Desember 2018 - metuomah.com

Sabtu, 22 Desember 2018

4

Menikmati Malioboro, Parkirnya di Taman Abu Bakar Ali

Berapa kali aku jalan-jalan di Malioboro Jogja? Sampai tulisan ini dimuat, aku belum menyentuh angka 100 😄. Jika tidak ada kepentingan mendesak, tidak pergi ke sana. Untuk mencapainya sungguh melelahkan, berjuang sabar dengan kemacetan.

Ke Malioboro, sedikit dipusingkan oleh parkir. Tidak semua tempat boleh ditempati untuk parkir kendaraan, harus di kantong-kantong parkir di sekitar Malioboro. Kantong parkir seperti mall dan hotel menggunakan skema parkir progresif, untuk menekan parkir kendaraan seharian dan bisa gantian dengan yang lainnya. Sudah mahal tapi kok ya banyak yang menggunakan, lebih tepatnya karena memang butuh dan terpaksa.


Angkutan umum masih belum bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat, sehingga masyarakat lebih suka menggunakaan kendaraan pribadi, termasuk diriku.... ngirit puol, tetap lebih irit dan cepat daripada angkutan umum, apalagi dibandingkan dengan ongkos naik jasa transportasi online.

Beberapa waktu lalu, aku ikut kegiatan dari pagi sampai sore di sekitaran Malioboro. Jika parkir di hotel atau di mall bisa habis Rp.10.000an, lalu dimana harus parkir kendaraan? Setelah bertanya pada beberapa teman, tempat parkir ideal adalah Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA).
Taman parkir Abu Bakar Ali
Letaknya persis di selatan rel kereta api, utara Hotel Grand Inna Garuda, atau utara Malioboro lah.. Kenapa dinamakan Abu Bakar Ali? Karena tempat parkir ini berada di Jalan Abu Bakar Ali 😅.

Biasanya bus dan kendaraan roda 4 parkir di lantai dasar, sedangkan motor di lantai 2 dan 3. Pada liburan akhir tahun, tempat ini dikhususkan untuk mobil dan motor, katanya nih... bus dilarang parkir di sini selama libur akhir tahun.
Parkir motor di lantai 2.
Parkir motor di Taman ABA sangat luas, konon katanya bisa menampung hingga 3000 motor. Di hari biasa terutama pagi, suasana cukup sepi seperti terlihat pada foto di atas. Waktu liburan tiba parkiran motor sudah lumayan terisi dari pagi. Untuk pembonceng, sebaiknya turun saja di lantai 1 dan menunggu teman pengendara turun, tujuannya untuk menghemat tenaga 😂.
Tangga pengendara motor di parkir Abu Bakar Ali.

Tarif parkir motor Abu Bakar Ali

Setahuku tarif parkir motor flat Rp.3000, seperti yang tertera di karcis parkir. Jadi parkir di sini cukup menguntungkan untuk orang yang punya tujuan jalan-jalan dalam jangka waktu lebih dari 3 jam.
Karcis parkir, motretnya blur.
Tidak jarang tempat ini jadi titik kumpul rombongan (memarkirkan motor, lalu pindah naik mobil rombongan) untuk menuju ke satu tempat. Seperti yang kami (blogger) lakukan 2 pekan sebelumnya, pergi ke Gunungkidul dari pukul 06.00-17.00 WIB, tarif parkir tetap dan tidak dinaikkan.

Jam operasional parkir Abu Bakar Ali

Setahuku mulai buka pukul 06.00 WIB dan tutup pukul 23.30 WIB. Jadi di sini kendaraan tidak diperkenankan menginap (coba tanya langsung pada petugas, mungkin saja sudah berubah aturannya 😀).
Jam tutup parkir.
Taman Parkir Abu Bakar Ali bisa menjadi tempat alternatif parkir saat berkunjung ke Jogja (terutama Malioboro), tarifnya cukup bersahabat untuk ukuran parkir di area parkir mahal (progresif).

Update 31 Desember 2018
Dengarkanlah keluhan warganet yang selalu berulang tiap ada tanggal merah lebih dari 2 hari. Tarif parkir menjadi masalah yang tak pernah selesai di Kota Jogja.

Jumat, 07 Desember 2018

2

Menu Ayam Kampung di Ayam Goreng Nelongso Jogja

Senin 3 Desember 2018 dipilih sebagai hari pembukaan Ayam Goreng Nelongso pertama di DI Yogyakarta, tepatnya di Jalan Kaliurang km 6,3 No. 60 Mlati, Sinduadi Sleman DI Yogyakarta. Ada 500 porsi disediakan Ayam goreng Nelongso Jogja untuk para warganet, pada 3-7 Desember 2018. Aku salah satu yang memanfaatkan kesempatan ini 😅, bukan undangan tulisan berbayar 😂.
Ayam goreng Nelongso Jogja.
Awalnya aku heran, kenapa namanya "Nelongso" dan gambar logonya bukan ayam, malah bebek. Setelah lihat papan reklame di atas, aku paham dengan nama "Nelongso". Cukup bayangkan saja nasi + ayam goreng seharga Rp.5.000 dimana di Jogja harga nasi ayam minimal Rp.8.000 per November 2018 wkwkkw. Rumah makan ini menyediakan juga menu bebek, sehingga menggunakan logo kepala bebek (?)
4 Desember 2018.
Aku memilih tanggal 4 menghindari empet-empetan sesama pejuang gratisan wkwkwk 😂. Aku mengirim balasan pesan kepada admin 3/12/2018 sore, mungkin kuota hari pertama sudah habis, sehingga diberikan slot esok hari (jawaban serius).
Antre.
Yang namanya gratisan biasanya antre, yang nggak gratis..... juga antre 😊. Contohnya gerai fried chicken lokal maupun interlokal, selalu saja antre. Waktu ke Ayam Goreng Nelongso kemarin antrean masih manusiawi, penyajiannya pun tidak sampai 10 menit. Ini karena sistem yang digunakan adalah pesanan diantar ke meja, konsumen cukup antre untuk memesan dan langsung bayar.
Daftar menu dan harga.
Aku memilih duduk di lantai dasar, males harus naik meskipun tempatnya berpendingin ruangan. Ada wastafel di ruang utama, sedangkan bagian belakang ada tempat shalat dan toilet. Meskipun hujan mengguyur, pengunjung tetap berdatangan. Iyalah, pas jam makan siang 😃, tidak semuanya pejuang gratisan kok, yang bayar juga ada. Perlu ditekankan bahwa e-voucher gratis cuma MAKAN, parkir kendaraan dan minumnya BAYAR sendiri 😋.
Lantai dasar.
Saat yang dinanti tiba, paket nasi ayam kampung datang ke meja. Aku agak kecewa, baru tahu penyajian di sini sambal "ditumpahkan" ke ayam. Ayam menjadi tidak berasa karena lebur dalam sambal, mungkin inilah ciri rasa ayam rumah makan ini, kekuatan bumbu ada pada sambal. Celakanya lagi, aku pesan sambal pedas. Pengalaman awal sangat berguna, untung gratis wwkwkwk. Lain kali pesan tanpa sambal, toh sambal sudah disediakan gratis ambil sendiri. Ada 11 macam sambal tersedia, ditambah 1 kemasan kecap Bango. Mangkok plastik ukuran koin Rp.500 digunakan untuk tempat sambal yang akan pengunjung bawa ke meja makan.
Nasi ayam kampung.
Lampu di rumah makan ini kuning, tidak mendukung instagramable, hasil foto menjadi serba kuning seperti di atas. Seporsi nasi ayam kampung terdiri dari nasi, tahu goreng, seiris mentimun, sayap ayam kampung dengan guyuran sambal. Di daftar menu, tidak ada pilihan dada, paha, atau sayap. Sepertinya pengunjung hanya bisa pasrah mendapatkan potongan ayam bagian mana 😊. Pun tidak tersedia menu tambahan lalapan.

Harga sudah sesuai dengan apa yang didapat, semua kembali lagi ke selera asal. Ayam Goreng Nelongso Jogja punya keunggulan yang tidak dimiliki rumah makan ayam (lokal) lain yaitu buka 24 jam. Selamat makan..