Oktober 2018 - metuomah.com

Sabtu, 27 Oktober 2018

0

Pulang Pelesiran, Serombongan Warganet Mual dan Pusing, Kenapa?


Judul yang sangat klikbait untuk meningkatkan pengunjung halaman, wkwkk. Ceritanya begini, ini beneran lho ya bukan fiksi. Usai menghadiri satu acara di Gunungkidul 24 Oktober 2018, mayoritas penumpang di mobil berkapasitas 14 orang merasakan kejanggalan (halah, klikbait lagi 😂). Ada yang mual, ada juga yang pusing. Aku termasuk yang mengalami tanda-tanda kemualan dalam perut.

Di sebuah tenda peserta, penyewa sengaja mendatangkan "tukang buat kopi" dari Jogja utara lengkap beserta "blendernya". Kami pun berbondong-bondong melihat pembuatan kopi, memotret, dan merekamnya karena itu tugas kami, hehehe..

Dua pilihan tertera di menu, mau dingin atau panas, pilih kopi tubruk atau kopi susu. Beberapa kemasan berisi biji kopi dari tempat-tempat hits di Indonesia tergeletak di atas meja. Tulisan asal daerah kopi di kemasan seperti nirfaedah karena biji kopinya terbatas, mas pembuat kopi pun jadi "asal" mengambil kopi untuk melayani konsumen.
Es kopi susu.
Yaaa, kopi memang menjadi tersangka utama. Keracunan makanan? Sepertinya bukan, ada jeda 2 jam makan siang dengan minum kopi. Aku bukan kopiholik, jarang banget meminumnya dan hanya mengkhususkan kopi berharga puluhan ribu. Biasanya kopi dengan harga segitu tidak menimbulkan "alergi", (aku pikir) akan sama halnya dengan kopi di acara ini karena dijual dengan harga puluhan ribu. Tapi perkiraanku ternyata meleset.

Di dalam mobil hanya sedikit yang mengaku sakit 😄, setelah pembubaran rombongan barulah berani menyerukan aspirasi. Aku mencari tahu di Google, kenapa setelah minum kopi jadi mual dan pusing? Dan kutemukan sedikit pencerahan di situs halosehat, kutipan penyebab sakit tersebut seperti di bawah ini.

Karena kafein, bila berlebihan di dalam tubuh dapat mengikat cairan tubuh yang ada di dalam lambung dan membuat iritasi dinding lambung, sehingga menyebabkan perut terasa mual. Ketika lambung tidak mampu lagi mengolah dan memproses kafein menjadi energi, maka zat asam pada kopi dapat meningkatkan asam lambung secara tiba-tiba dan menimbulkan mual.

Kopi dingin alias es kopi dapat menyebabkan kembung dan mual. Beberapa orang memiliki lambung yang mudah kaget, karena lambungnya terbiasa menerima kopi bersuhu hangat.

Sebelumnya sudah ada infeksi di perut, yang disebabkan oleh virus atau bakteri gastroenteritis. Mual terjadi ketika sering minum kopi pekat tanpa gula.

Inilah sedikit jawaban dari situs kesehatan. Tapi aku punya analisa sotoy 😆, apa itu?

Kuitipan kesehatan dari halaman https://halosehat.com/penyakit/gejala/mual-setelah-mengonsumsi-kopi

Selasa, 16 Oktober 2018

2

Rasido Mangan ning Preksu Mergo Nesu

Setelah menyambangi BNI Universitas Negeri Yogyakarta, aku melanjutkan perjalanan ke utara. Jam makan siang sudah berlalu lama, lapar semakin terasa. Motorku kujalankan pelan sambil berpikir sebaiknya makan di mana. Terlintas kemudian makan di Preksu, Jalan Gambir Karangasem Baru, Karang Gayam, Caturtunggal, Kecamatan Depok Sleman, DIY.
Berapa menit makanan ndeprok di situ?
Kedua kalinya aku makan di sini, yang pertama aku kehabisan terong. Dengan rayuan maut, mbak-mbak baju merah aku luluh ganti menu telur. Yang kedua hari ini, aku duduk di meja nomor 14. Sebagai sobat qismin, cuma kuat pesan paket Jamur 1 (nasi, jamur dan terong crispy, tempe). Minumnya pun cuma es Nutrisari.

10 menit kemudian es Nutrisari dalam gelas ember datang. Langsung kuteguk hingga setengah gelas, haus dan mengganjal perut lapar. Aku berharap makanan pun segera datang ke meja, supaya kewajiban lebih penting bisa dikerjakan tepat waktu.

Harapan hanya harapan, Preksu telah mem-PHP diriku. Nunggu hingga Nutrisari habis, makanan tak kunjung datang. 40 menit menunggu makanan, tidak datang juga. Padahal aku tetap akn membayar lho, nggak minta gratis. Sajake ngece banget.

Kesabaranku habis, lihat onggokan makanan di meja saji yang nggak segera diantar ke pemesan. Sebenarnya aku masih berharap salah satunya adalah pesananku. Tapi kok ya lambat banget. Akhirnya aku ke meja kasir, pake drama lagi lambatnya 😠. Kubayar minumanku Rp.3.000 lalu ambil motor dengan membayar Rp.1.000, pergi meninggalkan kekecewaan.

Marah sih, tapi masih bisa kutahan. Eman-eman kalau tetap disimpan dalam hati, bisa sakit tubuh ini. Kalau keburu lapar, jangan ke Preksu deh, keburu pingsan nanti nggak ada yang nolongin. Mending cari tempat makan lain yang penyajiannya lebih cepat dan profesional.

Mosok, pesananku dilewati akeh wong? Kan marai nesu. Catat ya, aku tadi ke situ sekitar pukul 14.25 WIB di meja nomor 14. Semoga mereka yang terlibat di dalmnya mendapat ganjaran yang setimpal.


Kamis, 11 Oktober 2018

0

Berburu Air Terjun Di Malang, Siapa Takut

Jika Bandung merupakan primadona wisata bagi warga Jakarta, maka Malang adalah primadona wisata bagi warga Surabaya. Sedikit menepi sambil mencari udara sejuk merupakan alasan utama warga luar kota untuk datang ke Malang. Tak heran sih Malang akan macet parah jika akhir pekan datang. Tempat wisata di Malang pun mulai penuh sesak. Sebagai alternatifnya, kenapa tidak kamu coba untuk berburu menyisir air terjun yang banyak berada di daerah Malang?

Selain tidak terlalu ramai, udara di kawasan air terjun tentu lebih jernih. Cocok untuk mengembalikan energimu pada awal pekan nanti. Coba deh kunjungi tempat wisata di Malang berikut ini kalau tidak percaya.

Air Terjun Coban Rondo
sumber:ngalam.co
Air terjun Coban Rondo merupakan salah satu air terjun paling populer yang ada di Malang. Di sini kamu bisa melihat air terjun dengan debit air yang banyak, dengan background pemandangan alam yang masih asri. Di kawasan Coban Rondo juga masih ada beberapa wisata lainnya seperti Coban Tengah, outbound, wisata kelinci, dan yang lainnya. Kamu akan dikenakan biaya masuk sekitar Rp. 18.000 saja untuk masuk ke sini.

Coban Talun
sumber:blog.ub.ac.id
Coban Talun berada di lereng Gunung Arjuna, yang membuat air dari coban tersebut begitu jernih dan segar. Jika kamu ingin ke tempat wisata di Malang tersebut, kamu bisa langsung menuju ke Dusun Wonorejo, Bumiaji. Akan ada penunjuk jalan yang tak akan membuatmu tersesat. Dikutip dari traveloka.com tempat ini buka selama 24 jam penuh, jadi kamu juga bisa berkemah di coban tersebut lho. Jika tidak membawa perlengkapan, kamu bisa menyewa penginapan apache camp yang berada di kawasan perkemahan. Seru kan?

Coban Nirwana
sumber:kanalmalang.net
Karena coban ini tergolong baru ditemukan dan dibuka sebagai tempat wisata, masih belum ada papan penunjuk untuk menuju ke sini. Akan tetapi kamu bisa menuju ke arah Gedangan, Malang Selatan, dan bertanya pada penduduk lokal. Air terjun ini memiliki air terjun yang berlapis dan bagian bawah airnya terdapat aliran sungai untuk berendam.


Banyu Anjlok
sumber:mediamalang.com
Kamu pasti belum pernah kan merasakan bermain di air terjun sekaligus bermain di pantai? Nah, Banyu Anjlok ini merupakan air terjun yang berbatasan langsung dengan pantai guys, unik kan? Datanglah ke arah Malang Selatan, tepatnya berada di Desa Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Dari desa terakhir, kamu masih diharuskan menelusuri kebun kopi selama kurang lebih 30 menit. Atau bisa juga lewat jalur laut dengan menyewa kapal sebesar Rp, 50.000 saja.

Sebenarnya masih ada banyak sekali air terjun dan tempat wisata di Malang yang bisa kamu datangi. Coba deh cek di laman Traveloka, ada begitu banyak tempat wisata di Malang yang sayang untuk dilewatkan. Rasanya, satu minggu liburan belum cukup deh untuk mengeksplor Kota Apel tersebut.
2

Nasi Timlo Redpoint, Steak Kaki Lima yang Sekarang Pindah

Sejak Redpoint Steak kaki lima pindah ke Jalan Babaran Yogyakarta, aku jadi sering makan di situ. Menu favorit dan tidak pernah pesan menu lain di Redpoint adalah Nasi Timlo, makanan khas Surakarta yang lumayan sulit ditemui di Yogyakarta.

Ceritanya, saat melewati Jalan Babaran dengan kendaraan bermotor kuperhatikan spandur kecil yang menginformasikan harga promosi Nasi Timlo turun dari Rp.10.000 menjadi Rp.8.000 saja. Sebagai orang yang suka diskon, aku tergiur mampir ke Redpoint untuk mencicipi Nasi Timlo. Sekitar 2-3 tahun lalu, di kota ini agak sulit nemu makanan berkuah di malam hari. Mayoritas penjaja makan malam menawarkan menu goreng yang bikin tenggorokan meradang.
Nasi timlo.

Mampirlah aku kesitu dan langsung memesan Nasi Timlo dengan minuman air putih 😃. Jika sepi, tak sampai 10 menit hidangan sudah keluar dengan kuah yang bisa bikin lidah mlonyot. Kuahnya benar-benar dibuat hingga mendidih kayaknya, harus cukup sabar menunggu sampai panasnya kuah nasi timlo tidak begitu panas lagi.

Dilihat-lihat, di dalam mangkuk ada nasi, timlo, ayam kecap potong dadu, dan separuh telur rebus. Ada sedikit taburan daun seledri dan brambang goreng. Sedangkan sambal dan kecap disajikan terpisah. Kuahnya bening seperti kuah bakso, daging ayam kecap seperti ayam di menu mie ayam. Rasanya segar.

Jualan utamanya sebenarnya steak, tapi aku sekalipun belum pernah memesannya 😀. Katanya sih harganya juga murah. Beberapa orang maupun keluarga terlihat mampir di sini, ada juga sih yang memesan menu nasi goreng.
Daftar menu Redpoint.

Tutup, tidak tahu pindah ke mana
Mungkin pertengahan September 2018 lalu, Redpoint di Jalan Babaran tutup! Pindah ke mana, aku kurang tahu pasti. Melihat persaingan kuliner yang sangat ketat di Yogyakarta, dan pergeseran selera anak muda (katanya disebut millenial) ikut memicu tutupnya steak kaki lima ini.

Lokasi yang ditutup 2018: https://goo.gl/maps/GZwqyVu3pEL2

Jumat, 05 Oktober 2018

0

Bukit Ngisis Nglinggo, Tempat Foto pemuja Narsisme

Tawaran pergi ke Nglinggo Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo DIY tidak kulewatkan. Sekalipun belum pernah melihat tempat wisata di kabupaten barat DIY ini. Puluhan tahun lalu, sebelum gawai masuk Indonesia pernah ke Pantai Glagah bersama rombongan. Tahu sendiri, zaman itu mana ada dokumentasi 😆 pantainya saja tidak ingat sama sekali.

Aku mau ikut acara yang digagas Asita DIY (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies) karena disediakan transportasi 3 bus. Jika tidak ada, jelaslah aku tak pernah kesampaian pergi 😜. Kami berangkat dari parkiran Ambarrukmo Hotel pukul 07.21 WIB, molor sebentar karena biasanya acara-acara seperti ini molornya 30-60 menit.

Saat registrasi aku termasuk undangan dan satu-satunya blogger yang ikut. Lainnya adalah agen travel, hotel, media, Smartfren, dan peserta lomba foto (yang diadakan Asita sebelumnya). Di dalam bus kami mendapatkan sebotol air mineral.

Perjalanan
Sesampainya di perempatan Dekso (cari peta google Lapangan Dekso) bus-bus kami dipandu oleh pengendara motor berompi kuning. Hal ini dikarenakan jalan sempit (tipikal jalanan di DIY), menikung tajam, dan menanjak. Sedangkan kami menggunakan bus-bus besar. Mungkin jika menggunakan bus medium, seperti jika berwisata ke Kabupaten Gunungkidul, lebih aman dan tanpa panduan.
Gerbang wisata Nglinggo Tritis.
Sempat dag-dig-dug bus terpaksa berhenti di tanjakan, perasaan hampir melorot (padahal tidak, hanya perasaan saja) 😔. Bukan karena busnya tidak layak, tapi karena berpapasan dengan kendaraan roda 4 di tikungan, dan ada kendaraan di depan bus berhenti. Begitulah resiko jalanan sempit, perihal tanjakannya mungkin hampir sama dengan jalanan Jogja - Semarang (kalau ini mah, jalannya lebar). Seketika itu juga perjalanan jadi hening, suara video yang diputar dikecilkan, para penumpang berdo'a untuk keselamatan.

Pukul 09.05 WIB kami sampai di gerbang Wisata Alam Nglinggo Tritis. Dari sini kami harus berganti "shuttle" menuju Nglinggo Tritis karena jalanan hanya bisa dilalui 1 kendaraan roda empat. Kendaraan yang menuju ke sana sebagian dinamakan "odong-odong", yang hanya sebuah Suzuki Carry yang dijebol sisi kiri-kanannya, sehingga menjadi kendaraan tanpa pintu.
Odong-odong Nglinggo.
Aku tidak kebagian naik odong-odong yang hanya 2 biji, dan naik Isuzu elf kapasitas 17 orang. Konsekuensinya aku tidak bisa memotret sepanjang perjalanan. Jika menggunakan kendaraan pribadi atau kecil, tidak perlu transit. Bisa langsung menuju tempat wisata di atas. Syaratnya kendaraan harus dalam kondisi prima, kuat menanjak dan menurun 😌.

Waktu perjalanan 15-20 menit, tanjakannya lebih ekstrim dari sebelumnya. Mobil yang kutumpangi menggunakan persneling percepatan 1 untuk menanjak, terasa tenaganya kuat untuk tanjakan lebih terjal lagi. Di atas (Ngisis) terdapat area parkir dengan beberapa kios mengelilinginya. Sebenarnya kami bisa saja langsung menuju Bukit Ngisis, bahkan menuju tempat lebih jauh lagi. Tapi karena panggung gembira dan tenda sudah terpasang di area parkir, kami harus berhenti di situ.

Ke Bukit Ngisis
Karena keterbatasan waktu, kami langsung berjalan ke atas, melewati jalan beraspal menuju Bukit Ngisis. Bukit Ngisis berada di sisi kiri jalan (dari tempat tenda terpasang), keluar dari jalan beraspal berganti menjadi jalan setapak. Sebelum loket tiket masuk yang kosong (mungkin karena acara ini), kami disambut Kadis Pariwisata Kulon Progo dan jajarannya.
Berjalan kaki menuju Bukit Ngisis.
Katanya nih katanya, tiket masuk Bukit Ngisis hanya Rp.3.000. Tersedia juga toilet sederhana dekat loket tiket dengan memasukkan uang Rp.2.000 ke kotak. Sesampainya di puncak bukit, dimana di situ terdapat gazebo, rombongan beristirahat sambil menikmati hidangan.
Loket tiket Bukit Ngisis.
Jajanan khas desa disajikan dalam wadah tampah, ada pisang kluthuk godhog, pohung, dan geblek (huruf e terakhir dibaca seperti e pada kata teh). Sedangkan minumannya ada kopi dan teh dengan gula terpisah.


Tempat foto
Inilah salah satu tempat untuk foto-foto yang menurutku masih kurang pengamanan. Aku sempat mendengar, "Ini diinjak goyang lho". Jalan kayu yang membentang di depanku ngeri-ngeri sedap, tak lebih dari 5 orang dalam satu rombongan yang berani menyeberang dari tempatku berdiri menuju kendaraan di sana. "Mending lewat jalan memutar lebih aman." Kata seorang rekan yang minta bantuanku memotret. Banyak yang berharap peningkatan pengamanan seperti menempatkan pagar pembatas dan pegangan tangan, mengingat resiko jika jatuh bisa bablas sampai bawah.

Bukit Ngisis sebenarnya cukup menarik, aku lebih suka menikmati pemandangan sambil menyantap hidangan, daripada swafoto nirfaedah. Di sisi barat terlihat gunung Sindoro dan Sumbing, sedangkan di utara ....... tidak tahu 😆. Tanpa ditambah tempat foto pun kurasa sudah cukup bagus, malah terlihat lebih natural.

Tempat ini cocok bagi pemuja narsisme, bisa swafoto dengan berbagai latar belakang. Alangkah baiknya datang saat masih pagi atau sore hari untuk mendapatkan pencahayaaan yang bagus. Rombongan kami sampai di Ngisis sebenarnya masih pagi, tapi karena hari-hari tersebut matahari terbit lebih awal sehingga pukul 09.00 WIB sudah terasa terik.

Kami tidak berlama-lama di sini, setelah perut terganjal maka perjalanan dilanjutkan (kembali) ke bawah.

Foto-foto lain bisa dilihat di highlights Instagram.