Perut mulai lapar, waktunya pulang ke rumah. Tiba-tiba saja Pandi, temanku mengajak makan dahulu di Komplek ruko Kentungan, Jalan Kaliurang km 6,5 Yogyakarta. Aku selalu menaruh ketidak-percayaan pada Pandi dalam hal kulineran, seleranya parah banget. Dia, yang penting porsinya banyak sedangkan rasa nomor 10. Tapi ajakan itu tetap kuterima, penasaran dengan nasi goreng Kentungan dan tentu saja makan gratis wkwkwk.

Kami berangkat berboncengan motor, tiba di sana sudah banyak yang antre, mungkin ada sekitar 5 orang. Biasanya sih kalau antre ada dua kemungkinan, makanannya kalau tidak murah ya lumayan enak. Pandi memesan magelangan, sedangkan aku pesan nasi goreng biasa. Kami tidak pesan mie, soalnya mie hanya membuat perut kenyang sesaat tidak tahan sampai esok hari 😂.
Warung Bakmi Jowo Mas Gondrong.
Nama warung itu Warung Bakmi Jowo Mas Gondrong, letaknya di sisi utara jalan masuk Batalyon Infanteri 403. Jika pagi tempatnya digunakan untuk Bubur Ayam Zamzam. Di tahun 2016, kupikir penjualnya tidak berambut gondrong seperti nama warung. Lalu yang gondrong siapa, atau apa?
Mas Gondrong tapi tidak gondrong?
Memasaknya masih menggunakan arang, inilah ciri khas Bakmi Jowo, asalkan menggunakan nama Jowo hampir pasti bahan bakar memasak adalah arang. Setahuku memasaknya tiap satu porsi, entah di tahun 2018 ini. Aku makan di sana hanya kalau diajak Pandi, kalau tidak diajak aku tidak ke sana, hehehhe.
Antre nunggu giliran.
Selain nasi goreng dan magelangan, Mas Gondrong juga menerima pesanan cap cay, rica-rica ayam, dan sop ayam... Hmmm, banyak juga ya menunya. Ohiya kadang di sini ada tukang parkirnya, agak sebel sih ditarik uang parkir padahal warung depannya tidak sama sekali.
Add caption
Ketika jeruk hangat tinggal seperempat, pesanan pun datang. Daun seledri dan kubis diletakkan di atas nasi goreng, ditambah taburan brambang goreng. Di meja tersedia kecap, cuka, timun cacah, dan lombok. Standar nasi goreng (setahuku) Mas Gondrong adalah tidak pedas, sehingga kalau mau pedas silakan nyeplus lombok sendiri.
Nasi goreng siap dimakan.
Karena aku terbiasa makan nasi goreng Madura, lidahku kurang begitu cocok dengan masakan yang terhidang. Seperti ada sesuatu yang kurang. aku lupa untuk memesan agar tidak terlalu banyak kecap, sehingga rasa manisnya sangat dominan. Beberapa kali diajak ke sini, rasanya tidak berubah sampai akhirnya Pandi tidak pernah mengajak ke sini lagi, pulang ke daerah asalnya.