima, penasaran dengan nasi goreng Kentungan dan tentu saja makan gratis wkwkwk.

Kami berangkat berboncengan motor, tiba di sana sudah banyak yang antre, mungkin ada sekitar 5 orang. Biasanya sih kalau antre ada dua kemungkinan, makanannya kalau tidak murah ya lumayan enak. Pandi memesan magelangan, sedangkan aku pesan nasi goreng biasa. Kami tidak pesan mie, soalnya mie hanya membuat perut kenyang sesaat tidak tahan sampai esok hari 😂.
Warung Bakmi Jowo Mas Gondrong.
Nama warung itu Warung Bakmi Jowo Mas Gondrong, letaknya di sisi utara jalan masuk Batalyon Infanteri 403. Jika pagi tempatnya digunakan untuk Bubur Ayam Zamzam. Di tahun 2016, kupikir penjualnya tidak berambut gondrong seperti nama warung. Lalu yang gondrong siapa, atau apa?
Mas Gondrong tapi tidak gondrong?
Memasaknya masih menggunakan arang, inilah ciri khas Bakmi Jowo, asalkan menggunakan nama Jowo hampir pasti bahan bakar memasak adalah arang. Setahuku memasaknya tiap satu porsi, entah di tahun 2018 ini. Aku makan di sana hanya kalau diajak Pandi, kalau tidak diajak aku tidak ke sana, hehehhe.
Antre nunggu giliran.
Selain nasi goreng dan magelangan, Mas Gondrong juga menerima pesanan cap cay, rica-rica ayam, dan sop ayam... Hmmm, banyak juga ya menunya. Ohiya kadang di sini ada tukang parkirnya, agak sebel sih ditarik uang parkir padahal warung depannya tidak sama sekali.
Add caption
Ketika jeruk hangat tinggal seperempat, pesanan pun datang. Daun seledri dan kubis diletakkan di atas nasi goreng, ditambah taburan brambang goreng. Di meja tersedia kecap, cuka, timun cacah, dan lombok. Standar nasi goreng (setahuku) Mas Gondrong adalah tidak pedas, sehingga kalau mau pedas silakan nyeplus lombok sendiri.
Nasi goreng siap dimakan.
Karena aku terbiasa makan nasi goreng Madura, lidahku kurang begitu cocok dengan masakan yang terhidang. Seperti ada sesuatu yang kurang. aku lupa untuk memesan agar tidak terlalu banyak kecap, sehingga rasa manisnya sangat dominan. Beberapa kali diajak ke sini, rasanya tidak berubah sampai akhirnya Pandi tidak pernah mengajak ke sini lagi, pulang ke daerah asalnya.

Rabu, 15 Agustus 2018

Perlukah Kaos Lengan Panjang saat Berwisata?

Selama ini aku belum pernah bahas pakaian saat traveling (berwisata). Apa tidak ada yang penasaran, aku memilih memakai pakaian jenis apa? Mengingat jarang ada swafoto atau fotoku di blog ini, hehehe. Khusus di bulan Agustus ini (katanya bulan spesial bagi negara kita) aku kasih sedikit bocoran, starterpack yang kugunakan saat berwisata.

Yang pertama adalah pelengkap saat berwisata, aku suka memakai sepatu kanvas. Tidak perlu yang mahal karena usia sol sepatu hanya setahun. Mungkin langkahku terlalu boros, setelah setahun berlalu dari pembelian pasti sol sepatu habis dan lem kanvas dengan tidak rekat lagi. Aku kurang suka memakai sandal berpengait belakang, karena tidak bisa menutupi jempol kaki yang gedhe.

Topi untuk melindungi wajah dan kepala dari sinar matahari, surgical face mask (penutup wajah) untuk mengurangi terhirupnya debu dan hawa dingin, serta kacamata pelindung ultra violet tidak lupa selalu kubawa dan selalu tersedia dalam tas punggung.
Di atas bukit.
Yang kedua tentang pakaian, aku kurang suka memakai pakaian jenis jeans, sudah bertahun-tahun tidak ada lagi celana jeans tersimpan di lemari pakaian. Meskipun bahannya awet dan tahan banting, tapi berat dan sulit dicuci. Aku tidak bisa meniru gaya teman yang celana jeansnya tidak dicuci berbulan-bulan, apa tidak gatal di kulit? Kebersihan tetap harus dijaga kan. Itu untuk celana ya... kalau jaket jeans kadang masih kupakai. Celana pilihanku adalah celana panjang biasa berkolor, dengan pertimbangan elastis mengikuti lingkar perut 😀. Lah kenapa? Berat badanku cepat naik-turun yang berimbas pada ukuran perut, daripada pusing mikir “Kok jadi kekecilan? Kok jadi kebesaran?” lebih baik aku investasi celana yang memiliki kolor.

Ada pengalaman unik beberapa tahun lalu. Dinas pariwisata suatu daerah memberikan kemeja dari jenis kain Japan Drill sebagai seragam, dan itu harus dipakai dalam perjalanan wisata! Pilihan warna yang kurang layak dengan model pakaian seragam perusahaan otobis. Kocak sih, kami seperti pegawai yang meninjau beberapa tempat wisata, bukan untuk berwisata 😁. Karena itulah bagi yang memiliki tujuan berwisata (bukan meninjau tempat wisata lho), sebaiknya memakai pakaian atas kaos. Bahan yang dipilih pun yang mudah menyerap keringat, seperti katun atau kombinasi polister dan katun.

Nyaman kaos lengan panjang atau pendek? Sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Aku pribadi lebih memilih kaos lengan pendek. Namun jika berada di daerah dingin seperti di pegunungan maupun tempat yang terkena paparan sinar matahari langsung seperti di pantai, aku memilih menggunakan kaos lengan panjang.
duduk di hammock.
Aku tidak suka memakai manset lengan, bagiku itu ribet. Aku juga merasa tidak nyaman menggunakannya, meskipun harganya jauh lebih murah dari kaos. Bagi wanita berkerudung, saat berwisata lebih cocok memakai kaos lengan panjang wanita daripada manset tangan. Apalagi jika bermain Highropes (tali tinggi), jika memakai manset pasti sering menarik manset lengannya ke atas. Kekurangan manset tangan adalah ketika sudah sering dipakai dan dicuci, akan molor. Apalagi dipakai ketika lengan mengecil karena diet, sepertinya perlu karet gelang dipasang di lengan.

Kaos lengan panjang wanita tidak dikhususkan untuk yang berkerudung, lha wong model dan jenis kainnya bejibun, tinggal pilih seperti apa menurut selera. Yang jelas, kaos lengan panjang wanita bisa untuk bergaya maupun melindungi pemakainya dari cuaca kurang bersahabat.

Menurut aku yang tidak suka menggunakan kosmetik tabir surya, kaos lengan panjang perlu dipakai saat berwisata. Fungsinya selain melindungi diri dari hawa dingin dan paparan sinar matahari langsung penyebab kulit gosong, juga menyembunyikan siku tangan yang hitam dan bersisik 😃.

Minggu, 05 Agustus 2018

Lotek dan Gado-gado Mbak Anti, Terban

Setelah lelah berbelanja kebutuhan harian di Mirota Kampus, perut terasa lapar. Kuputar memori warung-warung yang sudah lama tidak kukunjungi. Ya maaf saja, sobat kismin hanya kuat makan di warung, bukan di kafe 😃. Kemudian aku ingat dengan warung pinggir jalan di selatan MAN 1 Yogyakarta. Dulu terlihat selalu ramai, tapi aku belum pernah makan di sana.
Loteknya sedap.
Barang belanjaan kutitipkan ke penitipan tas supermarket, aku lalu berjalan kaki ke arah Jalan C Simanjuntak, Terban Yogyakarta. Kulihat warung tersebut ada dua tempat makan. Yang terbaca dari seberang jalan adalah kata Lotek. Kupilih warung tersebut untuk makan siang, 2016 lalu.

Spesial Lotek dan Gado-gado Mbak Anti, nama warung tersebut menghadap ke timur. Siang saat jam makan siang lumayan ramai tapi masih tersedia tempat duduk. Setelah masuk, aku langsung memesan lotek. Standar lotek di Jogja menggunakan kupat, karena ada juga pembeli yang pesan nasi sebagai pengganti kupat.
Menu dan harga, sekarang sudah naik.
Tak seberapa lama, lotek terhidang di atas meja. Sayuran lengkap, ada bayam, kecambah, kubis, dan tomat. Tak ketinggalan kerupuk yang menjadi ciri khas lotek. Rahasia kelezatan menu-menu bersambal terletak pada ulegan dan komposisi sambal kacang. Begitu juga dengan Lotek Mbak Anti, bumbu sambal loteknya begitu menggigit. Masih ada tekstur kasar kacang sehingga pembeli dapat merasakannya.