Situs Warungboto berada di tepi Jalan Veteran Yogyakarta. Keberadaannya hampir terabaikan dan tak menyangka ada tempat yang sekarang menjadi tujuan pemotretan. Jalan Veteran termasuk jalur cepat di kota Yogyakarta, jarang orang melirik kanan kiri karena tidak ada pemandangan menarik, selain rumah dan toko-toko kecil milik warga. Situs Warungboto baru (sedikit) dipugar kembali (jika tidak keliru) sekitar tahun 2015-2016. Salah satu tetangga cerita bahwa bata merah untuk pemugaran diambil (dibeli) dari (toko) nya 😄.
Dahulu kala, ada air memancar dari tengah kolam.
Sebelumnya aku tidak begitu memperhatikan situs ini, dulu tidak terawat apalagi berada persis di samping makam. Jangan berpikiran aneh-aneh, itu bukan makam keramat. Setelah dari tepi jalan terlihat pemugaran selesai, aku mengajak keponakan main ke situ, eh malah ketemu tetangga yang lagi momong anaknya di dalam situs 😅.

Masuk gratis
Pagi sekitar pukul 06.00 WIB aku masuk dari arah Jalan Veteran, tidak ada loket tiket, langsung mbrobos melewati pagar kawat. Setelah berada di dalam, aku baru tahu ada pintu dari timur, umumnya pengunjung masuk dari pintu tersebut dan dikenai ongkos parkir kendaraan. Aku kurang tahu persis jika lewat timur, kemungkinan jika menggunakan mobil masuk dari jalan sebelah barat Sungai Gajah Wong di Jalan Ki Penjawi. Atau yang mengenal medan bisa lewat gang-gang kecil di utara-selatan situs menuju tempat parkir. Silakan ubleg-ubleg Googlemap 😃, tapi daripada ribet mendingan parkir di Jalan Veteran, sekarang sudah ada plang bertulis "parkir Situs Warungboto".
Warung kaki lima situs Warungboto di tepi Jl. Veteran.
Sekilas Situs Warungboto
Membaca sekilas halaman kemdikbud, aku jadi tahu situs Warungboto merupakan bagian dari pesanggrahan (taman) Rejowinangun, yang dibangun mulai tahun 1785 oleh pangeran (putra mahkota) KGPAA Hamengkunegara, yang pada tahun 1792 menjadi Sri Sultan Hamengku Buwana II.

Mungkin dahulu tempat ini masuk daerah (Kelurahan) Rejowinangun, tapi sekarang masuk wilayah (Kelurahan) Warungboto sehingga dinamakan situs Warungboto. Setahuku kedua kelurahan ini dibatasi oleh Sungai Gajah Wong yang membelah sisi timur Kota Yogyakarta.
Salah satu lorong kecil untuk main petak umpet.
Dalam pesanggrahan terdapat tempat istirahat bagi raja dan keluarga dan pemandian. Menurut salah satu sesepuh Warungboto (bukan warga asli tapi sudah menetap dari akhir 1970an, bukan mbah kaum atau dikeramatkan), dulu di dekat situs Warungboto terdapat mata air dengan air yang menyembur dari tanah hingga beberapa meter ke udara. Namun setelah ada pembangunan jembatan di Jalan Kusumanegara (dekat Gembira loka) yang menebang beberapa pohon penyimpan air, air yang menyembur lama-lama mengecil dan menghilang. Sekarang tidak ada lagi mata air di daerah tersebut.

Mata air inilah yang menbuat beberapa gang di sekitar situs diawali dengan kata "Umbul", diabadian menjadi nama kecamatan Umbulharjo.
Pancaran air dulu keluar dari situ.
Jalan-jalan sebentar
Sekilas tempat ini seperti miniatur Taman Sari yang dibangun tahun 1758. Perbedaannya sekarang tempat ini tidak eksotik dan tidak ada benteng yang mengelilinginya. Sebagian area sudah menjadi pemukiman penduduk dan sepertinya tidak menjadi sultan ground. Kita sekarang hanya bisa melihat sedikit sisa-sisa Pesanggrahan Rejowinangun.
Jalan masuk utama dari timur.
Waktu berkunjung terbaik adalah pagi hari hingga sekitar pukul 08.00 WIB, dan sore hari sekitar 15.30 hingga sebelum Maghrib. Waktu-waktu tersebut masih idel untuk pemotretan. Sedangkan siang hari sangat tidak disarankan karena cuaca panas, pencahayaan berlebih, dan tidak ada tempat berteduh.
Sisi tenggara berbatasan dengan makam.
Ketika berkunjung ke sini bulan Juni 2016, sisi selatan masih dalam tahap perbaikan agar menyerupai bangunan asli. Foto dalam artikel dipilih sebagai pembeda dengan foto-foto yang sudah lalu lalang di internet.