Tawaran pergi ke Nglinggo Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo DIY tidak kulewatkan. Sekalipun belum pernah melihat tempat wisata di kabupaten barat DIY ini. Puluhan tahun lalu, sebelum gawai masuk Indonesia pernah ke Pantai Glagah bersama rombongan. Tahu sendiri, zaman itu mana ada dokumentasi 😆 pantainya saja tidak ingat sama sekali.

Aku mau ikut acara yang digagas Asita DIY (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies) karena disediakan transportasi 3 bus. Jika tidak ada, jelaslah aku tak pernah kesampaian pergi 😜. Kami berangkat dari parkiran Ambarrukmo Hotel pukul 07.21 WIB, molor sebentar karena biasanya acara-acara seperti ini molornya 30-60 menit.

Saat registrasi aku termasuk undangan dan satu-satunya blogger yang ikut. Lainnya adalah agen travel, hotel, media, Smartfren, dan peserta lomba foto (yang diadakan Asita sebelumnya). Di dalam bus kami mendapatkan sebotol air mineral.

Perjalanan
Sesampainya di perempatan Dekso (cari peta google Lapangan Dekso) bus-bus kami dipandu oleh pengendara motor berompi kuning. Hal ini dikarenakan jalan sempit (tipikal jalanan di DIY), menikung tajam, dan menanjak. Sedangkan kami menggunakan bus-bus besar. Mungkin jika menggunakan bus medium, seperti jika berwisata ke Kabupaten Gunungkidul, lebih aman dan tanpa panduan.
Gerbang wisata Nglinggo Tritis.
Sempat dag-dig-dug bus terpaksa berhenti di tanjakan, perasaan hampir melorot (padahal tidak, hanya perasaan saja) 😔. Bukan karena busnya tidak layak, tapi karena berpapasan dengan kendaraan roda 4 di tikungan, dan ada kendaraan di depan bus berhenti. Begitulah resiko jalanan sempit, perihal tanjakannya mungkin hampir sama dengan jalanan Jogja - Semarang (kalau ini mah, jalannya lebar). Seketika itu juga perjalanan jadi hening, suara video yang diputar dikecilkan, para penumpang berdo'a untuk keselamatan.

Pukul 09.05 WIB kami sampai di gerbang Wisata Alam Nglinggo Tritis. Dari sini kami harus berganti "shuttle" menuju Nglinggo Tritis karena jalanan hanya bisa dilalui 1 kendaraan roda empat. Kendaraan yang menuju ke sana sebagian dinamakan "odong-odong", yang hanya sebuah Suzuki Carry yang dijebol sisi kiri-kanannya, sehingga menjadi kendaraan tanpa pintu.
Odong-odong Nglinggo.
Aku tidak kebagian naik odong-odong yang hanya 2 biji, dan naik Isuzu elf kapasitas 17 orang. Konsekuensinya aku tidak bisa memotret sepanjang perjalanan. Jika menggunakan kendaraan pribadi atau kecil, tidak perlu transit. Bisa langsung menuju tempat wisata di atas. Syaratnya kendaraan harus dalam kondisi prima, kuat menanjak dan menurun 😌.

Waktu perjalanan 15-20 menit, tanjakannya lebih ekstrim dari sebelumnya. Mobil yang kutumpangi menggunakan persneling percepatan 1 untuk menanjak, terasa tenaganya kuat untuk tanjakan lebih terjal lagi. Di atas (Ngisis) terdapat area parkir dengan beberapa kios mengelilinginya. Sebenarnya kami bisa saja langsung menuju Bukit Ngisis, bahkan menuju tempat lebih jauh lagi. Tapi karena panggung gembira dan tenda sudah terpasang di area parkir, kami harus berhenti di situ.

Ke Bukit Ngisis
Karena keterbatasan waktu, kami langsung berjalan ke atas, melewati jalan beraspal menuju Bukit Ngisis. Bukit Ngisis berada di sisi kiri jalan (dari tempat tenda terpasang), keluar dari jalan beraspal berganti menjadi jalan setapak. Sebelum loket tiket masuk yang kosong (mungkin karena acara ini), kami disambut Kadis Pariwisata Kulon Progo dan jajarannya.
Berjalan kaki menuju Bukit Ngisis.
Katanya nih katanya, tiket masuk Bukit Ngisis hanya Rp.3.000. Tersedia juga toilet sederhana dekat loket tiket dengan memasukkan uang Rp.2.000 ke kotak. Sesampainya di puncak bukit, dimana di situ terdapat gazebo, rombongan beristirahat sambil menikmati hidangan.
Loket tiket Bukit Ngisis.
Jajanan khas desa disajikan dalam wadah tampah, ada pisang kluthuk godhog, pohung, dan geblek (huruf e terakhir dibaca seperti e pada kata teh). Sedangkan minumannya ada kopi dan teh dengan gula terpisah.

Tempat foto

Inilah salah satu tempat untuk foto-foto yang menurutku masih kurang pengamanan. Aku sempat mendengar, "Ini diinjak goyang lho". Jalan kayu yang membentang di depanku ngeri-ngeri sedap, tak lebih dari 5 orang dalam satu rombongan yang berani menyeberang dari tempatku berdiri menuju kendaraan di sana. "Mending lewat jalan memutar lebih aman." Kata seorang rekan yang minta bantuanku memotret. Banyak yang berharap peningkatan pengamanan seperti menempatkan pagar pembatas dan pegangan tangan, mengingat resiko jika jatuh bisa bablas sampai bawah.

Bukit Ngisis sebenarnya cukup menarik, aku lebih suka menikmati pemandangan sambil menyantap hidangan, daripada swafoto nirfaedah. Di sisi barat terlihat gunung Sindoro dan Sumbing, sedangkan di utara ....... tidak tahu 😆. Tanpa ditambah tempat foto pun kurasa sudah cukup bagus, malah terlihat lebih natural.

Tempat ini cocok bagi pemuja narsisme, bisa swafoto dengan berbagai latar belakang. Alangkah baiknya datang saat masih pagi atau sore hari untuk mendapatkan pencahayaaan yang bagus. Rombongan kami sampai di Ngisis sebenarnya masih pagi, tapi karena hari-hari tersebut matahari terbit lebih awal sehingga pukul 09.00 WIB sudah terasa terik.

Kami tidak berlama-lama di sini, setelah perut terganjal maka perjalanan dilanjutkan (kembali) ke bawah.