Solo Car Friday di sepanjang jalan Slamet Riyadi Surakarta kudatangi khusus dari Jogja. Berangkat dengan KA Prameks terpagi, sampailah di Stasiun Purwosari pukul 06.45 WIB. Aku lalu berjalan menuju depan Sriwedari untuk menyaksikan seremonial pembukaan Solo Book Fair (jika tidak keliru), pada hari Ahad 1 Mei 2016. Di tempat itu pula aku bertemu pentolan warganet Solo; Dimas Suyatno dan istri. Kami bersama beberapa blogger berencana memenuhi undangan pihak Museum Atsiri di daerah Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.
Roda dokar.
Lewatkan kisah tentang Museum Atsiri yang kala itu baru awal dibangun kembali. Aku ceritakan saja makan-makannya saja 😁 hehehe. Kami berangkat dengan 2 mobil, mereka hanya menyediakan mobil 1 Grand Livina. Karena kurang dipinjamlah 1 mobil milik penulis Solo. Saat itu hanya 3 orang yang bisa menyetir, 1 orang lebih terbiasa menyetir transmisi otomatis, terpaksalah aku kedapuk menyetir Grand Livina dari Solo ke Tawangmangu 😢.
Papan nama Griya Tawang.
Sesampainya di Museum Atsiri kami istirahat sejenak dan minum teh hangat. Setelah shalat kami menuju ke Griya Tawang untuk makan siang. Kami naik mobil berbeda karena ban kiri belakang Grand Livina bocor, dan tidak tahu dimana letak dongkrak di dalam mobil 😃.
Air mengalir dari mata air.
Dari jalan raya Tawangmangu, sepintas terlihat kecil dan sempit. Memang harus masuk melalui jalan selebar bus medium. Setelah masuk ke dalam ternyata tempatnya luas melebihi rumahku 😞.

Lihat deh menu yang disajikan pada kami, kluban, ayam goreng, tempe goreng, dan apa lagi lupa. Minumannya ada teh dan wedang secang. Disajikan dengan model ndeso. Kami juga sengaja memilih tempat di gubug-gubug kecil, agar kaki bisa selonjoran.
Makanan yang tersedia.
Setelah kumakan hidangan bersama teman-teman, aku merasa kurang cocok dengan rasa masakannya, tapi minumannya lumayan oke... lumayan lho ya, catat. Harga yang dibandrol pun disesuaikan dengan kawasan wisata, tahu kan maksudnya..
Dapur, kasir, dan tempat makan bermeja.
Fasilitas tempat ini cukup lengkap, beberapa toilet dengan konsep ndeso dan tempat shalat di atas gubug tersedia. Parkir mobil sangat luas dan harus bayar lagi. Yang cukup menyenangkan adalah pengunjung bisa turun ke sungai, mandi dengan air sungai pun bisa jika mau.
Parkir mobil.
Sekarang rumah makan ini telah ditutup, aku sempat meliriknya ketika Mei 2018 melewati jalur Magetan - Tawangmangu - Solo. Papan nama yang berdiri terlihat sudah teyeng dan tidak terawat.

Tautan peta Google: https://goo.gl/maps/RvtaHSgvBrN2